Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
87. Belajar menerima


__ADS_3

Episode ini mengandung 21+


...----------------...


Gita menemui Mama dan meminta maaf soal sikapnya semalam. Gita sadar sudah bersikap kasar pada kedua orangtuanya. Tapi Gita butuh waktu untuk menerima semua ini. Semua begitu cepat.


Papa Dul memaafkan Gita. Papa sadar kalau Putrinya perlu menata mentalnya untuk menerima semua ini. Apalagi yang membuat keputusan adalah istrinya, bukan dirinya. Tapi Mama Yulia masih sakit atas sikap Gita. Papa mencoba membujuk mama untuk memaafkan Gita.


"Ma, maafkan Gita, ma. Gita tahu sudah bikin Mama kecewa, tapi Gita butuh waktu untuk menerima semua ini." ucap Gita sambil bersujud di kaki mamanya.


Mama Yulia tetap terdiam. Mama tahu kalau dirinya juga salah, karena memaksa orang lain masuk ke kehidupan putrinya. Tapi kalau tidak, Ilham akan menjadi masalah di kehidupan Gita. Apalagi setelah tahu Ilham belum sah bercerai dari Raisa.


"Ma?" panggil Gita membuyarkan lamunan mama Yulia.


"Kamu mau mama maafin?"


"Bawa suami kamu ke rumah ini. Kita akan adakan resepsi pernikahan yang megah buat kalian."


Gita kaget dengan permintaan mama. Resepsi? Tapi kalau dia nolak mama pasti tidak akan menerima permintaan maafnya.


" Ma, tolong kasih Gita waktu. Gita belum siap!" Gita melihat mama masuk ke kamar. Jadi serba salah.


Sebenarnya siapa yang egois disini! Aku atau mereka sih.


Arrrrrrgggggh!


Resepsi!


Tidak ada resepsi!


Akan aku buat boy tidak betah dan menceraikan aku!


...----------------...


Kostan boy di kejutkan dengan kedatangan Gita. Boy yang sedang asyik di kamar pun di buat kaget "Mau apa kesini?" jawab boy ketus


"Mau ketemu suamiku." jawab Gita santai duduk di tempat tidur boy.


Mata Gita melihat isi kamar boy. Berantakan! itu kesan pertama yang dilihatnya. Tiba-tiba boy mengunci pintu kamarnya. Gita kaget, dia takut boy mau macam-macam dengannya.


"Kok dikunci?" tanya Gita takut-takut.


Boy perlahan-lahan mendekati Gita. Gita pun memundurkan langkahnya, tubuh mereka semakin dekat.


"Jangan aneh-aneh deh, boy!"


laki-laki itu tertawa "Emang nggak boleh ya? Kita sudah suami istri."

__ADS_1


"Ehm... temenin aku ziarah, boy."


"Ke makam yang kemarin. Emang dia siapa kamu sih? Aku lihat kamu rajin banget kesana." tanya Boy


Ayo Gita katakan apa arti buat kamu seorang Alam.


"Bawel ah. Ikut aja kenapa sih." elak Gita.


"Boleh,sih. Tapi kamu harus memberikan kewajiban sebagai seorang istri." tantang boy.


"Enak aja. Ya, udah kamu keluar dulu. Biar aku beresin kamar kamu."


"Kita pindah aja. Cari Kamar yang bisa buat untuk pengantin baru."


Gita menelan salivanya. Tubuh boy berada 1 cm dari tubuhnya. Boy mendekatkan matanya, reflek Gita mendorong tubuh boy, tapi dia hampir terpeleset. Boy dengan sigap menahan tubuh Gita.


"Kamu berat juga ternyata?" ledek boy.


"Udah kamu keluar dulu. Pusing aku lihat kamar kamu kayak kapal pecah." omel Gita mendorong boy keluar.


"Kiss nya mana? Masa nggak ada mesra sedikit sama suami." goda boy.


"Mau kiss." Gita sudah mau mengayunkan tas nya.


Boy tertawa melihat Gita sudah akan memukulnya pake tas. Sudah jadi kebiasaan Gita kalau marah padanya melalui tas yang lumayan bikin benjol.


Satu jam kemudian Gita keluar dari kamar boy. Lagi-lagi boy menggoda Gita.


buuuughhh!


