
Jangan lagi kau sesali keputusanku
Ku tak ingin kau semakin kan terluka
Tak ingin ku paksakan cinta ini
Meski tiada sanggup untuk kau terima
Aku memang manusia paling berdosa
Khianati rasa demi keinginan semu
Lebih baik jangan mencintaiku aku dan semua hatiku
Karena takkan pernah kau temui, cinta sejati
Berakhirlah sudah semua kisah ini
Dan jangan kau tangisi lagi
Sekalipun aku takkan pernah mencoba kembali padamu
Sejuta kata maaf terasa kan percuma
Sebab rasa ku tlah mati untuk menyadarinya
Semoga saja kan kau dapati
Hati yg tulus mencintaimu
Tapi bukan aku
Lagu itu tiba-tiba membuat Alam sesak. Keputusan yang belum bulat, tapi dia kecewa keluarga Gita menyalahkan dirinya. Di matikannya radio yang mengisi hari-harinya saat ini. Bibi melihat kegundahan hati keponakannya, dia tahu yang di rasakan Alam pasti sakit.
"Harusnya kamu menjadi laki-laki yang kuat. Bukan lembek seperti ini hanya karena seorang wanita." bisik bibi dalam hati
Bibi masuk ke kamar dan sholat. Tak lama bibi menegur Alam agar jangan melupakan sholat.
"Paling tidak itu bisa mengurangi kegundahanmu." kata bibi.
Alam beranjak masuk ke kamar. Ada cincin perak yang bertuliskan nama dirinya. Sedangkan yang dia pakai bertuliskan nama Gita. Belum sempat dia berikan pada Gita. Alam menyimpan cincin itu kedalam lemari.
"Sudah sholat,nak." Sapa bibi melihat Alam memilih tidur.
"Belum, bi. Aku lapar? Pengen makan nasi goreng." Kata Alam.
"Nasi goreng? Kamu kan tahu bibi belum pernah masak nasi goreng." Bibi kaget dengan permintaan Alam.
"Coba SMS Siti, bibi lihat apa yang dia masak pasti enak." Kata bibi
"Masakan bibi juga enak. Cuma aku mau nya nasi goreng. Ya, udah deh aku ke rumah bukdang aja." Alam beranjak dari tempat tidurnya.
"Lam." Bibi memanggil saat Alam hendak memakai sendal.
"Apakah kamu benar-benar mencintai Gita?" Tanya bibi
"Iya." Ucap Alam
__ADS_1
"Apa bibi akan merestui kami?" Tanya Alam.
Bibi cuma diam saja, lalu kembali ke dalam kamar. Alam merasa bibi memberi sinyal untuk hubungan mereka, hanya saja bibi masih gengsi mengakuinya.
...-----------...
Alam berdiri di sebuah jalan. Ada sosok Gita yang datang menemuinya. Alam mengucek matanya berharap itu bukan mimpi. Gita memegang kedua tangannya, mendekatkan tubuhnya ke pria itu. Jantungnya berdetak kencang.
"Kamu merasakannya, kan." Kata Gita
"Tumben agresif. Udah kebelet, ya." Celetuk Alam.
"Yuk!" Ajak Gita
"Kemana sayang?"
"Ke tempat kak Dinda." Jawab Gita.
"Ngapain?" Alam heran, dia sudah malas berurusan dengan keluarga Dinda.
"Udah ikut saja." Gita berlari di susul Alam dari belakang.
Gita berbalik. "Ayo bisa nggak tangkap aku?"
"Ooooh, nantang, ya. Lupa dia siapa saya?"
Mereka berlari kejar-kejaran. Seperti Krishna memancing Radha untuk mengejarnya. Tapi ini kebalikannya di Radha yang memancing Krishna untuk mengejarnya.
Malam ini rumah Dinda di kejutkan dengan kedatangan Alam dan Gita. Sita yang membuka pintu kaget dengan kemunculan Gita. Bagi Sita, Gita adalah sumber masalah yang menimpa kakaknya.
"Mau apa kalian kesini? Belum puas kalian melihat penderitaan kak Dinda!" Ucap Sita yang emosi melihat kedatangan mereka.
"Siapa Sita?" Suara Irwan memanggil.
"Ayah kesini, deh." Panggil Sita.
Irwan langsung melihat siapa tamunya. Mata Gita terbelalak melihat siapa ayah Dinda.
