
Hari ini rumah kediaman Pramono di kejutkan dengan kedatangan polisi. Mereka melaporkan kalau keisya di tangkap atas penyalahgunaan narkoba jenis ganja. Keisya di ciduk saat pesta miras bersama teman-temannya.
Papa Pramono marah besar. Belum reda masalah pelecehan yang dilakukan Ilham. Sekarang Putrinya juga tersangkut kasus narkoba. Papa merasa gagal mendidik kedua anaknya. Tubuhnya yang sudah mulai tua, lemas.
"Apa salahku ya Allah? Kedua anakku bermasalah."
Papa Pramono memilih membiarkan Keisya tetap mendekam di penjara. Paling tidak itu menjadi pelajaran buat Keisya. Tapi tidak buat Mama Mila, dia tidak akan membiarkan anaknya mendekam di penjara. Dia akan melakukan apapun asal anaknya bebas.
"Sa, mama mau jenguk kei. Kamu mau ikut?" ajak Mama Mila.
"Boleh, ma." jawab Raisa.
Mama Mila dan Raisa pergi ke kantor polisi untuk menjenguk keisya. Sampai disana keisya menangis minta mamanya membebaskan dirinya.
"Mama janji akan bebasin kamu, nak. Nanti mama bujuk papa."
"Keisya tidak mau disini! Kei takut, ma. Tolong bebaskan aku, ma."
"Kalian jahat! Coba kalau Ilham, Pasti langsung di bebaskan!" teriak keisya.
Mama menangis. Dia tidak tega melihat putrinya seperti itu. Wanita usai 50-an itu cuma bisa memandang dari jauh. Tinggal Raisa dan Keisya berdua di ruang jenguk.
"Kamu kok ngomong gitu. liat tuh mama jadi sedih."Ucap Raisa yang melihat keisya marah-marah.
"Sa, kamu kan punya koneksi saudara dari kepolisian. Bisa dong aku keluar dari penjara Melalui kamu."
"Aku nggak bisa kei. Itu saudara jauh." Jawab Raisa takut-takut.
"Ya, udah kalo kamu nggak bisa. Aku bisa kok bilang ke Ilham yang sebenarnya."
"Kamu ngancem, kei." Raisa melotot. Bisa-bisanya keisya menggunakan rahasianya buat bebasin dia.
"Nggak ngancem, sih. Cuma ngingetin. Biar nggak lupa kalo kamu yang masukin obat perangsang ke minuman Ilham. Biar nggak lupa kalo kamu yang ngancam Gita supaya ganti dokter. Biar nggak lupa kalo kamu yang membuang cincin Gita dari kamar ilham. Biar nggak lupa ..."
Raisa menyela "iya...iya nanti aku bantu." Raisa mengeluarkan hp nya untuk menghubungi saudaranya.
"Ingat!!! Sewaktu-waktu Ilham bakal menceraikan elo, mencari Gita. Karena dia mau tanggung jawab sama Gita. Ya, sekarang dia nikahin elo karena dia pikir wanita itu elo."
Raisa pamit pulang. Lama lama dia bisa gila mendengar ocehan keisya. Dalam perjalanan dia terus memikirkan ucapan keisya.
Aku nggak mau jadi jandaaaaa!!! teriaknya dalam mobil.
__ADS_1
Selama menikah dengan Ilham. Mereka tidak pernah sekamar. Ilham sering tidur di sofa tamu. Walaupun begitu Ilham tidak pernah kasar padanya. Tapi tetap saja, Raisa ingin sekali diakui sebagai istrinya.
Dasar Gita perusak rumah tangga! Semua ini gara gara kamu! gue benci elo Gita! Gue benci elo! Aku harus mastikan apakah Gita masih hidup atau sudah meninggal. Harus! harus! loe harus mati!
Mobil Raisa berhenti di depan rumah Gita. Suasana rumah sepi. Raisa menanyakan pada satpam tentang keberadaan Gita. Dari informasi yang di dapatnya, Gita berobat ke Malaka.
Perasaan Raisa masih belum tenang kalau belum mendengar kabar kematian Gita. Raisa memilih pulang. Sampai di rumah Ilham lagi mengumpulkan berkas-berkas.
"Itu berkas apa, mas?" tanya Raisa sama suaminya.
"Ini untuk lowongan kerja yang ditawarkan dokter Sasono." ucap Ilham sambil menikmati kopinya.
"Emang kerja dimana, mas?" Raisa duduk disamping suaminya.
"Malaka, Malaysia."
deg! Malaka! Malaysia! itu kan tempat Gita berobat. Tidak! tidak boleh!
