Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
117. S2: Liburan vila


__ADS_3

Terimakasih Tuhan kau berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Terimakasih Gita kamu memberikan kesempatan untuk membahagiakanmu.


Terimakasih sudah memberikan kesempatan untuk menepati janjiku dulu.


Terimakasih Tuhan kau masih memberikan aku untuk kebebasan ini


Aku janji tidak akan membuat kamu bersedih lagi.


Cuma kamu yang bisa menggetarkan hatiku.


Bukan dinda, bukan juga Keisya


Maafkan kesalahanku yang dulu


Alam menatap Gita dengan lekat. Akhir-akhir ini hubungan mereka banyak di timpa masalah. Dari kecelakaan saat di Malaysia sehingga dia harus merubah wajahnya. Hingga pernikahan mendadak saat Gita koma, mereka menikah secara resmi, kehadiran Zahra yang membuat dirinya masuk penjara. Sehingga harus berpisah dari istrinya yang sedang mengandung.


Sekarang semua masalah sudah selesai. Dia berharap tidak ada Zahra lainnya yang akan mengusik rumah tangganya lagi. Gita merasa seperti sedang di tatap sedikit risih. Lalu membalas tatapan suaminya dengan wajah imutnya. Tangan mereka saling menggenggam, lalu kembali menatap hamparan sawah yang luas di depan mata mereka.


"Turun yuk!" Ajak Alam.


"Kemana?"


"Kesana." Alam menunjuk area persawahan yang didekat vila.


"Nggak, ah takut." Gita menolak ikut ke sawah


"Udah! ikut, ini perintah suami!"


Mereka akhirnya berjalan kearea persawahan yang lumayan jauh dari kompleks villa. Udara yang sejuk membuat mereka berdiri untuk menikmati angin segar. Alam membentangkan tangannya, sedangkan Gita sibuk melihat ikan yang berlari disekitar persawahan.


"Yang, lihat! Ada ikan di sawah." seru Gita memanggil suaminya.


"Baru tahu, ya. itu namanya Mina padi yaitu suatu bentuk usaha tani gabungan yang memanfaatkan genangan air sawah yang tengah ditanami padi sebagai kolam untuk budidaya yang memaksimalkan hasil tanah sawah. Mina padi dengan demikian meningkatkan efisiensi lahan karena satu lahan menjadi sarana untuk budidaya dua komoditas pertanian sekaligus."


"oooh, gitu ya. Apa ini pake pestisida juga?"


"Nggak kok sayang, justru proses ini dilakukan untuk menghindari pemakaian pestisida. Semacam hidroponik lah." jelas Alam.


"Wuih, suamiku tumben pinter." Gita menguwel pipi Alam.


"Kalo nggak pinter nggak sampai kuliah di Korea." ucapnya pede.


"Mulai deh narsisnya kumat." gita menyiram air kolam ke wajah Alam.


"Aduh, basah. Aku sudah mandi nih, yang." alam membalas siraman air ke wajah Gita.


Gita berlari saat Alam menyiramnya. Mereka kejar-kejaran di tengah persawahan. Alam mewanti-wanti supaya hati-hati. Gita tak peduli, dia tetap sibuk berlari, apalagi dia tidak pakai sendal, kakinya becek dan mulai terasa licin.


Saat Alam menangkap tangan Gita, kaki Gita terasa oleng, mereka terpeleset bersama ke dalam sawah yang berlumpur.

__ADS_1


Mereka seperti flashback, saat Gita terpeleset di sawah dan menimpa tubuh Alam. Keduanya tertawa kalau ingat saat itu. Sontak Alam mencium Gita dengan tubuh penuh lumpur. Tangan mereka saling melingkar.


"Hey! Kalau mau mesum jangan disini!" tiba-tiba ada suara orang berteriak.


Mereka kaget dan langsung berlari. Mereka mencari sungai untuk membersihkan diri. Seperti anak kecil yang sedang di


kejar karena ketahuan manjat di pohon orang. Tak jauh dari area persawahan mereka menemukan sungai jernih.



"Yang, coba cek. Dalam nggak kalinya." Gita menyuruh suaminya turun ke kali.


"Kalau aku tenggelam gimana?"


"Gampang! Kalau kamu tenggelam aku cari suami baru. Kan masih ada Ilham." Jawab Gita sambil tertawa.


"Niat banget!" Jawab Alam sambil manyun.


"Udah, ah. Periksa dulu airnya." Gita mengalihkan pembicaraan.


