Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
98. Di balik rahasia pernikahan (21+)


__ADS_3

Gita akan menarik selimutnya, tiba tiba ada mengetuk jendela kamarnya. Gita ketakutan, apalagi sekarang malam Jumat. Dengan siaga, membuka sedikit jendelanya sambil memegang sapu untuk memukul si penyusup.


Tiba-tiba ada yang masuk dengan sigap dia memukul si penyusup, terdengar suara kesakitan, Gita mengenal suara itu. Lalu menghidupkan lampu kamarnya.


"Astaga!" Gita kaget si penyusup adalah suaminya sendiri.


"Ngapain sih ngendap begitu?" omel Gita.


"Ya, mau gimana lagi, sayang? Kalau dari depan ada Mama." Alam duduk di tempat tidur Gita.


"Terus gimana bisa naik?"


Alam menunjuk sebuah tangga dan ada Papa yang tersenyum dari bawah.


"Kenapa kesini?"


Alam memeluk Gita dengan erat "Kangen." Gita risih dengan pelukan suaminya. Alam jongkok dan mencium perut Gita.


"Hai anak ayah. Apa kabar? Ayah kesini mau ketemu kamu nak. Jangan bandel ya, jangan nyusahin ibu." Alam terus mengelus dan mencium perut Gita.


Gita merasa geli, lalu menghindar. Tapi tangan di tahan, lalu mendarat sebuah pagutan panas dari bibir mereka. Tangan Gita mengalung ke leher. Adegan berlanjut ke atas ranjang. Gita terus menarik keras kemeja Alam. desahan demi desahan terus keluar dari bibir Gita. Alam membuka piyama Gita dengan pelan, di tatapnya bukit kembar milik Gita, lalu menatap si empunya, Gita sadar ini tidak boleh mereka lakukan lagi. lalu mendorong tubuh Alam.


"Jangan gini lagi, ah." Jawab Gita malu-malu. Sembari membetulkan piyamanya.


"Kenapa? kita kan suami istri" alam masih memeluk Gita diatasi ranjang.


"Cukup waktu di pantai kita kebobolan. Jangan sampai untuk yang kedua kalinya."


"Kedua? Ini yang ketiga kayaknya." jelas Alam


"Yang kedua kapan?"


"Waktu dikamar." jawab Alam dengan santai.


"Astaga! Kamu ya!" Gita menimpuk suaminya dengan bantal. Alam menangkis timpukan bantal dengan kembali menciumnya. Adegan yang sama kembali berlanjut. Tubuh mereka bergelayut dalam hasrat.


Malam semakin larut mereka berpadu hanya dengan menutup tubuh dengan selimut. Gita tertidur di bahu Alam. Tangannya terus mengelus rambut Gita. Tak henti-hentinya dia mengecup kening Gita.


"I love you ... i love you forever." ucapnya saat melihat Gita masih tertidur.


Alam melirik tangga yang ternyata sudah tidak ada lagi. Dia bingung bagaimana bisa pulang kalau tangganya tidak ada. Cuma satu caranya, dia terpaksa menginap di kamar Gita. Matanya melihat Gita yang masih tertidur tapi tanpa sehelai baju di tubuhnya. Dengan hati-hati dia memasangkan kembali satu per satu pakaian Gita.


...----------------...


Beberapa hari kemudian

__ADS_1


"Pernikahan kalian tidak sah!" ungkap Mama Marni saat Alam mengumumkan kehamilan Gita pada keluarganya.


"Kok tidak sah, ma! Kami sudah menikah saat di rumah sakit. Surat nikahnya ada." jawab Alam.


"Kamu lupa kalau pernikahan kalian itu secara siri, buku itu hanya sebagai tameng untuk buat Gita percaya kalau kalian sudah menikah. Disana tidak ada tanda tangan Gita kan. Lam, ibu sudah mewanti-wanti sama kamu, sebelum hubungan kalian semakin jauh, tinggalkan Gita. Sekarang kejadian kan, kamu tidak akan bisa menikahi Gita karena dia sedang berbadan dua. Haram hukumnya."


"Tapi, Bu."


"Kamu mau anak kalian menanggung semua yang kalian lakukan. Jangan sampai yang kamu alami juga kejadian dengan anakmu. Ibu akan bicara sama Yulia soal masalah ini." jelas Mama Marni lalu meninggalkan meja makan.


"Yang mama bilang benar, kak. Seharusnya kalian bisa menahan setelah resepsi. Sekarang sudah kejadian, apa kata para kolega kalau kakak menikahi wanita yang hamil." ucap Roki


Alam menghentakkan meja. Dia kecewa dengan sikap keluarganya.


"Aku akan tetap menikahi Gita, Walaupun tanpa restu kalian!" Alam meninggalkan meja makan dengan perasaan kacau.


Dadanya terasa sesak, sudah lama dadanya tidak kumat sakitnya. Alam langsung ambruk tak jauh dari meja makan, sayup terdengar suara memanggil namanya.


klik......


Malam itu, Gita terbangun perutnya mual-mual, badannya terasa lemas, sudah satu jam lebih mualnya tidak hilang. Tak lama Gita ambruk, pingsan tanpa ada yang tahu. Mama mengecek keadaan Gita, tapi kamarnya di kunci.


