Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
RhnS 22


__ADS_3

Sehun yang sedang menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk kering, sementara tubuh yang tadinya sempat terlihat kumuh sudah kembali bersih. Sehun kembali menatap dirinya di cermin tanpa ekspresi sama sekali, dia memandangi tubuh memarnya di tubuhnya.


"Apa Ibu, Ayah dan Bibi mengetahui luka ini ya?" tanya Sehun pada dirinya sendiri.


"Mas." ucap Bu Khodijah membuka pintu dengan membawa air hangat.


Sehun menoleh dan alangkah terkejutnya Bu Khodijah melihat Sehun yang terlihat usai mandi. Bu Khodijah dapat melihat beberapa luka Sehun dan memar di tubuh Sehun, dengan kesal Bu Khodijah mendekati Sehun, Sehun sedikit menjadi takut.


"Siapa suruh mandi?" bentak Bu Khodijah, Sehun pun menjadi takut.


"Bi-Bibi, a-apa salahnya mandi?" tanya Sehun gugup saat melihat wajah Bu Khodijah yang ingin menerkamnya. "Hm??"


"Menunduklah!" pinta Bu Khodijah yang masih kesal, Sehun menggelengkan kepala tidak mau.


"Gak mau, nanti Bibi pasti bakal jewer aku, terus bilang. Mas Rehan! Kok kamu nakal banget. Bantah terus omongan Bibi." ucap Sehun memperagakan kira-kira apa yang akan terjadi.


Bu Khodijah menatap Sehun dengan pelolotan sadis kesal, hingga Sehun menjadi bungkam bukan main. "Maaf." ucap Sehun merasa bersalah.


"Udahlah! Mendingan kamu siap-siap aja sana! Pake baju yang bener. Ibu katanya mau ngomong sama kamu di bawah." ucap Bu Khodijah yang kembali menjadi lembut.


"Ibu udah gak marah Bi?" tanya Sehun lirih dengan penasaran.


"Iyalah. Dia mana bisa marah lama-lama sama kamu, dia kan sayang banget sama anaknya ini." jelas Bu Khodijah lembut, Sehun pun mengangguk. "Udah sana! Bibi mau turun duluan."


"Iya, Bi."


Sehun memperhatikan Bu Khodijah yang menjauhi kamarnya, setelah keluar dari kamar, Bu Khodijah tidak lupa menutup pintu. Sehun pun bergegas untuk bersiap-siap.


****


Sehun turun menuruni tangga, dia dapat melihat Bu Fatimah dan Bu Khodijah duduk bersama. Sehun perlahan mendekati Bu Fatimah dan Bu Khodijah yang memang sudah menunggu Sehun sembari tadi. Sehun mendekat, kemudian duduk di samping Bu Khodijah.

__ADS_1


"Fatimah, katakan pada Mas Rehan penyesalanmu itu!" pinta Bu Khodijah dengan berdiri, kemudian membiarkan mereka berdua.


Ibu menatap Sehun yang juga menatapnya dengan lembut, Sehun tersenyum sempit, rasanya sedikit canggung. Ibu menundukan pandangannya hingga tatapan Sehun menjadi jatuh.


"Ibu, maafin Rehan ya!" pinta Sehun lirih penuh rasa bersalah, Ibu pun menatap Sehun yang terlihat merasa bersalah.


"Kenapa kamu yang minta maaf?" tanya Bu Fatimah heran dengan lirih.


"Hm, karena aku yang membuat Ibu sampai marah gitu, aku yang membuat Ibu menumpahkan air mata." jelas Sehun yang merasa sangat bersalah.


Bu Fatimah menatap Sehun dengan tersenyum haru, dia pun menyentuh kedua belah tangan Sehun dan menyatukannya di paha Sehun. Sehun menatap Bu Fatimah bingung, Bu Fatimah pun hanya membalas dengan tersenyum.


****


Sehun menatap sebuah paket yang terbungkus kertas dengan heran. Kertas itu bertulisan 'from Park Jihyo, untuk Oh Sehun'


"Tumben Jihyo ngirimin paket!?"


Sehun mulai membuka paketnya dengan merobeknya, dan robekannya dia lempar ke atas ranjangnya. Sehun dapat melihat sebuah bingkai foto yang terdapat foto sebuah bayangan pria tinggi, Sehun terkejut melihatnya.


Selain bingkai foto, Sehun juga melihat dua amplok putih yang ditandai amplok 1 dan amplok 2. Sehun pun menyobek amplok kedua, telihat sebuah surat, Sehun pun membukanya.


'Oppa ya, ini adalah sebuah paket yang ku kirimkan untukmu secara rahasia. Di amplok satu lagi, terdapat foto pria yang selama ini aku sukai. Oppa ya, kamu jangan terkejut saat melihatnya nanti. See you again.' tulis Jihyo dalam hangul.


