Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
94. Cerita numpang lewat


__ADS_3

Sepulang dari rumah kediaman Spencer, Gita memilih menyendiri di pantai. Deburan ombak seperti mengajaknya bermain bersama.


Gita mencoba mencoba ikut bergabung, seolah dia ingin merayakan status barunya sebagai janda.


bruuuukkk


Gita merasakan kepala sedikit pusing saat melihat ombak. Entah kenapa dia merasa mual, seolah ombak adalah sesuatu yang mengerikan di matanya.


Sayup sayup dia mendengar suara seseorang memanggil namanya. lalu dia merasakan gelap.


...----------------...


"Siapa yang mengirimkan ini!" ucap Alam gusar melihat berkas yang sudah ada tanda tangan dirinya dan Gita.


"Non ... non Gita ... den." ucap mbak Diah takut-takut.


Alam tidak percaya kalau Gita yang mengirimkan surat perceraian itu. Yang pasti dia yakin orang suruhan mamanya yang mengirimkannya.


"Jangan bohong! tidak mungkin Gita yang mengirimkan surat ini!"


"Benar den, saya sendiri yang menerima langsung dari non Gita." bela mbak Diah.


Alam lemas, kenapa Gita tiba-tiba minta cerai. Padahal mereka tidak ada masalah apapun. Alam yakin Gita pasti di tekan oleh orang suruhan ibunya. Tak menunggu lama, Alam mengambil kunci mobil untuk pergi ke rumah Gita.


Pikirannya berkecamuk antara butuh penjelasan dan pikiran suudzonnya terhadap ibunya. Sampai di sana, dia mendapat kabar kalau Gita belum pulang.


"Cuma satu tempat yang biasa dia datangi saat ada masalah. Pantai!" Alam langsung melajukan mobilnya ke pantai Ancol.


Hp nya berdering


Ada telpon dari Ilham yang menemukan Gita pingsan di dekat ombak dan hampir terseret ombak.


Sontak alam kaget. Dia langsung melajukan ke arah balik ke resort Ine, tempat di mana Gita diamankan.


Di resort Ine


Gita di periksa oleh Ilham setelah hampir terseret ombak. Lama Ilham terdiam saat memeriksa kondisi Gita.


"Kenapa kamu sendiri? mana suamimu?" tanya Ilham.


Gita langsung menangis kuat-kuat. Dia meminjam bahu Ilham untuk menumpahkan semuanya.


"Dia menceraikan aku, ham." tangis Gita masih meledak. Gita menggenggam kuat bahu Ilham.


Ilham tertegun mendengar penuturan Gita. Setega itukah laki-laki itu menceraikan Gita.


"Kenapa? Apa kalian ada masalah?" Gita menggeleng.


Ilham mengepalkan tangannya. Ada rasa marah melihat Gita diperlakukan seperti itu. Ingin rasanya dia menghabisi lelaki itu sama seperti dia dulu menghajar Ronal habis-habisan.


"Jadi ini alasan kamu mau tanda tangan perceraian kita." sebuah suara mengejutkan mereka.

__ADS_1


"Aaa ... Alam." Gita kaget plus masih sesenggukan.


"Iya, kaget! Kaget, aku mendapati kemesraan Kalian. Aku tidak menyangka Gita, kamu semurah itu. Berpelukan dengan laki-laki yang bukan suamimu."


"Alam? Dia bukannya Boy, kan." Ilham bingung saat Gita memanggil boy dengan sebutan Alam.


"Dia memang Alam, ham. Alam alias Ronal, Boy itu hanya nama samaran dia." jelas Gita.


"Membingungkan." jangankan Ilham Yang nulis cerita ini juga ikut bingung. hehehehe


Alam pergi penuh kemarahan. Ilham Mencoba menyusul Alam. Untuk menjelaskan kondisi Gita. Tapi ditahan oleh Gita.


"Percuma menjelaskan pada orang yang sedang emosi, ham." terang Gita.


"Sekarang tolong jelaskan kenapa kamu tidak datang di pemakaman Raisa."


"Pemakaman? siapa yang meninggal, Gita?"


"Raisa. Dia keguguran dan kehilangan banyak darah."


"Aku tidak tahu soal itu. Aku minta maaf Gita."


"Jangan minta maaf padaku, ham. Tapi minta maaf pada Raisa dan keluarganya. Mereka kecewa sekali sama kamu."


"Tapi memang itu bukan anakku, Gita. Aku tidak pernah menyentuhnya."


"Apapun itu, ham. Kamu nggak pernah mencoba mengecek kondisinya."


"Masuk!" Alam mendorong Gita dengan kasar saat masuk ke mobil. Gita seperti ketakutan melihat kemarahan suaminya.


