Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
70. S2: Pantai di pagi ini


__ADS_3

...Alhamdulillah sudah sampai season 2. Semoga terhibur dengan cerita ini. Ya, walaupun temanya sad romance....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...Terkadang cinta itu layaknya sebuah kembang api, cepat meledak namun hilang tiba-tiba....


..."Gita"...


...----------------...



Pagi ini Gita joging ke pantai, aksesnya sangat dekat. Gita tinggal turun ke apartemen dan langsung bermain di sana. Dia langsung meregangkan tubuhnya. Tadinya ingin mengajak Alam. Tapi sepertinya laki-laki itu masih mendengkur di bawah selimut.


"Dulu aja aku dibilang tidur kebo! Sekarang siapa yang kebo, jam segini belum bangun juga." omelnya.


Kamar Ronal bersebelahan dengan kamar Gita. Terdengar jelas suara dengkuran laki-laki itu.


"Gimana ntar nikah ya? Susah tidur nih dengar dengkuran mirip suara kingkong ngamuk." Gita geli membayang nanti kalau sudah menikah dengan Ronal.


Flashback


Keluarga Spencer dan keluarga Abdullah sudah membicarakan soal pernikahan mereka. Mama Yulia minta mereka tunangan saja dulu, kalau urusan Gita di Malaka sudah selesai baru pikirkan soal pernikahan. Beda lagi dengan mama Marni, dia ingin alam dan Gita menikah secepatnya supaya ada yang mendampingi Gita selama berobat.


Alam menarik Gita keluar rumah. Mereka pusing para mama yang tidak mau mengalah. Duduk di pantai sambil merangkul tubuh Gita yang lumayan mulai berisi.


"Kamu kok gemuk ya sekarang?"


"Terus kalau aku gemuk kenapa? Nggak suka! ya, udah aku cari cowok lain aja, yang nerima aku sebagai tukang makan."


"Ngambek!" Alam tertawa melihat Gita manyun.


"Kalau manyun lagi aku kasih hadiah, mau?" Alam mencubit bibir Gita.


"Apa hadiahnya? Kalung! cincin! atau ..."


Alam mencoba mendekatkan wajahnya ke wajah Gita, tapi ditepis gadis itu. "Belum muhrim."


"Secepatnya kita jadi muhrim beneran." Alam memeluk Gita dari belakang.


"Jangan kebanyakan janji!Dulu juga kamu bilang gitu." Gita melepaskan pelukan alam.


"Dulu? Kapan ya?" Alam menggaruk kepalanya.


Alam menjongkok badannya. Meminta Gita naik ke punggungnya. Gita naik ke punggung Alam, dan berjalan menyusuri pantai.


"Terimakasih, sayang. Kamu mau menerima aku lagi. Aku janji tidak akan membuat kamu menangis lagi." ucapnya sambil menelusuri ombak di malam hari.


Alam merasa Gita tidak merespon dirinya. Dilihatnya gadis itu sudah tertidur.


"Dasar kebo!" ucapnya sambil merubah gendongan ala bridal style.


Flashback end


Aku tidak tahu kenapa bisa menerima cintanya lagi. Yang aku tahu, saat ini rasa nyaman itu datang dengan sendirinya. Mungkin benar kata Siti, dulu aku bukan masih cinta pada ilham, tapi aku masih di bayangi oleh perasaan aku dan Alam.


"Kakak cantik, ini bunga buat kakak." seorang anak kecil memberikan bunga pada Gita saat jalan pagi menyusuri pantai.


"Terimakasih." Gita mengambil bunga dan mencubit pipi anak itu.


Harumnya aroma bunga, membuat Gita tersenyum.


"Nona cantik, mau naik kuda nggak." seorang laki-laki tua menawarkan kuda.


Gita kaget, sejak kapan disini ada kuda. Tapi akhirnya Gita tetap menaiki kuda. Lalu diarak keliling pantai. Wajah Gita tersenyum, melihat sebuah spanduk di pinggir pantai


I LOVE YOU ...


Seorang anak kecil membawa spanduk kecil. Gita menggaruk kepalanya. Sepertinya dia paham ini kerjaan siapa. Gita kembali di buat kaget dengan deretan penjual bunga dan coklat.


"Huh! Alam, nggak usah ngumpet deh! Keluar!" teriaknya.


Muncul seorang laki-laki yang seperti Gita kenal. "Dokter vino?"



