
Gita terbangun dari tidurnya. Tubuhnya masih terasa sakit. Matanya melihat disekelilingnya. Dia sendiri tanpa ada yang menemani. Jauh dari keluarga.
Gita menangis, dia rindu pada keluarganya. Dia ingin pulang. Tapi masih ada yang ingin dia selesaikan.
"Assalamualaikum,ma." Gita menelpon mamanya
"Waalaikumsalam, Git. Kamu apa kabar,nak?" Sapa mama.
"Alhamdulillah baik,ma. Bagaimana kabar disana?"
" Kami Alhamdulillah baik. Kapan pulang, nak? Opa menanyai kamu terus."
"Opa apa kabar, ma?"
"Ya, seperti itulah. Tubuhnya belum bisa bergerak. Tapi Opa sudah bisa bicara."
"Alhamdulillah. Aku mau ngomong sama papa, ma."
"Papa lagi istirahat, nak. Dikantor lagi banyak masalah." Ucap Mama.
"Apa yang mau kamu sampaikan pada Papa? Biar Mama yang bantu menyampaikan."
"Tidak jadi, ma." Gita urung menceritakan soal rumah kakeknya yang di jadikan Mushola oleh warga Sukasari.
"Benar tidak ada?" Tanya Mama memastikan ucapan anaknya.
"Iya, ma. Tidak ada." Tegas Gita.
"Ya, udah ini udah hampir dini hari kok kamu belum tidur juga."
"Mama sendiri kenapa belum tidur?" Gita tanya balik.
"Mama kebanyakan tidur, jadi malam ini nggak bisa tidur. Mama ada proyek kue pengantin untuk Rere dan Roki. Tapi mama malas datang. Paling ntar supir Opa yang ngantar."
"Ma."
"Iya, sayang."
"Tolong Mama datang ke nikahannya Rere dan Roki, ya. Sebagai perwakilan Gita. Sebagai ibu Rere juga. Bagaimanapun keluarga Irawan juga teman dekat Papa dan Opa."
"Gita, kamu tidak marah pada mereka."
"Kenapa Gita harus marah,ma? Gita sadar Roki bukan untuk Gita. Gita sudah ikhlas."
"Bagaimana hubungan kamu dan Ronal?"
"Ronal? Mama dengar dari mana?"
"Dari Ine. Benarkah itu kalo anak mama sudah di lamar Ronal?"
Gita tertawa "itu cuma guyonan kak Ronal, karena Ine terlalu kepo."
"Jadi bukan, ya?" Terdengar suara mama seperti kecewa.
Gita mendengar nada bicara Mama seperti kecewa. Sebenarnya Gita ingin mengiyakan berita ini, tapi Gita merasa bibi tidak menyetujui hubungan mereka. Terlalu cepat untuk menunjukkan diri, Gita takut sakit lagi. Gita berharap Ronal mau memperjuangkan hubungan mereka.
Sementara di rumah Alam. Bibi tidak bisa tidur. Begitu pun dengan Ronal. Ronal ( Alam) masih gelisah dengan Gita. Bibi melihat keponakannya gelisah meminta Ronal sholat malam supaya hatinya tenang. Bibi juga mengingatkan jujur pada Gita soal siapa jati diri Ronal yang sebenarnya.
__ADS_1
Ronal menceritakan soal Irwan yang memintanya untuk melamar putrinya.
"Ya, tergantung kamu, lam. Kamu mau tidak? Bukankah kamu dulu sangat mencintainya."
"Dulu,Bi. Bukan sekarang. Sekarang aku mencintai..."
"Stop, lam. Kamu lupa apa yang dilakukan gadis itu? Kamu lupa kalo dia juga penyebab kekacauan hidup kita." Suara bibi meninggi.
"Bi!" Ronal memelas.
Bibi beranjak dari tempat duduknya. Matanya menerawang ke atas langit. Kalau saja Alam tidak terjebak dengan Gita, mungkin keluarga mereka masih lengkap. Mungkin Alam sudah memberikannya seorang cucu.
Dia tidak dendam pada Gita, tapi melihat masalah kemarin, bukan tidak mungkin keluarganya akan mendapat masalah baru lagi.
"Sudahlah, ini sudah mau pagi. Istirahatlah. Besok kita akan menemui Pamanmu."
...-----------...
Pagi ini, Gita di perbolehkan pulang. Tapi tidak ada yang menjemputnya. Gita enggan meminta tolong kepada Ronal.
"Apakah keluarga mbak sudah ada menjemput?" Tanya salah seorang perawat disana.
"Mungkin bentar lagi mbak." Jawab Gita.
"Sus?" Panggil Gita
"Iya, mbak." Suster menoleh.
"Bolehkah saya menginap disini semalam lagi. Saya belum kuat bangun." Pinta Gita merasa badannya masih lemas
"Boleh mbak. Nanti saya bicarakan ke dokter."
Gita menelpon salah seorang kerabatnya di Sarolangun. Mereka kaget mendengar Gita kembali ke Sukasari. Sore ini mereka akan menjemput Gita untuk pulang ke Sarolangun.
"Kak, Imel tolong pesankan tiket pulang ke Jakarta besok dong." Telpon Gita kepada sepupunya, Imel.
"Aduh, Gita. Keadaan kamu kayak gini nggak usah pulang dulu." Ucap Imel.
