
Satu bulan kemudian
POV Gita
Ku tatap koper yang ada di depanku. beberapa baju memenuhi isi koper tersebut. Mau kemana? Aku mau pulang ke Jakarta, banyak yang harus ku selesaikan.
"Gita sarapan dulu!" panggil kak Grace.
Aku meninggalkan koperku dan berjalan ke arah ruang makan. Wangi selai hazelnut, membuat selera makanku bergetar. Ah, bukan mau ku ini, tapi si utun yang pengen. Ku dudukan tubuhku di sebuah kursi. Kucolek selai hazelnutnya sedikit demi sedikit.
Kak Grace terus menatapku seolah ada yang aneh dalam diriku. Tak lama datang Gery yang sudah siap dengan bawaannya. Aku sedikit kaget karena koper Gery besar sekali, Padahal rencananya cuma PP saja.
"Kamu mau kemana ger?" tanya ku sambil menyantap selai hazelnut.
"Kan mau nganterin onty ke Jakarta. Gimana sih?" sungut Gery
"Ah, iya tapi nggak sebanyak itu juga kali. Kan kita pulangnya malam, nggak nginap Gery salut coklat!" Jawabku sambil menertawakan ponakanku yang satu ini.
"Gita, kamu harus nginap. Nggak bagus kalau ibu hamil pergi perjalanan jauh pulang pergi. Kasihan anakmu." nasihat kak Grace.
"Tuh, onty dengar! lagian kok onty nggak mau nginap sih. Emang onty nggak mau melepas rindu sama papanya."
"Apaan sih ger? Anak kecil sok tau!" kilahku.
Nggak aku lagi malas ketemu dia. Aku masih pengen nenangin diri. Walau sebenarnya rindu sih. Tapi, dia aja nggak pernah nyari aku.
"Ger, mama titip ini buat bila, ya." ucap kak Grace membawa satu pak paket oleh-oleh makanan Bandung.
"Ini juga buat suami dan mertuamu, Gita." aku tersedak. Kak Grace ngapain juga ngirim ini untuk keluarga Spencer. Mereka aja nggak ada yang peduli sama aku.
"Iiya .... btw bila itu siapa, kak?" tanyaku pada kak Grace.
"Calonnya Gery." jawab kak Grace yang sudah duduk menikmati makanan di meja.
Tak lama kak Grace menyodorkan satu gelas susu. Aku lihatnya saja sudah mual, apalagi kalau di minum. Sepertinya kak Grace tahu aku enggan minum susu, tapi dia terus menggodaku dengan meminum susu tersebut.
kalau boleh jujur aku ngiler banget saat melihat kak Grace minum susu itu.
klik
Gita berdiri di depan kantor Spencer. Gita mencari Siti, beruntung sahabatnya itu ada di tempat kerja.
Gita langsung berlari memeluk Siti. Tangisnya langsung pecah di pelukan sahabatnya. Siti mengajak Gita ke kantin kantor.
__ADS_1
"Kamu kenapa? Bertengkar dengan kak Alam?" ucap Siti melihat ke gundahan sahabatnya.
"Aku dan Alam akan bercerai, ti?" jawab Gita terisak.
"Cerai? apa gara-gara penggerebekan di Bali itu ya?" tebak Siti.
"Gerebek? di Bali? sama siapa?" Gita kaget mendengar penuturan Siti.
"Sama ... sama Nabila. Masa kamu nggak tahu sih, Gita. Kak Alam di turunkan jabatannya sama om Bobby juga karena kasus ini!" cerita Siti
Deg! Gita terkejut mendengar cerita dari Siti. Dia tidak menyangka suaminya itu benar-benar ada main dengan Nabila.
Siti melihat sosok di belakang Gita, buru-buru pamit pada Gita. Alasannya harus kembali bekerja. Gita heran melihat Siti yang terburu-buru, padahal mereka baru saja bertemu. Setelah Siti pergi, Gita pun mencoba memakan ayam goreng yang di depan mata. Entah kenapa mencium bau ayam dirinya merasa mual.
Gita berbalik ternyata ada Alam di belakangnya. Dengan cuek Gita melengos dari hadapan suaminya. Alam menahan tangan Gita dengan erat. Tak ada pancaran bahagia di wajah Alam.
"Mau apa kamu kesini?" ucap Alam dengan ketus.
"Aku...aku ... mau ketemu Siti" Gita tak bisa berkata apa-apa lagi.
Di tatapnya wajah Alam yang sudah kurus dan pucat. Gita sedih melihat suaminya seperti tak terurus.
"kamu mau apa, Gita? Mau bahas soal perceraian kan. Kamu tenang saja, aku sudah menuruti kemauanmu. Kalau kamu mau lihat aku terluka karena ulahmu, selamat kamu berhasil Gita. Dan dari semua ini membuka mataku seperti apa kamu sebenarnya! Kamu pergi tanpa kabar, tiba-tiba kamu mengirimkan surat perceraian, mau kamu begitu kan. Setiap ada masalah kamu selalu mengancam bercerai!"
