
Sepulang dari klinik dokter kandungan, Gita dan Ilham jalan-jalan ke pantai. Gita mengajak Ilham duduk ditengah pasir pantai. Lalu mengajak Ilham tidur di pasir. Ilham menurut saja. Mereka melihat langit yang sudah mulai menghitam.
"Sepertinya mau hujan. Kita pindah yuk." ajak ilham.
"Nggak mau! Aku mau disini!" rengek Gita
"Kayaknya kamu beneran hamil, sayang. Hari ini kamu seperti orang ngidam."
"Ngidam? apa itu?" tanya Gita belum paham.
"Ngidam itu suatu keinginan yang kadang nggak masuk akal. Biasanya terjadi pada orang hamil."
"Oooo gitu. Tapi kata dokter kan aku nggak hamil."
"Sayang?" Gita balik nanya
"Iya."
"Aku mau nanya? Emang kita ada melakukan sesuatu, ya?"
Ilham mengkerutkan alisnya. " Maksudnya?"
"Aku pikir kamu bakal marah dan ninggalin aku pas di bilang aku hamil. Dan aku juga mempertanyakan apa yang sudah kamu lakukan padaku?"
"Mungkin ada, tapi aku tidak ingat. apapun dan siapapun kondisi kamu! Aku akan tetap menerima kamu."
"Kalau ternyata bukan anakmu?"
"Emang kamu pernah dengan laki-laki lain? Atau jangan-jangan..."
Gita menggeleng. "Makasih, sayang. Jadi kapan kita nikah?" tanya Gita mendelik ke Ilham.
"Hari ini juga kalo kamu mau aku siap." ucap Ilham mencium kening Gita.
"Aku dan kamu tidak akan terpisahkan." Ilham mencoba mencium Gita. Tapi di tolak Gita.
Gita aku adalah laki-laki yang sangat mencintaimu dalam keadaan apapun. Kamu adalah penyemangatku dalam segala. Aku dan kamu tidak akan terpisahkan, biarkan dia yang melukaimu menyesal telah menyiakamu."
Hujan langsung turun tapi Gita malah mengajak Ilham menari di tengah ombak. Ilham melihat keanehan Gita langsung menggendong Gita seperti menggendong karung beras. Setelah masuk pondok, Ilham merasa gemas melihat Gita langsung mencium Gita. Gita memegang leher Ilham sedikit menjijit kakinya. Maklum Ilham tingginya 170 sedangkan Gita 160.
Ilham menggendong Gita. Lalu berteriak di depan para pengunjung.
"Aku akan jadi ayah yang baik. Aku jadi ayah! aku jadi ayah!" teriak Ilham sambil berputar menggendong Gita. Gita merasa pusing, lalu minta di turunkan.
"Selamat, ya, pak." ucap salah seorang pedagang makanan yang melihat kebahagiaan Ilham. Gita mencoel ilham, menunjuk dagangan si bapak. "sayang, mau."
__ADS_1
"Kamu mau sayang?"
Gita mengangguk, lalu mengelus perutnya. Ilham menghela nafas.
"Bang, es krimnya aku borong semua. Sama gerobaknya sekalian." Bapak melongo, dia menyerahkan es krim tapi menolak menjual gerobaknya.
"Ini mata pencaharian saya, pak." protes si bapak.
"Kamu sih! orang mau es krim bukan gerobaknya." Gita mencubit tangan Ilham.
Ilham memberikan es krim pada Gita. Tapi di tolak Gita. " Aku mau kamu yang habisin es krim." Ilham menelan ludah, bagaimana bisa dia habiskan semua eskrim ini.
"Susah ya ngikutin ibu hamil."
Gita melotot "Aku nggak hamil!" Gita berlari menjauh dari Ilham.
"Gita! Gita!" Ilham mencari Gita di sekeliling pantai. Tapi tidak menemukannya. Ilham sempat menyerah, sampai dia melihat Gita duduk di dekat batu pantai.
"Sayang, jangan disana! Nanti jatuh!" panggil Ilham. Gita tetap tidak peduli.
"Iya... iya kamu nggak hamil. jangan ngambek lagi dong." Ilham mencoba menaiki batu yang lumayan licin.
"Awas disana ada ombak." Teriak salah seorang pengunjung.
