Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
102. S2: Liburan terakhir (21+)


__ADS_3

Gita terbangun mendapati tubuhnya sedang ada tangan yang melingkar di dadanya. Matanya menatap laki-laki yang hanya menggunakan boxer pendek saja. Suara dengkuran keras membuatnya lumayan kaget.


Sampai dia punya ide jahil.


Gita merekam suara dengkuran Alam, lalu di masukan ke dalam tiktok. Tidak sampai disitu saja, Gita memasukkan video monyet sedang tidur lalu memakai suara dengkuran suaminya. Saking asyik mengedit tanpa sadar Alam ternyata melihat kejahilan istrinya.


"Hmmm .. gitu ya sama suami ... masa aku di samain dengan monyet! Berarti kamu istrinya monyet dong!"


Gita nyengir ketika ketahuan dengan suaminya.


"Hmmmm ... karena sudah nackal jadi aku akan kasih hukuman buat kamu!"


Alam mendorong tubuh Gita ke kasur dan mendekatkan tubuhnya. Kepalanya mendekat ke wajah Gita. Hidungnya yang mancung mendekat ke hidung Gita.


"Aaaawww... perutku sakit." Gita mengeluh kesakitan.


Alam kaget, dia mengira tindihannya mengena ke perut Gita.


"Maafkan ayah, nak. Habis bundamu jahil." berbicara pada anaknya sambil mengelus perut Gita.


"Masih sakit ini! Sepertinya mereka aktif." Gita terduduk mengelus perutnya.


"Sini biar ayah yang pegang. Kamu mau ayah nyanyiin apa? hmmm .. cicak cicak di dinding aja, ya."


Gita tertawa, suaminya menyanyikan lagu itu dan ajaibnya perut Gita lumayan tenang.


"ah si ayah, masa nyanyi cicak cicak di dinding." protes Gita.


"Dulu waktu aku masih kecil. Bibi suka nyanyiin itu kalau mau menidurkan aku. itu juga sampai aku SMP."


"Hah! Sampai SMP!" Gita tertawa mendengar cerita suaminya.


"Iya. Makanya aku dekat banget sama paman dan bibi ketimbang dengan ibuku sendiri." cerita Alam.


"Sejak aku kecil, ibu sudah merantau bekerja di kediaman Spencer. Dia pulang setahun sekali, itupun pas mau lebaran. Saat aku SD, ibu menikah dengan tuan Spencer, awal-awalnya dia sering pulang, tapi tahun ketiga dia tidak pernah pulang lagi. Lalu aku meminta Paman mengganti namaku dari Ronal Wassalam, menjadi Wassalam saja, orang-orang disana memang memanggilku dengan sebutan Alam, hanya ibu saja yang menyebutku dengan nama Ronal."


"Ibu pernah mengenalkan suaminya padaku. Pertama bertemu aku melihat ketidaksukaan papa Bobby kepadaku. Sejak itu aku merasa ibu lebih sayang sama suaminya daripada aku anaknya. Makanya aku jadi malas sekolah, ugal-ugalan, dan di keluarkan dari SMA Sukasari." kenang alam mengingat kehidupannya yang sangat pelik.


Meskipun pelik, dia tak pernah kekurangan kasih sayang dari paman dan bibinya. Apapun yang dia inginkan selalu di turuti. Termasuk memelihara Opi, kucing malang, walaupun bibi rada anti sama kucing.


Gita memeluk suaminya, dia tahu pasti perjalanan hidup Alam sangatlah berat. Gita menenangkan Alam, sambil mengelus punggung belakang.

__ADS_1


"Kamu yang sabar ya, mas." ucap Gita tanpa sadar memanggil suaminya dengan embel mas.


"Mas! jadi sudah ada panggil khusus nih." goda alam.


Alam menguap merasa masih mau melanjutkan tidurnya "lanjut yuk, aku masih ngantuk." Alam menarik tubuhnya kembali ke tempat tidur. Gita melirik hp ternyata masih jam 03:00 malam.


Mereka dalam posisi berhadapan, Alam menarik tubuh Gita lebih dekat lagi. Jarak wajah mereka sangat dekat. Tangannya mengelus rambut Gita.


Gita menelan salivanya, jantungnya berdegup kencang. Walaupun ini bukan yang pertama, tapi entah kenapa dia masih merasa deg-degan. Dengan cepat Alam ******* bibirnya, Gita memberikan akses agar suaminya menjelajahi bibirnya lebih dalam. Tangan alam menjelajah ke bagian tubuh yang lain. Gita ingin mengerang tapi bibirnya terus di ***** suaminya. Posisi tidur Gita berbalik membelakangi Alam. Dengan cepat Alam mencium tengkuk leher Gita, hingga sampai ke punggungnya. Gita cuma bisa menggigit bibirnya, menahan rasa gelinya.


