Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
140. S2 : Gara-gara ngidam


__ADS_3

"Yang ..." Gita muncul membawa satu kantong tas belanjaan.


Alam mengerutkan keningnya. Bukan soal belanjaannya, tapi baju yang di beli Gita yaitu baju hello Kitty pink yang bukan dipakai istrinya, melainkan kemeja untuk dirinya.


"Pake ini, ya." Gita menempelkan pada tubuhnya.


"Kan cucok, kamu keren banget, nih." Gita memberikan jempol setelah memaksa suaminya memakai baju itu.


"Kamu kenapa sih, yang? kemarin aku di suruh cari kostum Mickey mouse sekarang hello Kitty. Emangnya aku ini Emon?" jawab Alam kesal dengan keanehan istrinya.


"Emon? Hmmm... boleh juga yang, besok cari yang berbau Doraemon, ya." Gita merayu suaminya untuk memenuhi keinginannya.


Alam menepuk jidatnya. Sejak rujuk Gita sering melakukan keanehan yang bikin dia pusing kepala. Seandainya tadi dia tidak menyebut kata emon, mungkin Gita nggak akan minta yang aneh-aneh.


Akhirnya mereka sepakat untuk tinggal di rumah orangtua Gita. Ya, walaupun mama Yulia masih bersikap dingin padanya. Tidak akan menyurutkan niatnya untuk tetap berada di samping Gita.


"Kamu ke kantor, yang. Udah siang, nih. Kasih contoh ke mereka kalau kamu bisa jadi panutan." ucap Gita sambil mengancingkan kemeja Hello Kitty suaminya.


"Pake baju ini!" protes Alam. Gita melotot saat suaminya hendak mengganti kemejanya. Lagi-lagi dia harus mengalah. Mereka keluar kamar, papa Dul yang melihat baju menantunya tak bisa menahan tawa.


"Pa!" rengek Alam melihat ayah mertuanya tak bisa menahan tawa.


"Kalau malu kita berangkat bareng aja." ajak Papa Dul.


"eh, bentar" Gita berlari ke dapur, tak lama membawa sebuah rantang makanan untuk suaminya.


"Kayaknya cewek!" bisik Papa Dul.


"Cewek cowok yang penting ibu dan bayinya sehat." jawab Alam pada ayah mertuanya.


"Pa, maafin Alam ya. Alam belum bisa menjadi menantu yang baik buat papa dan mama. Maafin Alam yang sudah banyak mengecewakan kalian."


"Lam, setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi papa harap, kamu bisa belajar dari pengalaman yang kemarin. Walaupun sebenarnya papa masih kecewa sama kamu. Tapi demi Gita papa mengalah. Gita pun sebenarnya sudah kecewa besar sama kamu. Tapi demi anak kalian, dia membuang egonya." cerita papa saat mereka berangkat ke kantor.


"Oh, ya pa. nanti malam papa dan mama bisa kan datang ke rumah."


"Acara apa?"


"Kumpul keluarga aja, pa. merayakan kehamilan Gita dan tujuh bulanan Rere. nggak pake pesta, cuma dinner keluarga besar." undang Alam pada papa mertuanya.


"insyaallah, nak."


...****...


"Bagaimana kabar kamu?" tanya Ilham saat mereka bertemu di sebuah cafe


"Alhamdulillah aku baik. Maaf, ya ham. aku mengganggu kerja kamu. Entah kenapa aku pengen sekali ketemu sama kamu." ucap Gita sambil menyantap es krim Oreo.


"Kamu hamil lagi, ya." tanya Ilham menatap perempuan yang dulu pernah ada di hatinya.


Bahkan sampai saat ini, belum ada wanita yang bisa menggantikan posisi itu.


"Kok kamu tahu?"


"Aku kan dokter, Gita. Ya, tahu dong." Ilham mengacak rambut Gita.


"Ronal tahu kita ketemuan?" Ilham mencoba was-was takut kakaknya itu salah paham.

__ADS_1


"Itu dia." Gita menunjuk suaminya yang duduk sedikit menjauh dari mereka berdua.


Alam menengok sambil melambaikan tangannya.


Ilham menatap Gita dengan lekat. Lentik matanya memperlihatkan gurat ketenangan. Ilham ingin sekali sedekat ini. Tapi apa daya, wanita di depannya bukanlah miliknya lagi. Andai dia bisa memutar waktu, ingin sekali memperbaiki hubungan mereka.


Andai Raisa dan Ronal tidak masuk dalam kehidupan mereka, mungkin saat ini mereka sudah menikah. Tapi, dia tahu sejak awal hubungan mereka ganjalan utamanya adalah Ronal.


Gita yang saat itu masih hilang ingatan, Gita yang saat itu selalu di teror masa lalunya bersama Ronal. Tapi Ilham tetap berada di sisinya. Walaupun dia tahu, masih ada bayang-bayang Ronal di hati wanita itu.


