Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
95. sekilas cerita Siti


__ADS_3

Pagi ini udara desa sangat dingin, sudah memasuki musim hujan. Siti memandang anak-anak bermain tanah yang becek, teringat masa kecilnya bersama Edwar dan Alam. Siti merasa hp nya bergetar.


"Gita!" siti berbinar melihat nama sahabatnya di layar ponsel.


πŸ“ž Sitiiiii!


Aku melihat suara Gita yang riang. Suara itu yang kurindukan darinya, maafkan aku Gita, maafkan aku yang selalu iri padamu. Aku tahu sekarang kebahagiaanmu ada pada kak Alam.


Tunggu apakah Gita sudah tahu kalau boy itu kak alam. Rasanya aku ingin mengatakan rahasia itu, tapi biarlah itu jadi urusan mereka.


πŸ“ž Haloooow, ada orang disana?


itu suara kak Alam, wah mereka lagi berdua sepertinya.


πŸ“ž Hai kak boy.


Siti menyapa alam yang masih dia kira menjadi boy.


πŸ“ž duuuuh, calon pengantin jangan banyak melamun


Siti tersenyum mendengar Gita sudah bisa menggodanya. Dia langsung berpindah tempat dari teras ke ruang dapur dekat kamarnya.


"Bu, ada Gita menelpon?" Panggil Siti pada ibunya.


Ibu yang sedang didapur langsung menghentikan aktivitasnya, lalu meraih hp Siti.


πŸ“ž Gita kamu apa kabar, nak?


πŸ“ž ibuuuu! Gita kangen sama kalian!


πŸ“ž Kamu sudah sehat, nak?


πŸ“ž Alhamdulillah, Bu. Allah masih kasih kesempatan saya untuk tetap hidup.


πŸ“žBukdang, apa kabar?


ibu terdiam, itu panggilan khas dari Alam. Tapi dia belum yakin kalau yang memanggil itu Alam.


πŸ“ž Ibu kaget ya?


Gita sepertinya menahami keterkejutan ibunya Siti saat mendengar suara Alam.


πŸ“ž Kalian datang kan kesini.


Ibu sangat berharap Gita bisa datang ke Sukasari. Walaupun itu rasanya tidak mungkin. Mana mungkin gadis itu mau menginjakkan kaki di desa ini setelah tragedi itu.


πŸ“ž Maaf, ibu sepertinya kami tidak bisa datang. Soalnya Minggu depan kami resepsi, bareng sama pernikahan Siti. Makanya aku telpon ibu mau ngasih tau soal ini. Maaf banget,.Bu


ibu terdiam. Padahal dia sangat penasaran dengan suami Gita. Tapi apa mau dikata, Jadwal mereka bertabrakan. Ibu bisa memaklumi alasan Gita.


Hp Siti kembali di serahkan oleh yang punya.

__ADS_1


πŸ“ž Gita, ibu kembali ke dapur dulu, yA. soal nanti malam keluarga Rudi mau datang.


πŸ“ž rudi? Anak pak lurah, bukdang? Buuuk, nggak salah Siti sama dia? Masa sama anak kecil?


Siti tahu kalau Alam sangat mengenal Rudi. Wajar lelaki yang dianggap kakaknya itu marah mengetahui adiknya akan menikah dengan lelaki itu. Tapi demi hutang almarhum ayahnya, Siti tidak bisa melawan. Siti berharap ada pangeran yang bisa membawa pergi di hari pernikahannya.


πŸ“ž Haloooow?


lamunan Siti buyar saat mendengar suara Gita.


πŸ“ž Udah mulai belum, Gita?


πŸ“ž Mulai apa,ti?


πŸ“ž Hamil


πŸ“ž Ya, belumlah. ntar kalau kecepatan jadi gosipan orang.


πŸ“ž "Lah, cepat lebih bagus dong sayang." Sahut Alam


πŸ“ž "Ini apaan sih, nimbrung mulu." sewot Gita.


πŸ“ž hey! ini yang nelpon malah berantem


πŸ“ž Nggak tahu nih, Alam. Sejak nikah otak mesumnya kumat.


Gita mengadu pada Siti kalau suaminya mulai suka aneh-aneh. Siti tertawa mendengarnya karena yang dia tahu, Alam itu orangnya emang bucin.


Siti kaget ternyata Gita sudah tahu. Dia merasa sudah banyak ketinggalan cerita.


πŸ“ž Nah kan jadi kalian sudah tahu duluan tapi nggak ada yang ngasih tahu aku.


Terdengar Gita kesal karena lagi-lagi dia terlambat mengetahui semuanya.


