Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
124. S2: Keinginan papa Dul


__ADS_3

Mata Gita menerawang ke langit kamar tempat dia tinggal sekarang. Hp baru yang di belikan mama memencet sebuah nomor. Dengan ragu-ragu dia mencoba menghubungi nomor itu.


"Halo ...," suara disana memanggil dari seberang sana.


Gita terdiam. Dia hanya ingin mendengar suaranya saja. Baginya itu sudah cukup. Sebagai penaut rasa rindu. Ada rasa sesak di dada, ingin sekali dia menyapa, tapi mulutnya seperti terkunci.


"Yang ... kamukah itu. Pulang ... aku mohon kamu pulang.Aku kangen sama kamu. Tolong jangan seperti ini. Yang..."


Sepertinya orang itu tahu kalau yang menelpon itu Gita. Masih terpaku dengan suara itu. Sama-sama terdiam, Gita mendengar suara wanita di seberang sana.


"Pak..."


Tak lama Gita menutup teleponnya. Dia kesal suaminya masih berhubungan dengan sekretarisnya. Perempuan yang membuat Gita sakit hati pada suaminya itu.


Alam menyadari istrinya sudah menutup telponnya. Paling tidak dia tahu nomor baru istrinya. Ada perasaan lega setelah mendengar istrinya mau mengabarinya.


Semoga setelah ini, kamu pulang ya. Aku kangen sama kamu. Please!


Saat hendak tidur tiba-tiba Gita berlari ke kamar mandi.


klik


Buuuughhh


Sebuah bogem menghantam tubuh lelaki yang sedang duduk di kursi interogasi. Rasa marah yang dia luapkan sudah tak terbendung lagi.


Lelaki itu hanya diam saja.


"Siapa yang menyuruh kamu!" bentak Alam.


Lelaki itu masih terdiam. Matanya menyorotkan kemarahan. Dia tetap tidak mau mengatakan pelaku sebenarnya. Alam belum berhenti sebelum lelaki itu mengaku.


"KATAKAN! SIAPA BOS KAMU! APA MOTIF KAMU MENCULIK ISTRI SAYA!" Amuk Alam.


"Saudara harus tenang! ini kantor polisi!" ucap petugas polisi menenangkan Alam yang masih emosi. Tapi percuma saja, tetap saja Alam kalap menghajar pria itu agar mengaku.

__ADS_1


"Kalau saudara tidak mau tenang, anda akan ikut kami tahan karena sudah melakukan kekerasan pada orang lain!" Hardik petugas polisi.


Pak RT yang melihat itu, menarik Alam untuk keluar dari ruangan interograsi. Masih dalam keadaan emosi, Alam menendang pintu ruang interogasi dengan keras.


"Saya paham perasaan bapak. Tapi bapak juga tetap harus tenang. Biarkan polisi bekerja untuk kasus ini." Ujar Pak RT menenangkan Alam yang sudah jongkok di lantai.


"Bagaimana saya bisa tenang, Pak. Ini bukan yang pertama kejadian seperti ini. Bahkan anak kami yang di dalam kandungan juga ikut meninggal gara-gara masalah ini. Bagaimana saya bisa tenang, pak! Istri saya menjadi sosok yang penakut gara-gara masalah ini, dia punya riwayat trauma, pak." Alam mulai menangis keras. Pak RT memeluk Alam, walaupun petugas lalu lalang melihat adegan pelukan Pak RT dan Alam.


"Maaf, kalau saya lancang pak. Tapi sebenarnya bapak juga salah, bapak tidak ada di tempat saat kejadian kan. Bapak tahu masalahnya tapi bapak tidak siaga. Beberapa hari yang lalu sebelum kejadian ini, saya melihat seorang wanita memakai topi dan masker hitam mengintai rumah Pak Alam dan Bu Gita. Ada beberapa warga yang curiga dengan gerak-gerik wanita itu. Saya ingin menyampaikannya sama Pak Alam, tapi kata Bu Gita bapak ada di rumah kalau malam saja." cerita Pak RT.


Mendengar cerita pak RT seperti menampar dirinya. Dia lupa kalau istrinya selalu sendiri di rumah. Dia lupa kalau istrinya bisa saja terkena bahaya saat dirinya lagi di luar. Dia lupa kalau Zahra akan selalu ada untuk mencelakai Gita.


