
flashback on
Hari ini sidang kedua dimulai
Semua keluarga berkumpul di pengadilan negeri Jakarta. Termasuk Siti dan keluarga Gita. Mama Marni yang melihat besannya datang langsung menyambutnya. Mama Marni menanyakan keberadaan Gita.
"Gita mana, jeng?" tanya Mama Marni
"Gita di rumah sakit, jeng. Dia keguguran." Jawab Mama Yulia.
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Kok kalian tidak mengabari kami." jawab Mama Marni kaget.
"Maaf, jeng. kami panik saat itu. Tapi kami sudah memberitahu pada Roki." jelas Mama Yulia.
"Ya, ampun Roki. Kenapa kamu tidak mengabari Mama?" ucap Mama Marni pada Roki.
"Maaf, ma. Roki lupa."
Sidang pun dimulai.
Namun saat memulai persidangan, tiba-tiba ada sekelompok polisi datang untuk menemui Zahra.
"Saudari zahra Anda kami tangkap atas penculikan saudari Gita, termasuk penyiksaan terhadap saudari Gita." ucap salah satu polisi.
Tangan Zahra di borgol oleh polisi tersebut. Alam yang mendengarnya langsung mengamuk pada Zahra. Dia tidak menyangka Zahra sejauh itu mencelakai istrinya.
"Kurang ajar! Dasar wanita gila! kau apakan istriku! Dia tidak ada sangkut pautnya dengan masalah ini!" Alam hendak menampar Zahra tapi ditahan oleh Roki.
"Lepaskan! biar aku kasih hukuman yang pantas untuk iblis betina ini!" Amuk Alam ingin menghajar Zahra. Tidak peduli kalau Zahra wanita, siapapun yang menyakiti orang-orang terdekatnya termasuk istrinya akan dia habisi.
plaaaaak
plaaaaak
Sebuah tamparan mendarat di wajah Zahra. Alam tidak takut kalau Zahra seorang wanita, baginya Zahra pantas mendapatkan lebih keras dari tamparan itu. Ternyata bukan hanya dari Alam saja, tamparan itu kembali mendarat di wajahnya dari Mama Yulia.
plaaaaak
plaaaaak
"Aku tidak menyangka kamu itu menusuk dari belakang, Zahra. Gita sangat baik padamu tapi ini balasannya. Sini ku hajar kau! Kau sudah membunuh cucuku. Dasar perempuan laknat!"
Mama Yulia langsung mengamuk menarik rambut Zahra dengan kasar.
"Siapa bilang tidak ada hubungannya! Apa yang dia alami belum setimpal apa yang adikku alami!" Jawab Zahra emosi.
"Kalian tunggu pembalasanku. Awas kau boy!"
"Aku bukan boy! Paham!" Alam masih tidak puas rasanya dia masih ingin menghajar wanita itu.
"Bawa saja, pak." jawab Roki. Dia takut kakaknya semakin beringas.
Zahra akhirnya di bawa polisi. Tatapan dendam tak luput dari wajah Zahra maupun Alam.
Seketika tubuh Alam lemas. Dia cemas dengan keadaan Gita. Mama Yulia menceritakan kalau Gita keguguran, dan bayinya sudah di makamkan.
"maafkan aku, ma. Aku tidak berada di sisi Gita saat seperti ini." isak Alam.
"Mama paham, nak." Mama Yulia menepuk pundak Alam.
__ADS_1
Mereka kembali ke ruang persidangan. Hakim pun memberikan vonis Alam dinyatakan tidak bersalah dan bebas dari tuntutan.
Pengacara Zahra tidak terima dan mengajukan banding.
"Silahkan kalau mau mengajukan gugatan balik. Tapi dari bukti yang ada, memang dia bukan Boy. Toh saksi tidak ada yang memberatkan terdakwa." jelas Roki pada pengacara Zahra.
Pengacara Zahra pergi dengan perasaan kesal. Sementara Alam melakukan sujud syukur di depan pengadilan. Dia berniat ke rumah sakit untuk bertemu Gita. Tapi di tahan Mama Marni, dia minta alam menunggu Gita sampai keluar rumah sakit.
Flashback End
"Kamu suka, sayang?" sebuah suara mengejutkan Gita.
Tubuhnya berbalik melihat siapa yang ada di depannya. Bahagia bercampur kaget saat mengetahui bahwa suaminya sudah pulang. Pelukan erat menyatu pada dua insan itu.
"Aku kangen kamu, sayang. Maafkan aku sudah membuat kamu berjuang sendirian. Maafkan aku tidak ada di sisimu saat kamu mengalami musibah itu." ucap Alam sambil memeluk Gita.
Apakah ini nyata, apakah aku sedang bermimpi, benarkah suamiku sudah pulang. Jika ini mimpi jangan bangunkan aku ya Tuhan. Tapi jika ini nyata, aku bahagia sekali. Akhirnya kami bisa berkumpul lagi. Terimakasih Tuhan, terimakasih sudah mendengarnya doaku. batin Gita.
Isak tangis terdengar dari keduanya. Gita tak bisa menahan rasa bahagianya karena suaminya sudah bebas dari penjara. Begitupun juga dengan Alam, dia bahagia bisa berkumpul bersama Gita.
"Anak kita..." Gita tidak kuat meneruskan ucapannya.
"Aku tahu. Aku sudah datang ke makamnya. Bayi kita laki-laki sayang. Nisannya belum dikasih nama." cerita Alam pada Gita.
"Aku bahkan belum tahu jenis kelaminnya apa. Aku tidak tahu kalau sudah di makamkan. Kenapa kalian sering menyembunyikan semuanya dariku." Gita mulai menampakkan kekecewaannya.
