Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
113. S2 : Di ruang sidang


__ADS_3

Suara detak komputer kembali terdengar di ruangan tempat Gita di rawat. Mama, papa dan Ilham menanti Gita sadar. Apalagi Gita baru habis di kuret karena keguguran. Mereka takut Gita down kalau tahu anaknya sudah tidak ada lagi.


Mama Yulia mengelus rambut Gita, sejauh ini kondisi Gita lumayan stabil. Tapi sejak habis di kuret, kondisi Gita mulai menurun. Papa Dul, duduk di samping Mama, tak tinggal Al-Qur'an kecil untuk baca-baca.


"Pa, jangan-jangan baca di dekat Gita. Mama jadi merinding. Seolah papa sedang yasinan." omel Mama saat melihat suaminya baca Alquran disamping Gita.


"Ma, ini bukan yasinan tapi mendoakan kesembuhan Gita. Makanya mama rajin-rajin ke pengajian, bukan rajin ke arisan, kita sudah tua, perbanyak amal ibadah. Kejadian Gita sebenarnya peringatan dari Allah, agar kita lebih dekat kepada Nya." tegur Papa.


Mama cuma manyun saat mendengar omelan Papa Dul. Dia setuju apa yang dibilang papa, saat usia sudah masuk kepala lima bukan duniawi yang di cari, tapi bekal menuju akhirat. Akhir-akhir ini, papa memang rutin ikut pengajian di mushola dekat rumah, beberapa kali papa mengajak Mama Yulia, tapi selalu


ditolak.


Mama kembali ke kamar rawatnya. Dia memikirkan Gita sendiri di ruangannya. Papa melihat kegelisahannya Mama Yulia, mencoba mengetahui apa yang membuat istrinya galau.


"Mama kenapa?"


"Mama kepikiran Gita. Siapa yang menemaninya di kamarnya. Dia sendirian, suaminya sedang di penjara."


"Biar aku saja yang menemani Tante." Zahra tiba-tiba muncul.


"Eh, Zahra kamu sudah lama tidak main kesini."


"Zahra! kamu pulang saja! urusan Gita biar om yang menemani."


"Tapi om ..."


"Om mohon kamu pulang saja." ucap Papa mengusir Zahra.


Liat saja, kalian akan rasakan akibatnya.batin Zahra sambil berlalu dari hadapan orangtua Gita.


Papa meminta Ilham untuk mengawasi tempat Gita. Dia mengadu pada Ilham kalau Zahra datang untuk mendekati Gita. Papa masih was-was pada Zahra, karena cerita Ilham. Pria tua itu menunggu Ilham di kamar Gita.


klik


"Dia memang bukan Boy!" Suara seorang laki-laki mengagetkan seluruh yang ada ruangan persidangan.


Semua menoleh ke arah suara dari depan pintu gerbang pengadilan. Sosok lelaki muda berdiri di tengah dan berjalan ke arah hakim.


"Kemal!" ucap Alam.


Kemal menoleh kearah Alam. Senyumannya mengembang kearah Alam dan juga kearah Zahra.


"Tuan hakim dan tuan Jaksa, izinkan saya sebagai pengacara saudara Ronal membawa salah seorang saksi." ucap pengacara sambil berdiri disamping kemal.

__ADS_1


"Silahkan."


Pak Pengacara menggandeng ibu kandung boy masuk ke pengadilan. Zahra seperti ketakutan melihat wanita itu. Sambil menelan Saliva, Zahra mencoba cuek.


Ibu kandung boy berdiri kearah Zahra. Seorang ibu memohon pada anaknya agar Zahra mencabut tuntutannya.


"Zahra, tolong maafkan boy jika semasa hidupnya sudah membuat adikmu meninggal. Makcik mohon cabut tuntutan ini. Dia bukan boy, saat kecelakaan dulu wajahnya hancur. Kebetulan ibunya masih famili makcik, waktu itu makcik masih belum siap kehilangan Boy. Makanya makcik memberikan wajah Boy sama dia. Makcik mohon tolong cabut tuntutan ini." pinta ibunya boy.


"Tidak bisa makcik keadilan harus di tegakkan. Makcik kesannya mau melindungi dia. Saya tahu benar dia adalah Boy. Anak makcik yang kecelakaan karena di kejar polisi. Makcik, bekerja samalah dengan aparat, supaya hukumannya di ringankan. Makcik tahu hukuman apa yang pantas untuk predator seperti dia!" Zahra tetap teguh dengan pemikirannya.


"Kemal kenapa kau diam saja. Bukankah kau sendiri yang dulu bilang Boy kabur ke Jakarta. Kenapa sekarang kamu malah melindungi Boy." desak Zahra pada pria di depannya.


"Maafkan saya Zahra, saya tidak tahu kalau dia bukan Boy. Saya juga baru tahu setelah kasus ini dibuka. Saya juga tidak menyangka kamu se dendam ini sama Boy." ucap Kemal merasa bersalah.


