Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
122. S2: Kakakku ternyata ....


__ADS_3

Flashback on


Sebelum Alam sampai di Puskesmas


Aku membuka mata melihat di sekelilingku. Ada infus, ada jarum, kepalaku rasanya sakit. Apa yang terjadi? kenapa aku di sini? kulihat ada mama duduk di sampingku. Mana suamiku? apakah dia belum pulang juga.


Apakah dia tidak tahu kejadian ini?


Aaaarhhg!


Aku ingat, tadi ada Zahra. Ya, Zahra. Kemana perempuan pembunuh itu! apa dia sudah keluar dari penjara. Secepat itukah! Ya Allah, bagaimana ini!


Gita terbangun melihat dirinya sudah berada di puskesmas. Tak ada batang hidung suaminya. Gita merasa kecewa Alam tak datang. Sama seperti dia berharap Alam menemuinya saat dia di puskesmas Sukasari.


Sebuah langkah sepatu masuk ke ruangan tempat Gita dirawat. Seorang perempuan berpenampilan menarik tinggi, Gita kenal wanita itu.


"Nabila?"


"Iya, Bu." Jawab Nabila dengan wajahnya yang ramah.


Jujur Gita tidak pernah menyukai Nabila. Bukan karena takut suaminya di embat. Tapi dia melihat keramahan Nabila cuma topeng semata. Dia berharap itu hanya pemikirannya saja.


"Ada apa?"


"Bapak bilang ibu ada musibah. Tadi saya ke rumah tapi tidak ada orang. Ada tetangga ibu yang bilang ibu di puskesmas." Nabila berdiri jarak dekat dengan tempat tidur Gita.


"Oh, makasih sudah mau menjenguk saya. Kamu ada ketemu suami saya?"


"Untuk hari ini belum, Bu."


"Oh, makasih ya sudah mau menengok saya." jawab Gita datar.


"Maksud saya kesini ... " Nabila ingin menjelaskan yang sebenarnya, tapi dia takut wanita di depannya marah.


"Ada apa? Jelaskan saja." jawab Gita datar.


"Saya minta maaf, bu. Tadi malam bapak bersama saya." Nabila mulai terisak.


"Ma.. maksud kamu apa? Kalian bersama tadi malam. Ngapain?" Mama Yulia mulai mencerca Nabila.


Mama Yulia kesal Nabila hanya diam saja. "Jawab!"

__ADS_1


"Maafkan saya, Bu. Maafkan saya!" Nabila berlari keluar ruangan Gita.


Ya Allah jadi dia semalam bersama wanita itu. Pantas, dia senang aku kurung di luar. Rupanya dia mencari kesempatan untuk bersama Nabila.


"Mama ... Mama .. Aku mau pulang, aku tidak mau disini." pekik Gita. Dadanya terasa sesak.


"Kurang ajar! Dia berani bermain dengan wanita lain. Nggak bisa dibiarkan ini. awas saja kalau dia datang." ucap Mama Yulia yang sudah terlanjur emosi.


"Suster! Suster!" Teriak Mama Yulia yang melihat Gita kembali pingsan. Belum lagi hidung yang mimisan. Melihat keadaan Gita, mama benar-benar mengutuk Alam habis-habisan.


Gita diperiksa oleh dokter "Jantungnya bagus kok bu, aliran darahnya juga aman. Mungkin karena ada sesuatu yang membuat dia sedikit syok." Jelas dokter.


"Bu Gita tidak boleh banyak pikiran. Nanti akan susah untuk pemulihannya." tambah dokter sambil tersenyum kearah Gita.


Flashback off


Alam pulang ke kontrakannya karena mengambil baju ganti Gita. Sekaligus membereskan rumahnya yang berantakan. Sebelumnya dia minta Roki menggantikannya dalam meeting bersama Mr. Adam karena ada musibah di rumahnya.


"Kalian kenapa lagi?" telepon Roki saat Alam meminta bantuannya.


"Ada yang menyerang kami dan Gita terluka.Sekarang dia di puskesmas dekat rumah."


"Ya, Allah. Ada ada aja, ya. Nanti kami kesana mau nengokin kalian." ucap Roki.


Alam kembali membereskan rumahnya. Ada rasa kemarahan dalam dirinya, menyalahkan dirinya tapi juga menyalahkan Zahra. Kakinya melangkah keluar rumah menuju puskesmas. Melewati gunjingan tetangga yang mengatakan dirinya suami yang tidak bertanggungjawab.


Tapi dia memilih diam, walaupun dia tahu apa yang diomongkan tetangga benar adanya.


Sesampai di puskesmas, Alam mendapati ruangan Gita kosong.


"Suster!" Teriaknya.


Seorang suster datang menghampirinya "Ada yang bisa saya bantu pak?"


"Istri saya mana?"


"Sudah pulang tadi pak sama ibunya." jelas suster.


Alam menghempas tas yang dia bawa. Mama Yulia benar-benar membuktikan ucapannya. Sambil berterimakasih kepada perawat disana, Alam berangkat ke rumah orangtua Gita. Tapi nihil, dari keterangan bi Endah, mama Yulia sedari pagi tadi pergi ke rumah Gita dan belum kembali.


"Ilham! Pasti dia tahu!" Alam langsung menghubungi Ilham.

__ADS_1


"Assalamualaikum, ham." sapanya pada Ilham yang sekarang menjadi dokter pribadi keluarga Gita.


"Waalaikumsalam, lam. Ada apa?" tanya Ilham. dia heran tumben rivalnya ini menelpon dirinya.


"Ham, apakah Gita di rawat disana?" tanya Alam.


"Gita? Dia kenapa lagi, drop lagi?"


"Panjang ceritanya, ham. Ada tidak?"


"Kayaknya nggak ada. Tapi bentar aku cek dulu, nanti aku kabari lagi."


"Tolong kabari ya, ham. penting!" Mohonnya.


"Ya, udah kamu kesini. Biar kita cari sama sama." Tawar Ilham.


"Oke, aku langsung kesana." Alam langsung mengemudikan mobilnya.


Alam sampai di rumah sakit kasih bunda untuk menemui Ilham. Dua lelaki tersebut saling menyambut.


"Apa yang terjadi kak Ronal?" ilham menyebut embel kak karena lelaki di hadapannya usianya memang diatas Ilham.


"Gita di serang oleh orang-orang Zahra tadi pagi. Dia terluka karena kepalanya ada terbentur."


"Emang kak Ronal dimana? Sampai Gita bisa di serang begitu!"


Alam takut menjawab karena pasti Ilham akan menyalahkan dirinya juga.


"Aku lagi di kantor, lembur!" alasan Alam. Padahal dia sedang menemui sekretarisnya. alasan apa ini, dia merasa bersalah sudah bohong pada Ilham.


Saat mereka asyik mengobrol, datang Brian menemui Ilham di tempat kerjanya.


Ilham mengenalkan Brian pada Alam Sebagai ayah kandungnya.


"Kalian saling kenal?" tanya Brian pada keduanya


Dia tahu Alam adalah anak kandungnya, tapi Alam belum tahu yang sebenarnya. Brian mencoba merangkul keduanya. Tapi sepertinya Alam merasa asing dengan dirinya.


"Ayah kenal dengan kak Ronal?" Tanya Ilham masih belum paham.


Brian merangkul keduanya "Ilham .. lelaki ini adalah kakak kandungmu."

__ADS_1


Mereka saling bertatapan "APAAAA!!!"


__ADS_2