
Braaaakkkk
Suara pintu kamar Gita terdengar sangat keras. Alam mencoba menerobos masuk, tapi keburu ditutup. Baru dia sadari kalau kamar mereka bersebelahan. Alam terus menggedor pintu kamar Gita.
Sampai orang kamar di depannya keluar. Menandakan kalau mereka sudah terganggu.
"Yang, tolong buka! Kamu masih marah sama aku! Gita...! Gita ..." Alam terus menggedor pintu.
Gita menutup telinganya. Bayang-bayang wajah Nabila, bayang-bayang video yang sedang viral itu selalu berputar di otaknya. Barusan dia terperdaya sikap manis suaminya, sesaat dia tersadar kalau dia masih sakit hati.
Gita terduduk menangis di depan pintu. Seperti menelan ludahnya sendiri. Tak ada jawaban dari depan, Alam nekat memang dinding pembatas balkon.
Melihat suaminya turun dari balkon Gita menutup pintu kaca. Tapi sebelum pintu itu tertutup Alam berhasil menerobos masuk.
"Kamu mau apa?" ucap Gita kaget.
"Aku yang harusnya bertanya? Mau kamu apa? Sembunyi-sembunyi terus. Kalau memang aku ada salah bilang! Aku siap mendengarnya. Jangan main petak umpet seperti ini. Kita ini sudah menikah, bukan zaman pacaran lagi. Yang namanya pernikahan harus saling memberi dan menerima. Aku dan kamu saling menerima kekurangan dan kelebihan kita."
"Kamu mau tahu salah kamu dimana? ini ... ini salah kamu." Gita melemparkan hp yang terdapat video viral tentang Nabila dan Alam.
"Ini ... ini tidak seperti yang kamu pikirkan, yang. dengarkan dulu penjelasanku. Tapi ini salah kamu juga, siapa yang suruh aku tidur di luar. Kamu kan!" terang Alam.
"Kenapa jadi salahku! Oh, jadi karena di suruh tidur di luar, kamu bisa nyari kesempatan untuk bertemu perempuan lain, gitu. Kamu ternyata nggak berubah, ya. Masih sama dengan Ronal yang dulu, Ronal yang dulu hilang setelah aku menjadi cacat. Ronal yang memanfaatkan aku untuk kembali ke mantan pacarnya" ucap Gita masih emosi.
"Kenapa kamu terus menyalahkan aku! siapa yang pergi tanpa pamit! siapa yang tidak memberi kabar dulu! Kamu! bukan aku, Gita! Bagaimana aku bisa tahu keberadaanmu dulu kalau kamu hanya diam! kenapa semua orang hanya bisa menyalahkan aku! jika yang kamu lakukan juga salah!"
"Aku hanya menolong Nabila karena di serang orang-orang Ken. Kamu tahu Ken itu siapa? Ken itu ponakan mamanya Roki yang menjadi seorang mafia. Dulu dia diangkat derajatnya sama papa Bobby, di bantu untuk mendonasikan saham di casino nya. Tapi ternyata dia berkhianat, makanya dia dendam pada keluarga kami. Nabila terluka karena rumahnya di obrak-abrik anak buah Ken. Dia juga mengincarmu karena kamu istriku."
Mereka terduduk bersama. Alam terduduk di pintu balkon sedangkan Gita tetap di pintu depan. Keduanya sama-sama tersulut emosi,
saling menyalahkan. Nafas mereka tersengal-sengal. Alam mendekati Gita yang masih menatapnya dengan tajam. Tak lama Gita tak sadarkan diri.
Dengan sisa tenaga Alam mengangkat tubuh Gita ke tempat tidur. Ada rasa sesal sudah memarahi istrinya. Karena yang dia ingat Gita akan kesakitan ketika sedang emosi. Di tatapnya wajah Gita, pucat itu yang dia lihat.
"Maafkan aku sayang. Bukan maksudku membuat kamu seperti ini. Aku hanya kecewa, sebatas itukah penilaian kamu terhadapku. Seburuk itukah aku di matamu? Apa kamu belum bisa melupakan kebencianmu yang dulu? Kalau kamu masih kecewa padaku, kenapa kamu mau menerimaku?" ucap Alam sambil mengelus rambut Gita yang masih tertidur.
Setiap marah Gita selalu membahas masalah yang dulu mereka alami. Seakan semuanya salah Alam, dia tidak habis pikir kenapa istrinya masih mengungkit masalah itu.
