
Tanpa persiapan apa pun selain barang-barang yang dia bawa sebelum insiden dia diusir Ayahnya, namun untungnya Ibu Sehun sempat mengirimkan paket yang berisikan surat-surat pribadi Sehun.
Semua member EXO kecuali, Kris, Luhan, Lay dan Tao, karena mereka harus kembali ke Korea 1 hari yang lalu. Semua member terlihat mengkhawatirkan Sehun, mungkin tidak dengan Kyungsoo yang hanya terdiam menatap datar.
“Kamu yakin dengan keputusanmu?” tanya Junmyun.
“Sehunie, kenapa kau akan pergi?” tanya Kai dengan memegangi tangan Sehun, takut kehilangan.
Sehun menanggapi mereka semua dengan hanya terdiam, dia tersenyum untuk memberitahukan semuanya akan baik-baik saja.
“Sehunie!? Kenapa pergi?” rengek Chen.
“Sehunie, apakah tidak sebaiknya kamu temui keluargamu dulu sebelum pergi?” tanya Chanyeol.
Sehun menggeleng. “Tidak usah. Aku sudah bicara dengan Ibu lewat surat. Ibu bilang jika Ayah lebih baik dari yang kemarin. Aku membawa pasword selama satu tahun, jadi jika Ayah masih marah padaku, aku bisa menenangkan diriku di sana dulu. Satu hal lagi, ada benda yang inginku kembalikan, itu bukan hakku.”
“Seorang gadis?”
“Dia pria, aku kan gay.” ucap Sehun bercanda.
“Yakk!!” keluh semua member.
“Saat mau pergi pun masih seperti ini.” nyinyir Kai.
“Sudahlah kalian semua! Jangan membuatnya menjadi ketinggalan pesawat!” ucap Minseok yang terlihat tenang dengan merangkul Sehun untuk memberikannya semangat.
“Benar kata Kak Minseokie.” ucap Baekhyun. “Mari kita tos rame-rame!” ajak Baekhyun penuh semangat, semua orang pun tersenyum karena setuju, kecuali Kyungsoo yang tidak menyadarinya.
Semua orang telah membuat lingkaran dan menaruh salah satu tangan mereka ke depan, Kyungsoo belum sadar juga, hingga akhirnya Chanyeol menarik Kyungsoo untuk bergabung, Kyungsoo awalnya terkejut, namun dia langsung menyesuaikan diri.
“EXO, EXO semoga sukses.” Teriak mereka lalu menghempaskan tangan yang dikumpulkan ke atas.
****
Sehun menyatarakan dirinya di pesawat, dia duduk berdampingan dengan seorang kakek yang dari tadi curi-curi pandang pada Sehun. Sehun mengingat bagaimana Kyungsoo yang bahkan tidak bergabung untuk berbicara dengannya, sebelum Sehun benar-benar pergi.
“Fuh.” Sehun menghembuskan nafas beratnya. “Apakah D.O benar-benar marah?” tanya Sehun dalam hati.
“Oh Sehun ah.” ucap kakek itu lirih, aku pun menoleh dengan heran.
“Hm!? Anda mengenalku?”
“Iya, cucuku sangat menyukaimu.”
“Ah, terima kasih.”
“Bisakah kamu memberikan tanda tangan dan berfoto denganku?” tanya akek itu, Sehun pun mengangguk.
“Tentu. Dimana aku harus tanda tangan?”
“Sebentar!” pinta Kakek itu.
Kakek itu mulai mengorek-orek tas kecilnya hingga dia menemukan sebuah buku kecil lengkap dengan pulpen.
“Di sini!” ucap Kakek itu menunjukan buku kecil dan pulpennya, Sehun pun mengambilnya perlahan.
Sehun mulai menandatangani buku kecil itu lengkap dengan namanya. “Sudah.”
Sehun pun mengembalikan semuanya, barulah setelahnya mereka berfoto bersama.
