
"Apaaa! Kamu di lamar Ilham! Nggak! kakak nggak setuju kamu sama dia! Sejak kapan kalian pacaran!" omel Alam saat siti mengabari kalau Ilham sudah melamarnya.
"Kenapa, kak? Bukannya bagus dia tidak akan menggerecoki hubungan kalian lagi." jawab Siti.
"Kalau cuma demi melupakan Gita alasan dia mendekati kamu, itu artinya kamu cuma pelarian saja, ti. Aku tidak setuju kamu diperlakukan seperti itu. Aku kenal keluarga Pramono, ti. Mereka sangat selektif memilih pasangan untuk anaknya. Lebih baik cari yang lain. Lagian kamu itu single, masa dapatnya duda." protes Alam.
"Bukannya Ilham itu adik kandung kakak juga, masa ngomong seperti itu."
"Terlepas dari statusnya sebagai adik kandungku. Tapi dia punya jejak kelam yang kamu juga sudah tahu! Kamu lupa dia pernah melecehkan Gita, kamu lupa kalau dia pernah buat Raisa hamil sampai meninggal! lupa kamu, ti!"
Siti terdiam. Iya dia tidak lupa semua yang terjadi antara Ilham dan para wanitanya. Dia juga ingat kalau Ilham membuat Gita trauma sampai harus di ungsikan ke Malaka. Tapi terlepas dari hal itu, setiap orang pasti punya sisi kelam dan pasti Ingin merubah hidupnya.
Siti akui saat Gita hilang dulu, dia sudah jatuh cinta pada Ilham. Hanya saja, dia tahu diri kalau perasaannya terlarang. Alam adalah orang pertama yang dia kabari tentang lamaran Ilham.
Alam menghela nafas, pagi-pagi sudah dibuat emosi dengan adik sepupunya itu. Di tatapnya Gita yang sedang tidur disampingnya.
Ini hari ketiga mereka berada di Bali, Alam belum memikirkan kapan mereka akan pulang ke rumah. Mereka masih ingin mencari ketenangan setelah semua yang terjadi.
Alam berdiri di depan balkon, menghirup udara segar, sesekali menghela nafas. Sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Alam tak berbalik, dia biarkan tangan itu memeluknya dan tubuh istrinya bersandar di punggungnya.
"Yang.." sahut Gita di balik punggung Alam.
"Morning, sayang." sahut Alam masih di posisi yang sama.
"Morning, suamiku." ucap Gita dengan gelaynya.
Alam langsung berbalik dan menggendong Gita ke tempat tidur lagi. Alam membuka kimono yang di pakai Gita. Tentu saja Gita kaget, suaminya sepertinya belum lelah setelah semalam bertempur.
"Yang, ini masih pagi Lo." tolak Gita yang melihat suaminya kumat otak mesumnya.
__ADS_1
"Kata orang justru masih pagi yang bagus untuk bikin anak. Kita kasih adik buat Chicco." jawab Alam dengan senyum nakalnya.
"Aku jadi kangen sama Chicco, kapan kita nengokin dia. Sejak keguguran dulu, aku belum pernah ke makamnya. Maafin bunda ya, nak."
Gita mulai sendu, Alam yang tadi semangat ikut terdiam.
"Aku mau balik ke kamar dulu, ya. Mau ambil baju ganti." Gita bangkit dari tempat tidur. Di temani Alam, Gita memasuki ke kamarnya. Masih mengenakan kimono, mereka memasuki kamar yang hanya terhalang dengan dinding.
"Mama..." panggil Gita melihat mama Yulia duduk di tempat tidurnya.
Mama Yulia menyambut putrinya dengan senang. Tapi tidak dengan menantunya. Sikap Mama Yulia masih dingin terhadap Alam. Alam tetap menyalami ibu mertuanya walaupun di cuekin.
"Kalian sejak kapan bertemu?" tanya Mama Yulia.
"Semalam, ma." jawab Gita. Dia tidak bilang kalau semua itu ide Papa. Gita takut orangtuanya bertengkar lagi.