Kenapa dia bukan seperti alam yang biasanya? Kenapa dia seperti sosok yang mengerikan hari ini? Apa karena kejadian tadi?


Gita dan Alam terdiam dalam pikiran masing-masing. Ada kekecewaan yang lama di pendam laki-laki itu, apalagi kalau ternyata Gita masih berhubungan dengan Ilham. Terdengar suara menangis Gita, membuatnya tersadar dengan apa yang baru saja dia lakukan.


"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud menyakitimu."


"Lalu surat itu bukan untuk menyakitiku, dengan mudah kamu tanda tangan. Kamu pikir aku wanita apa?"


"Tapi kamu juga tanda tangan, itu artinya kamu juga menyetujuinya." jawab Alam tidak mau kalah.


"Ya, sudah anggap saja memang sudah selesai." Gita turun dari mobil. Tubuhnya mendadak lemas. Dengan sigap Alam membawanya kembali ke mobil.


Saat Gita terbangun, dia sudah berada di kamar Alam. Matanya berkeliling melihat sekitar, ada suaminya yang sedang tertidur disampingnya.Tubuhnya mencoba bangkit tapi perutnya tertahan dengan tangan alam yang melingkar di tubuhnya.


Gita tersentak dia ingat pesan mamanya agar tidak berhubungan sampai setelah resepsi. Tapi semua sudah terjadi, apakah semalam dirinya sudah melakukannya dengan Alam. Gita tak ingat, yang dia ingat semalam masih di pantai.


Perutnya masih terasa mual, Gita memuntahkan isinya di kamar mandi. Kepalanya masih pusing, Gita duduk di atas WC lalu tertidur.


Alam terbangun dari tidurnya, melihat istrinya tidak ada di tempat. beranjak ke kamar mandi dan mengangkat Gita yang tertidur.


Paginya

__ADS_1


Gita mempersiapkan kebutuhan suaminya seperti pakaian untuk berangkat kerja, lalu menggosok baju suaminya karena terlihat kusut.


Saat sedang menyeterika, sebuah tangan mengalung di pinggang Gita.


"Aku lagi kerja nih, ntar gosong lo bajunya."


Si pemilik tangan tidak perduli "Masih kangen sayang." Pelukannya semakin erat. Gita merasa sesak nafas dan melepaskannya pelan-pelan.


cup!


Sebuah sentuhan mendarat di pipi Alam. Lalu Gita kembali meneruskan aktivitasnya.


"Sudah, ya. Bayi besarku, mama mau kerja dulu." tangannya menguwel pipi Alam.


"Yang, disini belum?" Alam menunjuk bibirnya. Gita tidak peduli, dia kembali menyelesaikan aktivitasnya.


"Aku bolos kerja ajalah." rengeknya.


"Ooooo... mau bolos ya?" Tangan Gita siap menjewer telinga Alam.


"Janji ya!" ucap Alam masih mengalungkan tangannya di pinggang Gita.


"Soal?"


"Soal berkas itu jangan dibahas lagi. Tidak akan ada perceraian diantara kita. Semalam berkas itu sudah dihancurkan." ucap Alam sambil mencium rambut Gita.


Zreeeeet zreeeeet zreeeeet


Hp Gita bergetar, Alam mencoba mengangkatnya.


📞 Halo Gita! Kamu dimana, nak? Kenapa semalam tidak pulang!


📞 Assalamualaikum, ma, ini aku ma, Alam. Gita sama aku kok, mama tenang saja.


📞 Astaga kalian, ya! Ingat kalian itu masih di pingit! Tahan dulu kenapa sih. Suruh Gita pulang sekarang!


📞 Maaf, ma. Tapi bukannya kami tinggal resepsi saja.


📞 Kalian itu akan ijab kabul ulang. Paham! Sekarang panggil Gita! Mama mau ngomong!


Alam menyerahkan hp Gita pada si empunya. Gita mengangkat telepon mamanya, kerut wajahnya menandakan kalau dia sedang mendapat siraman rohani.


Selesai mendapat telepon dari Mama Yulia, Gita bersiap-siap untuk pulang. Saat mereka keluar bersama dari kamar, Marni berdiri di depan kamar mereka dengan wajah dingin.


"Gita bisakah kita bicara empat mata!" ucap Mama Marni


"Bisa, ma." jawab Gita gugup.


Dia tahu Marni masih belum menerima dirinya. Gita mengikuti Marni ke ruang kerja tuan Spencer.


Hmmmm kira-kira apa yang mau mereka bicarakan, Ya!

__ADS_1


Tetap pantengin ceritanya,ya!


__ADS_2