
Sehun memasuki kelasnya seperti biasa, namun kali ini pandangannya tertuju pada bangku Aji yang kosong dengan lembut penuh kebingungan dengan keheranan.
"Kemana Aji saat ini? Tumben sekali dia belum datang." ucap Sehun penasaran, Sehun pun duduk di bangkunya dengan perasaan aneh.
****
Sehun keluar dari kelasnya dan seperti biasa lagi-lagi Sehun dihadang Bryan, Boby dan Aldi dengan tatapan meraka yang sinis.
"Hei! Plastik. Lu jangan pikir bisa kabur lagi dari kita." ucap Bryan, Sehun pun terdiam sejenak.
"Sekarang apa lagi?" tanya Sehun dengan nada datarnya. "Apa kalian masih iri sama orang bulukan kaya aku?" tanya Sehun tanpa rasa takut.
"Lu tau, penolong lu sekarang udah gak bisa nolong lu. Bocah itu udah kapok pasti temenan ama lu." ucap Boby asal, Sehun pun menjadi terkejut dan langsung saja kaki Boby diinjak oleh Bryan dan Aldi.
"Lupain aja yang dibilang Boby! Yan, langsung aja ama tujuan kita." jelas Aldi, sementara Sehun hanya terdiam merenung.
"Oke. Jelasnya, kami gak suka kalo lu dapet temen." jelas Bryan terlihat penuh kebencian.
"Apa? Apa kesalahanku sebenarnya?" tanya Sehun tidak habis pikir dengan nada tingginya. Hal itu mengejutkan mereka bertiga.
"Karena lu plastik." bentak Bryan.
"Kalian ngapainin Aji?" tanya Sehun yang mulai terpancing emosinya. "Kalo masalahnya sama aku, gak usah sakitin Aji. Dia baik."
"Dia kaya gitu karena dia temen lu."
"Yan, langsung kasih tau kesepakatan yang dibuat kita aja ke dia." ucap Aldi.
"Oh, iya. Hampir gua lupa." ucap Bryan yang baru mengingat sesuatu. "Gua mau bikin kesepakatan sama lu."
"Apa?"
"Setiap pulang Sekolah, lu harus mau kita bertiga pukulin dan setiap istirahat lu harus mau jadi pelayan gua, kalo gak..."
"Kalo gak apa?" sentak Sehun.
"Gak usah ngegas!" balas Bryan dengan membentak dan mendorong kepala Sehun dengan jarinya. "Kalo gak si Aji yang bakal dapet siksaannya. Gimana?" ucap Bryan, Sehun pun terdiam, tanganya meremas celananya dengan geram.
Sehun mencoba menetralisasikan dirinya, dia menarik nafasnya. "Aku setuju, asal jangan sakitin orang yang gak ada hubungannya sama masalahku."
"Bagus-bagus." ucap Bryan senang, begitu pun Boby dan Aldi.
__ADS_1
"Jadi sekarang aku akan dipukuli dimana?" tanya Sehun pasrah.
"Ikut kami!" jelas Bryan.
Dengan tidak ikhlas Sehun pun mengikuti mereka bertiga, hingga sampai di toilet pria, Sehun menatap pintu toilet itu.
"Apa tempat kalian membuli orang cuma di toilet ini?" tanya Sehun tidak bahis pikir.
"Jangan banyak bacot!" ucap Aldi.
Dia mendorong Sehun masuk ke dalam toilet hingga Sehun terjatuh di dalamnya. Mereka pun memasuki tolet tersebut, Sehun berusaha bangkit, namun tangannya ditentang oleh Boby hingga terjatuh lagi, tepatnya di saat Bryan akan menutup pintu.
"Angkat tangan kalian!" perintah seseorang dari luar, serempak mereka bertiga pun mengangkat tangan mereka dengan terkejut.
Beberapa polisi memasuki toilet tersebut dengan menodongkan senjata dan dua orang dari mereka membantu Sehun untuk bangkit dan mengamankannya. Sementara polisi yang lain meringkus mereka bertiga dan membawanya, beberapa orang yang masih ada di kampus pun menyaksikan itu. Polisi membawa mereka bertiga pergi dengan menaiki mobilnya.
****
Sehun memasuki sebuah Ruang Kamar yang ada di Rumah Sakit, dia dapat melihat Aji yang berbaring di sana. Sehun menatap Aji yang terbaring di ranjang Rumah Sakit dengan prihatin. Tidak lama setelah itu itu Aji pun tersadar, Aji tersenyum dengan kedatangan Sehun.
