Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
RhnS 25


__ADS_3

Tiga tahun Kemudian.


Sehun menatap sebuah kuburan jenazah yang baru saja di kuburkan. Air matanya tidak tertahankan saat melihat kuburan tersebut. Di sisi lain, tangisan Bu Fatimah sangat kejar dengan memeluk Bu Khadijah yang juga menangis. Kesedihan terus berlanjut, sementara orang-orang telah berjalan pergi meninggalkan mereka bertiga.


Bu Fatimah melepaskan pelukannya terhadap Bu Khadijah, dia langsung saja terduduk lemas dengan menagisi pemakaman baru itu. Sehun dan Bu Khadijah pun menjadi terkejut, mereka mencoba menenangkan Bu Fatimah.


“Mas, bangun! Aku tau kamu Cuma tidur biasa aja! Bangun!” teriak Bu Fatimah kejar.


“Ibu istigfar!” pinta Sehun yang khawatir dengan air matanya yang kembali mengalir.


“Fatimah, sadar sayang, sadar!” ucap Bu Khadijah yang tidak kalah khawatir.


Sehun dan Bu Khadijah pun hanya bisa merangkul Bu Fatimah dan membawanya pergi menjauhi pemakaman. Bu Fatimah terus memberontak tanpa henti dan itu memunculkan kesedihan pada Sehun dan Bu Khadijah.


****


Sehun menatap seisi rumah, kenangannya bersama Pak Husein, Bu Fatimah dan Bu Khadijah selalu terbayang-bayang. Pikiran Sehun mulai kacau saat mengingat bagaimana Pak Husein mengajarinya Bahasa Indonesia, Bahasa Jawa dan Bahasa Inggris serta mengajarinya mengurus perusahaan. Masa-masa yang menyenangkan itu kini kandas, setiap kenangan itu kini menjadi bagian rasa sakit Sehun.


Tok tok!


“Mas Rehan, malamnya udah siap di bawah.” ucap Bu Khadijah yang ada di luar Kamar dengan lirih. “Mas, Bibi juga ngerasain apa yang dirasain Mas, tapi jauh lebih sedih sama Mas yang ngurung diri kaya gini. Mas, saat ini Fatimah sedang terpuruk, coba Mas Rehan keluar! Kuatin Fatimah.” ucap Bu Khadijah lirih penuh pengharapan. Akhirnya Sehun pun mau membuka pintu.


“Dimana Ibu, Bi? Apa Ibu udah makan?” tanya Sehun lirih dengan menahan kesedihannya.


“Fatimah di Kamar, dari tadi kerjaannya cuma liatin fotonya Husein, makanannya juga terbengkalai. Bibi juga bingung harus nanggepinnya gimana.” jelas Bu Khadijah.


“Bi, aku minta tolong bawain makananya Ibu! Aku akan menemui Ibu sekarang.”


“Iya, cepat sana pergi!” ucap Bu Khadijah dengan terburu-buru karena khawatir, Sehun pun bergegas.


Sehun membuka pintu kamar Bu Fatimah, dan dilihatnya Bu Fatimah yang berpenampilan kacau dengan melihati foto Pak Husein.


“Mas, kamu kapan pulangnya?” tanya Bu Fatimah pada foto Pak Husein, Sehun pun mendekati Bu Fatimah yang terlihat memperihatinkan.


“Ibu.” pangil Sehun, Bu Fatimah pun menoleh, dia tersenyum dan menghampiri Sehun dengan senang.


“Lihatlah Mas! Re-rehan, dia juga pengen kamu cepet pulang.” ucap Bu Fatimah yang terlihat begitu hancur.

__ADS_1


Sehun tidak sanggup melihat Bu Fatimah dalam keadaan seperti ini, air mata Sehun kembali jatuh, dia merangkul Bu Fatimah dengan menatap foto Pak Husein.


“Iya, Bu. Ayah pasti pulang kok.” ucap Sehun lirih, Bu Fatimah terlihat menjadi senang dengan pikiran kacaunya.


Sehun membawa Bu Fatimah duduk di ranjangnya dan tidak lama setelahnya Bu Khadijah masuk dengan membawa makanan untuk Bu Fatimah.


“Berikan makanan ini!” pinta Bu Khadijah, Sehun pun mengangguk.


“Ibu, fotonya biar Rehan simpen ya? Ibu makan dulu!” ucap Sehun setelah menenangkan dirinya, dan saat akan mengambil fotonya, Bu Fatimah menahanya. “Ibu Rehan janji, kalo Ibu udah makan, Ibu bisa pengang fotonya lagi.”


“Ga-gak m-mau, itu Mas Husein.” ucap Bu Fatimah, dan lagi-lagi memunculkan kesedihan pada Sehun dan Bu Khadijah, Bu Khadijah meletakan makanannya di atas meja, dia pun memegangi pundak Bu Fatimah.


