
Kediaman keluarga Spencer di kejutkan suara orang mengamuk di dalam kamar. Rere yang mendengarnya merasa ketakutan, Mama Marni mengecek kamar putranya. Hancur berantakan, di sudut tubuh Ronal bersimbah darah. kaca lemari pun pecah karena di tinju oleh Ronal.
Mama Marni panik melihat keadaan putranya seperti orang depresi. Ronal menyalahkan ibunya yang selama ini mengekangnya. Ronal juga menyalahkan ibunya atas keputusan Gita menerima lamaran Ilham. Ronal menyesalkan seandainya dulu tidak mengikuti kemauan ibunya, dia sudah kembali pada Gita.
Marni menampar putranya"Gita lagi! Gita lagi! Bangun! kalau dia mencintaimu, dia tidak akan menerima lamaran laki-laki lain."
"Sadar, nak! Masih banyak wanita yang lebih baik dari Gita."
Roki yang baru pulang dari kantor kaget ngeliat kondisi kamar Ronal yang penuh darah.
"Ada apa,ma?" tanya Roki
"Dia tidak terima kalo Gita mau menikah dengan pria lain."
Roki jongkok mendekati Ronal " ini namanya karma, kak. Ini juga terjadi pada Gita waktu kakak mau menikah dengan kak Dinda. Oh,ya kakak lupa saat dia koma kakak malah menikahi wanita lain, jadi nggak salah dong kalo Gita juga mencari laki-laki lain." jawab Roki dengan santai.
Roki beranjak dari kamar Ronal. Dia juga minta Mama Marni meninggalkan Ronal.
"Biar dia mikir, ma. Hukum karma itu nyata adanya."
Roki sebenarnya kasihan antara hubungan Ronal dan Gita yang banyak masalahnya. Tapi Roki melihat Ronal tidak tegas, gampang ikut arus. Jadi wajar kalau Gita mencari yang pasti, ya walaupun Gita belum bisa mengingat Ronal.
...----------------...
Beberapa hari kemudian, para sahabat-sahabat Gita mengadakan acara-acara bridal shower untuk menjelang pernikahan Gita. Walaupun sebenarnya Gita dan Ilham belum mengumumkan kapan pernikahan mereka. Tapi atas inisiatif Ine, mereka mengadakan bridal shower di resort Ine. Suami Ine mewanti-wanti supaya Ine jangan terlalu sibuk, apalagi kehamilannya sudah mulai besar. Tapi dasarnya Ine, si penyuka Party tetap tidak mendengarkan imbauan suaminya.
Ine, Siti dan Beta menghiasi ruangan tempat acara akan diadakan. Keisya datang ingin bergabung, Siti menanyakan siapa Keisya, Ine menjawab Keisya adalah calon Ronal dan kakaknya dokter ilham.
Jujur Siti melihat keisya sudah ilfeel. Sedari awal kedatangannya keisya cuma duduk dan main hp.
Gita datang bersama Ilham. Hanya saja, Ilham tidak di persilahkan masuk. Mereka beralasan ini acara khusus cewek. Ilham mengalah, dia akan menunggu di ruang bawah.
Gita dihiasi bando bunga oleh para sahabatnya. Siti memberikan buket bunga untuk Gita, Keisya yang ada di ruangan melihat Gita dengan sinis.
Kalo aku nggak mikir permintaan Ilham untuk datang kesini, mungkin aku sudah malas melihat acara unfaedah ini. Awas saja kalo dia nggak jadi sama Ilham. Akan ku buat hancur hidupnya. Aku heran, apa sih cantiknya dia, sampai Ilham dan Ronal tergila gila padanya.
Keisya menelpon Ronal untuk menjemputnya di resort Ine. Dia mulai tidak betah dengan acara ini. Menurut Keisya lebih baik dia ke diskotik bersama Ronal daripada disini.
"Kamu jemput aku, ya?" telpon Keisya pada Ronal.
"Pulang sendiri!" jawab Ronal ketus.
"Kalau kamu menolak. Aku akan melakukan sesuatu pada gadismu."
"Kamu pikir aku bisa di bodohi, kei."
__ADS_1
Keisya menutup telponnya, tak lama dia mengirimkan photo Gita yang berada di ruangannya. Ronal kaget, ternyata Keisya tidak main-main dengan ucapannya. Tak lama dia langsung mengambil kunci mobil dan berangkat ke resort sesuai alamat yang dikirim Keisya.
"ini kan alamat resort Ine."
"Jangan sampai Gita diapa-apain sama Keisya." Ucap Ronal setengah panik.
Ilham bilang sama Gita kalau dia ada panggilan dari rumah sakit. Ilham menitipkan Gita pada Keisya. Keisya bilang dia akan di jemput Ronal sebentar lagi.