****
Setelahlah memberikan tanda tangannya dan berfoto bersama, Sehun pun kembali terdiam. Tidak lama setelah itu terjadi sebuah ledakan, semua penghuni pesawat pun menjadi sangat khawatir, keadaan menjadi ricuh.
Petugas-petugas pun berusaha menenangkan penghuni pesawat, meski pun mereka juga merasa takut dan penuh kekhawatiran, namun sebisa mungkin mereka menenangkan diri.
“Ambilah alat keselamatan yang ada di bawah bangku kalian!” perintah mereka lantang.
Mendengar perintah, Sehun dan yang lain pun mengambil alat-alat tersebut. Setelah berhasil mendapatkannya, Sehun pun melirik pada kakek yang ada di sebelahnya, kakek itu terlihat sangat khawatir.
“Kenapa anda tidak mengambil alatnya?” tanya Sehun heran.
“Tidak ada.” jawab kakek itu dengan mata yang membulat penuh kekhawatiran, Sehun pun terbawa perasaan.
“Ti-tidak ada!?” ucap Sehun tidak habis pikir. “Sebentar! Aku akan berbicara dengan petugasnya.”
Sehun pergi menemui salah satu petugas itu, dia pun mulai bicara, Kakek itu terus memperhatikan dari kejauhannya. Petugas itu pun mengajak Sehun untuk berbisik. Saat dibisiki mata Sehun terlihat membulat sempurna, matanya pun beralih menatap Kakek itu dengan lirih penuh kesedihan, Kakek itu terlihat penuh harapan.
Sehun kembali menemui Kakek tersebut, Kakek menggenggam tangan Sehun dengan tegang karena gugup.
“Bagaimana?” tanya Kakek.
Sehun tersenyum lebar. “Ada.” jawab Sehun senang dan membuat Kekek itu bersyukur dengan senang.
“Alhamdulillah.”
“Tapi Kek...” ucap Sehun mendadak lirih, wajah Kakek itu pun menjadi serius, dia kembali takut. “...harus menunggu mereka mencarinya.”
“Ah, ku kira apa.” ucap Kakek itu lega, Sehun pun tersenyum. “Tidak apa jika aku harus menunggu.”
Disaat mereka sedang berbicara, Sehun menyadari semua petugas sudah mulai mengevakuasi orang-orang dengan alat keselamatan yang berupa perasut dan jaket pelampung.
“Tidak Kek. Gunakan milikku! Nanti aku menyusul.”
“Tidak usah. Aku akan menunggu saja.”
“Tidak Kek, yang ada itu aku yang lebih muda yang harus menunggu.”
Kakek itu pun tersenyum dengan menepuk tangan Sehun bangga. “Terima kasih. Sampaikan salamku pada orang tuamu yang berhasil mendidikmu.”
__ADS_1
Mendengar kata orang tua, Sehun kembali mengingat konfliknya dengan orang tuanya, terutama Ayahnya.
“Terima kasih.” ucap Sehun menutupi kesedihannya. “Oh, iya. Ini alatnya.”
Sehun meberikan semua alatnya, Kakek itu pun menerimanya dan mulai pergi meninggalkan Sehun.
Sehun kembali duduk di bangkunya dengan memainkan dompet yang ditempelkan dengan paswordnya dan menggendong tas kecilnya, dia bersandar untuk menenangkan diri.
Flashback!!
“Permisi, aku ingin meminta perasut dan jaket pelampung. Ada seorang Kakek yang belum mendapatkannya.” ucap Sehun datar.
“Mendekatlah! Akan ku beritahu sesuatu.” pinta petugas itu, Sehun pun mengikuti.
Petugas itu mendekatkan bibirnya ke telinga Sehun, Sehun pun memiringkan tubuhnya agar dapat dicapai.
“Tidak ada.” ucap petugas itu sukses membulatkan mata Sehun. “Abaikan saja Kakek itu! Kakek itu juga sudah tua. Agar dia tidak mencemaskan hidupnya, katakan saja dia harus menunggu.” lanjutnya, Sehun pun melihat seorang Kakek yang sangat mengharapkan hal yang baik dengan lirih karena sedih.
