Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
107. S2: Sop buntut


__ADS_3

Gita sedang duduk di dekat jendela kamarnya yang diatas. Pikirannya melayang seolah ada Alam di dekatnya.


"Kamu lagi apa sayang?" Alam duduk dijendela


"yang kamu lihat lagi apa?" jawab Gita sambil menatap bulan.


"Pasti lagi kangen sama aku?"


"Idih Ge-er" jawab Gita sambil tersenyum


"Nggak papa aku juga kangen sama istriku yang semok ini." alam memegang pinggang Gita.


"Astaga ngatain aku semok" Gita mencubit perut suaminya.


"Gita.."


"Hmmm.."


"i love you."


"love you to."


Alam memeluk pinggang Gita dengan erat.


Lalu mengelus perut Gita. Gita merasa geli


sekilas dia menatap wajah suaminya, alam mendekatkan wajahnya ke arah Gita.


"Kok elus perut terus, geli."


"Ya kan anaknya perlu diajak juga... entar dia bilang gini


" Ayah, masa bunda aja yang di elus. Aku nggak!"


Gitu jawabnya."


Gita tertawa "Emang bisa begitu,?"


"Bisa lah yang, coba aja kalau kamu nggak turuti mau nya, pasti dia nendang nendang terus. Kan berabe. ujung-ujungnya aku juga yang turun tangan."


Alam mencoba mendekatkan bibirnya ke bibir Gita.


PRAAAAANKKK!!


Gita melihat salah satu photo pajangan pernikahannya jatuh. Seketika dia melihat alam sudah tidak ada lagi. Dia sadar yang dilihatnya hanya halusinasi semata. Mungkin benar dia merindukan suaminya.


Gita mengelus perutnya "Nak, kamu kangen kan sama ayah." Air mata menetes. Lusa dia akan berangkat ke Australia bersama Mama Yulia.


Gita membersihkan photo pernikahannya yang pecah. Mama yang melihat membantu membersihkan pecahan. Sambil mengomel mengira Gita yang memecahkannya.


"Bukan aku, ma. Tadi jatuh sendiri."


Apakah itu pertanda buruk pernikahan mereka. Ya Allah jauhkanlah anak dan cucuku dari marabahaya, atau mungkin terjadi sesuatu pada Alam.


"Ma?" Gita membuyarkan lamunan mama Yulia.


"Iya, nak."


"Mama sepertinya ada yang di pikirkan."


"Nggak ada kok, nak. Kamu istirahat ya. Kasihan anakmu nanti ikut capek."


"Ma, maafin Gita ya ma. Gita sudah banyak menyusahkan mama dan papa."


"Kamu ngomong apa sih? sudah seharusnya kami sebagai orang tua melindungi anaknya, menyenangkan anaknya, walaupun nyawa taruhannya. Kamu anak mama satu satunya Gita."

__ADS_1


"Ma."


"iya kenapa lagi?"


"Gita rindu sama.."


"Mama paham, nak. Kamu yang sabar ya nak. Ini ujian pernikahan kalian."


"Jadi, Mama tidak akan bawa Gita ke Australia kan?"


Mama terdiam. Terpaksa iya mengiyakan Gita, walaupun sebenarnya mama tetap mantap bawa Gita ke Australia. Di samping bisa berobat, mereka bisa menghindarkan dari keinginan Marni untuk mengambil anak Gita.


"Sekarang anak mama tidur, ya? Istirahat yang cukup, ibu hamil tidak boleh capek." Mama menemani Gita di kamar.


Sesaat setelah Gita tertidur, mama beranjak dari tempat tidur Gita. Mama ke dapur karena merasa lapar. Mama membuka kulkas melihat apa yang bisa diolah menjadi makanan. Bi Endah melihat majikannya ke dapur malam-malam ikut bantu memasak.


Tok tok tok


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu rumah Gita. Mama langsung ke depan membuka pintu. Ada Roki dan pak zay yang berdiri di depan.


"Roki, ada apa malam-malam ke sini?" tanya mama heran melihat kedatangan Roki.


"Gita ada Tante?" tanya Roki


"Gita sudah tidur. Ada apa?"


"Bisa tolong bangunkan Tante? Kami mau membawa Gita ke rumah sakit?"


"Untuk apa? siapa yang sakit?"


"Kak Ronal tadi tertembak, karena mencoba kabur dari polisi. Kondisinya kritis Tante."


"Terus kamu mau Gita tahu soal ini. Kamu lupa kalau Gita tidak boleh stress. Bagaimana nanti kalau ada apa-apa dengan kandungannya? Apa kalian mau tanggung jawab! Hah!" marah Mama Yulia.


"Tante.. Tolong.." mohon Roki.


"Asal kalian tahu ya! Mama kalian sudah mengancam Gita untuk mengambil bayinya! jadi buat apa Gita bertahan dengan keluarga yang tidak pernah menganggapnya ada! sekarang kalian pulang saja!" usir mama Yulia.


