Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
RhnS 14


__ADS_3

Sehun mengikuti langkah tentara tersebut hingga sampai di depan pintu sebuah ruangan.


“Masuklah!” perintahnya.


Sehun pun masuk ke dalam ruangan dan dari belakang, Sehun dapat melihat 3 orang wanita satu berjilbab dan dua wanita berambut panjang yang digerai. Sehun pun berjalan mendekat dengan gugup penuh keraguan.


"Permisi." ucap Sehun ragu, mereka bertiga pun menoleh dengan senang. Alangkah terkejutnya Sehun pada saat melihat ketiga orang itu, kepala Sehun kembali sakit. 'Akh!'


"Oppa!" latah gadis yang memakai jilbab tersebut dengan khawatir.


Sehun menahan rasa sakitnya, mereka bertiga pun menahan tubuh agar tidak jatuh.


“Tolong lepaskan aku! Aku baik-baik saja.” ucap Sehun yang mulai membaik.


Mereka bertiga pun melepaskan Sehun menarik nafasnya berat "Kalian untuk apa kemari?" tanya Sehun heran dan membuat mereka juga menjadi heran.


"Kakak!? Kamu bertanya kenapa kita datang kemari?" tanya gadis berjilbab itu tidak habis pikir.


"Kak Sehunie, kamu layak bertanya seperti itu pada kami, tapi tidak dengannya." keluh salah satu gadis yang tidak berjilbab, namanya Mina.


"Kakak, kamu tahu kan aku siapa?" tanya gadis berjilbab itu.


“Jihyo ya.” jawab Sehun polos, gadis yang ditunjuk Jihyo pun menjadi tidak habis pikir.


“Jihyo ya?? Yang benar saja.” keluh salah satunya lagi, yang ada di sana.


“Kak, kamu gak lupakan aku tunangan kakak?” tanya Jihyo.


“TuTu-tunang??"


“Ah, Ya Tuhan." keluh Mina frustasi.


"Biarlah, Sana, Mina, aku ngerti kok, aku sama Kak Sehunie memang tidak saling menyukai, dalam percintaan. Aku dan dia adalah adik dan kakak." jelas Jihyo yang terlihat tidak mempersalahkannya.


Sehun hanya dapat terdiam, saat ini dia hanya bisa mengingat nama Jihyo, Sana, Mina dan Twice, tidak selebihnya.


“Jika kamu benar-benar tunanganku, mari kita bicara berdua!” pinta Sehun, Jihyo setuju.


Tanpa diintruksikan, Sana dan Mina pun keluar dari ruangan meninnggalkan mereka berdua.


"Sebelum kakak bicara, aku ingin bertanya." ucap Jihyo.


"Katakanlah!"


"Selama setahun lebih ini, kakak kemana saja? Kenapa tidak pulang ke orang tua kakak, kakak malah langsung melaksanakan wamil di sini? Apa kakak tidak memikirkanku? Ah, tidak. Maksudku, jika bukan aku, setidaknya orang tua kakak." ucap Jihyo panjang penuh keluhan, terlihat matanya mulai berair. "Aku sangat merindukan kakak, tapi sepertinya kakak tidak perduli."


“Maaf, atas semua kesalahanku.” ucap Sehun yang merasa bersalah Tapi aku kehilangan ingatanku, aku tidak tahu kamu tunanganku, bahkan diriku sendiri, tidak bisa ku kenali." jelas Sehun merintih dengan penuh rasa penyesalan.


Mendengar penjelasan Sehun, Jihyo malah menangis. “Maaf, aku tidak tahu.” ucap Jihyo merasa bodoh penuh penyesalan.


"Hei, jangan tambah menangis! Aku bingung harus melakukan apa sekarang." ucap Sehun kedengaran cemas, Jihyo pun menghapus air matanya.


“Jadi selama ini kakak tinggal bersama siapa?”


"Tentunya bersama orang baik dan aku sangat menyayangi mereka.” jelas Sehun dengan bangga, Jihyo pun terkekeh, sehun pun menoleh dengan heran. “Kenapa tertawa?” tanya Sehun datar.


“Meskipun ingatan kakak dihapus, tapi sepertinya tidak menghapus lagat kakak yang masih sama.” jawab Jihyo tanpa rasa bersalah, Sehun menanggapinya dengan senyum.


"Ingatanku yang hilang, bukan sifat dan kepintaranku.” ucap Sehun sedikit mengeluh.

__ADS_1


“Maaf.”


Setelah pembicaraan itu, suasana pun menjadi hening, tanpa saling berbicara.


“Jihyo ya.” panggil Sehun.


“ Iya?”


“Tolong ceritakan tentangku, mungkin saja aku bisa ingat semuanya. Ceritakanlah sejelas mungkin!" pinta Sehun, Jihyo pun mengerti.


Jihyo mulai menjelaskan tentang kehidupan Sehun sebelum dia hilang ingatan, tentu saja hanya kenangan Sehun saat bersama Jihyo dan yang Jihyo tahu. Sehun terdiam setelah mendengarkan penjelasan dari Jihyo.


"Jadi seperti itu.” ucapnya lirih. "Menurutmu bagaimana sekarang?" tanya Sehun bingung, Jihyo pun terdiam.


"Entahlah.” jawab Jihyo ikut binggung.


"Saat aku sudah keluar, aku akan menghubungimu.” jelas Sehun, Jihyo mengangguk.