Gita benar-benar melayangkan tas nya ke kepala boy. Laki-laki itu meringis kesakitan. Boy pura pura seperti kesakitan, sayangnya tidak mempan buat Gita.


"Makasih ya." ucap boy


"Soal?"


"Makasih sudah mengakui aku sebagai suami kamu." Boy menarik tubuh Gita. Sontak gita mendorong tubuh boy. Dia belum siap dengan semua ini.


"Kalau kamu belum siap, kenapa kamu datang kesini?"


"Aku menghormati orangtuaku yang sudah mencarikan suami untukku. Seharusnya Ilham yang jadi suamiku, bukan kamu." sahut Gita.


"Kamu cinta sama Ilham?" tanya Boy.


Gita mengangguk. Dari sejak putus sampai bertunangan dengan Alam, dia belum bisa melupakan Ilham. Alam tahu itu, tapi Gita melihat usaha Alam untuk mencintainya membuat Gita belajar mencintai laki-laki itu. Tapi sejak dia pulang ke Indonesia, laki-laki itu tak muncul lagi. Sampai Gita tahu dari Keisya kalau Alam sudah meninggal.


Gita menceritakan perjalanan hubungannya dengan Ilham dan Alam pada boy.

__ADS_1


Jadi aku cuma pelarian kamu saja Gita.


"Enak ya jadi kamu, di opor sana sini. Habis sama satu lelaki pindah ke lelaki lain. Lalu kembali ke lelaki yang sama." sindir Boy.


"Enak juga jadi kamu, datang tiba tiba ke kehidupanku. Tau tau udah nikah aja. Tapi beneran kita dah nikah? Kok aku belum lihat buku nikahnya?" ungkap Gita masih penasaran.


Karena bagi Gita kalau dia memang sudah nikah, dia akan belajar menerima keadaan. Tapi kalau belum dia masih ingin berjuang bersama Ilham.


"Kalau Alam masih hidup, apakah kamu memilih Ilham juga." tanya Boy.


"Udah ah, nggak usah bahas Alam terus. Kalau dia masih hidup, kenapa dia belum muncul juga? Itu tandanya dia sudah tidak peduli lagi sama aku. Sama kayak dulu, Saat aku sakit dia malah enak-enak nikah sama kak Dinda." oceh Gita.


Beberapa kali aku jelaskan. Tidak ada pernikahan aku dan Dinda. kenapa masih kamu ungkit sih.


cup!


Boy mencium Gita dengan lembut. Gita merasa seperti sedang membuka memori tentang Alam. Gita ingat saat Alam menciumnya di Bandara dulu. Entah kenapa dia tidak bisa melawan. Boy mengarah tubuhnya ke tempat tidur. Gita menggenggam erat kaos yang ada di tubuh boy. Reflek kaki Gita menendang bagian sensitif pria itu.


"Jangan coba-coba kurang ajar!" maki Gita.


Gita keluar dari kamar kost boy. Lalu masuk ke WC di kostan, mencuci wajahnya yang habis di cium Boy.


...----------------...


Sampai di makam Alam, Gita di kejutkan dengan beberapa petugas sedang membongkar makam.


"Ini ada apa?" tanya Gita pada petugas.


"Mbak siapa?" Tanya salah satu petugas.


"Saya tunangannya, pak. Ini sebenarnya ada apa? Kenapa makam tunangan saya di bongkar."


"Ini akan diambil untuk di autopsi."


"Siapa yang suruh?" gusar Gita.


"Aku, Gita." Roki muncul dari kerumunan petugas.


"Kak, ini apa-apaan! Kenapa di bongkar. Kasihan kan Alam."


"Kenapa kamu masih peduli! Bukankah kamu sudah menikah? Ini urusan keluarga kami." Tegas Roki.


"Tapi ..."


"Sekarang kamu pulang, Gita. Kasihan suami kamu kalau kamu masih mendatangi mantan." usir Roki.


"Kak.. kak Roki ..." teriak Gita yang di tarik keluar oleh salah satu petugas.

__ADS_1


Gita menangis melihat makam Alam di bongkar. Dia sedikit melihat bagaimana tubuh Alam sudah tak berbentuk. Gita mencoba berlari kembali ke makam. Tapi ada tangan yang menahannya.


Tangan siapa itu?


__ADS_2