"Kamu istirahat dulu di rumah eyang Amay. Nanti kami jemput kesana." Sambung Imel.
"Besok aja, kak. Aku masih mau istirahat." Kata Gita.
"Istirahat di rumah eyang saja. Pokoknya nanti aku jemput sama mas Indra."
Mas Indra adalah suami kak Imel. Saat Gita masih kuliah, Imel menikah dengan mas Indra pacarnya sejak SMA. Imel yang masih kuliah terpaksa berhenti, karena satu bulan setelah menikah dia sudah hamil.
Eyang Amay adalah adik dari kakek Taufik. Sejak mereka di usir dari Sukasari, Gita dan keluarganya tinggal di rumah eyang. Gita dan Imel cuma selisih satu tahun usianya, tapi sekolah mereka serempak. Gita Pindah ke sekolah Imel yang nggak jauh dari rumah mereka. Rumah eyang Amay sangat besar. Konon, kata Papa rumah itu sengaja di buat kakek Taufik agar semua saudara, anak dan cucu cicit mereka bisa berkumpul.
Jam sudah menunjukkan pukul 15:00, tidak ada nampak satupun yang datang melihatnya. Baik ibu, Siti, Edwar, ataupun Ronal.
Tampak seorang wanita berhijab muncul di hadapannya.
"Kak Imel!" Seru Gita melihat perubahan sepupunya.
"Ya, Allah Gita kamu pangling sekarang." Seru Imel sambil cipika cupiki pada Gita.
"Aku juga pangling lihat kakak. Cantik pake hijab." Jawab Gita ikut takjub.
__ADS_1
"Kamu juga harus pakai, belajar sedikit sedikit."
"Insyaallah,kak."
Mereka berangkat pulang ke Sarolangun. Gita menghubungi Siti ataupun Edwar, tapi tak ada yang mengangkat.
Gita meninggalkan pesan untuk mereka untuk pamit pulang ke Sarolangun.
Tak lama setelah Gita berangkat. Ronal ( Alam) sampai di puskesmas mendapati Gita sudah pulang di jemput keluarganya.
"Dasar nggak sopan. Sudah di tampung, pulang nggak pamit sama keluarga Siti.
Itu perempuan yang mau kamu jadikan istri." Omel bibi saat Alam menceritakan kalau Gita di jemput keluarganya.
"Masih di Sarolangun, bi. Kan dekat dari sini." Jelas Alam.
"Apapun itu. Nggak etis kalo nggak pulang kesini dulu. Sudah jangan kau bela terus." Omel bibi.
Alam menanyai Siti terkait alamat tempat tinggal Gita di Sarolangun. Siti bilang dia tidak tahu dan belum pernah kesana. Edwar yang mendengar Siti berbohong, mengingatkan adiknya akan jasa keluarga Gita padanya.
Edwar ingat waktu tamat SMA Siti pernah bekerja di Sarolangun, walaupun dalam hitungan bulan tapi Siti di tampung keluarga Gita.
Siti membuka pesan dikirim Gita lalu menghapusnya. Edwar menanyakan apa Gita ada menghubungi Siti ataupun SMS, bilang tidak ada.
"Apa gara-gara tawaran bibi kamu jadi begini?" Tanya Edwar.
Bibi sempat menawarkan ibu untuk menjodohkan Alam dan Siti. Alam tentu menolak.
Sesampainya di rumah eyang Amay. Gita berisitirahat. Tadinya Gita ingin mengabari Ronal kalo dirinya ada di Sarolangun. Tapi di urungkan mengingat sejak dia di rawat Ronal belum ada datang menjenguknya. Seakan merasa di jauhi, Gita ingin menenangkan diri dulu.
Ronal merenung di keheningan malam, dia mengkaitkan apa yang dibilang bibi. Banyak yang terjadi sejak dia pulang ke Sukasari. Termasuk saat Irwan memintanya untuk menikahi putrinya.
"Lagi apa,kak?" Suara Siti mengagetkan lamunan Alam.
"Lagi menikmati udara malam." Jawab Alam tanpa memandang Siti.
"Mikirin Gita, ya?" Tanya Siti
"Bisa iya, bisa tidak." Masih tanpa menatap Siti
"Kak, coba lihat kalo orang lagi ngomong." Siti memegang kepala Alam membalikkan wajah kearahnya.
Tak lama Siti melepaskannya, entah kenapa dia merasa tak kuat menatap wajah Alam. Siti bangun dari tempat duduknya, lalu pamit pada Alam karena sudah mengantuk. Tapi di kamar Siti tidak bisa tidur, dia terbayang wajah Alam.
"Gita beruntung. Di kelilingi laki laki seperti Roki, Alam dan bang Ed." Ucapnya dalam hati.
Siti mencoba menghubungi Gita, tapi di urungkan. Di paksakan matanya untuk tidur. Tapi jantungnya kembali berdetak kencang. Siti membanting bantal, membuat ibu terbangun.
"Aku capek terus mengalah." Teriaknya.
"Kamu kenapa, ti?" Ibu bangun mendengar suara lantang Siti.
"Nggak papa, Bu. Siti cuma lepaskan yang mengganjal saja."jawab Siti setelah mengucapkan astaghfirullah.
"Baca doa sebelum tidur, nak." Tegur ibu.
Sementara di teras, Alam menatap bulan yang bersinar terang.
__ADS_1
Gita yang sedang di kamar atas pun juga sedang menatap bulan.