Flashback to normal...
Dengan menutup matanya dengan telapak tangan, Sehun menertawakan dirinya sendiri. “Apa sekarang? Apa aku akan mati?” tanya Sehun yang mulai stres.
Tidak lama setelahnya, kecepatan pesawat mulai bertambah semakin cepat, hingga jatuh kelautan, sebelum akhirnya pesawat itu meledak.
Sehun terhempas karena ledakan, hingga menyebabkan kepalanya membentur batuan karang dan tubuhnya terluka. Sehun mulai merasa sesak karena tidak bisa nafas dalam air, hingga perlahan dia tertidur.
****
Sehun mulai membuka matanya perlahan, dia pun dapat menemukan dirinya di sebuah rumah sakit dengan beberapa alat di tubuhnya, rambutnya juga mulai panjang.
Dia melihat seorang wanita baya tertidur di sebuah sofa di dalam kamar rumah sakit Sehun.
“Siapa? Dan dimana ini?” tanya Sehun heran dengan melirik semua bagian tempat itu.
Tidak lama setelahnya, datanglah seorang pria baya yang sepertinya suami wanita baya itu. Pria baya itu terkeu dengan keadaan Sehun yang sudah siuman.
“Dokter! Dokter!” teriak pria baya itu lantang, Dokter dan ajudannya yang lain pun datang.
Mereka semua memeriksa keadaan Sehun dengan sangat detail, Sehun pun mengikuti semua intruksi.
“Mr. What is your name?” tanya Dokter, Sehun pun terlihat berpikir.
“My name!?” ucap Sehun lirih dengan berpikir keras. “I am forget.”
“Do you know, where are you from?”
“No.”
“Your family?”
“No.”
“Your friends?”
“You know, I think you from South Korean.” tebak Dokter sebelum pergi menjauhi Sehun.
“Dokter, apakah dia benar-benar orang Korea?” tanya pria baya itu pada Dokter, Dokter itu pun mengangguk.
“Hm, menurutku iya. Anakku menyukai Kpop dan wajah mereka terlihat seperti itu.”
“Oh, terima kasih Dokter.”
“Sama-sama.” balasnya. “Pria muda itu mengalami kehilangan ingatan sementara. Sore ini, dia juga bisa dipulangkan.” Jelas Dokter itu. “Baiklah, saya permisi.” ucap Dokter itu sebelum pergi meninggalkan tempatnya.
Setelah melihati kepergian Dokter, pria baya itu kembali melihat kepada Sehun dengan lirih.
****
Seorang pria baya yang menemukan Sehun sedang melihat keluar jendela, hingga dia dapat mengetahui bahwa dia berada di lantai yang sangat jauh dari tanah.
Pria itu pun mengalihkan tubuh dan padandangannya pada Sehun yang sedang disuapi wanita baya di sampingnya, pria baya itu mendekat dan menyentuh pundak wanita baya itu.
“Biar aku saja yang menyuapinya!” pinta pria baya itu, sementara itu Sehun hanya memperhatikan dengan diam karena tidak mengerti Bahasa yang mereka gunakan. “Kamu sudah terjaga hampir seharian. Istirahatlah! Aku yang akan menggantikanmu.” nasehat pria baya tersebut.
“Tidak usah, aku bisa kok Mas.” tolak wanita baya itu dengan sopan.
“Tidak, tidurlah! Aku kan suamimu, menurutlah!”
“Ya, udah deh mas.”
Wanita itu mengalah, kemudian meninggalkan tempatnya, dia memberikan makanannya pada pria baya itu. Dengan duduk di sebuah bangku, pria baya itu pun mulai menyuapi Sehun, awalnya Sehun agak takut, namun sisanya sudah biasa-biasa saja.
“Siapa orang-orang baik ini?” tanya Sehun dalam hatinya dengan melihat pria baya itu lembut.
