Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
37. Pernikahan Dinda dan Alam


__ADS_3

Pernikahan alam dan Dinda tinggal hitungan Minggu. Sekitar dua Minggu lagi mereka akan mengikat janji sehidup semati. Alam duduk di dekat sebuah kebun, ya kebun yang dulu mempertemukan dia dan Gita. Kebun yang membuat mereka di terpa fitnah.


Alam melepas cincin yang bertuliskan nama Gita. Dia melempar cincin itu sejauh mungkin. Lalu pergi dari lokasi itu. Tak jauh dari tempat Alam beranjak ada Edwar yang mencari cincin yang di lempar Alam.


Sore itu, Dinda masih mengurung diri di kamar. Sita khawatir pada kakaknya yang tidak mau makan sejak pulang dari penjara. Sita menghubungi Alam, tapi tidak diangkat. Sita mendatangi rumah Alam dan bertemu dengan Marni yang baru sampai dari Jakarta.


Marni datang ketika mendengar Alam akan menikah, sebagai ibu dia ingin menyaksikan momen bahagia putranya.


Bibi menyambut Marni dengan bahagia.


"Lam, sudah menikah nanti kamu bawa istrimu ke Jakarta." Ucap Marni saat lagi menikmati hidangan di buat bibi.


"Aku justru minta ibu tidak usah pulang lagi kesana. "


"Kenapa? Aku punya suami lam."


"Suami yang mengasingkan ibuku di paviliun. Itu yang ibu bilang suami."


"Sekarang sudah tidak. Ibu sudah Tinggal disana lagi. Mas Bobby memperlakukan aku seperti istri sahnya."


"Tetap aku merasa ibu lebih baik disini. kita berkumpul disini."


"Baik! Akan ibu pikirkan, tapi ibu minta sama kamu tidak usah berurusan dengan gadis yang bernama Gita."


"Ibu kan lihat sendiri aku disini. Mau menikah dengan anak pak Irwan." Jawab Alam.


"Pokoknya pernikahan kalian tidak boleh gagal. Titik!" Ancam Marni.


Alam kaget, sebegitu ngototnya ibunya agar dia tidak dekat dengan Gita. Dia tidak tahu ada masalah apa antara Marni dan Gita.


...-------...


Pernikahan sudah di depan mata. Alam meminta restu pada Marni dan Bobby. Untuk kali ini Bobby ikut ke pernikahan Alam dan Dinda sebagai pengganti ayah dan Pamannya.


Bukan hanya Bobby, Roki dan Rere pun ikut hadir di acara tersebut. Rere merasa sesak ketika melihat pujaan hati sahabatnya akan melenggang hidup bahagia bersama wanita lain.


"Aku membayangkan ketika Gita bangun mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain. Aku tidak kuat melihatnya, mas." Ucap Rere pada suaminya.


"Mungkin bukan jodoh Gita. Kalau dia saja bisa menerima tentang kita, apalagi kalo tentang kak Ronal. Mungkin dia sudah kuat."


"Kita tetap mendoakan Gita agar cepat sadar dari komanya. Kamu dengar kan apa kata dokter ilham, detak jantung Gita normal, hanya saja ada saraf yang membuat dia belum bisa sadar." Jelas Roki.


"Btw, aku lihat dokter ilham Care pada Gita. Bisa jadi kalo Gita sadar kita jodohin aja sama dokter ilham." Cerita Roki.


"Kak Roki, nggak tahu, ya. Kalo Ilham itu hampir jadian sama Gita tapi keburu di jodohin sama kakak."


"Jadi aku pebinornya, gitu."


"Maybe." Rere menutup obrolan.


"Apakah Gita bisa melihat lagi?" Rere kembali membuka obrolan.


"Emangnya Gita buta?" Tanya Roki.


"Kata mama Yulia Gita sempat jatuh dan terbentur saat mau naik kursi roda dan buta, tak lama dia koma." Jelas Rere.


"Roki, Rere, yuk kita berangkat. Sebentar lagi acara dimulai." Panggil Mama Marni.