Mama Yulia langsung meminta Alam untuk keluar kamar. Dia ingin bicara empat mata dengan Gita. Alam memilih mengalah, daripada dia diamuk sama ibu mertuanya.
klik
"Kamu ganti baju dulu. Tidak sopan bicara dengan orang tua berpakaian seperti itu." perintah Mama Yulia.
Gita menurut, langsung mandi. Selesai mandi, Gita sudah mengenakan pakaian yang sopan. Lalu kembali menemui Mama.
Mama menatap Gita yang sudah rapi. Sesekali kepalanya menggeleng, belum lepas dari ingatannya putrinya merengek karena sakit hati atas perlakuan Alam. Sekarang dengan mudahnya Gita kembali pada suaminya, bermalam bersama pula.
"Ngapain kalian semalam? Mama heran sama kamu Gita. Kemarin kamu yang merengek sama mama minta sendiri dulu, tidak mau bertemu suamimu. Sekarang kalian bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Mabuk kamu, nak! Mama sampai beradu pendapat dengan papa karena ingin membantu keinginanmu. Tapi sekarang! Kamu dengan mudah kembali dengan suamimu."
Gita menunduk. Dia juga tidak tahu kalau pada akhirnya bisa kembali pada Alam. Gita tahu itu adalah kelemahannya. Dia tidak bisa jauh dari suaminya.
"Maaf, ma." cuma itu yang keluar dari mulut Gita.
__ADS_1
Dia tidak tahu harus bicara apa lagi. Menyela juga percuma, karena pasti dia akan kalah debat dengan mama. Sedari kecil, kalau soal berdebat memang mamanya juara. Gita berdiri mendekati mamanya yang kesal.
Gita memeluk Mama Yulia " Maafin, Gita, ma. Gita sudah banyak nyusahin mama dan papa. Gara gara Gita, mama dan papa sampai bertengkar. Mama kan tahu kalau Gita dan alam saling mencintai. Mohon maafkan dia, ma."
"Mama kecewa sama kamu, nak. Sejak kamu kenal dengan yang namanya Ronal dari dia mulai mendekatimu ada saja masalah yang pada akhirnya kamu juga yang menjadi korban.
Kamu jadi depresi, lumpuh, dan buta,Kamu dulu di culik keisya juga karena Ronal. Kamu putus sama Ilham dan gagal menikah juga karena Ronal. Pernah tidak kamu berpikir kalau kamu yang terlalu cinta sama dia. Sedangkan dia? Apa yang sudah dia lakukan untukmu? Belum ada!" Isak Mama Yulia.
"Kalau memang begitu, kenapa mama restui kami? Tanpa restu mama, kami tidak akan ada sampai sekarang, ma. Sekarang mama menyalahkan Alam atas semua yang terjadi. Gita sudah besar, ma. Tapi kenapa masih mengatur rumah tanggaku" Gita tidak mau kalah bicara dengan Mama Yulia. Dia menjawab ucapan Mama Yulia dengan nada tinggi.
Mama terkejut Gita membalas ucapannya dengan nada tinggi. Cuma demi seorang lelaki segitunya sikap Gita padanya.
"Mulai sekarang, apa yang terjadi sama kamu bukan urusan mama lagi. Mama capek! Sekarang terserah kamu, Gita. Mau rumah tangga kamu jungkir balik, mama sudah tidak peduli lagi." Mama menangis keluar dari kamar Gita.
Gita kaget mendengar jawaban mama Yulia. Dia menyesal sudah menyakiti mama Yulia. Sambil menangis Gita mengejar mamanya, mencoba meminta maaf. Alam melihat istrinya mengejar mama Yulia ikut menyusul.
Saat sampai di depan pintu lift mereka terkejut
"Maamaaaa....!!!"
Apa yang terjadi pada Mama Yulia!
Semoga mama bisa kembali luluh pada pernikahan mereka.
Sedikit catatan :
Terkadang kita lupa bahwa campur tangan orang tua menandakan rasa sayang mereka. Tidak ada orang tua yang ingin anaknya hancur.
Seperti yang dilakukan mama Yulia karena dia sayang pada Gita.
Oke kakak sekian dulu
__ADS_1
insyallah habis magrib Double up