“Minumlah!” pinta pria baya itu dengan meminumkan air meneral dengan hati-hati pada Sehun.
“Mr. Who are you?”
“Hmm.” pria baya itu tersenyum. “Bicara saja dengan menggunakan Bahasa Koreamu! Aku mengerti kok.” ucap pria baya itu dalam Bahasa Korea.
“Baiklah.” balas Sehun. “Apakah Bapak dan Ibu memiliki ke kerabatan dengan keluarga saya? Karena kalian begitu baik.”
“Ketahuilah Nak, kami tidak mengenalmu, namun...” ucapan pria baya itu terhenti saat menoleh pada istrinya. “...istriku sepertinya begitu menyayangimu. Kami menemukanmu sekitar seminggu yang lalu, seminggu yang lalu juga dia terus berada di sini untuk menemanimu. Dia bilang jika melihatmu, dia mengingat jika seandainya dia memiliki anak.” jelas pria baya itu lirih mengeluarkan keluh kesahnya, matanya pun mulai berkaca, Sehun hanya terdiam dengan mendengarkan. “Ah, sudah lupakan saja! Itu sudah sangat lama.” ucap pria baya itu mengusap air matanya yang hampir terjatuh.
“Terima kasih, sudah menyayangiku.” balas Sehun lirih dengan senang. “Siapa nama Bapak dan Ibu?”
“Namaku Husein dan istriku Fatimah.”
“Maaf ya, aku tidak ingat namaku, jadi aku tidak bisa memberitahukannya.”
__ADS_1
“Aku mengerti.” balas Pak Husein. “Mm, bagaimana jika aku memanggil namamu dengan sebutan yang lain?”
“Apa itu?” tanya Sehun antusias.
“Rehan ah.” jawab Pak Husein, Sehun pun tersenyum, dia mengangguk.
“Senang mendengarnya. Terima kasih Pak.”
Sehun terlihat menikmati nama barunya, Pak Husein pun menepuk-tepuk pelan pundak Sehun dengan tersenyum tidak habis pikir.
“Rehan ah.”
“Iya?”
“Bisakah kamu memanggilku Ayah dan istriku Ibu?” tanya Pak Husein berharap, Sehun pun terdiam. “Hanya sampai kamu mengingat siapakah dirimu.” tanya Pak Husein gugup, Sehun pun tersenyum.
“Dengan senang hati Ayah.” ucap Sehun tersenyum, Pak Husein pun ikut tersenyum.
****
5 Bulan Kemudian...
Sehun terlihat sedang memasak dibantu Bu Fatimah, dan seorang wanita seumuran Bu Fatimah, namanya Khodijah, panggil saja Bibi.
“Assalamualaikum.” Salam Pak Husein yang tiba-tiba memasuki dapur dengan bangga karena tidak habis pikir, mereka bertiga pun terkejut.
“Hei! Tumben pulang awal.” ucap Ibu tidak terheran mewakili Sehun dan Bibi.
“Gak apa-apa, hari ini sebenarnya aku ingin mengajak Rehan ke perusahaan kita.”
“Aku? Apa aku pantas?” tanya Sehun yang sudah fasih berbahasa Indonesia.
Pak Husein mendekati Sehun, kemudian menepuk bahu Sehun dengan senyuman bangga.
“Tentu saja pantas. Kamu ini kan anak kami satu-satunya.”
“Ayah jangan bicara seperti itu! Aku kan tahu posisiku yang sebenarnya.” ucap Sehun terharu dengan merengek.
“Mmm.” gemes Ibu dan Bibi hingga mencubit pipi Sehun.
“Ayah lihat mereka! Mereka selalu mencubiti pipiku.” keluh Sehun, Pak Husein pun terkekeh.
“Aku sebenarnya memiliki 1 istri, tapi aku seperti memiliki banyak istri.” ucap Pak Husein tidak habis pikir, mereka bertiga pun ikut terkekeh. Tidak lama setelahnya, Pak Husein kembali mengingat sesuatu. “Oh, iya. Rehan ayo aku harus kembali!”