"Jangan, mas. Jangan pergi jauh. Aku gimana?" Raisa memeluk suaminya.
"Kamu mau ikut?" tanya ilham sambil mengelus rambut istrinya.
" Ya, udah. Nanti aku bilang sama dokter Sasono. soalnya dia yang ngurus semua keperluan perjalanan kita."
Raisa sedikit tenang setelah Ilham menyetujui kalau dirinya bisa ikut.
Raisa tidur di kamar, sementara Ilham masih sibuk dengan berkas-berkasnya. Raisa berdiri menemani suaminya, lalu membuatkan teh. Raisa menemukan obat perangsang yang dulu dia gunakan untuk Ilham, lalu memasukkan dalam teh.
Mungkin dengan obat ini dia mau menyentuhku. Sejak menikah, dia masih menjauhiku.
"Mas, minum dulu tehnya." Raisa meletakkan minuman di samping berkas suaminya.
Tapi saat Ilham mengambil minumannya ada cicak jatuh masuk dalam gelap. Ilham kaget, saking kagetnya air teh mengenai ke berkas-berkasnya. Matanya melirik Raisa, sang istri paham kalau suaminya minta di buatkan lagi. Dengan malas Raisa kembali ke dapur.
Syukurlah berkasnya basah. Paling tidak Ilham akan membatalkan keberangkatannya ke Malaka.
...----------------...
Pagi ini Gita berencana jalan jalan sekitar pantai. Matanya memandang ke arah ombak. Tubuhnya yang mungil duduk di tepi pantai, lalu merebahkan tubuhnya ke pasir agar bisa bermain bersama ombak.
"excuese me?" Suara seorang pria menyapanya.
__ADS_1
Gita tidak peduli. Dia sedang menikmati langit pantai. Kapan lagi dia bisa menikmati keindahan ini, pantulan sinar matahari di tutupi sosok wajah pria.
"Kak Ronal kapan sampai?" Gita kaget kemunculan Ronal di depannya.
"Baru saja. Kamu lagi apa?" Ronal memeluk tubuh Gita dengan mesra.
"Lepasin, ah." Gita risih dengan pelukan Ronal.
"Kenapa? bukankah dulu kita sering seperti ini."
"Dulu, sebelum kakak lebih memilih Dinda." jawab Gita kesal.
"Kenapa ungkit yang itu lagi sih? Kan kamu sudah tahu masalah sebenarnya."
"Tadi yang mulai duluan siapa?" Gita berdiri dan berlari sekitar pantai. Ronal mengikutinya sambil berkata juga.
"Kenapa kamu belum bisa menerima aku, Gita? Apa karena Ilham? Dia sudah menikah, apa yang kamu tunggu darinya." omel Ronal.
"Nggak usah bahas dia." Gita tetap tidak peduli dengan kehadiran Ronal.
Dari jauh sosok mata memperhatikan Gita dan Ronal. Entah mengapa dia begitu panas melihat kedekatan mereka. Gita merasa pusing dan hampir pingsan, lalu di papah sama Ronal.
"Kamu itu nggak boleh capek, Gita? Ngeyel banget di kasih tahu?" omel Ronal.
Ronal memandang suasana pantai yang sepi. Tidak ada abang-abang jualan layaknya di Indonesia. Mereka memegang perut masing-masing, menandakan lapar. Gita mengatakan ada restoran India di belakang hotel Phoenix.
Gita memesan nasi lemak khas Malaysia. Ronal menyeletuk nasi lemaknya lebih enak dari yang biasa dia makan di Jakarta.
"Mau?" tanya Gita bersiap menyuapkan ke mulut Ronal.
Ronal sudah siap disuapin sama Gita. Sendoknya kembali mendarat ke mulut Gita. Ronal memesan roti cane lengkap dengan karinya. Gita yang melihat nikmatnya makanan Ronal, ingin mencicipinya juga tapi di tangkis.
"Mau?"
Ronal merobek bagian pinggir roti cane dan menyuapkan di mulut Gita, bibir Gita belepotan kuah kari langsung di bersihkan oleh Ronal. Mata mereka beradu lama. Gita memilih menghindar tatapan itu.
"Gita. Aku rindu momen ini. Kamu ingat, waktu aku menyuapimu di hotel Ine."
"Tolong jangan bahas masa lalu."
Gita mengajak Ronal pulang. Dia malas Ronal terus membahas kenangan. Sampai di rumah Gita kaget ternyata keluarga Spencer sudah ada disana termasuk ibu, bibi dan Edwar.
__ADS_1