Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
118. S2: Masa-masa rumah tangga


__ADS_3

Empat bulan kemudian


Alam sudah aktif lagi di kantor. Gita mempersiapkan kebutuhan suaminya untuk berangkat ke kantor. Dari menyiapkan sarapan hingga menyiapkan bekal untuk suaminya. Saat Gita sedang mengambil barang yang posisinya tinggi, dengan sigap Alam membantu mengambilnya.


Gita merapikan dasi suaminya. Karena tubuh suaminya tinggi terkadang Gita harus pake kursi untuk mensejajarkan tinggi mereka.


"Aku berangkat ya sayang, kamu mau titip apa?" ujar Alam sambil menatap gagahnya dirinya didepan kaca.


"Cuma titip pesan, suamiku ini jangan genit sama sekretaris baru." pesan Gita sambil memegang pinggang Alam.


"Ya, udah kamu ikut aja ke kantor. Biar orang-orang tahu siapa istri aku." ajak Alam


"Aku mau main ke rumah mama, boleh? Bosan, yang aku di rumah sendirian."


"Boleh, kok. Tapi benar ke rumah mama, ya. Jangan kelayapan. Nanti makan siang aku jemput, hari ini jenny ulang tahun."


Gita menepuk jidatnya "Astaga aku lupa. Aku belum dapat kado untuk jenny, gimana nih?"


"Ya, udah nanti siang kita cari kadonya. Jangan pergi sendiri. ingat kita lagi program." Alam mengingat istrinya untuk menjaga kesehatan tubuh Gita, apalagi dokter bilang kemungkinan Gita bisa hamil lagi sangat tipis.


"Hmmm, itu Mulu yang di bahas."


Gita kesal kalau suaminya mengingatkan soal program hamil mereka. Padahal sudah empat bulan yang lalu sejak dia mengalami keguguran. Bahkan suaminya ikut program aplikasi tentang seputar kehamilan.


Sekarang Gita dan Alam sudah tinggal di rumah sendiri. Bukan di perumahan mewah, tapi di perumahan biasa. Mereka memilih mandiri, tanpa menumpang pada orang tua masing-masing. Walaupun sebenarnya kedua orangtua mereka sudah menawarkan perumahan yang di tempat elit. Tapi bagi Alam, lebih enak di perumahan biasa ada kekeluargaan dengan para tetangga.


Siti yang kerja di kantor Spencer sebagai OB, terkadang main ke rumah Gita. Apalagi semenjak tersiar kabar kalau Zahra masih berkeliaran, Alam menjadi protektif terhadap Gita. Tapi sampai saat ini Gita belum tahu kalau Zahra kabur dari penjara.


"Yang, bareng aja. Aku mau kerumah mama."


Gita berlari mengambil tasnya. Lalu menggandeng tangan suaminya. Sesekali alam menggoda isterinya untuk memberi sedikit kecupan di pipinya.


Sampai di rumah Mama Yulia. Gita langsung menyalami suaminya dan turun dari mobil. Kaki nya terasa kaku saat merasa ada yang menguntit dirinya, dengan cepat dia berlari masuk ke rumah.


"Kamu kenapa, nak?" tanya mama Yulia melihat putrinya panik.


"Aku ngerasa kayak di ada ngikuti, ma." ucap Gita.


"Ya, udah kamu udah di dalam. jadi aman. Yuk katanya mau bikin kue untuk jenny." Mama Yulia langsung mengajak putrinya ke dapur.


Mereka langsung menyiapkan bahan dan mengeksekusikan bersama


"Kamu ingat, nak. Waktu kecil kamu suka sekali mengekor mama saat lagi masak kue. kadang menteganya atau creamnya kamu cowel sampai habis. Kami dulu nggak mau ninggalin mama sampai mama habis masak. Bahkan kamu duduk di dekat open cuma untuk menunggu kue nya masak."


Gita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sendiri tak ingat hal itu. Tapi memang sejak kecil dia suka makan, makanya pas SMP badannya jadi semok. Sampai saat jalan sama Roki, di ledek boneka bear.

__ADS_1


Tak lama kue nya jadi. Gita menghias kue nya dengan aneka aksesoris yuk lucu-lucu.


"Kalau mama punya cucu nanti mama mau tiap hari bikin kue." kata Mama Yulia.


Gita menghentikan aktivitasnya, entah kenapa saat ini Pembahasan itu menjadi sensitif baginya. Nggak suaminya, sekarang mamanya, dia tidak suka di rongrong terus soal anak.


klik


Alam sampai di kantor disambut dengan Ken, sepupu Roki sudah duduk di ruangannya. Tatapan Ken yang sinis padanya, tak mengubah pikirannya untuk tetap mengerjakan tugas kantor.


"Enak ya jadi kamu! Cuma jadi anak tiri malah dapat posisi empuk! Sedangkan Roki malah dapat kantor cabang."sindirnya.


"Oh ya, gimana kabar istri kamu. Kalo nggak salah dulu dia mantan Roki bukan. Aku penasaran perempuan seperti apa dia, yang bisa jadi oporan kakak adik seperti kalian. Eh, sudah hamil belum? Kalau belum mampu biar aku saja bikin." cerca Ken dengan angkuhnya.