Mama berbalik melihat Gita yang sudah di belakangnya.


"Ada apa, ma?" tanya Gita saat melihat mamanya marah-marah.


Sementara Roki dan pak zay sudah pulang.


"Nggak ada apa-apa, Gita? kok kamu bangun sayang."


"Lapar, ma. buatin aku sop buntut ma."


"Sup buntut. Aduh nak, bahannya nggak ada, ini sudah jam 11 malam. Sop sayur aja ya. kan bagus untuk kandunganmu."


"Nggak mau, ma. Aku mau nya sop buntut!" rengek Gita.


"Bu, non Gita tu ngidam." bisik bi Endah.


Mama berhambur ke kamar membangunkan Papa. Mama bilang sama Papa kalau Gita ngidam sop buntut.


"Ya, buatin dong, ma." kata papa.


"Kalau ada bahannya sih bisa, tapi bahannya nggak ada, pa. Pusing mama, pa?"


"Lah masih mending Gita minta sop buntut. Mama dulu nyuruh papa manjat pohon beringin. Lebih serem ngidam Mama." kenang papa.


Mama tertawa kalau ingat saat ngidam hamil Gita dulu. Papa menelpon kerabatnya yang punya restoran untuk mengirim sop buntut ke rumah. Tak lama pesanan Gita datang.


"Ini nak sop buntutnya." mama menyodorkan semangkuk besar sop buntut.

__ADS_1


"Nggak mau, ma."


"Loh, tadi kan kamu yang pesan. ini sudah ada."


"Mama sama papa yang makan. Gita cuma pengen lihat mama papa makan saja."


"Astagaaaa!!!!" mama dan papa menutup keningnya masing-masing.


Bi Endah dan Gita tertawa melihat kedua orangtuanya pusing sama ngidam Gita.


...----------------...


Sementara di rumah sakit Bhayangkara.


Mama Marni menangis melihat kondisi putranya yang masih kritis. Tubuhnya tak pernah beranjak dari samping anaknya. Mama terus menyalahkan dirinya, mama merasa bersalah karena sudah buat Alam sekarat.


Roki pulang ke rumah sakit tanpa Gita. Mama menanyakan apakah Gita mau menemui Alam.


Roki menatap mamanya dengan kesal.


"Apa yang sudah mama lakukan pada Gita, ma?"


"Maksudnya?"


"Mama mengancam Gita untuk mengambil bayinya. Sekarang keluarga Gita marah dan tidak memperbolehkan membawa Gita. Jika sesuatu terjadi pada kak Ronal, ini salah mama."


Plaaaaak


Sebuah tamparan mendarat ke wajah Marni.


"Perempuan macam apa kamu! yang ingin memisahkan ibu dan anak. Jangan samakan dengan kamu, Marni! Kamu bisa tega meninggalkan anakmu demi menikahi laki-laki kaya."


"Sekarang bawa kembali menantuku, Marni!" teriak bibi pada Marni.


Bibi kecewa pada Marni. Menurutnya, tindakan Marni sudah terlalu jauh. Tidak ada ibu yang mau berpisah dari anaknya. Dirinya saja tidak ingin berpisah dari Alam, anak yang sudah dia besarkan.


...----------------...


Sebuah kaki berlari kencang. Di belakangnya segerombolan kaki mengejar pemilik kaki tersebut. Suara nafasnya ngos-ngosan, teriakan dari si pengejar.


"Hey! jangan kabur!"


Tapi pemilik kaki tersebut masih terus berlari. Kakinya hampir kelelahan tapi tidak menyurutkan langkahnya untuk pergi.


"Berhenti!"


Dooooor!!!!!


Gita terbangun. Nafasnya ngos-ngosan, dia bingung dengan mimpinya barusan.


"Mamaaaaaaa!!!!" pekiknya


Gita merasa ketakutan yang sangat dalam. Seketika dia menyudutkan tubuhnya di tempat tidur. Sama seperti ketakutannya saat di hantui mimpi pria terbakar dulu.


"Maaaammmaaa!!! Gita takut, ma!" tangisnya.


Mama langsung mendekati kamar Gita. Di lihatnya putrinya sedang ketakutan. Mama langsung memeluk Gita, lalu menghidupkan alunan ayat-ayat Alquran di hp nya, tak lama Gita tertidur.


Ya, Allah, nak. Apalagi yang membuat kamu ketakutan seperti ini. Maafkan mama, nak. maafkan mama.


"Ma. Apa kita pertemukan saja mereka." kata Papa.


"Maksudnya?"


"Kan mama tadi bilang kalau Alam sedang di rawat di rumah sakit. Kita antarkan Gita ke suaminya."

__ADS_1


"Terus gita nanti di maki-maki lagi sama Marni. Nggak! Mama nggak ikhlas ngeliat Gita di tindas mereka lagi, pa."


"Kita yang antar Gita besok." kata papa meninggalkan kamar Gita.


__ADS_2