
"Kamu mau kemana? sama siapa? keperluan apa! dirumah aja, jangan kemana-mana. Nanti kalau ada apa-apa, siapa yang repot?" telinga Gita berasa panas dengar Omelan Alam.
"Oh, jadi selama ini aku merepotkan,ya? Ya, udah nggak usah aja! urus diri sendiri aja! bye!" balas Gita.
"Bukan gitu maksudnya sayang..."
tuuuuuut tuuuuuut tuuuuuut
Gita mematikan telponnya. Dia masih punya maksud baik pamit pada lelaki yang katanya suaminya. Tapi malah dapat Omelan. Alam sekarang lebih protektif, apa-apa harus lapor. Dulu aja dia nggak secerewet ini.
Gita ingat sih, waktu di Malaka cerewetnya masih standar. Tapi sekarang dia harus terus laporan tentang aktivitasnya. Bahkan dengan siapa dia bepergian dia juga harus tahu.
"Jadi rindu zaman masih single, Aku nginap berhari-hari di rumah Ine pun nggak ada yang sewot. Sekarang! Aku merasa kayak di Kekang." kenang Gita.
Gita mengecek perlengkapan di tasnya. Sambil memeriksa tas, Gita mempersiapkan sarapan buat orang-orang di rumah. Bi Endah menggoda Gita makin rajin semenjak menikah.
"Emang dulu aku nggak rajin, Bi?"
"Dulu nggak serajin ini, non." jawab bi Endah sambil membantu pekerjaan Gita.
"Tapi kok suami non belum tinggal disini?" tanya bi Endah.
"Abis resepsi baru boleh kata mama."
"Semoga ya, non. Semoga nggak gagal lagi." bi Endah ingat kalau Gita sudah beberapa kali batal nikah.
"Aku kan sudah nikah,bi. Tinggal resepsi doang." ucap Gita sambil berjalan kembali ke kamar.
"Ma, hari ini Gita mau jalan ke mall boleh kan." ucap Gita meminta izin pada mamanya.
"Jangan sendirian Gita. Telpon Alam."
Ya ampun mama. Aku dah gede. Masa iya apa apa ngandelin orang lain. Masa bodo! aku hari ini pengen bebas! heft! Apakah dia sejak kembali menjadi dirinya, tidak akan menguntitku lagi.
Gita tetap pergi sendiri. Dia memasuki sebuah pertokoan. Sampai ada seorang wanita yang memegang perutnya seperti kesakitan. Tidak ada yang mau menolongnya.
"Mbak nggak papa?" tanya Gita.
__ADS_1
Perempuan itu menoleh. Wajahnya pucat menahan kesakitan. Gita mengenali wanita itu "Ya, Allah Raisa! Kamu Kenapa!"
"Gita, perutku sakit sekali!" Raisa terus Merintih.
Gita menoleh kaki Raisa yang mengeluarkan darah. Karena panik, dia membawa Raisa yang sudah mulai lemas.
"Tolong! tolong!" Teriak Gita mencari pertolongan. Beberapa orang mendengar teriakan Gita langsung berkumpul. Dengan gesit mereka membawa Raisa masuk ke ambulans.
"Sakit! Gita sakit sekali!" rintih Raisa.
"Iya, sa. Kamu harus kuat! sebentar lagi kita sampai di rumah sakit." Gita menenangkan Raisa terus kesakitan.Tak lama Raisa tak sadarkan diri. Gita terus menguatkan Raisa. Walaupun Raisa membencinya, tapi dia tak pernah membenci wanita yang pernah merebut Ilham.
Gita merasa Pandangannya sedikit kabur. Di dalam ambulans, Gita mencoba menghubungi Ilham, tapi tidak diangkat oleh lelaki itu. Akhirnya Gita menelpon Jonathan terkait keadaan Raisa.
Jo yang bersiap-siap akan berangkat ke Sukasari, terkejut dengan kabar yang di sampaikan Gita. Dia memberitahu orang tuanya kalau Raisa mengalami keguguran.