"Mungkin dia sudah tidur." Mama kembali ke kamar tanpa curiga apapun.


"Ma." Panggil papa saat sudah berada di kamar.


"Mulai besok mama tidur sama Gita aja ya. Dia kan lagi hamil, jadi harus butuh pengawasan. Apalagi dia jauh dari suaminya." usul Papa.


"Iya, pa. Pa, mama merasa berdosa pada Gita."


"Kenapa, ma?"


"Pernikahan Gita kan sebenarnya siri, tapi kalau dia hamil apa sah kalau dia menikah ulang. Mama takut kalau tiba-tiba Alam membatalkan pernikahannya, kasihan Gita dan anaknya, pa."


"Mama baru menyesal sekarang setelah kejadian. Waktu Gita merasa down saat mengetahui dia sudah menikah, mama kemana. Selama ini papa diam karena menghormati keputusan mama. Papa sadar diri, ini rumah mama, perusahaan juga dari keluarga mama, tapi papa merasa semakin lama, mama nggak pernah meminta pendapat papa, apakah papa setuju atau tidak dengan keputusan mama, Seolah tidak ada yang menghargai status papa sebagai kepala rumah tangga."


"Pa, kenapa menjurus kesitu sih? Mama nggak pernah menganggap Papa seperti itu. Itu karena mama adalah ibunya yang melahirkan Gita, wajar kalau aku ingin yang terbaik untuk anakku. Tidak ada hubungannya dengan masalah wibawa."


"Terserah mama! Tapi satu yang harus mama sadari, pernikahan ini mama yang mau kan. Secara tidak langsung mamalah yang sudah menghancurkan Gita. Kalau Gita tahu pernikahannya itu sebenarnya tidak sah, dia akan lebih hancur lagi. Dia akan kembali mengalami depresi seperti dulu, bahkan mungkin lebih nekat."


Mama terdiam. Dia takut kalau Gita tahu yang sebenarnya. Rumit memang, tapi mama yakin Alam akan tetap bertanggung jawab dengan kandungan Gita.


...----------------...


Pagi itu, mama mengetuk kamar Gita tapi tidak ada sahutan. Mama memanggil papa untuk mendobrak pintu kamar Gita. Takut kalau putrinya itu drop, akhirnya pintu di dobrak. Mama terpekik melihat Gita tak sadarkan diri di kamar mandi.

__ADS_1


Ambulans pun mengiringi Gita ke rumah sakit. Ilham melihat Gita di bawa ke ruang periksa menanyakan pada mama tentang Gita.


"Tante, apa yang terjadi pada Gita? Apakah kandungannya bermasalah?"


Mama Yulia heran kenapa Ilham tahu soal kehamilan Gita. Akhirnya Ilham menceritakan kejadian saat Gita terseret ombak karena depresi akan di ceraikan Alam.


"Apa Alam mau menceraikan Gita! Kurang ajar! Setelah semua ini dia mau meninggalkan Gita!" ucap Mama Yulia emosi.


"Iya, Tante. itu yang Gita ceritakan pada saya Tante."


"Tante!" panggil Ilham


Mama Yulia menoleh "Kalau Alam tidak mau tanggung jawab aku mau jadi ayah pengganti." sahut Ilham.


"Tante Yulia!" Suara Siti memanggil dari arah berlawanan.


Mama Yulia langsung memeluk Siti sambil menangis.


"Gita gimana keadaannya?" tanya Siti.


"Sampai sekarang belum sadar, ti." jawab mama Yulia masih sesenggukan.


"Sebenarnya apa yang terjadi Tante..." Siti penasaran dengan kondisi Gita.


"Gita hamil dan Alam mau menceraikannya." sahut Ilham.


"Nggak mungkin kak Alam begitu, ham. Justru dia yang berharap kalau Gita bisa hamil."


"Terserah kalau tidak percaya! Yang pasti itu yang Gita katakan sama aku." Ilham tidak mau kalah.


"dan kamu mau ngambil kesempatan, iya kan." ucap Siti mulai emosi melihat Ilham.


Dokter keluar dari ruangan dan menyatakan Gita sedikit mengalami drop akibat pengaruh kankernya. Tapi dokter takjub melihat janinnya masih kuat. Prediksi dokter mungkin jika memungkinkan bayinya akan lahir prematur.


"Anak saya hamil berapa bulan, dok?" tanya mama Yulia.


"Dua Minggu." jawab dokter


"Saya bisa bertemu suaminya, ada yang harus saya jelaskan tentang kandungan Gita."


"Jelaskan dok bagaimana kandungan anak saya." ucap papa Dul


"Sepertinya kehamilannya lemah kalau tidak di jaga akan berpengaruh dengan nyawa ibu dan bayinya. Maka itu saya harus menjelaskan ini ke suaminya."


Semua menoleh. Mama Yulia sudah menghubungi Alam tapi tidak diangkat. Edwar yang mendengar hal itu langsung berinisiatif menemui Alam. Terpancar emosi di wajah Edwar dan Ilham, mereka berdua pergi bersama menemui Alam.

__ADS_1


Rasanya ingin aku menghajar lelaki itu, sama seperti aku menghajarnya saat ulang tahun Gita dulu.batin Ilham.


__ADS_2