Ya, Allah suami macam apa aku ini. Bagaimana bisa aku melupakan hal itu. Tapi kenapa Gita tidak pernah mengeluhkan apapun padaku. Aku memang bodoh! aku memang bodoh! Pantas mama Yulia sangat marah kepadaku!


Pak RT mengajak Alam untuk pulang. Paling tidak, mereka tahu kalau salah satu antek-antek pelaku penculikan Gita sudah tertangkap. Tubuhnya tidak bisa berpikir jernih, seketika tubuhnya ambruk. Pak RT melihat itu langsung memapah Alam dan membawanya ke rumah pak RT.


"Ya, Allah pak? Badannya panas ini! Siapa yang harus kita kabari." kata Bu RT panik saat memegang kening Alam.


"Ya, sudah panggilkan, mantri saja. Ibu pergi temui mantri Johan simpang yang sebelah." perintah pak RT pada istrinya.


"Iya, pak." Bu RT langsung pergi ke rumah mantri Johan.


klik


Alam sudah lumayan sehat, kembali aktif di kantor. Belum ada kejelasan dari pihak kepolisian tentang masalah kasus percobaan penculikan Gita. Alam menyerahkan semuanya ke pengacaranya.


Tok tok tok


"Iya, silahkan masuk." sahut alam masih asyik membaca beberapa berkas di mejanya.


"Pak ... ada yang mencari anda." kata Nabila saat memasuki ruangan kerja Alam.


"Suruh dia masuk." perintah Alam.


"Sibuk, ya nak." suara lelaki berdiri di dekatnya.

__ADS_1


"Papa Dul...." Alam langsung berdiri menyambut ayah mertuanya.


Papa mertua dan menantu saling memeluk. Papa tahu kalau menantunya beberapa kali mencarinya. Dia yakin Alam ingin tahu kabar Gita.


"Papa dengar kamu sakit. Gimana keadaanmu sekarang?" tanya Papa Dul.


"Alhamdulillah sekarang sudah mendingan, pa. Papa kesini sendiri? Gita gimana keadaannya? Dia sehat - sehat saja, kan." cerca Alam.


"Gita sehat. Dia berada di tempat yang aman, kamu tenang saja." Ucap papa Dul menenangkan menantunya.


"Papa kesini mau minta tolong sama kamu. Papa ada bisnis resort di Bali. Kamu mau kan temani Papa untuk menemui rekan bisnis Papa." Tawar papa Dul.


Alam berpikir sejenak. Dia heran tumben papa Dul mengajak dirinya untuk menemui kliennya.


Padahal papa bisa saja minta sekretarisnya atau orang dalamnya, kenapa harus mengajak dirinya yang jelas beda perusahaan.


"Alam bicarakan dulu dengan Papa Bobby ya, pa. Soalnya Minggu depan Alam ada kunjungan kerja ke Yogya bersama Roki untuk pembukaan hotel disana."


"Oke, papa tunggu kabarmu. Papa pamit dulu" Papa meninggalkan Alam yang masih bingung dengan permintaannya.


Sebenarnya Papa berharap Alam bisa menggantikannya untuk mengelola perusahaan. Karena Gita sama sekali tidak tertarik dengan dunia kantor ataupun berniat mengelola perusahaan. Papa takut jika seandainya dia meninggal, tidak ada yang meneruskan perusahaan milik Opa.


klik


zreeeeet zreeeeet zreeeeet


"Assalamualaikum, Gita." suara papa Dul menelpon putri semata wayangnya.


"Waalaikumsalam, Papa. Gita kangen sama mama dan papa. Papa sehat-sehat saja kan?"


"Alhamdulillah, papa sehat. Kamu gimana, sehat?" tanya Papa.


"Alhamdulillah aku sehat, pa."


"Lusa papa ke Bandung mau ngajak kamu liburan. Papa kangen lihat anak papa." ucap papa.

__ADS_1


"Benar, pa. Papa mau ke Bandung! Asyikkk!!!" teriak Gita terlalu riang seperti anak kecil.


Sejak mamanya mengurung dirinya di Bandung. Dia tidak pernah keluar rumah, kalaupun keluar pasti di kawal sama Gery, anak kakak sepupunya. Gita merasa bosan sudah hampir 2 Minggu cuma di rumah saja. Rasanya dia mau pulang ke Jakarta bertemu suaminya.


__ADS_2