"Hm, jadi penasaran."


Tidak mau menunggu lama, Sehun pun menyobek amplok satunya lagi. Saat melihat pria dalam foto itu, alangkah terkejutnya saat Sehun mengetahui jika itu adalah foto Chanyeol.


"What!? Anak ini, kecil-kecil menghanyutkan." keluh Sehun sedikit kesal. "Chanyeolie Hyung!?" ucap Sehun tidak percaya. "Aih... Dia berani juga ya?" ucap Sehun yang awalnya tidak percaya menjadi salut.


Sehun mengambil selembar kertas dari laci dan sebuah pena hitam, dia mengambil bangku kemudian mendudukinya. Sehun mulai membalas pesan dari Jihyo dengan wajah yang polos.

__ADS_1


'Adikku yang nakal, kau harus menjelaskan semuanya nanti, sejelas-jelasnya. Aku tidak habis pikir denganmu, Chanyeolie Hyung? Kapan? Aigoo, kau ini.' tulis Sehun, Sehun pun langsung mengemas dalam sebuah amplok putih.


****


Sehun mengendarai motornya mendekati sebuah post office terdekat, Sehun memasuki tempat tersebut, dia memakai jaket, topi serta masker untuk menutupi dirinya. Tanpa sengaja pandangan Sehun tertuju pada seorang gadis, dan itu adalah gadis SMA itu, dia terlihat akan mengirimkan paket.


"Nona itu mengirim paket untuk siapa? Apa keluarga, kerabat, teman, atau pacarnya?" ucap Sehun penuh pertanyaan dan nadanya sedikit merendah saat kata pacarnya.


Setelah memberikan paket itu, gadis itu tersenyum dengan ramah. "Terima kasih." ucapnya ramah.


Gadis itu pergi meninggalkan tempat tersebut, barulah karyawan post melayani Sehun.


"Kirim kemana Pak?" tanyanya karyawan tersebut, namun pandangan Sehun tertuju pada gadis yang baru saja keluar tersebut. Karyawan yang merasa dia diabaikan pun mengerti apa yang dilihat Sehun. "Siapanya Bapak?"


Sehun yang terkejut dengan pertanyaan itu pun langsung menoleh. "Bukan siapa-siapa saya." jawab Sehun gugup, karyawan itu tersenyum. "Oh, iya. Apakah aku terlihat tua sampai aku dipanggil Bapak?" tanya Sehun tidak habis pikir.


"E-enggak Mas. Saya kira Masnya udah tua, makanya saya bilang Bapak." jawab Karyawan itu gugup, Sehun pun hanya bisa berdehem.


"Ini Pak." Sehun menyerahkan suratnya, Karyawan itu pun mengambil suratnya dengan ramah dan langsung menanganinya.


Setelah tertangani, Sehun keluar dari Post Office, di sana Sehun masih dapat melihat gadis itu menunggu sebuah angkutan umum berhenti di depannya. Awalnya Sehun sudah siap untuk pulang, namun niatnya terhenti saat melihat gadis itu. Sehun duduk di sebuah bangku yang ada di sana, sementara pandangannya tertuju pada gadis itu yang jelas tidak menyadari kehadirannya.


****


Dengan penampilan seperti beberapa hari sebelumnya, Sehun pun memasuki kelasnya kembali, tatapan orang-orang itu masih seperti biasa menatap Sehun dengan berbagai macam. Lagi-lagi Sehun mengabaikan mereka lagi, dia hanya dapat duduk dengan tenang di bangkunya.


“Kak kemarin Kakak berhasil lolos lagi ya? Soalnya kayanya kakak baik-baik aja kayanya.” ucap Aji penasaran, Sehun pun tersenyum membenarkan.


Rupanya pembicaraan mereka berdua telah diketahui oleh Bryan, Aldi dan Boby, terlihat wajah mereka bertiga yang merencanakan sesuatu.


“Oh, iya. Luka udah mendingan gak?” tanya Aji yang terdengar khawatir.

__ADS_1


“Iya, udah mendingan.” jawab Sehun ramah. “Aku beruntung, mendapatkan seorang teman, walau pun ini adalah hari ketiga kalinya kita ketemu, tapi dia baik banget. Aku yakin banget, masa depan yang cerah bakal dia dapetin nantinya.” ucap Sehun dalam hati kagum.


Tidak lama setelahnya, Dosen memasuki kelas mereka, mereka semua pun langsung terfokus dengan pelajaran tersebut. Kepintaran, ketangkasan dan kecerdasan mereka sudah akan di uji di hari ini.


__ADS_2