“Iya, Ayah. Aku bergegas.” ucap Sehun yang buru-buru melepaskan celemek yang mengikat di tubuhnya.
****
Sehun dan Pak Husein turun dari sebuah mobil, Sehun pun dapat melihat perusahaan yang sangat bergitu besar.
“Waw Ayah, sangat besar.” takjub Sehun, Pak Husein pun hanya tersenyum.
“Perusahaan yang kamu lihat kali ini adalah pusat dari 9 cabang yang ada di bawahnya.” jelas Pak Husein.
“Se-sembilan?? Huh! Apa Ayah tidak merasakan kelelahan mengurus semua ini? Sudah berapa lama Ayah melakukan ini?” tanya Sehun yang terdengar syok.
“Awalnya berat, tapi menjadi biasa saja jika dilakukannya berkali-kali.”
“Benarkah?”
“Tentu.” Pak Husein mantap. “Selain mengajarkanmu Bahasa Indonesia, aku juga telah mendidikmu untuk menguasai strategi perusahaan.”
“Tapi Ayah, ini sangat jauh dengan ekspatasiku.”
“Ayo kita masuk! Akan ku tunjukan semuanya.” jelas Pak Husein dengan tersenyum.
Sehun terus mengikuti langkah dan mendengarkan setiap perkataan Pak Husein dengan seksama. Sampai mereka sampai pada suatu suatu ruangan kantor tempat ayahnya bekerja.
Tempat itu begitu besar, Sehun pun membuka sebuah gordeng dan saat dia melihat keluar, dia dapat melihat semua karyawan penting yang sedang bekerja.
“Ayah, aku kira di sini ada pemandangan indah.” jelas Sehun sedikit kecewa, Pak Husein pun mendekat dan melihat apa yang dilihat Sehun.
“Ini perlu dilakukan agar kamu dapat mengawasinya dengan langsung, walau pun sudah ada CCTV. Kita mengawasi mereka, namun mereka tidak akan menyadari jika kita mengawasi mereka.”
“Haruskah seperti itu?”
“Tentu.” jelas Pak Husein yang menuju sebuah tembok.
Pak Husein menekan tombol dan membuat dinding itu terbuka, Sehun pun menjadi terkejut, Pak Husein masuk ke dalamnya.
“Ayo masuk!” ajak Pak Husein, Sehun pun mengikuti.
Saat sudah masuk, Sehun dan Pak Husein di bawa oleh lift ke atas atap. Di atas sana Sehun dikejutkan dengan pemandangan yang sangat indah.
“Wah.” kejut Sehun yang langsung pergi keluar dan melihat pemandangan taman.
“Ini taman rahasia keluargaku. Bagaimana menurutmu?” tanya Pak Husein.
“Indah.” jawab Sehun senang, namun dia tiba-tiba tertegun. “Ayah kamu menunjukan ini, tidak bermaksud menjadikan aku penggantumu kan?”
“Ini semua untukmu.”
“Ayah yakin, aku bukan anak kandung Ayah, dan jika setelah aku mendapatkan perusahaan Ayah, apakah aku akan mengingat Ayah? Apakah aku akan menjadi kacang lupa kulitnya? Dan yang terpenting adalah aku tidak merasa mampu.”
“Aku percaya padamu. Mungkin kamu akan melupakan kami, tapi aku hanya ingin kamu yang menjadi penggantiku.”
“Ayah.” ucap Sehun terharu.
“Kamu harus membawa istrimu yang paling kamu cintai ke sini!” jelas Pak Husein, Sehun pun tersenyum.
__ADS_1
Tidak lama setelah itu, Pak Husein mendapatkan sebuah telepon dari seseorang dan dia pun berbicara dengan serius di teleponnya, Sehun hanya dapat memperhatikan dengan terheran.
“Sehunie! Ayo pergi!” ajak Pak Husein, Sehun pun menurut.