“Kak duduklah!” pinta Aji lirih, Sehun pun menuruti permintaan Aji. Aji mencoba membangunkan dirinya dan saat Sehun akan membantu, Aji menolak dengan memberikan isyarat.
Aji menatap Sehun dengan tersenyum, Sehun pun menunduk dengan malu. “Aku minta maaf, ya.” ucap Sehun merasa bersalah.
“Tapi kamu kaya gini gagara temenan sama aku.”
“Gak sepenuhnya karena Kakak, merekanya aja yang gak puasan liat Kakak bahagia.” jelas Aji dengan tersenyum. “Hari ini Kakak dipukulin lagi gak?”
“Hampir, untung aja polisi datang.”
“Syukur deh.”
“Kamu yang laporin polisi?” tanya Sehun penasaran.
“Hmm, maaf ya, Kak. Aku udah gak bisa mentolerin mereka lagi, aku kesal dengan mereka, sok berkuasa di kelas.” jelas Aji penuh keluh kesah dengan lirih, Sehun pun membalasnya dengan tersenyum.
“Gimana kesehatan kamu?” tanya Sehun khawatir, Aji pun tersenyum.
“Hm, udah baikan.” jawab Aji lirih. “Tapi kata orang tuaku aku akan dibawa keluar negeri untuk pengobatan lanjutan dan sekalian kuliah juga di sana.” ucap Aji lagi, namun kali ini membuat Sehun sedih.
“Keluar negeri. Jika kamu pergi, aku gak tau apa aku dapet temen atau gak entar, sejauh ini temanku hanya kamu.” ucap Sehun sedih.
__ADS_1
“Jangan khawatir Kak! Kalo gak ada mereka bertiga, aku yakin Kakak bakal banyak temen. Gak usah cemes!”
“Kamu yakin?”
“Aku yakin banget malah.” balas Aji mantap. “Oh, iya, Kak. Aslinya kulit Kakak itu emang gini atau putih?”
“Kulitku yang asli itu pas pertama kali aku ke kelas.”
“Terus apa alasan Kakak jadi buluk kaya gini?” tanya lagi penasaran.
“Aku pikir dengan kulitku yang coklat ini, mungkin mereka akan melepaskanku dan aku akan mendapatkan teman apa adanya.” jawab Sehun.
“Kaya aku ya?”
“Iya.”
“Hm, teruslah dengan prinsip Kakak!” ucap Aji memberikan semangat, Sehun pun tersenyum.
****
Beberapa hari setelah perawatan pun, Aji bersama keluarganya benar-benar pindah. Dengan ditemani Pak Husein, Sehun memberikan salam perpisahan Aji dan keluarganya. Sehun menghampiri Aji yang tengah duduk di kursi roda yang didampingi orang tuanya. Sehun mengeluarkan sebuah liontin dan memberikan liontinnya pada Aji, Aji pun menjadi terheran.
“Ku berikan ini sebagai pengingat jika aku pernah mengenalmu.” jelas Sehun. “Dan ini untukku.” lanjutnya lagi dengan menunjukan liontin lainnya, Aji pun tersenyum. “Meskipun baru beberapa hari, tapi aku ngerasa punya temen sejak kecil.”
“Makasih Kak.” balas Aji terkesan. “Jarang banget orang yang bisa temenan sama aku apa adanya, tapi Kakak itu temen pertama kali aku yang begitu singkat.” lanjutnya. Tidak lama setelahnya Aji pun mengeluarkan sebuah foto, yaitu fotonya sendiri. “Pasanglah fotoku di liontin Kakak, biar Kakak juga inget aku!” ucap Aji memberikan fotonya, Sehun pun mengambilnya.
“Akan ku pasang, tapi aku gak punya foto untuk dipasangin di liontin kamu.” ucap Sehun merasa bersalah, Aji pun tersrnyum.
“Gak perlu, aku bisa seaching foto Kakak di internet.”
“Diinternet? Memang bisa nemuin?” tanya Sehun meragukan.
“Aku sudah tau Kakak siapa.” jawab Aji, Sehun pun tersenyum mengerti.
“Aji ayo!” ajak kedua orang tua Aji, Aji pun menfangguk.
“Sampai jumpa Kak.” salam Aji, Sehun kembali mengangguk.
“Assalamualaikum.” pamit Aji bersama kedua orang tuanya ramah, Pak Husein dan Sehun pun juga membalas ramah.
“Waalaikumussalam.”
__ADS_1
Waktu berlalu dengan cepatnya, Aji dan keluarganya sudah duduk nyaman di pesawat. Sehun mengamati kepergian pesawat yang ditunggangi Aji dan keluarganya dari awal sampai pesawat itu tidak tampak lagi.