
Dua bulan kemudian
Sehabis pulang dari kantor, Alam menemui Ilham mengetahui kondisi Gita yang sebenarnya. Seminggu ini, Alam selalu terbayang dengan mimpinya.
Dalam mimpinya, Gita lebih asyik bermain bersama Chicco, putra pertama mereka. Alam merasa di cuekin, sampai Alam mengajak pulang pun Gita tak mau ikut. Dia bilang tidak mau jauh dari Chicco lagi.
Nyesek itu yang dirasakan Alam. Apakah itu pertanda istrinya akan pergi meninggalkannya juga.
Siang ini alam meminta pulang cepat, karena ingin jalan-jalan bareng Gita. Mencari persiapan karena kandungan Gita sudah masuk lima bulan. Tapi sebelumnya dia mau menemui Ilham, lelaki yang sekarang menjadi adik kandungnya itu adalah dokter yang menangani Gita.
"Mimpi apa aku semalam, kak Ronal mau menemuiku?" sahut Ilham saat melihat Alam masuk ke ruangannya.
"Mimpi ketiban rejeki mungkin" candanya mencoba menetralisirkan suasana.
Dia dan Ilham sejak awal memang tidak bisa akur selayaknya kakak beradik. Riwayat persaingan mereka yang masih membekas di hati. Membuat keduanya masih canggung, tapi demi Gita, Alam memberanikan diri menemui Ilham.
"Ada apa, kak?" Ilham masih merasa canggung memanggil lelaki sebagai kakaknya.
"Soal Gita?" jawab Alam masih canggung.
"Gita kenapa? dia baik-baik saja kan." nada pertanyaan Ilham seperti masih mencemaskan keadaan Gita.
"Aku pengen tahu kondisi dia yang sebenarnya. Apakah kankernya masih bersarang di kepalanya?"
Ilham mengeryit keningnya yang sebenarnya tidak pusing. Dia sudah berjanji pada Gita untuk merahasiakan dari Alam.
Flashback on
"Ham, tolong jangan ceritakan pada Alam atau orangtuaku tentang kondisiku sekarang." Pinta Gita saat pertama kali memeriksakan kehamilannya di rumah sakit kasih bunda.
Gita mendengar keterangan dokter kalau kehamilannya termasuk lemah. Sama seperti kehamilan pertamanya. Gita mencoba kuat, lalu menemui Ilham untuk mengecek kondisi kankernya.
Awalnya Ilham tidak tega mengatakan kondisi Gita yang sebenarnya. Tapi Gita ngotot ingin tahu berapa lama dia bisa hidup.
"Kenapa mereka tidak boleh tahu? Dia suamimu, wajib tahu keadaan istrinya."
Gita tidak ingin membuat suaminya protektif. Apalagi sejak suaminya tahu kehamilannya, Alam menjadi sedikit protektif. Gita takut kalau Alam tahu kondisinya, akan lebih protektif lagi.
Gita tak mau dikekang dengan alasan penyakitnya. Dia ingin menikmati masa kehamilannya.
Dia ingin menikmati indahnya ngidam, pergerakan bayinya, bermanja-manja bersama suaminya.
__ADS_1
"Tapi..." Ilham pusing melihat Gita yang masih keras kepala menyimpan rahasia.
"Please...Jika terjadi sesuatu pada kandunganku, tolong selamatkan anakku. Aku mohon, ham." mohon Gita sambil memegang tangan Ilham.
Ilham terdiam. Berat rasanya untuk menyanggupi keinginan Gita. Bagaimanapun, Alam dan orangtua Gita berhak tahu. Di tatapnya selebaran surat yang menunjukkan kondisi Gita.
"Gita... Aku harap kamu kembali kemo lagi. Kesempatan sembuh masih ada." bujuk Ilham.
"Tapi, ham...." Gita tidak bisa melanjutkan kata-katanya.
Dia terfokus dengan surat yang ada di genggamannya. Stadium empat! Akankah kesempatan sembuh masih ada. Seketika bulir air matanya mengalir, Ilham memeluk Gita. Ilham mencoba menenangkan wanita yang pernah ada dihatinya.
"Aku takut, ham .... takut sekali." Isak Gita meratapi nasibnya.
"Makanya kamu harus fokus kemo lagi. Aku mohon kamu pikirkan lagi."
