
flashback on
Alam menggedor kontrakan milik Nabila. Tak ada sahutan, tapi sayup terdengar suara wanita menangis. Tanpa pikir panjang dia mendobrak pintu rumah Nabila. Dia melihat gadis itu terpekur di sudut kamarnya.
"Kamu nggak papa, bil."
Gadis itu menatap Alam dengan wajah sendunya. Tanpa pikir panjang dia langsung memeluk Alam, perasaannya lega karena lelaki itu mau menolongnya. Alam mendudukkan Nabila di sofa ruang depan.
"Sebenarnya ada apa,bil?" tanya Alam duduk berhadapan dengan Nabila.
"Saya tidak tahu, pak. ada beberapa pria berjaket hitam yang mengobrak-abrik rumah saya. Saya juga tidak tahu apa yang mereka cari. Tapi saya cuma mendengar satu nama yang mereka sebut pak."
"Siapa?"
"Saya ingat mereka menyebut nama Ken. mereka juga membakar berkas kerja saya pak. Padahal itu untuk persentasi pertemuan dengan Mr. Adam besok pagi." cerita Nabila masih dalam keadaan ketakutan.
"Ken!" ucap Alam kaget saat mendengar nama itu.
"Kurang ajar laki-lakinya itu. Ngapain dia mengobrak-abrik tempat Nabila. Dia kan punya urusan denganku bukan dengan Sekretarisku."
Nabila menatap lekat pria di hadapannya. Dia memegang jantungnya yang berdebar kencang. Dialihkan pandangannya pada pria di depannya.
"Ya, tuhan. Dia manis sekali, terlihat dari wajahnya dia seorang yang sangat penyayang. Beruntung istrinya mendapat suami seperti dia. Kenapa jantungku berdetak kencang di saat seperti ini. Ya Tuhan, sadarkan aku dari mimpi ini."
"Bil, kita ke kantor saja. Kamu bisa istirahat disana. Aku antar ya." Alam membopong Nabila untuk berdiri.
Dia melihat kaki Nabila berdarah, lalu berpikir akan mengobati kaki wanita saat sampai di kantor. Dengan bantuan grab, Alam memasukkan gadis itu di kursi belakang. Sementara dia duduk di samping sopir. Ada perasaan bersalah karena dia meninggalkan istrinya sendirian. Tapi seketika dia berpikir kalau ada apa-apa, pasti Gita mengabarinya.
Mobil melaju kencang, Nabila akhirnya tertidur pulas di kursi belakang. Alam bersyukur kalau Nabila tertidur, jadi dia bisa gampang meletakkan gadis itu di kamar OB.
Sampai di kantor, ada satpam yang berjaga ikut membantu membawa Nabila.
Alam mengobati kaki Nabila yang terluka di kamar OB. Sesaat tubuhnya berdiri hendak keluar, gadis itu menahan tangannya. Alam melepaskan tangan Nabila, dia tak mau kebablasan, baginya dia menolong gadis itu sebagai rasa kemanusiaan saja.
__ADS_1
"Pak, saya takut." Ucapnya.
"Kamu di tempat yang aman. Tenang saja." Saya mau ke ruangan kerja dulu." Pamitnya.
Alam meninggalkan Nabila yang sendiri di kamar OB.
Alam membuka lemari di ruang kerjanya. Ada beberapa baju yang disimpannya, untuk kondisi darurat. Lalu mengganti sarungnya dengan celananya. Di tatap hp nya, berharap Gita menelponnya.
klik
Jam sudah menunjukkan pukul 04:55 suara adzan berkumandang, menandakan subuh sudah datang. Di rabanya tempat tidurnya, mendapati suaminya sudah tak ada.
Seketika dia teringat, kalau dia menghukum suaminya tidur di luar. Awalnya dia cuma menunggu beberapa jam saja. Tapi dia malah ketiduran, lupa kalau suaminya menunggu di luar.
Tok tok tok
Gita langsung hendak membuka pintu, tapi saat di buka tak ada suaminya. Gita mencari suaminya di sekitar teras rumah, tapi yang di cari tidak terlihat.
Braaaakkkk
"Zaaaaah, Zaaaahra!" pekiknya sambil berjalan mundur.
"Hai Gita! Apa kabar? Senang bisa bertemu lagi!" ucap Zahra dengan senyum liciknya.
Gita terus berjalan mundur. Di melempar Zahra dengan semua barang yang di dekatnya.
"Pergi! Pergi! Jangan ganggu saya!" teriak Gita sambil melempar barang di dekat.
"Teriak terus Gita! Teriak terus! Tidak akan ada yang mendengar. Aku tidak akan melepaskan kalian berdua. Kalian harus menerima ganjaran atas perbuatan pada zafira dulu." Tawanya melengking.
"Kamu dendam pada boy,kan. Suamiku bukan boy! Dia Ronal, boy sudah mati! Boy sudah mati, Zafira! Jangan kamu buang hidupmu hanya karena seorang Boy! Sadar, Fira! Sadar!"
"Apapun yang ada hubungan dengan boy! Walaupun wajahnya mirip sekalipun, tetap saja dia itu yang membunuh bayi yang ada di kandunganku. Kalian juga akhirnya merasakan apa yang aku alami. Impas!" ucap Zahra
__ADS_1
Seketika Gita merasa kepalanya ada yang memukulnya. Tubuh Gita diangkat oleh seorang pria berbaju hitam. Lalu keluar dari rumah, naas ada warga yang melihat.
Hansip kompleks langsung menyerang orang yang membawa Gita. Di tambah beberapa warga yang baru pulang dari sholat subuh ikut membantu.Zahra melihat semua itu langsung kabur.
"SIAAAALLL!!!! Sedikit lagi aku bisa membawa Gita!!!" amuknya.
Gita langsung di bawa ke puskesmas terdekat. Sebagian warga menanyakan keberadaan Alam.
"Ini suaminya mana sih?" tanya warga lain
"Iya, nih. Mana suaminya? Istrinya lagi dalam bahaya, dia entah kemana?"
"Sudah! kita bawa ke puskesmas dulu. takut jangan terjadi sesuatu pada mbak Gita." ucap pak RT
Flashback end
Plaaaaak
Sebuah tamparan mendarat di wajah Alam. Mama Yulia yang emosi melihat menantunya baru datang.
"INI yang kamu bilang akan melindungi Gita! Untuk kesekian kalinya kamu membawanya dalam bahaya. Mau kamu apa sih! Senang lihat
Gita menderita!
Orang yang sudah membuat Gita menderita itu adalah kamu! Kamu yang membuat dia diserang warga Sukasari, kamu yang membuat Gita lumpuh dan buta, kamu yang membuat Gita sampai keguguran! Semua permasalahan yang menimpa Gita, kamulah penyebabnya!" amuk Mama Yulia.
"Maaf, ma!" Alam cuma bisa menunduk saat di amarahi.
"Maaf saja tidak cukup, lam. Mulai sekarang Gita tinggal sama mama! Paham!"
"Ma, nggak bisa gitu! Dia istriku, tanggung jawab aku, bukan tanggung jawab mama lagi." bantah Alam.
"Tanggung jawab yang mana? Tanggung jawab meninggalkan istrinya sendirian di rumah. Sementara kamu tahu buronan itu masih berkeliaran. Dia mengincar kalian." emosi mama Yulia.
__ADS_1
Mama Yulia langsung meminta pihak puskesmas membawa Gita ke rumah sakit besar. Dia tidak peduli mau menantunya terima atau tidak keputusannya. Ada rasa kesal yang akan meledak saat melihat Alam. Ada rasa menyesal menyatukan Gita bersama Alam.