
Alam masuk ke mobil bersama pak sopir. Mereka akan berangkat menuju bandara. Sepanjang perjalanan mereka berbincang seputar kehidupan sehari-hari. Pak sopir sesekali menggoda alam soal Gita.
"Bapak tahu, pertama aku jatuh cinta sama Gita. Saat kami akan di jodohkan dan dia nolak. Bayangkan pak seumur-umur aku belum pernah di tolak cewek Lo. Awalnya aku penasaran sih, ujung-ujungnya aku tahu dia mencoba setia sama pacarnya. Langka pak cari cewek kayak dia."
"Terus kalian jadian langsung?"
"Nggak sih pak. Aku nembak dia bukan minta jadi pacar. Tapi ngajak dia nikah. Ada permasalahan yang rumit yang membuat kami berpisah. Tapi entah kenapa ada aja yang bisa mempertemukan kami."
"Jodoh, itu namanya mas Alam."
"Amin." Alam tersenyum mengingat Gita.
"Bapak kalau ngantuk kita berhenti dulu." celetuk Alam melihat pak sopir seperti kelelahan.
"Nggak papa mas Alam."
Di sebuah cafe, boy akan berangkat ke bandara, dengan kondisi mabuk boy melajukan motornya dengan kencang.
Di arah yang sama mobil Alam pun melintas. Alam yang tertidur di mobil terkejut saat pak sopir mencoba mengelak motor boy. mobil mereka terbanting. Alam mencoba menyelamatkan diri dengan membawa motor boy. Tapi naas motor itu terkena ledakan mobil dan ikut terbakar. Di dalam kesakitan Alam cuma bisa memanggil nama Gita.
Maafkan aku, Gita. aku tidak bisa menjagamu.
maafkan aku!
Alam pasrah jika memang ini adalah akhir hidupnya. Alam akhirnya tidak kuat menahan panasnya api menjalar ke tubuhnya.
Boy terbangun dari mimpinya. Dadanya terasa sesak. Dia bangkit dari tempat tidurnya menuju dapur.
"Eh, mas boy. Jam segini udah bangun aja." ucap tono anak ibu kost yang rada gemulai.
"Iya, ton. haus!" boy memegang kerongkongannya.
"Mau aku ambilin mas." tawar Tono
"Boleh."
Sejak datang dari Malaysia, mau tidak mau boy harus mencari tempat tinggal. Dirinya belum berani menunjukkan diri pada keluarganya. Boy mencari momen dan mental kesiapannya bertemu orangtuanya.
Boy meneguk air minum yang di sodorkan Tono. Tono memperhatikan cara boy minum membuat dirinya menelan salivanya. Bukan karena haus, tapi baginya ada pesona tersendiri saat melihat boy.
"Makasih, ya." jawab boy menjentik hidung Tono. Tono keriangan saat mendapat jentikan dari boy.
...----------------...
Pagi ini Gita ikut jalan santai di area Monas. rencananya Ilham ikut, tapi ternyata kata mamanya Ilham belum bangun. Mau nggak mau Gita pergi sendiri.
Jam menunjukkan pukul 10:00 siang, Monas sudah mulai sepi, Gita mencari sarapan di area Gambir. Kakinya mulai kelelahan, karena belum menemukan tempat duduk, Gita menjongkok kakinya sembari membenarkan tali sepatunya.
Tanpa Gita sadari ada sebuah sepeda yang lewat kearahnya. Saat Gita menoleh ada yang mendorong tubuhnya agar kepinggir. mereka terjatuh bersama. Gita seperti mengenal pria itu.
"Kamu lagi?" omelnya.
Si pria tersenyum nakal "Iya."
"Kamu pasti nguntit aku terus, ya. Nggak di pantai, terus di resort, sekarang ..." cerca Gita sembari melototi pria itu.
__ADS_1
"Harusnya kamu berterimakasih sama saya. Kalau bukan karena saya, badanmu yang gentong ini udah jadi aspal." omel pria itu.
"Gentang gentong ... enak aja ... nama gue ..."
"Gita Mandasari si anak kota yang manja, si gentong tukang makan." ledek pria itu.
Gita kaget, yang tahu panggilan itu cuma Alam. "Siapa kamu?"
"Aku adalah boy Aziz. vokalis paling ganteng se Malaysia." jawab boy.
Gita menghela nafas " Nggak nanya." Gita meninggalkan boy sambil menyeret kakinya yang terasa sakit.
Dengan sigap boy menggendong Gita ala bridal style. Gita memukul Boy untuk
meminta turun.
"Ya, udah kalau kuat jalan aku turunin." boy menurunkan Gita dengan pelan. Mereka bertatapan lama. Gita seperti melihat seseorang yang dia kenal, tapi perasaan itu di tepisnya.
Gita tetap berjalan kaki meskipun terasa sakit. Boy jongkok meminta Gita menaiki di punggungnya. Tapi karena gengsi Gita memilih tetap berjalan. Hingga akhirnya Gita tidak kuat menahan kakinya yang sakit. Mau nggak mau Gita naik ke punggung Boy.
Akhirnya Gita sampai di Gambir dan mencari restoran yang buka.
"Jauh-jauh pergi ke Monas, ujung-ujungnya ke KFC juga." ledek boy.
Gita kesal laki-laki itu terus membuntutinya.
Boy risih dengan kupluk yang menutupi rambut Gita. Ide jahilnya keluar, boy menarik kupluk Gita yang membuat dirinya kaget.
