Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
126. S2: Masih di Bali


__ADS_3

Satu jam kemudian


Gita yang sudah sadar, masih di temani Papa. Papa memberikan minuman pada putri semata wayangnya. Masih terasa sakit kepalanya, Gita merasa bersalah sudah merepotkan Papanya.


Papa merubah posisi duduknya, merapat di samping Gita. Tangannya membelai rambut Gita yang kuning kecoklatan.


Gita menatap lekat, lelaki yang sangat disayanginya, lebih dari rasa sayang dan cintanya pada Alam. Karena cuma Papa yang selalu ada untuk dirinya. Gita membangkitkan tubuhnya untuk sejajar posisi dengan papa Dul.


"Pa, makasih ya." ucapnya lirih. Suaranya masih lemah efek pingsan tadi.


"Buat?"


"Papa mau mengajak Gita liburan. Jujur aku bosan di kurung terus. Maafkan Gita yang masih merepotkan mama dan papa." ucap Gita penuh sesal.


"Kamu ngomong apa sih, nak? Itu sudah tugas kami sebagai orang tua untuk melindungi kamu. Keadaannya sedang seperti ini, nak. Papa juga tidak menyalahkan suamimu atas masalah ini."


"Apa papa berantem lagi sama mama?"


Papa terdiam mendengar pertanyaan Gita.


Dia akui akhir-akhir ini selalu selisih paham dengan istrinya. Apalagi mama yang mulai hilang respect pada Alam. Berusaha membuat Gita dan Alam berpisah.


"Ini gara-gara aku kan, pa." Gita makin merasa bersalah karena sudah membuat kedua orangtuanya terus bertengkar demi dirinya.


"Maafkan papa, Nak. Papa cuma kesal sama mama yang menjauhkan kamu dengan Alam. Mamamu terlalu ikut campur dalam urusan rumah tangga kalian. Seharusnya tidak usah saling menjauh seperti ini. Kalian jadi saling tersiksa seperti ini."


"Tersiksa? Ah, dia mungkin sudah lupa sama aku, pa. Mungkin dia sekarang sedang asyik sama sekretaris itu." Gita membayangkan Alam dan Nabila sedang bermesraan.


"Sebenarnya apa masalah kalian?" tanya Papa Dul.


"Bukannya papa sudah tahu?" Gita mendelik ke arah Papa Dul.


"Iya. Tapi papa mau dengar versi kamu. Karena versi mama pasti akan menyalahkan Alam. Jadi papa mau tahu dari kamu yang sebenarnya terjadi."


Gita menunduk. Lalu menyerahkan video skandal hubungan Alam dan Sekretarisnya. Gita menatap langit yang terang dari jendela kamar. Matanya mendadak sendu.


"Mama tidak salah, pa. Aku yang minta mama untuk sekedar menjauh dari Alam. Papa tahu, dia lebih memilih menemui sekretarisnya dari pada menyelamatkan aku dari ancaman Zahra. Sakit rasanya, pa. Sakit banget, dulu bisa ku maafkan saat dia tidak menemuiku ketika aku lumpuh dan buta. Tapi kenapa, pa? Kenapa dia tidak belajar dari masa lalu?"


Papa memeluk Gita. Dia paham apa yang di rasakan putrinya itu. Tapi dia tidak menyalahkan Alam. Mungkin ada alasan lain Alam menemui sekretarisnya.


"Papa bukannya ada pertemuan bisnis." Gita mengingatkan papanya.


"Astaga! Papa lupa!" papa memukul jidatnya.


Gita tertawa melihat ekspresi Papanya.


"Ya, udah papa pamit dulu. papa pesankan makanan buat kamu, ya. Kamu pasti belum makan. Kasihan anak papa kelaparan." goda Papa.


"Pa, habis makan Gita boleh ke pantai?"


Papa mengangguk menandakan mengizinkan Putrinya main ke pantai. Gita bangun memeluk papanya "Makasih, pa. Gita pesan minumnya orange jus aja sama salad saja."


Papa tersenyum, sebenarnya tidak ada pertemuan seperti yang dia bilang pada Gita dan juga Alam. Papa sengaja mengajak alam ke Bali agar bertemu dengan Gita. Agar mereka menyelesaikan masalah mereka. Tapi sepertinya rencana papa akan susah, karena dari Gitanya yang belum ingin di temui.