Secangkir susu coklat menghangatkan pertemuan mereka hari ini. Permintaannya untuk bertemu ilham sempat mendapat tentangan dari suaminya. Maklum, suaminya sampai sekarang masih jealoas sama Ilham.


Gita merapatkan duduknya di samping Ilham.


Bawaan bayi ingin sekali nempel sama Ilham.


Dari kursi yang jauh sebuah pelototan seperti siap menerkam, bukan Ilham yang mau nempel malah istrinya yang tambah nempel. Senyum menyungging di bibir Ilham. Tangan Ilham mencoba merangkul di belakang pundak Gita.


Ya ampun mereka.


Kalau nggak mikir Gita lagi ngidam udah aku hajar dia.


Senang sekali cari kesempatan dalam kesempitan.


Duh, mana mereka tambah mesra lagi


Kalau ku samperin ntar Gita ngambek lagi


Alam seperti kembang kempis melihat istrinya dengan mantannya duduk berduaan. Tangan mereka saling menggandeng, membuat dirinya semakin kesal. Sekali-sekali mengelus dada.


Brakkkkk


Baginya sudah cukup menyenangkan ngidamnya Gita. Daritadi dia mencoba menahan diri tapi ternyata tidak bisa. Suami mana yang nggak kesal, kalau istrinya ngidam ketemu sama Ilham, mantan pacarnya.


Sepanjang perjalanan mereka hanya berdiam diri. Perasaan kesal masih membelenggu diri Alam.


"yang, kita langsung ke tempat mama aja." kata kata Gita.


Tapi yang ditanya hanya diam saja. Tetap melajukan mobilnya. Gita melirik suaminya yang kusut.


"Nak, liat tuh muka ayah. Kusut kayak belum di seterika. Tuh liat, nak, ilang gantengnya. Nak, kalau sudah gede jangan suka cemberut. Ntar nggak ada mau temenan sama kamu. Bunda aja takut liatnya."


Gita mencoba berkomunikasi dengan janinnya.


"iya, nak. Ayah lagi kesel bunda mesra-mesra sama om kamu. Nanti kalo udah nikah jangan gitu, ya." Alam ikut nimbrung ngobrol sama calon anaknya.


"Ciyeeeee, ternyata ayah bisa cemburu juga."


Alam menghentikan mobilnya. Gita melihat mereka berhenti masih di area sepi. Tangannya memegang perut Gita, mengelus-elus calon anaknya.


"Udah, ah. Geli!" Gita menghempas tangan suaminya.


Tapi tangannya di tarik sampai jarak dekat. Gita melepaskan tarikan tangan Alam.


"Kenapa? grogi ya?" goda Alam sambil mengedipkan matanya.


"Ih, nak. ayah genit. kayak lagu ini nak. idih ayah genit,suka gangguin bunda"

__ADS_1


Alam menggelitik perut Gita. Yang di gelitik merasa geli. Gita terus meminta Alam kembali fokus menyetir.


"Udah nyetir lagi. Ntar kemalaman."


"Iya, tapi kamu harus di hukum dulu."


"Salah aku apa?"


"Salah kamu sudah bikin aku panas liat kamu sama Ilham tadi."


"Kan bukan mau ku. Tapi dia yang mau dekat Ilham." ucap Gita menunjuk perutnya.


"Modus" Alam mendengus kesal.


"Iya, ayah. Maaf,ya. janji nggak lagi. Saya terima hukumannya."


"Ini hukumannya."


Alam mendekatkan bibirnya, Gita memberi ruang akses untuk menjelajah bibirnya lebih dalam. Tubuh Gita naik diatas pangkuan Alam. Ciuman panas terus berlanjut. Hingga membuat desahan panjang diantara keduanya.


"Dasar ayah genit!" cibir Gita.


"Ayah kan genit cuma sama Bunda. Ntar kalau kamu lahir ayah nggak bisa genit lagi sama bunda."


Alam kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Spencer. Sudah lama istrinya tidak diajak bersilaturahmi sejak rentetan peristiwa yang terjadi pada rumah tangganya.


Hari ini adalah awal dari semuanya.


Semoga setelah semua yang terjadi


bisa menguatkan cinta kami


Semoga setelah semua ini


tidak ada lagi hal yang bisa membuat kami


terpisah lagi


Gita Mandasari aku akan menjadi pelindungmu


Dan kamu adalah penguatku


Aku, kamu dan dia akan menjadi cerita dimasa yang akan datang.


AMIN


####


Mendekati episode terakhir ya


Terimakasih sudah mau mampir


Semoga terhibur dengan cerita ini


jangan lupa tinggalkan like komen dan rate nya


Oh ya jangan lupa untuk tetap vote cerita ini ya

__ADS_1


Terimakasih


Happy reading


__ADS_2