πŸ“ž bukan nggak ada yang ngasih tahu tapi kamunya nggak peka, Gita.


πŸ“ž "Hahahaha betul itu, Siti. Dia curhat di makam orang, padahal yang di curhatin di depan mata." sahut Alam


Terdengar mereka tidak mau kalah satu sama lain. Siti senang Gita dan alam sudah bersatu. Sejak Gita koma dan pindah ke Jakarta, Siti melihat alam lebih sering murung dan penyendiri. Apalagi laki-laki itu sering melampiaskan ke diskotik bersama Keisya.


Banyak sekali aral melintang dalam hubungan mereka. Walaupun sudah di sakiti, tapi aku masih melihat kalau Gita masih mencintainya. Padahal Ilham tidak kurang menunjukkan rasa cintanya pada Gita. Berbahagialah kalian, Semoga cinta kalian langgeng sampai maut memisahkan.


Acara teleponan sudah selesai. Siti kembali dengan aktivitasnya membantu ibu di dapur.


"Siti, kamu ke rumah bibinya Alam, ya. Antar makanan ini."


"Baik,Bu." Siti mengambil rantang yang sudah disiapkan ibu.


Siti berjalan menyusuri kampungnya, tampak beberapa rumah yang sudah mulai di bangun. Beberapa hutan yang seharusnya di jaga sudah mulai gundul dan dijadikan proyek pembangunan perumahan.


Sampai di rumah bibi, Siti menyalami perempuan yang masih ada hubungan saudara dengan ayahnya. Bibi terlihat kurang sehat, Siti menawarkan agar bibi tinggal dengan dirinya saja. Apalagi semenjak bibi tahu Alam meninggal dalam kecelakaan.

__ADS_1


"Bi, tinggal sama kami saja. Ada kami yang akan menemani bibi."


" Tidak,ti. aku lebih senang disini. Rumah ini banyak sekali kenangannya, termasuk kenangan bersama Alam."


"Pokoknya bibi sekarang makan dulu, semenjak kak Alam meninggal, bibi sepertinya kurang sehat." bujuk Siti


Siti membuka rantang dan menyalinnya ke piring. Wanita itu terharu melihat kebaikan Siti, andai gadis di depannya adalah menantunya pasti dia akan senang. Siti menyuapi bibi dengan penuh kesabaran.


Andai dia jadi menantuku. batin bibi


Siti pamit pulang pada bibi. Ada rasa tak tega melihat bibi tinggal sendiri di rumah itu. Tapi apa mau dikata, bibi sendiri yang menolak ajakannya untuk ikut bersamanya.


Kak Alam seandainya kau tahu betapa bibi sangat merindukanmu. batin Siti


...----------------...


"Apakah disini masih menerima jasa Potografer?" suara itu mengagetkan Siti.


Dari jauh tampak seorang lelaki tersenyum ke arahnya. Siti mencoba meyakinkan dengan apa yang dia lihat.


"Kenapa lihatnya begitu? Kangen ya?"


Masih dengan kelakuan yang sama. Masih dengan sifatnya yang alay tapi nggak ingat umur. Kenapa dia bisa sampai disini? apakah Gita yang memberikan alamatku?


"Ah, jauh-jauh aku kesini masa sambutannya seperti itu?" ucapnya masih dengan sikap slengeannya.


"Yuk, aku kenalkan pada ibu dan abangku." ku tarik tangannya menuju ke rumah.


"Hey! Aku tahu kamu merindukanku. Tapi nggak maksa gini?" teriaknya.


"Pede amat nih orang. Aku kenalin ke ibu sebagai sahabat aku selama di Jakarta. Sekaligus menjadi panitia pernikahanku. paham!"


"Oh, kirain sebagai pasangan kamu?"


"Astagaaaa, om joooo!!!!" teriakku kesal.


Siti!!!!


I love you!!!


Maukah kamu menjadi pendamping lelaki tua sepertiku!!!


...----------------...


Gita sedang berjalan sendiri di sebuah pusat perbelanjaan ternama.


Seseorang mengikutinya dari jauh. Tak ada rasa curiga sedikitpun di benak Gita. Seorang wanita memegang photo Gita dan Alam.


Wanita itu melewati Gita sambil tersenyum. Gita yang melihat membalas senyuman wanita itu. Mereka pun berkenalan sambil berkeliling dengan troly masing-masing.


"Boy! Jadi ini wanitamu! Kau akan merasakan apa yang adikku rasakan dulu!"

__ADS_1


Tunggu saja, boy!


__ADS_2