
Bruuuukkk!!!!
Seseorang menabrak tubuh Gita sampai terjatuh " Kamu nggak papa?" ucap laki-laki itu.
Setelah menabrak Gita, laki-laki itu mengulurkan tangannya untuk berkenalan.
" Jo."
"Gita."
"Orang Indonesia ya dek." tanya Jo.
"Iya, Om." jawab Gita.
"Oh, jangan panggil saya om. Saya masih bujangan. Mau berangkat juga?"
"Nggak, om. saya ngantar teman."
"Saya duluan, ya. see you. next time."
Jo menatap Gita dari jauh hingga Gita hilang dari pandangan. "Imut." batinnya.
Jo duduk di kursi tunggu. Hari ini dia pulang ke Jakarta setelah 1 tahun merantau ke Kuala lumpur. Jo ingin memperdalam dunia potografer. Matanya membuka kameranya. Tampak photo seorang gadis berlari di pantai Malaka, senyum Jo mengembang.
"Jadi dia namanya Gita."
Hampir semua Poto koleksi Jo berisi gambar gadis itu, termasuk saat Gita menaiki kuda.
Zreeeeet zreeeeet zreeeeet
Tampak sebuah nama tertulis di hp Jo. Senyum Jo mengembang menerima telepon tersebut.
"Kakak udah berangkat?" Sapa suara penelpon.
"Udah, sekarang lagi di bandara." jawab Jo sambil memandang koleksi foto Gita.
"Calon kakak jadi diajak." tanya adiknya
"Nggak jadi ikut. Dia sibuk soalnya masih sekolah." jawab nya asal.
"Makanya cari pacar jangan ABG. Ingat umur sudah mau kepala 4. Emang umur pacar kakak berapa sih?" tanya adiknya
"Sekitar 20-an." jawabnya sekenanya.
Jo merogoh tas nya mencari paspornya. Jo tidak menemukan paspornya.
Jo menepuk jidatnya "Astaga aku meninggalkan paspor di rumah Tante!"
Jo menelpon Tante Rani, adik ibunya. Tapi menurut Tante Rani dia tidak menemukan pasportnya.
"Anda mencari ini?" seorang laki-laki menyodorkan paspor ke arah Jo.
"Iya, mas. Terimakasih. oh ya nama saya Jonathan. panggil saja Jo."
"Oh, nama saya Ronal wasallam. Kalo orang-orang manggil saya Ronal tapi di keluarga aku dipanggil Alam." alam duduk di samping Jo.
__ADS_1
"Mau pulang kemana?" tanya Jo. sambil menyimpan paspornya ke dalam tas.
"Ke Jakarta. kamu?"
"Sama. Pesawat jam berapa? Aku bentar lagi naik." Jo sambil menghidupkan rokoknya.
"Aku malam. Oh, ya kamu sudah lama tinggal di Malaysia."
"sudah sekitar satu tahun. Aku potografer."
"Nah, kebetulan. Aku rencananya dua bulan lagi akan menikah. boleh minta kontakmu." alam menyodorkan no hp nya pada Jo. begitu juga sebaliknya. Mereka saling bertukar nomor.
Jo pamit karena pesawat sudah sampai. Selama di pesawat Jo menatap photo hasil jepretannya selama seminggu liburan di pantai Melaka. Pandangannya tak lepas dari gambar gadis itu.
Lalu bernyanyi " Gitaaaa ... oh gitaaaaa ... aku juga rindu ... tetapi untuk sementara biarlah berpisah. Ku pergi karena terpaksa demi cita-cita." Orang orang di sebelah jo melihat nyanyian yang di pelesetkan Jo.
Hasil jepretan yang selalu bikin Jo susah tidur.
Gita mencari pak sopir, kepalanya sedikit pusing. Duduk mencari senderan karena tidak kuat menahan tubuhnya yang lemas. Gita lupa menyimpan nomor hp pak sopir.
"Makcik tak pape?" suara seorang anak kecil melihat Gita setengah sadar.
"Maakkk, tolong makcik ini mau pingsan." panggil si anak pada orangtuanya.
Beberapa orang menggotong Gita masuk ruang darurat. Ada beberapa petugas kesehatan masuk ke ruang dimana Gita diamankan.
zreeeeet zreeeeet zreeeeet
"Ini pak saya dari tadi mencari mbak Gita tapi belum ketemu."
"Tolong cari pak. Aku takut dia tiba-tiba drop. Gita itu sedang kurang sehat, pak."
"iya mas Alam." pak sopir mencoba mencari Gita di pusat informasi. Tapi tidak menemukan keberadaan Gita.
Sampai pak sopir mendengar ada perempuan yang pingsan. Pak sopir langsung menuju ruang dimana Gita diamankan.