__ADS_1


klik



Alam sudah kembali ke kamar. Dia duduk balkon, melihat hamparan pantai. Begitu banyak kenangan kalau bertema pantai. Matanya mengitari sekitar hotel. Dia tidak menyadari kalau Gita juga sedang duduk di dekat balkon memandang pantai.


Gita turun ke bawah. Ada papa yang menunggunya di bawah menemaninya pergi ke pantai. Rambutnya yang sebahu di tutup dengan topi pantai yang lebar. Berlari menikmati ombak.


Papa menjauh dari pantai yang mulai sepi akibat pandemi. Sambil mengutak-atik hp nya matanya mengedarkan pandangan.


"Kamu dimana?" telepon papa


"Aku di hotel, pa. Papa Dimana?"


"Papa di pantai. Papa susul ke hotel, ya."


"Nggak usah, pa. Biar aku yang nyusul ke pantai."


Alam langsung turun menuju ke pantai. Dari jauh papa melihat alam sudah masuk ke pantai, senyumnya mengembang. Saat ini papa mencoba bersembunyi dulu. Memantau dari jauh agar mereka bisa bertemu.


Gita berdiri di pantai. kakinya melangkah mengikuti jalan sepanjang ombak. Bajunya mulai kotor karena duduk di pasir basah. Kakinya terhenti saat melihat sosok di depannya.


Kenapa dia ada disini?


bagaimana kalau dia melihatku?


Gita berlari mendekati sosok itu. tapi kembali terhenti karena teringat masalah yang menimpa mereka. Dia membalikkan tubuhnya. Berjalan ke arah berlawanan.


Angin sore yang begitu kencang. Alam membalikkan badannya, melihat seorang wanita bertopi sedang berjalan. Tak kecurigaan sedikitpun, tapi saat topi wanita itu terbang, mata membulat.


"Dapat!" teriak Gita saat topinya jatuh ke pasir.


Matanya tertuju pada sebuah kaki tepat di depannya. Di tatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Seketika dia seperti terkepung, kakinya kaku. Mata mereka saling bertatapan, sedikit demi sedikit Gita memilih langkah mundur. Lalu membalikkan tubuhnya.


Dekapan dari belakang mengikat tubuhnya. Air matanya mulai turun. Gita mencoba berontak, walau hatinya tak bisa berontak.


"Tolong jangan berbalik! Biarkan seperti ini saja!" bisik Alam memeluk erat tubuh Gita. Dia tak ingin melepaskannya lagi.


"Jangan pergi lagi! Aku mohon jangan pergi lagi!" ucap Alam terdengar lirih.


Tubuhku ingin menolak, tapi mengapa ragaku tak bisa menolak.


Rasa sakit yang kurasa masih sangat kuat, tapi kenapa sekarang aku seperti kalah.


Kamu sudah buat aku kecewa, sekarang kenapa aku tak bisa meluapkan rasa kecewa ini.


Song title - Seluruh nafas ini (last child feat Giselle)


Kita telah lewati


Rasa yang pernah mati


Bukan hal baru

__ADS_1


Bila kau tinggalkan aku


Tanpa kita mencari


Jalan untuk kembali


Takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku


Di saat ku tertatih (saat ku tertatih)


Tanpa kau disini (tanpa kau di sini)


Kau tetap ku nanti


Demi keyakinan ini


Jika memang kau terlahir


Hanya untukku


Bawalah hatiku dan lekas kembali


Ku nikmati rindu yang datang membunuhku


Untukmu seluruh nafas ini


Alam membalikkan tubuh Gita, mendekatkan wajah mereka.


Dan akhirnya ...


Sunset di Kuta Bali menjadi saksi mereka hari ini.


...----------------...


Lagi belajar nulis romantis


Maafkan kalau kelihatan belepotan


Atau mungkin terkesan lebay


Tetap pantengin cerita ini ya ....


Selamat membaca


Tanpa dukungan kalian author bukanlah apa-apa


emang belum apa-apa sih hehehe


pokoknya happy reading


Jangan lupa tinggalkan jejak dengan komen, rate dan like.


Saya masih butuh saran dan kritik kalian.

__ADS_1


Selamat sore ....


__ADS_2