Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
Membangkitkan ingatan ( part 2)


__ADS_3

Di acara pengajian. Mamanya Ilham menjelaskan bahwa pernikahan antara Ilham dan Gita tetap akan di selenggarakan sehabis lebaran yaitu bulan mei, begitu juga dengan pernikahan Keisya dan Ronal. Mama Ilham memang sudah punya nazar agar menikahkan kedua anaknya secara serempak.


Mama Yulia kesal, karena tidak sesuai kehendaknya. Apalagi mama Yulia sudah cerita ke teman arisannya, kalau putrinya akan menikah bulan depan. Di belakang acara mama Yulia protes ke calon besannya.


"Bu Mila, kan janjinya bulan depan, kenapa berubah lagi, Bu?"


"Jeng, Yulia setelah kami runding antar keluarga, kami sepakat tetap mengadakan resepsi setelah lebaran. Kita masih banyak yang harus di urus."


"Tapi ..."


"Jeng Yulia, kalau anda tidak sepakat,


anda bisa cari laki-laki lain untuk putri anda."


Mama Yulia kesal. Sepanjang acara, dia cuma diam saja. Mungkin memikirkan apa yang harus dia jelaskan pada orang-orang terdekatnya. Papa yang melihat istrinya jadi pendiam langsung menggoda. "Makanya ma jangan mau jadi Datuk maringgi versi cewek."


Gita melihat mamanya terdiam sejak ribut dengan keluarga Ilham, mencoba menenangkan. Gita minta maaf pada mama Yulia.


"Kamu nggak salah, nak. Mama yang salah. Mama terlalu memaksakan kehendak mama pada kamu, nak. Mama tahu kamu dan Ilham saling mencintai."


"Makasih,ma." Peluk Gita


"Gitaaaa!" Kedua sahabat Gita memeluk dengan penuh bahagia.


"Akhirnya ya, git. jadi juga kamu sama Ronal." celetuk Ine.


"Ronal? Ilham non! enak aja yayang gue di ganti namanya." protes Gita.


"Kenapa sih dari tadi pada bahas Ronal? Nggak Siti, nggak kalian, emang siapa sih Ronal itu."


"Gue yang namanya Ronal. Mungkin kamu lupa sama saya. Tapi kamu nggak lupa kan sama laki-laki yang jatuh di lobang ranjau 9 tahun yang lalu."


"Jadi kamu kak Alam. Kakak masih hidup! Alhamdulillah ya Allah."


"Maafkan saya. gara-gara saya, hidup kakak jadi kacau. Maafkan saya!" Gita menunduk sedih.


"Nggak papa,Gita. Sekali lagi selamat, ya. semoga sampai hari H pernikahan."


"Ah, kan sekarang kita saudara ipar, kak." jawab Gita malu-malu.


Gita merasa dia harus memperbaiki hubungan baik pada calon kakak iparnya. Bagi Gita, mungkin sekarang waktunya dia akur dengan Ronal. Tapi, bagi Ronal inilah waktunya menyembuhkan ingatan Gita.

__ADS_1


Malam ini Siti menceritakan pada Gita, bagaimana perjalanan hubungan Gita dan Alam. Dari awal mereka dekat waktu di jodohkan opa, hingga hubungan berlanjut di Sukasari. Siti juga menceritakan bagaimana Ronal membuat Dinda putus dengan Edwar, hingga kembali mendekati Gita yang saat itu lagi patah hati.


"Jadi dia mendekatiku setelah bikin bang Ed putus! Lalu sekarang dia kembali mencariku karena tidak jadi menikah kak Dinda!"


"Bukan gitu, Gita. Dia sedang memperjuangkan hubungan kalian."


"Sama saja, Siti. Kamu jangan membelanya. Dia sama saja dengan kak Roki! Sama!"


Gita merasa pusing kepalanya. Terlintas saat dirinya di hajar warga.Tapi Ronal tidak ada membelanya sedikitpun. Emosinya memuncak. Gita mengamuk membanting barang yang ada.


Mama mendengar amukan Gita, langsung menenangkan putrinya. Mama memarahi Siti karena membuka luka yang tersimpan di pikiran Gita.


"Kamu tahu kenapa Tante nggak pernah mengungkit soal Ronal!"


"Karena Gita tahu Ronal nggak pernah ada untuknya saat dia susah! Tante juga tahu saat Gita sedang lumpuh, buta atau koma, dia malah lebih memilih mantan pacarnya!"


"Mengingat Ronal adalah hal yang paling menyakitkan bagi Gita! Kamu paham itu, Siti!"


Siti menangis melihat keadaan Gita yang berdarah saat mengamuk. Dia tidak menyangka sedalam itu kekecewaan Gita pada Ronal. Siti mengakui apa yang dibilang mama Yulia memang benar. Saat Gita membutuhkan dukungan dari Ronal, dengan santai Ronal menerima lamaran pak Irwan.