Beberapa hari yang lalu, Gita mendapati hidungnya kembali mimisan. Walaupun akhirnya ketahuan oleh suaminya kalau dia kembali mimisan, tapi dia masih bisa mengelaknya.
"Kamu mimisan lagi, yang?" tanya Alam saat menemukan tisu yang berdarah di dalam kotak sampah.
"Bukan, itu sih bekas lipstik." elaknya.
Alam memeluk Gita, seperti ada ketakutan dalam diri lelaki itu. Gita meyakinkan suaminya kalau dia baik-baik saja. Tapi tetap saja suaminya memaksanya untuk kembali fokus berobat.
Alam duduk di ruang tamu kediaman Spencer. Saat ini mereka tinggal di sana. Karena Papa Bobby stroke, dan perusahaan di urus oleh Alam. Awalnya dia menolak untuk kembali ke jabatan itu. Alasannya, mau fokus ke kehamilan Gita.
Dia merasa Ilham menyembunyikan kondisi Gita yang sebenarnya. Beberapa kali dia membujuk istrinya untuk kembali berobat. Tapi tetap di tolak Gita. Alasannya, Gita merasa dirinya baik-baik saja.
"Kamu kenapa sih! Maksa terus! Aku sehat saat saja kok!" Gita kesal sepanjang hari suaminya terus membahas soal kemoterapinya.
"Aku cuma mau mastiin kalau kamu baik-baik saja. Tapi ini membuktikan kalau kamu sedang tidak baik. Ya ... berobat lagi ya sayang, please." bujuk Alam pada Gita.
Gita tetap saja ngotot mengatakan dirinya sehat-sehat saja. Alam langsung memeluk Gita dengan erat. Dia masih terbayang dengan mimpinya. Bukan sekali dua kali mimpi itu datang, tapi juga Alam sering melihat wajah Gita pucat sekali.
"Aku begini karena sayang sama kamu. Sayang sama anak kita. Cukup dulu kita kehilangan Chicco. Aku tidak mau kehilangan kamu juga."
Gita memegang pipi Alam dengan kedua tangannya "Sayang, jodoh, maut dan rezeki itu sudah ada yang mengatur. Sekuat-kuatnya aku berobat, Jika tuhan berkehendak kita bisa apa. Toh, sekarang aku sehat-sehat saja, kan. Bahkan yang sehat tidak punya penyakit pun bisa meninggal kapan saja. Jadi please, kamu jangan takut, ya. Kalau seandainya aku duluan, aku akan menjaga kalian dari surga."
"Yang ... "
Seketika suasana menjadi hening. Alam dan Gita terhanyut dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Aku mencintaimu Gita ..." Alam menyandarkan kepala Gita diatas dadanya. Ada bulir air mata yang turun.
"Udah, ah. Kamu ngantor, ya. masa bos nya cengeng sih." Goda Gita menghapus air mata di wajah Alam.
"Nanti malam kita jalan yuk!" ajak Alam
"Kemana!"
"Kemanapun kamu mau! aku ikut aja."
"Kamu mau jenguk Mama Yulia."
Alam menunduk. Sampai saat ini mertuanya masih membencinya. Apalagi semenjak Roki tertangkap.
"Oke. Kita jenguk Mama!"
Gita tahu masih ada rasa berat dalam nada suara Alam. Tapi dia mencoba menguatkan suaminya.
"Kamu tahu, yang. Mama seperti itu karena dia sayang sama aku. Apalagi aku anak semata wayangnya. Nanti kalau anak kita lahir dan dewasa, kita pasti akan berada di posisi seperti yang dialami mama Yulia."
Gita dan Alam keluar dari kamar. Lalu mengantarkan suaminya berangkat ke kantor. Ada pak sopir yang sudah menunggu mereka di depan pintu.
Gita mencium tangan Alam. Lalu melambaikan tangan saat Alam sudah berangkat ke kantor.
Tiba-tiba Gita merasa kepalanya sakit. Tapi di tahannya.
"Mbak Gita nggak papa!" mbak dia langsung membopong Gita yang hampir pingsan.
"Nggak papa, mbak. Mungkin ini bawaan hamil."
Dia mengantarkan Gita ke dalam kamar. Tak lama setelah mbak Dia keluar kamar. Gita mengambil obatnya di laci.
Jangan sekarang ya Allah
jangan sekarang
Aku masih ingin melihatnya lahir
Aku mohon ya Allah
Biarkan aku melihatnya lahir walaupun sebentar saja
__ADS_1
#######
Bersambung