"Aman, yang. Nggak dalam ini aja di bawah lutut aku. Sini!" Alam menarik Gita masuk ke dalam kali.


Alam mendudukkan Gita diatas batu lalu menyiramkan air ke tubuh istrinya. Dibersihkannya seluruh lumpur yang menempel di tubuh Gita sampai habis lumpurnya. Hingga tersisa baju mereka yang masih kotor.


"Kamu duduk aja disini. Aku mau mandi dulu."


Tak lama Alam mencebur badannya kedalam genangan air yang cukup deras. Alam membuka baju hingga memperlihatkan tubuhnya yang six pack.


Senang tuh jadi tontonan emak-emak. Dasar Playboy!


"Yang, pulang!" Gita menarik suaminya naik kedaratan dengan wajah jutek.


"Kok pulang! Aku masih belum selesai!"


"Pulang! Atau aku yang pulang sendiri." ancam Gita.


Alam bingung dengan sikap Gita yang tiba-tiba mengajaknya pulang. Tapi seketika dia paham kalau istrinya cemburu. Lalu meraih tubuh Gita dan menggendongnya ala bridal style. Gita melihat Alam tidak pakai baju ikut protes.


"Kenapa nggak pake baju? Mau pamer sama ibu-ibu tadi, ya!" Omel Gita sambil melototi suaminya.


"Cemburu,ya." goda Alam.


Gita meraih baju Alam dan melemparkan ke arah suaminya. Lalu berlalu karena dalam keadaan kesal. Gita tiba-tiba terhenti.


"Yang, kamu masih ingatkan arah pulang!" ucap Gita yang merasa bingung.


"Astaga! Kita udah jauh jalannya." Alam baru ingat kalau mereka berjalan terlalu jauh.


"Jadi gimana ini?" Gita mulai panik.

__ADS_1


"Kita nginap disana aja." Alam menunjukkan sebuah pondok kecil tak jauh dari posisi mereka berdiri.


"Nggak mau! Pokoknya usahakan pulang


ke rumah."


Gita berjalan kearah berlawanan, menebak-nebak dimana jalan terakhir mereka tadi. Matanya tertuju pada sebuah air sungai yang menghubungkan ke arah sawah. Sedikit titik terang menuju pulang ke rumah. Alam sewot melihat istrinya tak peduli kalau dia kelelahan.


"Itu keliatan vila kita." seru Gita.


"Iya, tapi duduk dulu. Aku capek nih." keluh Alam


"Cowok kok gampang capek." cibir Gita.


Akhirnya mereka sampai di vila. Mereka benar-benar kelelahan karena seharian berjalan tanpa kendaraan apapun. Belum sempat Gita mandi dia sudah tertidur. Alam meninggalkan istrinya yang sudah istirahat duluan.


Dia baru ingat kalau hp nya tertinggal di rumah. Banyak panggilan tak terjawab dari Roki. Alam pergi keluar untuk menelpon Roki.


📳 Assalamualaikum, Ki. Tadi kamu menelpon? ada apa?


📳 Gawat, kak!


📳 Gawat kenapa!


📳 Zahra...


📳 Iya kenapa dengan Zahra?


📳 Kabur dari penjara ....


📳 APAAAA!


Gita mendengar suara keras dari luar terbangun. Dia penasaran apa yang membuat suaminya emosi. Tapi tubuhnya masih lemas dan tidak punya tenaga untuk bangun.


"Ah, nanti kutanyakan langsung saja." batin Gita.


Sayup-sayup dia mendengar suara langkah berjalan ke arah kamar. Dia langsung pura-pura tidur. Dirasakannya ada mengecup keningnya. Ada gurat kecemasan di wajah suaminya. Terselip rasa penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.


"Sayang.". Gita pura-pura baru bangun.


"Iiiiya." Alam gugup saat melihat istrinya bangun.


"Kamu Kenapa?" tanya Gita.


"Sayang, kita disini aja dulu, ya. Nggak usah pulang dulu."


"Kenapa?"


"Nggak papa. Tadi Mama papa menelpon kalau mereka lagi di luar kota, jadi percuma kita pulang." jelas Alam.

__ADS_1


"Kok dia nggak menelpon aku. Malah menelpon kamu? Sebenarnya anaknya siapa sih?" Gerutu Gita.


Maafkan aku, sayang. Kita tidak bisa pulang, bahaya masih mengintai. Batin alam


__ADS_2