Alam menutup tubuh mereka dengan selimut putihnya. Gita mengira hanya untuk menutup badan saja, tapi ternyata tebakannya salah, suaminya kembali mengajak dirinya bergelayut di bawah selimut.Gita baru menyadari ternyata Alam lebih agresif dari yang selama ini dia kira.


Tak lama Gita dan Alam tertidur. Mereka meresa kelelahan. Dia tidur memeluk dada bidang suaminya.


...----------------...


Hari ini mereka akan pulang ke rumah. Untuk mempersiapkan berangkat ke Sukasari. Mama keberatan kalau putrinya harus kembali kesana, mengingat kejadian yang menimpa Gita dulu. Tapi dia meyakinkan Mama dan papanya ada suaminya yang akan menemaninya.


Alam mengajak Gita berkeliling pantai sebelum pulang ke rumah, lalu mengendong Gita dari belakang. Sambil berlari dengan ombak. Mereka tertawa bahagia. Tanpa tahu apa yang terjadi hari esok. Gita memakai wig rambut panjangnya.Wig yang dulu adalah pemberian Ilham.



"Untuk?"


"Bertemu ibu dan bibi." jawab Alam.


"Siap, kapten." Gita bergaya memberi tangan hormat.


Mereka kembali ke cottage untuk bersiap-siap berangkat. Alam sudah menyiapkan semua keperluan perjalanan mereka. Gita hanya di suruh duduk di mobil.


Mama dan papa sudah pulang duluan, sementara Siti, ibu dan Edwar akan berangkat bareng Alam dan Gita.


"Tunggu! Ada baiknya kita beda mobil saja." usul Edwar.


"Kenapa?" Siti masih belum paham.


"Kita biarkan mereka berdua saja. kan masih suasana pengantin baru." jawab Edwar.


"Kalo ibu setuju tetap bareng mereka. Hitung-hitung hemat ongkos."


"Ah, ibu ini, nggak pengertian banget." omel Edwar.

__ADS_1


"Lah, kenapa Abang yang pusing. Mereka yang ngajak kita." jawab Siti.


Edwar kalah suara. Mau tidak mau ya ikut nebeng sama Alam dan Gita.


"Sudah siap?" Alam muncul di tengah-tengah rembukan keluarga Siti.


"Sudah. Gita mana?" tanya ibu.


"Sudah di mobil, Bu. Tapi kita pulang ke rumah Gita terus ke rumahku baru kita berangkat. Gimana?"


"Besok aja berangkatnya, lam. Kasihan istri kamu lagi hamil." usul ibu.


"Iya, bukdang. Besok kita naik pesawat, Bu. Soalnya kalau pake mobil kasihan Gita." jawab Alam.


Mereka akhirnya berangkat meninggalkan cottage yang berada di kepulauan seribu. Selama di mobil Gita terus memandang ke arah laut. Alam menggodanya " Daripada liat laut mending lihat aku."


"Ogah, ntar aku mual lagi." jawab Gita.


Semua yang di mobil tertawa. Ibu menyeletuk "Biasanya yang seperti itu, tandanya kamu sedang mengandung anak laki-laki, Gita."


"Masa, Bu." Alam terdengar senang ketika ibu bilang anak Laki-laki.


Gita yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. "Anakku pasti perempuan. Biar ada saingan Mamanya."


"Jangan pake mama, bunda aja. Kata mama terlalu modern." celetuk Alam.


"Pokoknya anakku laki-laki! Titik!"


"Perempuan! titik!"


"Stoooop! jangan berebut. Ntar bayinya malah dua pribadi." kata Edwar.


"Kalau perempuan tapi kelakuan laki-laki. Kalau laki-laki kelakuan kayak perempuan. Gimana? Keren kan." Edwar memotong obrolan mereka.


"Ya, Allah, nak. Amit-amit jabang bayi." Gita mengelus perutnya.


"Ya Allah, War. doamu kok gitu sih." Alam mengomeli Edwar.


"Daripada kalian rebutan." jawab Edwar dengan santai.


"Edwar!!!!!" Teriak Siti, ibu dan Gita. Yang di teriaki memilih pura-pura tidur.

__ADS_1


__ADS_2