"Gita sama kami saja, ham."
"Oke deh. Aku pamit dulu, ya." Ilham mengecup kening Gita. Diiringi riuhan suara teman-temannya yang baper melihat mereka.
"Gita, aku mau mengajak kamu kesebuah tempat. Mungkin akan membantu ingatanmu."
Aku mengikuti kemana mereka pergi. Kami memasuki lorong kamar hotel milik Ine, oh tidak jangan bilang mereka mau mengingatkan kejadian dulu. Aku harus pergi dari sini. Aku tidak mau membuka kenangan soal Ronal.
Saat menaiki lift, semua teman-teman keluar. Gita memencet nomor untuk lantai bawah.
Saat Ine memencet kamar Gita dulu, Ine tak melihat Gita.
"Gita mana?" Tanya Ine pada Siti karena yang Ine ingat Gita bersama Siti di belakang.
"Lah, ini gi .." Siti juga kaget Gita tak ada di sampingnya.
"Astaga. Sepertinya dia tertinggal di lift." Ine langsung mengajak teman-temannya untuk turun mencari Gita.
"Ngapain kamu disini!" Suara Ronal mengagetkan Gita yang sudah keluar dari lantai atas.
Aku kaget saat mendengar suara itu. Saking kagetnya, tubuhku hampir oleng tapi keburu di tangkap kak Ronal. Apa dia merasakan degup jantungku saat bertatapan dengannya? Semoga saja tidak. Aku sadar tanganku ternyata menyentuh dadanya. Jangan! Aku tak ingin melihat matanya.
"Lagi ada party disini. Kakak nyari kak Keisya, kan." jawab Gita.
"Bukan. Aku nyari kamu." jawabnya.
Gita melihat tangan Ronal di perban, lalu menanyakan kenapa dengan tangannya. Ronal menjawab kena kaca.
"Udah gede masih main kaca." ledek Gita.
"kamu sendiri kenapa tangannya?" Ronal tanya balik.
"Nggak tahu? katanya sih aku kesurupan."
Ronal tertawa "Zaman sekarang masih ada kesurupan."
Gita menatap wajah Ronal yang ceria di hadapannya. Tawa yang dia rindukan selama ini. Gita tersadar, kalau dirinya tidak boleh terbuai dari laki-laki didepannya.
Senyum itu. Oh tuhan tolong!
__ADS_1
Mereka berjalan beriringan hingga di depan gerbang hotel. Entah kenapa Gita masih merasakan debaran jantungnya yang kencang saat bersama Alam. Lelaki disamping tak bergeming memandang gadis yang masih bertahta di hatinya.
"Gita"
"Hmmmm..."
"Apa kamu mencintai Ilham?" Gita hanya mengangguk tanpa memandang Alam.
"Selamat, ya." Alam berjalan mendahului Gita. Entah kenapa dadanya terasa sesak mendengar kabar ini.
"Aku ...." Alam belum menyelesaikan ucapannya terjeda dengan deringan telepon.
"kamu mana sih?" Telpon Keisya.
"Ya, kamunya dimana? aku sudah di bawah." jawab Ronal.
"Aku di parkiran. Cepat, ini mau hujan kayaknya." perintah Keisya.
"Gita!!!!" teriak Ine.
"Kamu kemana, sih." omel ine.
"Aku lapar. Mau cari makanan di luar." elak Gita.
"Mau cari makanan di luar apa mau ketemuan." goda Siti melirik Ronal.
"Dia mau jemput kak keisya." jawab Gita sambil mencari hp nya untuk menghubungi Ilham.
"Mau telpon siapa?" tanya Ine.
"Mau telpon laki gue." jawab Gita
"Kan tadi dia bilang, kalo ada pasien UGD. makanya dia nitip elo, ke kita non Gita Mandasari." suara Ine membuat telinga Gita kesakitan.
"Ya, maaf. Saya lupa." Gita sambil nyengir.
"Iyalah lupa. kemana-mana berdua. awas aja kalo kalian nggak jadi nikah" celetuk Beta.
Gita nyengir lihat teman-temannya mengomel.
Gita mengingatkan kalo dia sangat lapar. Ine mengajak mereka ke resto di hotel. Gita pengen makan pisang goreng. Akhirnya mereka mencari pisang goreng di luar resto, tapi mereka tidak menemukannya.
"Kangen pisang goreng ibu." Siti kaget mendengar ucapan Gita.
"Nggak salah dengarkan. Kamu ingat pisang goreng buatan ibuku." ucap Siti meyakinkan ucapan Gita.
Gita mencoba mengelak kalo yang dimaksud adalah pisang goreng buatan mama Yulia. Siti masih tidak percaya. Dia yakin Gita mulai sedikit mengingat.
__ADS_1