Seketika Ilham terpeleset, saat mencapai tangan Gita. Sontak Gita berteriak ketakutan. Dia melihat kejadian 9 tahun yang lalu, Dimana dirinya terjatuh ke lobang ranjau bersama Alam.
"Alam! siapa lagi itu!" omel Ilham.
"Maaf." Gita menunduk sedih. Ilham meninggalkan Gita dengan perasaan kesal.
"Kemarin Ronal! sekarang Alam! siapa lagi besok! ada berapa lelaki yang kamu pacari Gita!" bentak Ilham lalu mendorong tubuh Gita.
"Dengar, Gita. Kamu milikku! dan tidak ada laki-laki lain yang boleh memilikimu!" teriak Ilham membuat Gita sedikit takut.
"Mas istrinya jangan dibentak! Katanya tadi istrinya lagu hamil!" kata ibu ibu yang melihat Ilham membentak Gita.
Gita menangis saat melihat sikap Ilham. Dia meninggalkan Ilham yang masih kesal. Seumur hidup dia tidak pernah diperlakukan kasar seperti itu.
Ilham menyadari kalau Gita sudah tidak di dekatnya. Dia merasa bersalah sudah membentak Gita. Gita mencari kendaraan sejenis grab atau taksi. Tapi Gita tidak menemukannya. Gita menelpon Ine untuk bertemu, Gita mendengar kabar duka kalau Ine sedang di rumah sakit karena bayinya meninggal di perut.
Akhirnya Gita minta tolong sama Abang ojek yang lagi mangkal untuk mengantarkan ke hotel milik Ine. Dari hotel akhirnya Gita diantar ke rumah sakit. Disana semua sudah berkumpul, ada keluarga Ine, Beta, dan ada orang tuanya juga. Mereka memakai baju hitam semua.
"Ine, gimana keadaannya?"
"Gita, Ine sudah nggak ada! dia meninggal bersama bayinya." Beta memeluk Gita sambil menangis.
__ADS_1
"Enggak! Nggak mungkin! nggak mungkin! Ine ... kamu jangan ngeprank aku! Ine bangun!" Gita terus menggoyangkan tubuh Ine.
Gita merasa lemas!
Aku harap ini cuma mimpi! Bangun Gita! bangun! Ine cuma tidur! banguunnn!
Gita merasa pusing dan tak sadarkan diri. Semua yang disana menjerit melihat Gita yang tumbang.
Tubuh Ine langsung di tutupi lagi dengan kain putih.
Gita dibawa ke ruang perawatan, mama menanyakan bagaimana kandungan Gita.
" Anak ibu sedang hamil? Bentar saya periksa dulu?"
Dokter menerangkan kalau janin Gita kosong tak ada tanda kalau Gita sedang mengandung.
"Alhamdulillah, jadi Gita tidak hamil dok?" ucap Mama senang.
"Tapi dokter, kemarin tespack nya garis dua samar." tanya mama.
"Belum tentu samar itu positif,Bu." jelas dokter.
"Alhamdulillah, terimakasih dokter." ucap Mama Yulia.
Dokter menggeleng. Dokter mengatakan kalau Gita sepertinya ada masalah di lambung.
"Mungkin pola makan yang tidak teratur." kata dokter.
Mama senang langsung menghubungi Ilham. Tapi sayangnya tidak diangkat. Mama mengirimkan pesan agar Ilham ke rumah sakit tempat Ilham bekerja.
Sementara itu, Ilham membuka handphonenya setelah mandi. Ilham menerima pesan dari mama Yulia kalau Gita di rumah sakit.
Dengan sigap Ilham berangkat menuju rumah sakit. Mama Mila yang melihat Ilham mau keluar langsung menghampiri.
"Mau kemana lagi? Menemui Gita lagi?"
"Mau ke rumah sakit, ma. Ada pasien darurat. Raisa juga disana kok."
"Ya, udah hati-hati." Ilham pamit pada mamanya.
"Raisa? Pasien? Bentar, bukannya keluarga Raisa mau kesini? Nggak beres ini!" Mama langsung menelpon Raisa untuk memastikan apa yang dibilang Ilham.
"Sa, malam ini kamu dinas, ya?" telpon Mama Mila.
"Enggak Tante? Kan aku lagi di jalan bareng mama dan papa bentar lagi sampai." jawab Raisa.
__ADS_1
"Nggak beres ini! Sekarang Ilham sudah berani berbohong!" ucap Mama Mila dengan perasaan kesal.