Alam mengcekeram kerah baju Ken. Dia sudah habis kesabaran menghadapi lelaki di depannya. Tapi di tahannya karena memikirkan tindakannya akan menjadi sorotan di kantornya.


"Mau kamu apa? Kalau tidak ada urusan, silahkan keluar!" usirnya.


"Mau saya, kamu menerima kerjasama perusahaanku. Itu saja." jawab Ken santai.


"Tidak bisa. Perusahaanmu tidak memenuhi syarat prosedur kami. Kami tidak mau bermasalah lagi seperti yang dulu kamu lakukan."


"Heleh! Sok banget kamu." Ken pergi dari hadapan Alam. Sesekali dia melihat photo wanita di meja kerja Alam. Senyumnya mengembang seolah tahu yang akan dia lakukan. Tak lama Ken menelpon seseorang.


"Yang maaf,ya. Aku harus ketemu klien, nih. Aku suruh Raka antarin kamu,ya." chat dari Alam.


Gita cuma bisa menghela nafas saat membaca pesan dari suaminya. Dia ingat tadi yang mengajak bareng adalah suaminya sendiri. Sekarang malah diingkari.


"Sama siapa perginya?" balas Gita.


"Sama Nabila, dia kan Sekretarisku." balas Alam.


Mendengar nama sekretaris suaminya, kenapa Gita merasa kurang sreg? Tampilannya seperti perempuan penggoda.


"iya. Mang kenapa, yang?" balas suaminya lagi.


"Kado gimana?"


"Biar aku yang cariin. Pokoknya kamu terima beres aja."


Tak ada jawaban lagi dari Gita. Baginya yang penting sudah memberitahu istrinya kalau dia akan terlambat datang. Terakhir dia bilang ke istrinya kalau soal kado biar dia yang mencari.


Huhhh!!! pasti cari kado sama sekertaris itu. gerutu Gita.


Saat Gita hendak keluar, dia melihat ada yang mengintai dirinya di dekat pagar rumah. Sontak langsung berlari kembali ke dalam rumah. Perasaan tak karuan. Gita meminta sopir ayahnya untuk mengantarkan ke rumah kediaman Spencer.

__ADS_1


Dengan perasaan was-was, dia melirik ke belakang, melihat sebuah motor yang terus mengikutinya. Tadinya dia ingin mengabari suaminya soal penguntit itu, tapi di urungkannya.


"Mbak ada mobil yang mencegat? Gimana mbak?" pak sopir panik mobil hitam di depan mereka. Seketika ada beberapa pria berbaju hitam keluar dari mobil.


"Terabas aja pak." perintah Gita.


"Nanti kalau ada apa-apa sama mbak gimana?"


"Pokoknya terabas aja,pak!" seru Gita.


Pak sopir langsung tancap gas melewati gorong pinggir. Gita sedari tadi komat-kamit berdoa agar di beri keselamatan. Seketika dia bersyukur karena sudah melewati orang-orang misterius itu.


"Bapak keren!" ucap Gita sambil mengacungkan jempol padahal dia sendiri jantungnya serasa copot.


"non, nggak papa?" tanya pak sopir


"Nggak papa, pak. Kita teruskan perjalanan."


"Hidung non mimisan. Saya antar pulang saja, ya? Non pucat sekali" kata pak sopir.


Gita tetap kekeuh akan pergi ke pesta ulang tahun Jenny. Dia tidak enak kalau tidak datang, apalagi ini proses pendekatannya pada mama mertuanya.


Kepalanya sedikit pusing, jujur buat Gita dia sudah lama tidak kumat mimisan sejak hamil sampai sekarang. Tapi, mungkin karena sudah lama dia tidak meneruskan kemo-nya. Entah tidur atau pingsan Gita terpejam dengan menyenderkan kepalanya di kaca mobil.


Akhirnya Gita sampai di kediaman Spencer. Suasana rumah mulai rame, banyak anak-anak yang berkumpul. Gita terbangun lalu membawa kue ulang tahun yang dibuatnya bersama mamanya.


"Non, biar saya bawakan." ujar pak sopir langsung mengambil paket kue yang di bawa Gita.


Pak sopir tahu kalau majikannya sedang dalam keadaan tidak sehat. Makanya dia berinisiatif untuk membantu Gita.


Saat Gita memasuki kediaman Spencer, dia halus melewati bisik-bisik para famili Spencer tentang dirinya.


"Oh, itu jeng menantunya."


"Ah, dia bukannya pacar Roki dulu, ya?"


"Eh, jeng menantunya udah hamil belum? Masa kalah sama Rere yang sudah mau dua anaknya."


Beta menghampiri sahabatnya yang mulai jengah dengan omongan orang-orang disana. Dia menyabarkan Gita, untuk tidak memperdulikan omongan mereka.


"Aku capek, ta. Di rumah suamiku terus membahas soal itu, mamaku juga begitu. Apa dalam pernikahan anak itu menjadi prioritas utama." Gita mulai terisak.


Beta tidak bisa menjawab karena dirinya pun sampai sekarang belum ada tanda-tanda mau hamil. Tapi suaminya tidak pernah mempermasalahkan soal itu. Beda dengan situasi Gita, yang memang di tuntut cepat hamil oleh suaminya sendiri.


Dia cuma bisa memeluk sahabatnya. Tidak enak memang, kalau terus di rongrong seperti itu.

__ADS_1


__ADS_2