
Di supermarket
Gita berjalan sendiri mencari barang kebutuhannya. Berputar dengan troli yang masih kosong. Tatapannya beralih sepasang suami istri sedang belanja berdua. Sang istri lagi hamil.
"Sayang, aku mau ini boleh?" pinta si istri.
"Apapun yang kamu mau? Akan kuberikan, sayang." jawab si suami
"Ah, kamu ya." istrinya memeluk suaminya dengan mesra.
Pemandangan itu sungguh menohok perasaan Gita. Wajahnya tertunduk lesu.
Gita mengelus perutnya yang belum terlihat. Ada rasa iri yang mendera di hatinya. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi cepat-cepat dia hapus tidak enak dilihat orang.
"Enak, ya. Ada yang merhatiin, ada yang cemburuan." keluh Gita.
Sebenarnya dia tak pernah kekurangan cinta dari Alam. Setiap detik, setiap menit suaminya selalu memperlakukannya sangat manis. Tapi satu kelemahan Alam, tidak peka dengan keadaan.
Gita terus berputar mengelilingi rak rak di supermarket. Sudah satu jam berkeliling troli nya masih kosong. Badan disini pikiran entah kemana.
"Loh, belum dapat juga?" tanya kak Grace saat melihat troli Gita masih kosong.
"Belum ada yang cocok kak." jawab Gita sekenanya.
Bagaimana bisa aku fokus belanja? sedangkan pemandangan yang aku lihat bikin nyesek. Bagaimana aku masih berpikiran soal dia? Dia yang sudah bikin aku kecewa.
Lam, seandainya kamu tahu. Kalau keluargamu adalah dalang dari kekacauan rumah tangga kita.
Tapi kenapa kamu tidak peka soal ini!
Aku tak tahu lagi harus bagaimana sekarang.
Mungkin ini jalan terbaik untuk pernikahan kita.
ini jalan terbaik untuk keselamatan anak kita.
Maaf jika ku rahasiakan kehamilanku.
Aku tidak mau anak kita ikut jadi korban lagi.
__ADS_1
Gita kembali melamun. Grace cuma geleng-geleng kepala. Lalu diajaknya adik sepupunya itu untuk makan di cafe dekat supermarket. Dia tahu kalau Gita masih memikirkan soal perceraian itu.
"Gita." panggil Grace
"Iya, kak." Jawab Gita sambil mengaduk-aduk jus alpukat yang sedari tadi belum dia minum.
"Kamu... kamu sepertinya belum siap dengan perceraian itu? Kakak minta tolong pikirkan lagi. Demi jabang bayimu. Seharusnya dia datang mencarimu. Apalagi kalau kamu lagi mengandung. Dia tahu kan kalau kamu lagi hamil."
Gita menggeleng. Dia belum sempat mengabari soal kehamilannya. Gita juga tidak ingin memberitahu Alam soal kehamilannya, karena Gita takut Ken dan sekutunya akan memburu anaknya.
Grace kaget saat Gita menggeleng. Bagaimana bisa adiknya itu memendam semuanya sendiri.
Sesekali dia menghela nafas, sejenak Grace memijit keningnya yang tidak pusing. Dia pusing lihat adiknya yang keras kepala.
Gita pamit ke toilet, saat tiba di toilet Gita mendengar seorang wanita menelpon mesra ke pasangannya. Sambil masuk toilet pikiran Gita kembali melayang.
Teringat saat mereka sedang berdua di pantai Kuta Bali
Flashback on
Hari sudah mulai gelap. Gita dan Alam belum beranjak dari pantai. Di tatapnya wajah Gita yang mulai mengantuk. Senyumnya mengembang, Kepala Gita di letakkan di bahunya. Tangannya menggenggam erat seakan tak pernah lepas.
"Pulang, yuk!" Ajak Alam karena melihat istrinya sudah mulai mengantuk.
"kalau aku pergi suatu saat nanti, aku akan mengawasimu dari atas sana." Ucap Gita sambil menunjuk bintang yang paling terang.
"Kamu ngomong apa sih? Nggak ada yang pergi. Kita akan tetap bersama sampai maut memisahkan."
"Kan aku bilang kalau aku pergi duluan. kita ngga tahu ajal kapan datangnya." Balas Gita tidak mau kalah.
"kamu tahu nggak!" Ucap Alam sambil merebahkan tubuhnya di atas pasir.