"Mas alam, saya sudah ketemu sama mbak Gita. Iya dia tadi pingsan."
"Bapak tunggu disana. Biar saya yang nyusul."
"Loh, mas bukannya mau berangkat?"
"Saya tidak akan tenang berangkat kalo ada apa-apa dengan calon istri saya, pak. Pokoknya tunggu saya."
"Iya, mas alam saya diruang tidak jauh dari tempat mas alam masuk tadi."
Alam langsung keluar dari ruang tunggu bandara. Pikirannya berkecamuk memikirkan keadaan Gita. Alam melihat Gita yang pucat masih tidak sadarkan diri. Alam memegang kening Gita, suhu badannya panas.
"Gita bangun sayang." Alam terus menggoyang tubuh Gita.
"Pak kita ke rumah sakit terdekat!" suara alam makin panik.
"iiya mas alam." Pak sopir dengan cekatan membuka mobil.
__ADS_1
"Sayang, please bangun jangan buat aku khawatir." alam terus memeluk Gita.
Air mata Alam menetes mengenai wajah Gita membuat Gita sedikit membuka mata. Dia merasa seperti melihat alam ada di depannya.
"Aalam." desahnya lirih. tangan Gita menggenggam erat baju Alam.
"Iya, aku disini. Aku disini, sayang. Aku nggak akan pergi ... aku disini ... kamu tenang saja."
"Pak tolong antar kami pulang."
"Iya, mas Alam." pak sopir langsung tancap gas menuju ke Malaka.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Jo terbangun melihat sudah sampai di Jakarta. Tubuhnya yang atletis berdiri mengambil ranselnya. Mbak pramugari mengatakan pesawat lama beraktivitas karena tinggal Jo seorang yang belum turun.
"Makasih mbak." jawab Jo yang dibantu mengambil barangnya oleh seorang pramugari.
"Untung mas nya ganteng kayak artis idola saya." kata mbak pramugari.
"Ah, mbak bisa aja. Kenalin nama saya Jonathan. Saya adalah Potografer. Mungkin mbak mau jadi model saya atau mbak mau jasa Poto saya, ini kartu nama saya." Jo menjentik hidung pramugari di depannya.
Jo keluar mengedipkan matanya pada pramugari tadi.
Jo sampai di ruang kedatangan. Karena dia cuma bawa ransel jadi tidak perlu menunggu di ruang bagasi. Tampak seorang lelaki menunggu kedatangannya.
"Mas, Nathan." suara lelaki itu memanggilnya.
"Ah, kamu, ham. apa kabar?" Jo memeluk laki-laki yang ada di depannya.
"Aku baik, mas. Ayo kita pulang! Mama, papa Raisa dan Sheila menunggu mas di rumah." Ilham mengajak Jo masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan pulang mereka mengobrol panjang. Jo tidak menyangka kalau pria yang ada di sampingnya beneran jadi adik iparnya. Padahal dulu yang dia ingat pria ini setia menunggu adiknya yang ternyata selingkuh dengan teman kuliah S2 nya.
"Mas katanya sudah punya calon, ya." tanya Ilham.
"aaah, iya sudah." jawabnya berbohong.
Dia malas kalau ditanya soal pacar. Pasti setiap tahun selalu bertanya kapan nikah, apa lagi usianya sekarang sudah 38 tahun. Kalau kata mamanya umurnya udah termasuk bangkotan. Tapi semenjak bertemu gadis itu, pacar khayalannya terbentuk.
"Gi ... ta ... namanya yang cantik. Imut. Kayak anak ABG atau mungkin dia masih ABG." Jo senyum senyum sendiri.
"Siapa mas?" Ilham memotong lamunan Jo tentang Gita.
"Bukan siapa-siapa" Jo masih tersenyum sendiri.
"Kita sudah sampai." Ilham memberhentikan mobilnya.
Jo berdiri di sebuah rumah besar miliknya. Dia rindu sekali dengan suasana rumahnya. Mama langsung menyambut putra sulungnya dengan pelukan rindu.
"Ya, ampun mama! Jo kan baru setahun. Udah kayak bertahun-tahun tidak pulang."
"Kaaaaak Nathan!!!!!" teriak adiknya yang nomor dua langsung memeluk Nathan.
"Waaaah, pengantin baru!!!! selamat ya dek. Maaf kakak nggak bisa datang ke nikahanmu." Jo mencubit pipi adiknya
"Sheila mana, sa?" tanya Jo pada adiknya tadi.
__ADS_1
"Sheila ada les, kak. dia kan udah kelas tiga. bentar lagi pulang kok."
Jo masuk ke kamarnya. Matanya berkeliling melihat suasana kamar yang tidak berubah. Wangi aroma kamarnya saja tidak di ganti sama mamanya.