Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
159. Part finish


__ADS_3

Sebagai suami yang sekarang menyandang status baru yaitu ayah, aku tidak dapat melukiskan sebesar mana rasa bahagia ini. Saat istriku merasakat kontraksi yang sangat berat, apalagi belum bulannya. Aku merasakan ketakutan yang sangat dalam. Aku pernah mendengar salah satu stafku melahirkan bayi prematur. Sang anak bertahan hidup tapi malah ibunya meninggal. Aku takut kalau itu menimpa pada gita.


Kebahagian ini tak bisa kuungkapkan dengan kata-kata. Kalian tahu berapa lama kami menantinya?


Kalian tahu bagaimana perjuangan kami sampai ke hari ini?


Berat memang tapi aku dan Gita tetap kuat menjalaninya


Alam menatap sesosok mungil, yang sekarang berjuang hidup. Air matanya menetes, ada suatu kebanggaan saat melihat si mungil tersebut. Si mungil adalah hasil buah cintanya dengan sang istri.


Selamat datang, anakku.


Uwekk uwekkk..


Suara bayi menghebohkan ruang operasi. Siapa yang tak tersenyum lega menatap bayi mungil itu. Menatap merahnya bayi yang baru saja berada didunia ini. Sungguh luar biasa.


Alam tersentak saat melihat wajah bayinya. Mengingat sang istri sudah mendahuluinya setelah melahirkan anak mereka. Ada sesak dirasakannya, karena statusnya sekarang adalah orangtua tunggal. Sejenak air matanya menetes. Rindu yang mendalam pada sang istri yang sudah tidak terbendung lagi.


"Lam..." Sebuah suara menganggetkan lamunannya.


"Ma.." jawabnya lirih, terdengar suaranya terasa berat.


"Nak..Kamu kenapa?" Ucap mama yulia melihat raut wajah menantunya seperti mendung.


"Aku rindu Gita, ma." isaknya.


"Jangankan, kamu, nak.Kami orangtuanya juga sangat merindukannya. Kamu yang sabar, ya lam.


Gita sudah tenang, lam.Dia tidak akan sakit lagi, dia tidak akan menderita lagi. Kamu harus kuat. Ada nesha yang butuh kamu, lam."


Vanesha Romanda putri adalah buah cintaku dengan Gita. Usianya saat ini sudah memasuki lima bulan. Wajah mungil yang sekarang menemaniku. Sejak gita meninggal dunia, aku sering mengunjungi anakku yang sekarang tinggal bersama kakek neneknya.


Ya, permintaan terakhir gita adalah hak asuh anakku jatuh pada mama yulia dan papa dul. Entah kenapa gita tidak mempercayakan aku membesarkannya sendiri. Apa dia takut aku menikah lagi dan menyerahkan putri kami ke ibu tiri.


Ah, gita kamu tenang saja. Aku tidak akan menikah lagi. Aku tidak ingin anak kita mengenal ibu lain selain kamu.


Maafkan aku,Gita, selama kamu hidup aku belum bisa membahagiakanmu.


Andai waktu bisa ku putar, aku ingin sekali menurunkan egoku, menurunkan rasa cemburuku, tapi ternyata aku tidak bisa.


Alam duduk memandang photo mendiang istrinya. Lalu memeluk photo itu dengan erat, seakan ada gita yang suka memeluk dadanya.


"Aku merindukanmu, sayang. Sangat merindukanmu."


Flashback on


"Bagaimana keadaan istri saya,dok? Apakah dia akan melahirkan."


"Sepertinya kankernya mulai parah dan menjalar, sekarang berpengaruh pada kondisi janinnya. Bapak tenang saja, kami akan berusaha."


Alam terdiam. Bagaimana bisa istrinya dikatakan semakin parah? Padahal menurut dokter ilham, Gita semakin membaik.

__ADS_1


Ya Allah, ini teguran buatku agar lebih siaga lagi.


Dokter Toni mencoba tetap profesional. Kepalanya menunduk "Fifty-Fifty. Maaf kalau aku harus bilang yang sebenarnya. Kemungkinan kita harus selamatkan salah satu dari mereka. Tapi semoga keduanya bisa selamat."


Tubuh Alam melemas. Netranya tak bisa diungkapkan.


Ya Allah, jangan sampai terjadi sesuatu pada anak dan istriku. Selamatkan mereka ya Allah.


Alam bersujud di kaki Dokter Toni


"Tolong selamatkan Gita dan Anakku, dok."


"Bapak tenang saja kami akan berusaha."


Setelah dokter Toni kembali memasuki ruang operasi, Alam hanya termenung. Pikirannya kacau takut terjadi sesuatu pada anak dan istrinya.


Semoga kamu dan anak kita selamat.


Beberapa jam kemudian


"Mohon maaf, pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Tapi ternyata tuhan berkehendak lain. Istri anda tidak bisa bertahan lama. Sekali lagi kami mohon maaf. Kami turut berduka cita." Ucap dokter Toni.


"Nggak! Nggak mungkin, dok. Anda pasti bercanda kan! ini pasti prank kalian! Ayo mana kejutannya! Mana!


Mama tadi lihat kan gita dengan bahagianya, menyantap blackforest buatan mama. Sekarang dokter Gita sudah pergi!" Pekik alam.