“Nomormu?”


“Ini.” ucap Jihyo memberikan kartu. "Ada nomorku dalam kartu nama itu." jelas Jihyo, Sehun kembali tersenyum.


"Oke, aku ambil.” Sehun mengambil kartunya."Jihyo ya.” Panggil Sehun lagi.


"Kenapa?"


"Kita sudah bertunangan, tapi kita tidak saling menyukai dalam hubungan cinta, kamu sendiri lebih suka hubungan adik dan kakak. Apakah dengan itu aku boleh menyukai gadis lain?"


“Tentu tidak. Kau tahu aku juga suka orang lain, tapi jika kita benar-benar menikah. Lupakanlah orang-orang itu!" balas Jihyo tersenyum, tentunya Sehun mengerti, walau pun hatinya sedikit kecewa.


“Oh, iya, tadi kamu gak ceritain punya orang yang disuka." ucap Sehun, Jihyo pun tersenyum malu dengan menggigit bibir bagian bawahnya.


“Sudahlah! sekarang sudahkan?”


“Aku akan memberitahukan kabar gembira ini sama orang tua kakak ya?” tanya Jihyo bersemangat.


"Jangan!"


"Kenapa?" tanya Jihyo heran.


“Hubunganku tidak baik saat aku meninggalkan Korea. Aku sudah ingat semuanya.” jelas Sehun lirih, Jihyo menurunkan tatapan matanya. “Hei, Jihyo ya, terima kasih.” ucap Sehun tersenyum.


“Sama-sama.”


“Jihyo ya, pulanglah! Aku memerlukan waktu untuk sendiri. Tolong jangan menceritakan apa pun tentangku, pada siapa pun!" pinta Sehun lirih, Jihyo tersenyum mengerti.


“Aku duluan." ucap Jihyo, namun langkahnya tiba-tiba terhenti.


“Ada apa?”


“Kak Jonginie di sini, dia juga sedang wamil." jelas Jihyo, Sehun tersenyum lemah.


“Terima kasih.” balas Sehun dengan tersenyum, Jihyo pun melanjutkan langkahnya.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumussalam.” Jihyo keluar dari ruangan itu.


Sehun yang mulai merasa sakit pun langsung mengambil tempat yang berisikan obat dalam sakunya, lalu membuka dan mengambil beberapa obat. Setelah meminumnya, barulah sakitnya mulai mereda.

__ADS_1


“Bahkan dia tidak menanyakan alasanku untuk masuk islam." ucap Jihyo dalam hati, sebelum benar-benar pergi meninggalkan ruangan tersebut.


****


Di sebuah Dermaga tempat dimana Sehun ingin melakukan bunuh diri, telihat seorang laki-laki tinggi menatap lautan yang indah itu.


"Oppa ya." panggil Jihyo, pria tinggi itu pun menoleh dan ternyata itu Chanyeol.


“Kau sudah datang." ucap Chanyeol ramah. "Jadi ... ingin membahas hal apa?" tanya Chanyeol heran.


"Sehunie Oppa.” jawab Jihyo lirih.


“Se-Sehunie!?"


“Dia masih hidup.” ucap Jihyo penuh percaya diri.


“Sungguh?” tanya Chanyeol lagi penuh pengharapan, Jihyo mengangguk.


“Bagaimana keadaannya sekarang?”


“Dia baik.”


“Syukurlah.” senang Chanyeol. “Yang lain harus tahu.”


“Jangan Oppa!” pinta Jihyo terburu, dan memunculkan keheranan di benak Chanyeol.


"Kenapa? Ini kan kabar bahagia?"


"Sehunie Oppa yang menginginkannya.” jelas Jihyo.


“Aku tidak ingin berbicara sebenarnya, tapi aku pikir salah satu dari kalian harus tahu.” jelas Jihyo gugup, Chanyeol tersenyum mengerti.


“Ah, baiklah. Terima kasih Jihyo ya.”


“Hm.” balas Jihyo. “Oh, iya, Oppa. Sehunie Oppa dia kehilangan ingatannya.”


Chanyeol sangat terkejut mendengar apa yang diucapkan Jihyo.


"Hilang ingatan!?"


“Iya. Karena itulah Sehunie Oppa tidak kembali ke Korea. Setelah kejadian itu terjadi Sehun Oppa dirawat orang baik, selama dia hilang ingatan. Sehunie Oppa juga mencintai keluarga barunya itu."jelas Jihyo. "Kalau begitu aku duluan. Assalamualaikum.” ucap Jihyo, kemudian berbalik arah dan saat dia akan melangkah...


“Tunggu!”


"Kenapa Oppa?” tanya Jihyo menoleh.


“Datang dengan apa?”


"Naik Bus.”


“Ayo aku antar!" ajak Chanyeol, Jihyo terlihat tidak percaya.


“Oppa yakin? Tidak biasanya." tanya Jihyo tidak menyangka.


“Karena aku juga naik bus." jawab Chanyeol terus terang dan itu membuat Jihyo menggeleng kepala tak habis pikir dengan senang.


"Ini mah, bukan aku antar, tapi bareng.”


“lya, itu maksudku.” ucap Chanyeol malu.

__ADS_1


“Mari Oppa!" ajak Jihyo.


Chanyeol pun jalan mendahului Jihyo dan Jihyo mengikutinya dari belakang, gadis itu terlihat senang.


__ADS_2