Alam berdiri di depan kamar merapikan pakaian jas yang di pinjamkan Roki. Mata nya melihat kaca begitu lama, sedikit menghela nafas.


"Wah, abangku sudah ganteng." Ucap Roki saat memasuki kamar Alam.

__ADS_1


"Gimana?" Alam meminta penilaian pada Roki.


"Ganteng kok. Keliatan wajahnya berbinar. Apa yang kakak rasakan sekarang?"


"Deg-degan, Ki." Alam memegang jantungnya.


"Tenang, kak. Abis ijab lega tuh. Sudah di hapal belum."


" Sudah dong." Alam dan Roki keluar dari kamar. Di sambut tatapan para tamu yang akan mengantar pengantin ke rumah mempelai wanita.


Iringan lagu sholawat mengantarkan Alam menuju rumah kediaman Dinda. Edwar menjadi pendamping pengantin laki-laki, sedangkan Siti menjadi pendamping pengantin wanita.


Dinda yang menggunakan gaun pengantin kebaya berwarna krem. Semua tamu memandang takjub pada kecantikan Dinda. Dinda harus tetap di kamar pengantin sampai selesai akad. Pikiran Dinda berkecamuk, antara senang, sedih dan marah. Mungkin dia senang karena Alam mau menikahinya, tapi dia sedih takut Alam tidak bisa mencintainya seperti dulu, ada rasa marah karena merasa dirinyalah penyebab kenekatan ayahnya.


"Saya terima nikahnya Gita Mandasari binti Irwan ... "


Semua kaget dengan ucapan Alam. Terlebih lagi keluarga mempelai kedua pengantin. Rere, Roki, Siti dan Edwar dibuat kaget dengan ucapan Alam.


"Kakak, are you ready?" bisik Roki yang duduk di samping Alam.


Alam menyadari dia salah sebut. Lalu meminta di ulang sekali lagi.


"Saya terima nikahnya ....."


"Cukup!" Suara Dinda memecah keheningan.


Semua kaget dengan bentakan Dinda.


"Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini. Tidak bisa!" Dinda terisak keras.


"Aku tidak bisa menikah dengan laki-laki yang masih memikirkan wanita lain. Pernikahan ini. batal" tambah Dinda.


Semua terkejut dengan ucapan Dinda. Mama Marni merasa pusing dengan yang terjadi di akad putranya. Tak lama Mama Marni pingsan, di sambut dengan suara para tamu yang kaget dengan kejadian itu.


"Dinda akan tetap menikah." Alam berdiri berjalan menuju Edwar.


"Bro, aku titip Dinda. Cuma kamu yang bisa menjaga Dinda." Alam menarik Edwar ke ruang ganti.


Tak lama Edwar memakai baju yang di pakai Alam tadi. Semua para tamu membicarakan kejadian hari ini. Edwar menatap Alam dengan perasaan tidak enak.


"Kamu sengaja, kan, lam." bisik Edwar


"Nggak kok. Dinda yang batalin tadi." bisik Alam


Edwar duduk di meja akad menyalami tangan Irwan.


"Saya terima nikahnya Adinda farzah binti Irwan dengan mas kawin seperangkat alat sholat di bayar tunai."


"Bagaimana saudara-saudara! sah.. sah." teriak penghulu.


Mereka membacakan doa penutup. Suasana haru, akhirnya Dinda tetap menikah walaupun bukan dengan Alam. Air mata Dinda turun membasahi wajahnya.


"Selamat, ya. Akhirnya kakak menikah juga." peluk haru Sita pada Dinda. Tak lama Dinda keluar dari ruang pengantin untuk di sandingkan dengan Edwar.


"Maaf, ya Dinda." bisik Alam


"Tidak apa-apa, lam. Lebih baik seperti ini, daripada kita saling menyakiti di dalam pernikahan."


Selesai acara akad, Edwar mendatangi Alam mengembalikan cincin yang di buang alam. Edwar meminta Alam mencari pemilik cincin tersebut.