Gita kesal mendengar penuturan Alam. Tadinya dia ingin mengabarkan soal kehamilannya. Tapi mendengar ocehan lelaki yang sudah menikahinya hampir 8 bulan, tercetus balasan ucapan Alam.
"Kenapa kamu pergi tanpa kabar saat di Bali? Kenapa kamu buat drama seolah kamu hilang dan aku yang seolah bersalah di mata keluargamu? Sandiwara apa yang sedang kau buat bersama orangtuamu, Gita."
Gita menepis tangan Alam "Sandiwara katamu? Aku seperti ini karena siapa? karena kamu dan keluargamu! Ken itu sepupumu,kan. Dia yang punya masalah denganmu, tapi kenapa aku yang jadi sasaran? kenapa bukan kamu atau keluargamu!"
"Jangan bawa keluargaku dengan masalah ini! mereka tidak melakukan apa-apa! Ken itu bukan keluargaku! Dia keluarga Roki! Mereka mengejarmu karena kamu istriku!"
"Oh, karena aku istrimu! Jadi setelah perceraian ini, aku harap tidak ada lagi yang mengusik kehidupanku!" balas Gita tidak mau kalah.
Gita meninggalkan Alam dengan perasaan kesal. Setidaknya dia sudah mengeluarkan apa yang menjadi ganjalannya selama ini.
Gita masuk ke WC langsung memuntahkan isi perutnya yang sedari tadi ditahannya.
Hueeeek hueeeek hueeeek
Gita keluar dari WC, kaget ternyata Alam menunggu di depan pintu WC. Alam mengunci WC, lalu menatap lekat ke wajah Gita. Tubuhnya hanya berjarak satu centimeter.
Gita menelan salivanya, takut lelaki di hadapannya melakukan yang aneh-aneh.
__ADS_1
"Kamu hamil?" tanya Alam
"Enggak! cuma masuk angin saja!" kilah Gita.
"Bohong! Masuk angin nggak gitu! Kamu hamil kan! Kalau memang benar kamu hamil, Kenapa kamu bersikeras ingin perceraian ini?" cerca Alam.
"Karena aku tidak mau anakku malu punya ayah seperti kamu! Yang suka selingkuh dengan sekretarisnya." ucap Gita dengan nada tinggi.
Alam menghembuskan nafasnya dengan kasar.
"Jadi kamu sudah tahu soal itu? Gita aku sekalipun tidak pernah terbersit selingkuh dengan Nabila. Kenapa kamu tidak pernah percaya sama aku, hah!"
Gita mendengus kesal, bagaimana dia bisa percaya dengan lelaki di depannya. Dulu saja, Alam mendekatinya untuk bisa balikan dengan Dinda. Dulu saja, Alam welcome sama Keisya. Sekarang dia minta untuk percaya, bullshit banget.
"Ikut aku!" Alam menarik Gita dengan paksa.
Gita terus melawan untuk melepaskan diri dari Alam. Tapi dia masih kalah kuat dengan lelaki itu. Alam memasukkan Gita ke dalam mobil. Lalu memasangkan safety belt di arah Gita, tak ada tatapan mesra dari lelaki itu.
"Aku mau di bawa kemana?" ucap Gita ketakutan.
Yang ditanya hanya diam saja. Lelaki itu terlalu fokus dengan menyetir mobil. Gita mencoba menghubungi Gery untuk mengikutinya. Alam melirik hp Gita.
Tak lama mereka sampai di sebuah klinik dokter kandungan. Gita tahu kalau Alam mau memastikan dirinya hamil apa tidak. Akhirnya saat menunggu panggilan dokter Gita mengeluarkan amplop yang sedari tadi ingin diperlihatkannya pada Alam.
"Puas!" jawab Gita saat melihat Alam membaca isi amplop itu.
"Sudah berapa lama?" tanya Alam
"Aku sudah tidak haid sebelum Zahra datang menyerangku." jelas Gita masih membuang muka.
"Jadi saat di Bali kemarin kamu sudah hamil? Kenapa kamu tidak bilang!" omel Alam melihat istrinya sudah lama menyembunyikan kehamilannya.
Bagaimana bisa aku menjelaskan semua nya.
semua terjadi begitu cepat dari kejadian Zahra, liburan ke Bali sampai di sekap Ken cuma dalam semalam.
Aku pun baru menyadari kehamilan ini saat sudah di Jakarta.
Lalu kalau kamu tahu aku hamil apakah kamu akan menjadi suami siaga.
Aku rasa tidak!
Alam menggenggam tangan Gita dengan lembut, tatapannya yang tadi dingin berubah menjadi tatapan yang penuh cinta.
__ADS_1
Lalu membungkuk di depan Gita "Aku mohon kamu pikirkan lagi soal perceraian itu, demi anak kita. Tidakkah kau ingin melihat anak kita mempunyai orang tua yang lengkap. Tidakkah kamu lupa bahwa momen ini adalah yang kita nantikan selama ini. Ini permintaan aku yang terakhir, Gita."
Gita celingak-celinguk melihat orang-orang di sekitar klinik. Adegan mereka malah menjadi tontonan buat para pasien yang antri menunggu panggilan dokter.