Zahra lemas. Tapi dia tetap pada pendiriannya, dia ingin keadilan tetap di tegakkan. Wanita itu berdiri di depan hakim dan meminta tetap menjalankan sidang ini.


Jaksa penuntut berdiri di depan hakim.


"Saya rasa klien saya sudah cukup sabar menghadapi masalah ini. Kita semua tahu keluarga Spencer itu orang terkaya se Jakarta. Dari semua itu, bukan tidak mungkin orang-orang yang membela pelaku sudah di bayar."


"Makcik saya tanya sekali lagi, apa dia anak anda?"


"Bukan." jawab makcik dengan tegas.


"Pada tahun yang lalu sekitar awal Desember, dia di rawat di rumah sakit mahkota hospital Melaka. Di situ saya menemukan bukti bahwa makcik yang meminta pihak rumah sakit untuk mengembalikan wajah asli anak anda."


"Kenapa anda diam? Konspirasi apa yang anda buat dengan keluarga mendiang Ronal!" jawab jaksa penuntut memperlihatkan wajah tegasnya.


"Tapi..." jawab ibunya Boy. Jaksa itu membuatnya tidak bisa berkutik.


Kemal menyerahkan hasil autopsi jenazah Boy dan tes DNA Ronal dengan ibunya Boy kepada hakim. Disitu di jelaskan jenazahnya 100% boy asli dan Ronal bukan boy.


Hakim pun memutuskan untuk melanjutkan sidang 3 hari lagi.


Alam menghela nafas. Keluarganya semua berkumpul menguatkan dirinya. Tiba-tiba hp Roki berdering. Diliriknya hp itu untuk melihat siapa yang menelpon, ternyata telpon itu dari Papa Dul.


Roki berjalan menjauh dari keluarganya.


📞 Assalamu'alaikum, Ki. Alhamdulillah Gita sudah ketemu.


📞 Alhamdulillah Om, Gita sehat aja kan.


📞 Itulah masalahnya,Ki. Gita di temukan tenggelam di laut oleh nelayan. Dia keguguran dan kritis.

__ADS_1


📞 innalilahi wa innailaihi rojiun.


"Siapa meninggal Roki?" Roki kaget mendengar suara di belakangnya.


Apa aku harus menjelaskannya padanya tentang keadaan Gita.


Mama Marni datang menemui Alam, lalu menyampaikan kalau ayah kandungannya mau berkunjung.Alam tidak perduli dengan berita yang disampaikan Marni. Baginya ayah ibunya tetap paman Toni dan bibi.


...----------------...


Sore ini kediaman Pramono dikejutkan dengan kedatangan Brian, ayah kandung Ilham. Brian mengajak Ilham bertemu kakak kandung Ilham. Walaupun sebenar dia enggan menerima ajakan laki-laki itu, tapi dia penasaran juga siapa kakak kandungnya.


"Pergilah,nak!"


Mama Mila memberi izin anaknya untuk lebih dekat dengan ayah kandungnya.


"Tapi, Ma?" Ilham masih keberatan dengan ajakan Brian.


"Ham, mama minta kamu mau menerima dia sebagai ayahmu."


"Ma, aku tidak pernah mengelak kalau dia ayah kandungku. Tapi yang aku tidak habis pikir kenapa baru sekarang dia muncul minta pengakuan. Dulu kemana saja!"


"Dulu mama yang meninggalkan dia, ham. Mama egois karena tidak tahan hidup miskin. Dulu dia hanya guru SD dengan gaji kecil. Setelah mama menikah dengan papamu, mama baru tahu kalau dia anak pengusaha sukses. Mama pergi dari rumah saat mama hamil kamu,nak. Maafkan mama nak." kenang Mama Mila.


Ilham tidak tahu harus bersikap bagaimana. Dia cuma belum siap untuk bertemu keluarga ayahnya. Ilham penasaran seperti apa sosok kakak kandungnya.


"Ham, kamu sudah siap?" Brian muncul di tengah-tengah keluarga itu untuk menjemput putranya.


"Iiiiya, yah." Ilham mengambil kunci mobilnya.


"Pake mobil ayah saja."


Mereka berangkat. Sepanjang perjalanan Brian menanyakan sejauh mana hubungan Ilham dan Gita.


"Bagaimana hubungan kamu dan Gita?"


"Sudah kandas, yah."


"Sayang banget, ham. Jujur ayah setuju dengan Gita. Dia anak baik, waktu bertemu dia ayah malah bernazar kalau nanti mau jadikan dia menantu."


"Apa Gita sudah menikah?"


"Sudah, yah."

__ADS_1


"Kamu yang sabar, ya. Toh kamu dulu juga sudah pernah menikah."


Mereka sampai di sebuah tempat. Ilham kaget kenapa ayahnya mengajak dirinya ke kantor polisi. Apakah kakak kandungnya seorang polisi atau seorang kriminal.


__ADS_2