"Kembalikan cincin pada pemiliknya, lam."

__ADS_1


Alam memeluk Edwar dengan haru.


Malam itu, alam dan keluarga Spencer pulang ke Jakarta. Alam dengan berat hati meninggalkan bibirnya sendiri di Sukasari. Alam meminta bibi untuk ikut, bibi menolaknya. Bagi bibi hidup matinya cuma di Sukasari.


"Kejarlah cita-citamu, nak. Juga kejar cintamu." Bisik bibi saat memeluk Alam.


Sementara Edwar dan Dinda masih malu-malu saat di kamar pengantin.


"Kalau kamu risih dengan aku. Aku bisa kok tidur di luar. Atau aku tidur di lantai saja." ucap Edwar.


"Terserah kamu saja, war. Tapi jangan tidur di luar nggak enak di lihat orang." kata Dinda sambil membuka sunting pengantin.


Edwar melihat Dinda agak kesulitan melepaskan sanggul, dia pun tergerak membantu.


"Gini gini, aku pernah liat kerabat cowok yang punya salon melepas sunting pengantin." kata Edwar sambil membuka satu persatu jepit lidi yang masih menempel di rambut Dinda.


"Apa kamu mau aku bantu membersihkan make up?" tanya Edwar.


"Nggak usah, biar aku saja."


"Nggak papa, kita kan suami istri sekarang. Nggak ada salahnya saling membantu." Edwar mengambil kapas dan face tonik untuk membersihkan wajah Dinda.


Jantung keduanya berasa berdetak saat wajah mereka dekat satu sama lain. Edwar tiba-tiba menghembuskan nafas di telinga Dinda.


"Yuk!" bisiknya lirih. Dinda pun tak menolak saat Edwar menggendong Dinda sampai keatas ranjang.


Dinda tersadar, dia memegang bantal untuk menutupi tubuhnya. Edwar meminta maaf, dia sadar kalau Dinda belum bisa menerimanya. Edwar minta maaf pada Dinda, lalu menggelar kasur di lantai untuk tidur.


Dinda masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajah. Tak lama Dinda keluar dari kamar mandi dengan memakai lingerie.


"Mas, aku siap." Tak ada jawaban, Dinda mengintip ternyata Edwar sudah tertidur pulas.


Dinda menghela nafas "Selamet! Selamet!"


Paginya, sita membangunkan kakaknya. Sita kaget melihat pengantin tidak seranjang, yang cowok di bawah ceweknya diatas ( reader jangan ngeres).


"Kok kalian tidak seranjang, kak." celetuk Sita


"Kamu ini nggak sopan!masuk nyelonong aja"


Omel Dinda.


"Maaf, kak ayah mau pamit. Dia sudah di jemput sama petugas lapas." jelas Sita merasa tidak enak sama si pengantin baru.


"Udah, kamu keluar dulu." jawab Dinda masih panik karena memakai lingerie saat tidur.


...----------------...


Beberapa bulan kemudian Alam sudah bekerja di perusahaan Spencer. Bobby meletakkan Alam sebagai asistennya, namun lelaki itu menolak. Alam ingin belajar dari bawah. Pada akhirnya Alam di tempatkan sebagai manajer atas desakan Marni.


Siang itu, jam makan siang. Seharusnya Alam pergi pulang ke rumahnya untuk makan siang. Namun lelaki itu ternyata tidak pulang ke rumah. Melainkan pergi ke Cinere, untuk menemui Gita.


"Keluaaar!" Pekik Mama Yulia saat melihat siapa yang mencari putrinya.


"Tante..!"


"Saya bilang keluar! Putri saya tidak akan mau menemui lelaki seperti kamu!"


"Tante...!" Alam bersujud dibawah kaki Yulia.


"Satpam!"

__ADS_1


"Tante, izinkan saya menemui Gita. Tante saya mencintainya." Alam terus berteriak saat satpam menyeretnya.


__ADS_2