Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
41. Kejahilan Gita


__ADS_3

Pagi ini, Gita di jemput oleh Ilham. Seperti yang di jelaskan pada episode sebelumnya. Kalau Gita akan di kenalkan oleh keluarga Pramono sebagai calon menantu. Bukan hanya Gita yang akan dikenalkan, tapi Alam juga akan di kenalkan sebagai calon menantu utama di keluarga Pramono.


Rere, Ine dan Beta yang mendengar berita ini cukup kaget. Mereka merasa Gita lebih berjodoh dengan Ronal ketimbang Ilham. Karena beberapa kali mencoba dipisahkan mereka tetap saja bertemu.


Mama minta pada Ilham agar cepat menikahi Gita. Bagi mama selama Gita belum menikah akan ada kesempatan Ronal mendekati Gita kembali. Tapi tidak bagi Gita, dia tidak menikah sebelum melihat Ronal menderita.


"Kamu gila, Gita." Ine kaget mendengar rencana Gita.


"Dia enak hidup bahagia, lah aku! harus cacat gara-gara ulah dia!"


"Gita, hati hati nanti jadi bumerang buat kamu!"


"Nggak akan!"


"Yakin?"


"Yakin!" jawab Gita dengan mantap.


"Ya, udah terserah kamu, Gita. Tapi jangan nangis kalau kamu malah kejebak dengan rencanamu."


Aku tidak akan terjebak lagi. Kok lagi? Tidak tahu juga, seperti pernah merasakan tapi tidak tahu kapan itu.


Gita duduk disamping Keisya. Sementara Ronal duduk di deretan keluarga Spencer. Mama marni kaget ada Gita di deretan keluarga Pramono.


"Dia siapa?" tanya Mama Marni pada salah satu staf kantor.


"Oh, itu calonnya pak dokter, Bu." kata staf tersebut.


Marni memandang keduanya. Marni melihat tatapan Ronal kearah Gita, hanya saja Gita masih biasa saja walaupun ada Ronal di dekatnya.


Gita menyadari Ronal sedari tadi terus memperhatikannya. Tak lama Ilham datang dan duduk di samping Gita. Tangan Ilham terus menggenggam tangan Gita. Gita meletakkan genggaman tangannya di atas meja. Gita melihat ketidaksukaan Ronal saat Ilham tak melepas genggaman tangannya. Ronal ingat saat di Sukasari, setiap bertemu genggaman tangan mereka tak pernah lepas.


"Aku mau ke toilet dulu." Pamit Gita pada Ilham


"Mau aku antar?" tanya Ilham


"Nggak usah." tolak Gita.


Gita juga permisi pada Keisya yang duduk di sebelahnya.


"Jangan lama-lama, Gita. Bentar lagi acara dimulai."


"Iya, kak."


Gita keluar ruangan melewati kursi Ronal. Tak lama Ronal pun pamit ke WC. Dia mencari keberadaan Gita, tapi tak menemukannya. Ronal memasuki WC wanita, Gita yang melihatnya lalu memencet bel alarm. Ruang kantor heboh mendengar alarm dari luar. Memang perusahaan membuat alarm ketika ada lawan jenis memasuki WC khusus.

__ADS_1


"Ronal!" Suara Keisya memanggil dengan lantang.


"kei, ini bukan seperti yang kalian pikirkan." bantah Ronal


"Seperti apa? seperti laki mesum yang mengintip wanita di WC." omel Keisya.


Gita sebenarnya bersembunyi di WC pria. Dia melihat Ronal masuk WC wanita dan memencet bel yang ada di samping pintu. Lalu Gita kembali ke ruangan acara.


Tau rasa!


Acara menjadi kacau.


Sama seperti Gita mempermalukan Ronal saat mereka hendak di jodohkan dulu.


Gita menceritakan kejahilannya pada Ine dan Beta, saat Gita menyambangi ruangan kerja Beta di kantor Spencer. Mereka tertawa-tawa saat mendengar cerita Gita.


"Kamu usil juga ternyata, Git."


"Makanya jangan main-main sama Gita."


"Tapi kamu ingat nggak sih, kejadiannya mirip saat kamu mau di jodohkan dengan ..."


Ine menggamit Beta. Ine mengingatkan Beta jangan mengungkit soal Ronal di masa lalu Gita.