"nggak!" Jawab Gita sekenanya.
"Orang belum selesai ngomong, main jawab aja!" Alam menjentik hidung Gita.
"Siti di lamar Ilham." Jawab Alam matanya menatap langit yang bertabur bintang.
"Alhamdulillah. akhirnya sahabatku melabuhkan hatinya pada seorang pria." Jawab Gita berbinar.
__ADS_1
"kok Alhamdulillah sih. Aku nggak setuju! kayak nggak ada laki-laki lain. Siti itu masih muda, masa dapat duda. Sebagai kakak tetap aku nggak setuju." Protes Alam.
"Lucu ya. Ada kakak kandung yang nggak setuju sama adik kandungnya sendiri. Ya, terserah Siti dong. Dia yang menjalani kok kamu yang sewot, atau jangan-jangan kamu masih ada rasa sama Siti." Goda Gita melihat wajah suaminya masih kesal.
"Aku nggak pernah ada rasa sama Siti. Dia masih sepupuku walaupun tali saudara jauh. Tapi ya emang sedari kecil aku sudah anggap dia adik. Aku mau nya, cintanya ya sama kamu Gita gentong."
Gita melotot di panggil gentong "Masih juga panggil aku gentong."
Alam tiba-tiba mendekati tubuh Gita, lalu merebahkan tubuhnya di atas pasir pantai. Gita celingak-celinguk takut ada yang lihat.
"Apapun terjadi tolong jangan pergi tinggalkan aku lagi, istriku. Aku tidak bisa bernafas kalau tanpa kamu. Jika ada masalah dalam rumah tangga kita, tolong katakan saja biar kita selesaikan sama-sama."
"Kenapa kamu masih bertahan denganku? Padahal kamu dulu bukannya sangat mencintai kak Dinda." tanya Gita saat mereka menatap langit di atas pasir pantai.
"Aku tidak tahu. Kenapa hatiku terpaut padamu,Gita. Aku hanya mengikuti kata hatiku yang selalu menuntunku ke arahmu. Dulu, yang dipikiranku adalah menemukan paman dan bibiku. Sejak aku bangun dari koma setelah kita terjatuh di lobang ranjau, mereka hilang tanpa jejak. Makanya saat Siti hendak pulang ke Sukasari, aku menggantikannya karena ingin mencari keberadaan mereka. Tapi, hatiku juga sudah mulai terpaut pada seorang gadis yang ku temani malamnya saat dia diputuskan pacarnya. Sumpah, saat itu aku tidak menyentuhmu sama sekali. hanya aku menemanimu saja."
"Apa kamu mencintaiku, Alam?"
"Tentu saja aku mencintaimu, sayang. Kalau tidak aku sudah menyerah atas perjalanan cinta kita. Aku rela di penjara oleh mama Yulia saat kamu hilang dulu. Aku rela di hajar babak belur oleh Ilham itu demi siapa? demi kamu, Gita."
"Masa?" Gita mengerecutkan bibirnya seolah tak percaya dengan ucapan pria yang jadi suaminya sekarang.
"Sekarang aku yang nanya? Kenapa kamu masih mau denganku? Bukan aku orang yang memberikan luka mendalam untukmu."
Gita mulai mengantuk. Alam kesal karena saat Gita ditanya balik, istrinya malah tertidur. Tapi saat tertidur, entah kenapa bayang-bayang ucapan Nabila saat di puskesmas kembali terngiang di pikirannya.
Flashback end
Tubuh Gita merasa lemas. Air matanya pun menetes, Gita menyenderkan tubuhnya di atas closet. Kepalanya pusing dan tertidur di WC umum.
Tok tok tok
Pintu WC di gedor membuat Gita terbangun. Lalu keluar dari WC.
Grace menyusul Gita ke toilet. Melihat adiknya pucat, Grace mengajak Gita pulang ke rumah. sepanjang perjalanan Gita hanya melamun.
Sejak kamu datang ke rumah kami, belum pernah kami melihat keceriaan di wajahmu, Gita.
Kembalilah pada orang yang memberikan keceriaan dalam hidupmu.
__ADS_1
Jangan kau pertahankan keras kepalamu itu.
Grace membelai rambut Gita dengan lembut. Segudang ide terbentuk di benak Grace untuk kebahagiaan adik sepupunya itu.