Zreeeeet zreeeeet zreeeeet
HP Gita bergetar, Gita melirik hp nya tapi enggan mengangkatnya. Kepalanya mendadak pusing.
Akhirnya mereka sampai di rumah sakit Gatot Subroto. Para petugas langsung menangani Raisa dengan cepat. Gita yang sudah tak sadarkan diri pun di bawa petugas untuk ikut di tangani.
Jo terus menghubungi Gita tapi tidak mendapat jawaban. Hingga akhirnya telpon Gita diangkat oleh perawat yang menjaga Gita. Dari situ Jo tahu mereka sedang di rawat di rumah sakit Gatot Subroto.
Dengan gesit Jo melajukan mobil ke rumah sakit ternama itu.
Sesampainya di rumah sakit, Jo langsung menanyakan ke resepsionis terkait adiknya. Tapi resepsionis malah mengira kalau adiknya Jo adalah Gita. Mereka mengantarkan Jo ke sebuah ruangan dimana Gita di rawat. Lelaki itu kaget melihat Gita yang ikut di rawat.
"Kamu nggak papa, Gita?"
"Nggak papa, Om. Aku pikir om jadi nyusul Siti."
"Ini lebih urgen, Gita. Raisa dimana?"
Gita bertanya pada suster dimana pasien yang dia antar. Suster akhirnya mengantarkan Jo dan keluarganya ke ruangan Raisa.
"Dokter bagaimana dengan adik saya?" tanya Jo pada dokter yang sedang menangani Raisa.
__ADS_1
"Adik anda kehilangan banyak darah. Bayinya tidak selamat." jelas dokter setelah memeriksa keadaan Raisa.
"Apa Disini ada suaminya?" tanya dokter.
"Maaf, dok. adik saya janda, suaminya sudah meninggal." jelas Jo supaya dokter tidak banyak bertanya lagi.
"Dokter, pasien sudah sadar. Dia menanyakan tentang yang bernama Gita. Apa disini ada yang bernama Gita?" tanya suster saat keluar dari ruangan Raisa.
"Saya, dok." Sahut Gita yang sedang duduk di kursi roda.
Gita di antar suster memasuki ruangan Raisa. Gita ngilu melihat infus yang menghiasi tubuh Raisa. suster dengan sigap mematikan roda kursi yang di tempati Gita. mereka meminta suster untuk meninggalkan cuma berdua saja.
Mata Raisa menatap kearah Gita. Ada air mata yang menetes di wajah wanita itu. Gita menggenggam tangan Raisa dengan lembut. Tidak ada kebencian dalam dirinya, dia cuma berharap Raisa segera pulih.
"Maafkan aku, Gita." ucap Raisa lirih.
"Kamu nggak salah apa-apa, sa. Aku yang salah sudah memasuki kehidupan kalian." Jawab Gita.
"Aku titip Ilham, ya. Cuma kamu yang ada di hatinya, Gita."
"Sa, Kamu ngomong apa sih? Kamu pasti sembuh. Kamu kan kuat!"
"Maaf, Gita. Aku sudah tidak kuat lagi!"
Tak lama Raisa kejang-kejang. Gita berteriak memanggil dokter. Beberapa petugas masuk ke ruangan Raisa. Gita masih menangis melihat keadaan Raisa. Jo menenangkan Gita yang masih menangis.
...----------------...
Sudah tiga hari Alam kembali ke kantor. Ada banyak berkas yang harus dia selesai. Tiba-tiba ada seorang staf menyerahkan berkas pada Alam. Tanpa membacanya Alam langsung menandatangani berkas itu. Setelah itu staf itu menyerahkan berkas tadi ke Marni.
Marni yang membaca berkas itu langsung tersenyum.
"Tinggal tanda tangan wanitanya. Terimakasih, ini tipsnya buat kamu." Marni menyerahkan amplop berwarna coklat pada karyawannya.
Mungkin cara ini lebih berhasil dari cara ku yang lain.
Berkas apakah itu?
__ADS_1