"Tapi mereka sudah bertemu."


"Ah ah, kalian mah ribet. Kasihan Gita." omel Beta kesal.


Mereka berbalik, Beta kaget melihat Ronal dari tadi di belakang mereka.


Astaga perang dunia ke empat kayaknya.


Ronal menarik kasar tangan Gita. lalu menyeretnya ke ruangan OB. Ronal mengunci


pintu ruangan, lalu mendekati Gita. Gita ketakutan melihat reaksi Ronal. Tangannya meraba alat pantry seperti Sendok atau garpu untuk membela diri.


"Ne, Kita susul Gita, yuk. Aku takut dia diapa-apain sama Ronal."


Ine langsung keluar diikuti Beta.


"Mbak ada lihat pak Ronal nggak?" Tanya Ine pada karyawan yang sedang melintas.


"Tadi sama perempuan masuk pantry." jawab karyawan tersebut.


Ine dan Beta Langsung menuju pantry. Gita menjerit minta tolong. Gita meringkuk ketakutan saat pintu sudah di gedor. Mereka menemukan Ronal sudah melepas kancing baju dan dasinya.

__ADS_1


"Apa yang kakak lakukan pada Gita?" ucap Beta emosi melihat Ronal yang kasar.


"Tanya aja sama dia, apa yang sudah kami lakukan berdua disini."


Mereka membopong Gita yang masih ketakutan. Gita di beri minuman, badannya masih bergetar ketakutan.


"Makanya jangan main-main sama Ronal." teriak Ronal.


Ine mengantarkan Gita pulang. Tiba-tiba Gita kembali seperti semula.


"Gimana? keren kan akting gue."


Ine kaget. Dia tidak menyangka Gita segila itu. Dia mengelus-elus perut buncitnya.


"Ya, Allah amit amit jabang bayi. Tante kamu tuh sudah gila, ya." Ine mengajak bicara si jabang bayi.


Gita tertawa "Sebentar lagi nama dia pasti jelek."


"Jangan senang dulu, dia bisa balik membalas kamu. dan kalian nggak akan selesai hanya karena saling membalas."


"Kita ikutin permainan dia aja."


" Au ah, aku nggak mau ikutan."


Ronal membayangkan saat dia berdua di pantry. Sambil senyum-senyum kecil, dia ingat apa yang di lakukan Gita persis saat mempermalukannya saat perjodohan dulu.


Sebenarnya yang terjadi adalah Ronal hanya mendorong Gita ke dinding, lalu karena gerah dia membuka kancing baju.


Apesnya saat sudah melempar dasinya pintu kamar di gedor dan Gita malah pura pura ketakutan. Ronal senang dia bisa sedekat ini, ya walaupun situasinya yang salah.


Benar saja seperti yang dibilang Gita. Berita Ronal menyekap Gita di ruang pantry bikin tuan Spencer sesak nafas.


"Baru beberapa bulan dia bekerja sudah bikin masalah."


"Mas yang sabar! nanti biar aku yang bicara pada Ronal."


"Iya, bilang sama anak semata wayangmu itu. Kalau sudah tidak tahan cepat suruh dia nikahin Keisya."


Mama marni menghela nafas. Dia kembali menyalahkan Gita sebagai sumber kekacauan.


"Setiap ada gadis itu, pasti ada masalah."


"Aku harus bilang sama mbak Mila supaya mempercepat acara pernikahan mereka. Lebih cepat lebih baik. Sebelum nanti Ronal berubah pikiran."


Marni menghubungi Mamanya Ilham untuk membicarakannya soal rencana pernikahan mereka. Sayangnya mamanya Ilham minta mereka untuk bertunangan dulu. Marni pengennya langsung dinikahkan saja.

__ADS_1


Entah kenapa aku tidak bisa suka pada Gita. Sejak kejadian Alam koma saat jatuh bersama Gita, kakakku pun sakit-sakitan mengurus Alam, hingga akhirnya meninggal dunia. Sekarang wanita datang lagi ke kehidupan anakku, dengan masalah yang sama.


Saat aku tahu dia putri Yulia, perempuan yang pernah mempermalukanku di depan keluarga Spencer. Rasa benciku bertambah, toh apa yang terjadi pada Gita adalah karma ibunya di masa lalu.


__ADS_2