Gita merasa tidak asing dengan wajah itu. Wajah seorang lelaki yang menurunkannya di tengah hutan. Laki-laki yang mengantarkan dia pulang tapi malah di turunkan di tengah hutan. Gita juga tidak lupa kalau saja Alam tidak menolongnya mungkin dia jadi mangsa hewan buas.
"Bapak tidak lupa pada saya, kan." Ucap Gita memastikan pria yang ada di hadapannya.
"Siapa kamu?" Irwan masih santai menanggapi Gita.
"Aku ..." Gita tidak bisa melanjutkan bicaranya. Entah kenapa lidahnya seperti terkunci.
"Aku mau bertemu kak Dinda."
"Buat apa?" Tanya Irwan.
"Aku janji akan pergi dari sini sebelum mengembalikan apa yang harusnya menjadi hak milik kak Dinda."
"Apa itu?"
"Mengembalikan orang yang dia cintai."
"Bukankah laki-laki itu sudah meninggal."
__ADS_1
"Iya aku tahu." Gita masih berat bicara.
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?"
"Apa yang bapak inginkan?"
"Kalau aku minta dia yang menjadi menantuku." Irwan menunjuk kearah Ronal.
Gita berbalik melihat Alam dari atas sampai bawah. Lalu menghela nafas
"Baik saya terima permintaan anda."
Alam kaget semudah itu Gita menyodorkan dirinya " gila kamu!"
"Aku akan lebih gila lagi kalau terus di hantui rasa bersalah ini!" Pekik Gita.
"Tapi kenapa aku yang harus kalian tumbalkan!"
"Karena..." Gita tak kuasa membendung perasaannya.
"Karena dia memang Alam!" Gita menoleh siapa yang datang. Edwar yang berdiri tak jauh dari Alam.
Alam dan Gita terbangun dari mimpi buruk mereka. Mata mereka beralih ke handphone. Mereka menelpon tapi tidak terhubung. Bagi Alam mimpi itu menandakan kalau dia memang harus jujur pada Gita. Tapi bagi Gita, Mimpi itu seperti nyata, membuat dirinya bertanya, apa iya kalau Ronal itu Alam. Gita menelpon Siti, tapi tidak diangkat. Dia berharap dapat petunjuk dari mimpi itu.
"Bodoh kamu Gita! Percaya amat sama mimpi." Gita memukul kepalanya.
Gita ingin bangun mengambil minum. Tapi tidak sampai, Gita menarik kursi rodanya. Menggapai tangan tapi Gita terjatuh. Gita cuma merasakan gelap dan bau anyir entah dari mana.
...----------------...
Pagi ini mama mendapati Gita sudah di lantai dengan kepala berdarah. Mama berteriak memanggil orang-orang di rumah eyang Amay. Kalau menurut analisis kak Imel,
Ternyata kepala Gita terbentur salah satu besi di kursi roda. mungkin Gita ingin mengambil minum atau mau mengambil kursi rodanya.
"Aku sudah tidak tahan lagi! aku akan bawa Gita ke Jakarta!" pekik Mama.
"Nanti kita pikirkan!" kata Papa.
"Bawa rumah sakit dulu!" kata papa menggendong Gita.
Gita di bawa ke dokter. Menurut dokter benturan di kepala mengenai saraf matanya.
"jadi dok bagaimana dengan anak saya!"
"Mama .... Papa ... kenapa gelap sekali... mati lampu ya ... ma." pekik Gita
"Mama.... aku tidak bisa melihat ma ...!"
"Papa.... aku takut .... pa ...!"
" Kak Ronal .... kak Ronal ....!"
Mama memeluk Gita sambil menangis. Dia tidak menyangka Gita akan buta. Gita memegang wajah mamanya yang basah.
Gita tidak menyangka dia akan buta. Mama menenangkan kalo itu hanya sementara, mama minta Gita untuk tetap kuat.
"Disaat seperti ini, aku ingin ada yang menguatkan. aku ingin ada yang selalu memberikan kasih sayang. Itulah kedua orangtuaku. Mereka memberikan cinta yang tanpa pamrih, mereka juga memberikan waktu dan jiwa raga untuk bersamaku. Sekarang aku sadar, mana yang kawan, mana yang pacar yang tulus. Dan aku sadar semua itu hanya omong kosong."
__ADS_1
Gita merasa dia memang harus melupakan semua yang berhubungan dengan Ronal. Gita yakin dia bisa melewati semua ini. Gita janji akan menyelesaikan masalahnya di Sukasari tanpa harus bertemu Ronal.