Gita terbangun melihat suaminya memeluk dirinya. Di tatapnya lekat lekat wajah itu.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang! Maafkan aku yang memberi luka membekas dalam hidupmu! Aku hanya manusia biasa, yang tidak luput dari khilaf. Jika memang kamu masih kecewa padaku, aku siap mundur dari hidupmu!" ucap Alam saat menatap istrinya.
Gita menarik wajah alam lebih dekat "Aku juga minta maaf, yang. Memang kamu pernah memberi luka di hatiku. Tapi entah kenapa semakin luka ini terbuka. semakin besar perasaanku padamu. Mungkin ini yang namanya cinta."
Alam mengecup kening Gita. Kecupan berubah posisi kearah bibir hingga bagian lainnya. Mereka begitu menikmati indahnya malam itu.
Gita meletakkan tangan Alam ke perutnya.
"Jadi?" alam mencoba menebak-nebak.
"Hmmm...." Gita memberi sedikit sinyal pada suaminya.
"Serius.... Alhamdulillah! terimakasih ya Allah!" teriaknya kencang. Sampai Gita menutup telinganya.
"Ini beneran kan sayang..." Alam masih tidak percaya.
"Iya, sayang ..." jawab Gita.
"kamu hamil?" tanya Alam sekali lagi.
"Kok malah hamil sih? kamu paham nggak sih maksud aku tadi!" Gita mulai kesal.
"Aku .... aku .. lapar!" jawab Gita sambil nyengir.
"Astaga! bilang kalau lapar! nggak usah pake megang perut segala." Alam membalikkan tubuhnya gantian dia yang kesal.
"Yang ..." Gita menarik-narik tubuh suaminya.
"Apaaa!" ucapnya masih membelakangi Gita.
"Cariin nasi Padang ... pake rendang sama sambal cabe hijau" rengek Gita.
"Ini Bali, susah cari nasi Padang!" omelnya.
"Pokoknya aku mau nasi Padang komplit! Kalo nggak!" ancam Gita.
"Kalo nggak apa! tidur di luar lagi!"
"Kalau nggak aku saja yang pergi sendiri cari nasi Padang." Gita turun dari tempat tidurnya. Lalu membuka pintu kamarnya.
__ADS_1
"Eh, iya ... biar aku saja yang beli..." Alam menghela nafas. Masalahnya ini sudah malam, alam tidak akan membiarkan istrinya pergi sendiri.
"Nah gitu dong itu baru suami siaga." Gita menepuk pundak suaminya.
"Kamu ikut, ya. Aku nggak mau tinggalkan kamu sendirian lagi." Alam menarik Gita keluar kamar.
klik
"Asal kamu tahu ya. Kelemahan Ronal itu ada pada istrinya. Kita gampang menjatuhkannya melalui Gita. Ronal tidak akan membiarkan istrinya terluka sedikitpun." ucap suara seorang laki-laki yang berbicara pada Ken.
"Oh begitu, ya. Terimakasih informasinya. Tidak sia-sia kita berkerjasama." ucap Ken menutup telponnya.
Hari ini dia ada perjalanan bisnis ke Bali. Ada kerjasama dengan pengelola diskotik yang ingin menyediakan wanita plus-plus. Ken tersenyum melihat beberapa wanita yang di tawarkan oleh agennya. Dia tampak puas dengan hasil kerja anak buahnya.
Ken pun mengambil kamar di hotel di depan pantai Kuta Bali. Pemandangan pantai membuat hatinya sedikit tenang. Dia ingat mantan istrinya yang sangat menyukai pantai. Seandainya istrinya masih hidup mungkin dia akan mengajak istrinya ke tempat ini.
Jam menunjukkan pukul 00:00, suasana Bali mulai sepi. Ken turun ke lobby mencari makanan. Tak jauh dari hotel ada hardrock cafe. Ken memasuki cafe, tapi saat di parkiran matanya terfokus pada sosok yang dia kenal. Seorang lelaki yang sedang menggendong wanita yang sepertinya tertidur.
Rezeki memang tidak kemana-mana
Di kamar hotel
Alam menggendong Gita yang tertidur saat makan es krim di salah satu minimarket terdekat.
Dia membawa Gita ke kamarnya. Lalu meletakkan istrinya ke atas ranjang.
Tanpa mereka ketahui, Mama Yulia sudah menunggu di kamar Gita.
####
Apa yang terjadi selanjutnya?
Apakah Mama Yulia kembali melunak hatinya?
Tetap pantengin cerita ini ya.
Jangan lupa tinggalkan like, komen dan rate
Happy reading.
__ADS_1