“Fatimah, makan dulu! Biar pas Husein dateng, dia seneng ngeliat kamu yang bugar, bukan kaya gini.” nasihat Bu Khadijah.


“Iya, Bu. Ibu gak mau kan kalo sampai Ayah pulang ngeliat Ibu kaya gini? Pasti Ayah bakal bawelin aku. Ayah pasti bakal salahin aku jika Ibu kaya gini, Ibu gak maukan kalo Ayah marahin aku?” ucap Sehun tidak kalah lirih.


“Iya, ya. Nanti kamu dimarahin I-ibukan jadi sedih.” ucap Bu Fatimah kaku dan akhirnya mau melepaskan foto tersebut.


Sehun pun mulai menyuapi Bu Fatimah yang sudah kelewat stres. Bu Fatimah sendiri masih dalam keadaan menangis, dia masih belum menerima jika dia ditinggalkan suaminya.


“Mas Husein.” Ucap Ibu tiba-tiba, Sehun pun memberikan Bu Fatimah foto Pak Husein lagi.


Bu Fatimah mulai tertidur, hari ini begitu melelahkan, apa lagi untuk Bu Fatimah. Menangis memang tidak mengangkat sesuatu yang berat, namun menangis cukup membuat kita kehilangam tenaga. Bu Khadijah dan Sehun pun keluar dari Kamar tersebut.


****


Sehun memasuki kamarnya, kemudian mengunci pintu kamarnya, tidak lama setelahnya Sehun dapat melihat sepiring makanan dan segelas air di mejanya. Sehun menatapnya dengan lirih, dia melewatinya, Sehun menarik selimut kemudian menidurkan dirinya di atas ranjang.


****


Sehun kembali ke Kama Bu Fatimah, terlihat Bu Fatimah yang terduduk di atas ranjang dengan memandangi foto Pak Husein dengan sendu. Sehun pun menghampirinya, dia melihat apa yang dilihat Bu Fatimah.


“Sebelum Ayahmu pergi...” ucap Bu Fatimah lirihp dan sukses membuat Sehun terfokus. “...dia menitipkan amanat kepadaku untukmu. Dia bilang dia telah menjodohkanmu dengan anak dari temannya.”


“Menjodohkanku?” ucap Sehun tidak percaya dengan lirih.


“Dan bisakah kamu wujudin apa yang dia inginkan?” tanya Bu Fatimah menoleh pada Sehun, Sehun terdiam. “Gadis itu udah setuju, tinggal di kamu.”

__ADS_1


Sehun terus menjadi diam, perasaannya begitu campur aduk, dia membisu. “Ibu biarkan aku memikirkannya dulu!” pinta Sehun.


“Masih mikirin gadis yang tidak jelas itu?” tanya Bu Fatimah lirih dengan tidak suka. “Dia lebih berharga dari Ayahmu?”


“Ibu jangan seperti itu!” pinta Sehun yang menjadi khawatir. “Biarkan aku berpikir sejenak, aku tidak ingin memutuskan itu dengan terburu-buru.”


“Ibu tunggu sampai sore ini.”


“Iya, Bu.”


“Jangan kecewakan Ibu dan almarhum Ayah!” pinta Bu Fatimah, Sehun kembali terdiam.


Sehun menepuk bahu Ibu pelan sebelum akhirnya meninggalkan Kamar itu. Bu Fatimah melihati kepergian Sehun dengan sendu.


“Terimalah perjodohan ini! Mas Husein bilang kamu gak akan pernah nyesel.” ucap Bu Fatimah lirih.


****


Sehun duduk bersandar di sebuah Halte BusWay yang selalu dia datangi dengan jenuh. Kali ini Sehun tidak memakai make up yang akan membuatnya terlihat jelek, dia lebih memilih menggenakan topi dan maskernya.


“Udah beberapa minggu ini aku gak liat dia ke sini lagi.” ucap Sehun dengan menarik nafas panjang beratnya.


****


Sehun kembali ke rumah dan baru saja dia mengucap salam...


Pletang!!


Suara benda jatuh mengejutkan, Sehun langsung berlari menuju sumber suara. Dilihatnya Bu Fatimah yang menjadi menggila dan Bu Khodijah mencoba menenangkannya.


“Ibu!!” teriak Sehun yang sangat khwatir dengan menghampiri Bu Fatimah. “Bi, Ibu kenapa lagi?” tanya Sehun penuh kecemasan, dengan menangis Bu Khodijah menggeleng kepalanya.


“Rehan bagaimana dengan permintaan Ibu?” tanya Ibu lirih, Sehun pun mengangguk dengan sendu.


“Aku bersedia, tapi keadaan Ibu jangan gini! Rehan gak mau liat Ibu gini.” ucap Sehun yang awalnya lirih menjadi menangis.


Mendengar balasan Sehun, Bu Fatimah kembali menenang, meskipun begitu, kondisi Sehun sendiri menjadi tidak membaik, perasaannya menjadi campur aduk sekarang.

__ADS_1


__ADS_2