Rambut Gita sudah banyak yang gugur. Gita marah "Puas kamu! Puas mempermalukan saya!"
...----------------...
Gita berdiri di makam Alam. air matanya tumpah. Teringat kata-kata Keisya kalau dirinya yang menyebabkan alam meninggal dunia. Gita datang ke makam Alam di temani boy. Boy memandang pilu makam itu.
"Apa kabar, lam?
Oh ya aku sekarang di Indonesia bukan di Malaysia lagi. Kita nggak bisa menatap sore di pantai.
Terimakasih sudah menjadi seseorang yang selalu ada buatku
Terimakasih atas perhatian dan kasih sayang yang selama ini kamu curahkan untukku.
Kamu bukan hanya seperti seorang kekasih, tapi kamu juga menjadi sahabat dan saudara buatku.
Tenang disana, lam."Isak Gita
Boy terdiam mendengar ungkapan perasaan Gita. Ternyata hanya sebatas itu perasaan Gita padanya.
Boy menarik tubuh Gita dan memeluknya. Gita terkejut dengan tindakan boy "Anggap saja aku ini dia."
Tiba-tiba boy mencoba mencium ke bibir Gita. Gita kaget dengan kelancangan boy.
Plaaaaak
Sebuah tamparan mendarat di wajah Boy. Bukan dari tangan Gita, Melainkan dari tangan Ilham "Jangan sentuh calon istri saya."
__ADS_1
Ilham menarik tangan Gita dengan kasar. Gita merasakan kecemburuan Ilham. Tapi Gita kecewa sikap ilham belum berubah. Masih suka emosi tanpa bicara terlebih dahulu.
"Ngapain kamu sama dia?"
"Kakiku sakit ham. Tadi hampir ketabrak sepeda. Untung dia nolongin. Kalau nggak..."
"Kenapa kamu nggak kabari aku? biar aku jemput. Terus kenapa dia peluk peluk kamu terus cium cium segala!"
"Kamu ini kenapa sih? Dari dulu nggak berubah? Kupikir setelah kita putus dulu kamu bisa introspeksi diri. Ternyata..."
Gita kesal keluar dari mobil Ilham. Dengan kaki yang sakit sebelah Gita berjalan.
Ilham melihat kaki Gita, akhirnya menggendong Gita. Lalu membawa kembali ke mobil "Maaf, sayang ..."
Boy melewati mobil Ilham dan Gita yang terparkir tak jauh dari pemakaman. Adegan Ilham memeluk Gita membuat perasaannya sakit. Gita melihat boy lewat lalu memanggilnya "Boy, kamu mau pulang kan? sini bareng kami saja?" ajak Gita.
Ilham kaget dengan ajakan Gita pada Boy. Ilham memberi kode agar tidak memberikan tumpangan pada boy. Tapi bukan Gita namanya yang pantang menyerah.
Dengan kaki yang masih sakit Gita keluar meminta boy untuk masuk ke mobil Ilham.
Boy awalnya menolak ikut, tapi Gita tetap memaksa "Kamu kan sudah nolongin saya, jadi sekarang saya yang bantu kamu." ucap Gita.
Di dalam mobil mereka terdiam. Ilham sibuk dengan ketidaknyamanannya atas kehadiran boy di mobilnya. Gita yang masih sibuk dengan gawainya. Boy yang tidak tahu harus berbuat apa melihat pasangan di depannya.
"Yang, kayaknya ini bagus untuk gaun jenny." ucap Gita memperlihatkan photo gaun kecil untuk jenny anaknya Rere.
"jenny kan belum setahun, sayang." ucap Ilham.
"Aku mau main ke tempat Rere dan kak Roki. Sekalian silaturahmi sama keluarga Spencer. sudah lama sejak Alam meninggal aku belum ada nengokin mereka."
"Bisa nggak kamu nggak usah dekat dengan keluarga itu lagi? Lagian mereka tidak pernah mencoba bersilaturahmi sama kamu, yang."
"Ya, paling tidak..."
"Kamu mau baik sama mereka juga nggak akan bikin Ronal hidup lagi...! Kamu tahu tidak kalau Ronal dan Raisa kerjasama menjebak aku dan kamu saat kejadian di reuni." Ilham mulai meninggi.
"Kata siapa?" Gita kaget mendengar ucapan Ilham.
"Raisa sendiri yang bilang."
"Ehmm... maaf tolong turunkan saya di simpang sana." boy merasa tidak enak melihat drama di depannya.
"Nggak usah disana! Sekarang juga kamu turun!" ucap Ilham.
"Eh, kamu ini gimana ham. Antarkan dia sampai tujuan dong."
"Kita pulang, Gita. ada yang mesti kita bahas!"Ilham masih dengan perasaan kesal.
"Boy, maaf ya."
"Nggak papa, Gita. Aku tahu diri kok." boy keluar dari mobil Ilham.
Gita mendatangi kediaman Spencer. Diiringi tangisan haru dari Mama Marni melihat kedatangan Gita.
"Maafkan, Tante belum bisa menjengukmu, nak. Ada yang harus Tante urusi sehingga membuat Tante lupa kalau kamu butuh dukungan juga."
__ADS_1
Dari cerita Tante Marni, Alam mengalami kecelakaan saat hendak ke Bandara. Itu pun Tante Marni dapatkan dari kotak hitam mobil nya Alam. Gita menunduk sedih, seandainya dulu dia tidak mengirimkan pesan untuk memutuskan Alam, mungkin semua ini tidak akan terjadi.