Alam memegang wajah Gita dengan kedua tangannya.
"Yang, Jangan diingat lagi, ya. Aku sudah ikhlas soal anak kita. Kamu juga harus begitu. Aku janji setelah ini akan selalu di sampingmu, nggak akan aku tinggalkan lagi." janji Alam.
Alam menuntun Gita ke tempat tidur. Dia tahu istrinya harus banyak istirahat. Apalagi baru habis operasi. Alam menyandarkan kepala Gita didekat bahunya. Tangannya mengelus rambut Gita dengan lembut. Tak lama Gita tertidur. Alam merasa dadanya sedikit sesak. Lalu membuka obat yang sudah dia bawa dari rumah.
"Itu apa, yang?" Gita penasaran dengan yang di minum alam.
"Vitamin." jawab Alam sambil menyimpan obatnya.
"ooh." Hanya itu saja yang keluar dari mulut Gita.
"Kamu istirahat ya, sayang. Kamu harus fit." alam mengecup kening Gita.
Kaki Alam hendak berdiri tapi di tahan oleh Gita. Ada ketakutan yang di rasakannya, seolah masih ada yang mengintainya. Alam mencondongkan wajahnya ke bibir Gita. Tangannya menelusup ke leher Gita. Ciuman kecil berubah menjadi ciuman panas.
"Kok sekarang kamu agresif sih." goda Alam.
"Kamu yang ngajarin." Gita mencubit hidung suaminya.
"Emang kamu siap?" tanyanya.
"Siap apa?" Gita belum paham maksud suaminya.
Alam mendekatkan tubuhnya ke tubuh Gita. Gita menolak karena merasa bekas operasi masih terasa sakit. Dia minta maaf pada suaminya karena belum siap menjalani kewajibannya sebagai istri.
"Kamu yang mancing tadi. Tanggung jawab, udah berdiri nih." omel Alam. Gita tertawa melihat suaminya ngambek.
Gita mencoba berdiri mendekati suaminya, tapi tubuhnya tiba-tiba limbung. Dengan sigap Alam mengangkat Gita ke tempat tidur.
"Sudah dibilang istirahat, bandel!" Omel Alam dengan nada tinggi.
"Maaf." Gita cuma bisa menjawab seperti itu.
__ADS_1
klik
Pagi ini Gita terbangun. Dia sendirian tanpa suaminya, Perutnya masih terasa sedikit perih, tapi di paksakannya untuk bangun. Kakinya mencoba menyentuh lantai, tapi Alam tiba-tiba datang menggendongnya ala bridal style.
"Turun! aku masih bisa berjalan!"
Tapi tetap saja suaminya tak mendengar ucapannya. Gita di bawa ke kamar mandi dan di letakkan di bathup. Dengan telaten alam membasahi tubuh istrinya, di perhatikannya bekas sayatan operasi pada perut Gita.
Tubuhnya terduduk saat melihat luka itu, dipeluknya istrinya. Terdengar Isak tangis dari suara lelaki itu. Gita menoleh seolah mengatakan bahwa dia baik-baik saja.
"Maafkan aku, sayang. Maafkan aku. Aku bukan suami yang bertanggung jawab, seandainya tidak ada kasus ini, mungkin kita masih bisa mendengar detak jantungnya."
Gita tertunduk. Dia juga merasa bersalah. Karena semua terjadi berkat sifat keras kepalanya untuk pergi sendiri.
Alam menyiapkan sarapan untuk Gita, sedangkan dia hanya minum kopi saja. Gita tidak enak karena tidak menyiapkan untuk suaminya. lelaki itu duduk menyuapkan makanan pada istrinya. Layaknya ayah yang sedang menyuapi anaknya.
"Dari semalam aku tidak lihat Mama dan Papa. Kemana mereka?" tanya Gita penasaran.
"Sudah pulang."
"Kok pulang?"
"Ya, kan ini bulan madu kita."
"Bulan madu? Aku ini baru keluar dari rumah sakit, Lo. Kamu sudah mikir bulan madu segala. Pokoknya kita pulang." protes Gita.
Gita berdiri kembali ke kamar. Moodnya tiba-tiba hilang.
Tiba-tiba tubuhnya ada yang menggendong.
"Eh, aku mau diapain lagi sih!"
"Diem! Bawel!"
Alam mengajak Gita duduk di teras dekat villa. Dari teras terlihat hamparan sawah hijau.
"Kamu tahu, waktu Mama mengajak aku kesini semalam, aku melihat pemandangan ini seperti aku melihat kampungku. Udaranya sejuk, apalagi kalau bersama orang tersayang. liburan seperti yang aku impikan, bukan jalan-jalan ke luar negeri."
"Yang..." Gita menoleh ke arah Alam.
"Hmmm..."
"Bagaimana kasusmu?"
"Alhamdulillah aku sudah bebas. Semua saksi tidak ada yang memberatkan aku. Tapi sepertinya Zahra tetap ngotot menganggap aku sebagai Boy."
"Lalu kak Zahra?"
"Dia ditangkap polisi karena dia menculikmu dan pencemaran nama baikku. Biarkan dia menerima karmanya, karena membunuh anakku."
"Dia bahkan bukan hanya menculikku, tapi dia juga menganiaya aku, yang. Dia juga ..." Gita tidak bisa meneruskan ucapan. Ada rasa takut yang menyelimuti pikirkannnya.
"Siapa yang melaporkannya?" alihnya
"Bukannya kamu, ya?"
Gita menggeleng. Dia tidak tahu siapa yang melaporkan Zahra. Yang pasti dia akan sangat berterimakasih pada si pelapor.
__ADS_1
######