Mama yulia dan papa dul menangis melihat reaksi alam. Tak lama mereka membawa jenazah Gita. Alam terus mengguncang tubuh istrinya. Berharap istrinya hanya tertidur saja.


"Yang, bangun! Jangan becanda, yang!" Pekik Alam terus mengguncang tubuh Gita.


Semua keluarga berkumpul dirumah sakit. Baik dari keluarga spencer maupun dari keluarga gunawan. Terlebih lagi Alam, hatinya hancur berkeping-keping. Mereka baru saja menikmati indahnya penantian sebagai orang tua utuh. Dalam sekejap tuhan mengambil orang yang dia sayangi.


Dalam sekejap kebahagiaan itu berubah jadi duka.


Innalillahi wa innalillahirojiun


Mama dan Papa ikhlas kalau memang sudah jalannya seperti itu.


klik


Gita Mandasari


Binti


Abdullah


Lahir : 8 April 1995


Wafat: 30 mei 2021


Alam berdiri didepan nisan Gita. Semua keluarga berkumpul memakai baju hitam, suasana pemakaman. Alam bahkan tak sanggup untuk ikut turun menguburkan sang istri. Sehingga pasukan pengubur menaikan jenazah Gita untuk di azani.

__ADS_1


Alam mencoba mengazani istrinya meskipun suara terputus-putus.


Semua pelayat sudah membubarkan diri, tinggal Alam masih terduduk didepan nisan istrinya. Dia masih memeluk nisan yang tertulis nama Gita. Rasanya baru semalam dirinya memberikan hadiah hijab untuk istrinya. Tapi sebelum dipakai, tuhan sudah menjemput istrinya terlebih dahulu.


"Lam, yuk pulang, nak." Bujuk mama Marni.


"Aku masih mau disini. Gita pasti sendirian, ma. Kasihan dia, aku sudah berjanji padanya akan selalu menjaganya."


"Lam, ingat masih ada anakmu yang membutuhkan kamu, nak."


Tak ada reaksi. Mata lelaki itu memegang kelopak bunga yang bertabur di gundukan tanah merah. Seakan masih belum percaya kalau Gita sudah tiada. Mama Marni akhirnya meninggalkan Alam. Bagi mama Marni, Alam masih butuh waktu untuk menerima kenyataan kalau Gita sekarang sudah tiada.


Suasana duka menyelimuti kediaman keluarga gunawan.Semua yang ada disana memakai atribut hitam. Alam yang sedari awal tidak keluar kamar, seakan belum siap dengan kepergian sang istri. Mama marni terus membujuk putranya agar keluar kamar menemui para pelayat.


Mama Yulia dan Papa dul menyambut para pelayat. berbagai ucapan belasungkawa terus terucap dari para pelayat.


"Assalamualakum, om Dul." Sapa tiga orang wanita yang datang melayat.


"Waalaikumsalam, ini kalau nggak salah mbak rasti, mbak sari, dan mbak Ayu widia, kan." Tebak papa dul.


"Iya, om. Kami turut berduka atas meninggalnya Gita." Sahut mbak Ayu.


"Semoga Amal dan Ibadahnya, diterima Disisi-Nya ya om." tambah mbak Rasti.


"Terimakasih, mbak-mbak semua sudah hadir."


"Sama-sama,om. Kami pamit dulu."


Tampak dari tiga Pria tampan masuk ke kediaman keluarga gunawan. Siapa lagi kalau bukan Ammar, sadha dan dhana,Putra kesayangan pak aidi.


"Turut berdukacita, ya, om. Semoga om sekeluarga diberi ketabahan, kesabaran, dan semoga amal ibadah gita dIterima di-sisiNya." ucap Ammar.


"Oh, ya Alam mana, Sejak kami datang, kami tidak melihatnya." sambung sadha


"Alam sedih, dia sejak istrinya dibawa kesini sampai dimakamkan tadi, tak mau bertemu siapapun." jelas Papa Dul, raut wajahnya memancarkan kesedihan.


"Om, kami pamit dulu, ya." Ammar dan kedua adiknya pamit.


"Terimakasih ya, nak Ammar."


"Sama-sama, om. Assamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Tampak beberapa pelayat yang masih memenuhi rumah orangtua Gita. Sahabat Gita, rere dan Beta pun datang. Mereka juga tidak menyangka kalau Gita pergi secepat itu.


Masih jelas dibenak mereka saat Gita begitu bahagia dengan kehamilannya. Masih jelas diingatan mereka Gita menceritakan suaminya yang romantis.


ilham memandang nisan papa Gita. Ada penyesalan yang dirasakannya. Seandainya dia tidak mementingkan urusannya dengan siti, mungkin Gita masih hidup. Lama ilham memeluk nisan wanita yang pernah dicintainya, tangisnya pecah. Apalagi dia tak tahu keberedaan siti yang telah satu bulan hilang tanpa kabar.


"Kamu dimana, ti. Tidakkah kamu tahu kalau gita sudah pergi untuk selamanya.

__ADS_1


Tidakkah kamu tahu dia terus menanyakan kabarmu."


Kita sebagai manusia mungkin memiliki banyak sekali target, impian, cita-cita dimasa depan. Untuk diri sendiri, pasangan, keluarga, teman atau orang lain. Tapi kalau kita mau sadari semua berkaitan dengan waktu. Bagi kita manusia waktu selalu menjadi misteri bagi kita umat manusia.


__ADS_2