Mama menceritakan saat Gita baru bisa melihat, yang pertama orang yang dia cari adalah Ronal. Mama selalu bilang kepada Gita, supaya cepat sembuh karena Ronal menunggunya di Indonesia.


"Tante mohon, ti. Demi kelangsungan hidup Gita." Mama Yulia menangis bersujud di kaki Siti.


Ibu yang mendengar cerita mama pun terenyuh. Ibu mana yang mau anaknya masuk ke lobang yang sama. Apalagi ini membekas trauma yang mendalam.


"Tante? Sebenarnya itu bukan salah Ronal. Ada pihak tertentu yang mau mengadu domba Gita dan Ronal. Tolong Tante, jangan berprasangka buruk. Ronal sangat cinta pada Gita. Begitu juga sebaliknya."


"Sudah, Siti! tidak perlu di jelaskan lagi! memang faktanya begitu, Ronal kurang tegas!" ucap ibu mengajak Siti istirahat.


"Aku tidak akan bisa istirahat,Bu. Melihat keadaan Gita seperti ini." Siti membersihkan luka di tangan Gita.


"Kamu jahat! kamu jahat!" Siti tidak tega mendengar igauan Gita.


Suhu badan Gita sangat panas. Siti tak henti-hentinya menjaga Gita, mengompres Gita. Itu bagian dari rasa bersalahnya pada Gita, karena sudah buat Gita jadi seperti ini. Siti membaca sedikit ayat Alquran sambil menjaga Gita. Rasa kantuk yang mulai mendera, mengalahkan tekadnya untuk menjaga Gita. Siti tertidur di sebelah Gita.


Mama melihat kebaikan Siti pada Gita sangat terharu. Mama menyelimuti Siti, lalu mengecup kening gadis itu. Saat Mama kembali ke kamar, Mama melihat Papa sedang termenung di teras. Mama mengajak Papa untuk istirahat, apalagi seharian ini Papa sibuk membantu mama membereskan acara pengajian.


"Pa?" Panggil Mama


"Iya, ma." sahut Papa

__ADS_1


Mama melihat wajah Papa sembab seperti habis menangis.


"Papa nangis?" Tanya mama


"Nggak kok, ma. kelilipan asap rokok."


"Sejak kapan, pa. Asap rokok bisa bikin kelilipan."


"Sejak tadi." Jawab Papa sedikit tersenyum.


"Papa kenapa?"


"Papa sedih, senang dan terharu, ma. Sebentar lagi Gita akan menikah."


"Papa sedih karena Gita mau menikah. Papa harusnya senang dong, mama aja sudah lama pengen Gita nikah. Mama sudah kebelet punya cucu."


"Kita kasih adik buat Gita." kata Papa.


"Aduh, papa! Malu sama umur! Kita ini sudah kepala 5."


"Emang kenapa,ma? kalo tuhan mau ngasih Kun fayakun, maka terjadilah!"


"Sudah,pa. Istirahat sudah malam."


"Deuuuh, bilang saja mau ehmmm... ehmmm."


"Papa! Masuk!" Mama menjewer telinga suaminya.


Pagi ini, Ilham datang untuk memeriksa kondisi Gita. Panasnya belum turun, Ilham meminta Mama membawa Gita ke rumah sakit. "Takutnya malaria, Tante."


Ilham menggendong Gita dan memasukkan ke dalam mobil. Siti, ibu dan mama ikut mengantar Gita ke rumah sakit. Siti baru tahu kalau calon Gita adalah seorang dokter. Sepanjang perjalanan Siti memperhatikan bagaimana Ilham memperlakukan Gita dengan baik. Gita diletakkan di kursi samping Ilham. Tangan Ilham yang satunya tetap menyetir dan tangan sebelahnya menggenggam erat tangan Gita.


Apa mereka punya kebiasaan yang sama? memperlakukan Gita dengan istimewa. Tidak! aku melihat pak dokter sangat sayang pada Gita. Mungkin itu juga yang membuat Gita bisa melupakan Alam.


Seharusnya, Alam menyadari kalau ini adalah pelajaran untuknya. Jangan mempermainkan perasaan wanita. Di kecewakan itu rasanya sakit.


Cinta itu memang rumit. Kadang, ketika mencintai seseorang sepenuh hati, orang tersebut malah mempermainkan perasaan tulus yang kamu berikan.


Hukum karma itu nyata. Bisa dibuktikan kejadiannya. Saat kamu melakukan suatu hal yang buruk, keburukan serupa pasti kamu dapatkan juga.Bila kau tinggalkan pasangan yang mencintaimu habis-habisan tanpa penjelasan, suatu saat kamu juga akan merasakan hal yang sama.


Untuk pertama kalinya, aku mendukung kalian Ilham dan Gita. Kalian memang pantas bahagia. Maaf kak Alam, kali ini aku setuju dengan Mama Yulia.

__ADS_1


__ADS_2