Vino jongkok memberikan Gita sebuket bunga. Gita bingung harus bilang apa. Dia kaget, ternyata dokter vino melakukan hal romantis padanya.


Gita mencoba turun dari kuda. Tapi dokter vino malah menaiki di belakang Gita. Ada rasa tidak enak yang Gita rasakan.

__ADS_1


"Ngapain tuh cowok pegang-pegang Gita." omel Alam saat melihat adegan kuda vino Gita dari atas balkon.


Alam langsung turun untuk mencegat Gita dan vino. Gita melihat Alam sudah di bawah dengan melipat tangannya.


"Ooooh, ini yang membuat kamu semangat jalan pagi."


"Apaan sih?"


"Itu ngapain? Romantisan di pantai."


"Salah sendiri yang tidurnya kayak kebo, siapa?" Gita masuk ke dalam. Meninggalkan Alam yang masih kesal karena Gita pulang dengan laki-laki lain.


zreeet zreeeeet zreeeeet


Alam mengecek hp nya, ada nomor tak dikenal menelpon, sepertinya dari Indonesia.


"Halo assalamualaikum?" sapa alam pada pemilik nomor.


"Ini saya Raisa." jawab si penelepon.


"Raisa? raisa mana? Istrinya Ilham?"


"Iya, ini gue." jawabnya terdengar ketus.


"Mau apa kamu menelpon?" Alam pun membalas telepon dengan ketus.


"Mau nanya soal Gita? gimana kabarnya?"


"Kenapa kamu nanyain tunangan saya. Mau lapor sama suamimu, Iya. Bilang sama dia Gita sudah meninggal. Dan jangan ganggu Gita lagi." Alam menutup telepon Raisa.


"Siapa yang menelpon?" suara Gita dari belakang.


"Orang sinting yang menelpon." alam pergi dari hadapan Gita.


"Orang sinting? masa ngomong sama orang sinting bilang aku sudah meninggal."batinnya.


Tak lama sebuah pesan masuk.


"Kamu jangan lupakan sesuatu. Kamu juga terlibat dalam kasus Ilham dan Gita."


Alam mengabaikan pesan Raisa dan menghapusnya. Lalu membelikan sarapan untuk Gita dan keluarganya. Gita terbayang tingkah dokter vino yang sangat mengejutkan. Bagaimana besok kalau dirinya bertemu dokter vino? Sedangkan dirinya sudah terlanjur menerima pinangan Alam.


"Kak itu tadi siapa? kenapa kakak bilang aku sudah meninggal?"


"Kenapa sepertinya kamu penasaran dengan telepon tadi?"


"Ya, habis kakak bilang kalau aku sudah meninggal."


"Kamu siap-siap nanti malam kita dinner. Besok aku akan pulang ke Jakarta." alam mengalihkan pembicaraan.


"Berdua?"


"Rame rame, iyalah berdua?"


Gita membuka lemari bajunya. Tidak ada gaun istimewa. Hanya dress yang terakhir di


pakai saat makan malam dengan dokter vino.


Gita segera menghidupkan air untuk berendam. Dia butuh ketenangan setelah yang terjadi seharian ini.


Selesai mandi Gita melihat sebuah gaun cantik di tempat tidur.


"Ini transfaran banget! Masa iya aku makan malam pake gaun begini." Gita sedikit risih dengan gaun yang di siapkan Alam.


tok tok tok


"Sudah siap belum." suara Alam dari luar kamar.


Gita keluar dengan baju yang disiapkan Alam. Tubuh memperlihatkan lekukan indah.


Gita ingat kata Ilham "Perempuan yang suka dengan pakaian sexy adalah perempuan yang suka memancing nafsu lelaki."


Sejak saat itu Gita jarang menggunakan gaun ketat.


"Kan cantik. yuk." Alam memasang tangannya untuk di gandeng Gita.


"Aku ... tidak nyaman." Gita merasa risih dengan bajunya.


Alam menggendong Gita ala bridal style. Gita protes minta turun, tapi tidak di dengarkan.

__ADS_1


"Alam! turuuun" Gita memberontak


"Nggak! ntar kamu kabur!"


Alam memasukkan Gita ke dalam mobil. Lalu memasang sabuk pengaman. Sepanjang perjalanan Alam menghidupkan lagu romantis yang berjudul please be carefull with my heart.


Gita minta dimatikan lagu itu. Lagu yang mengingatkan saat Ilham melamarnya.


"Kenapa? Lagunya romantis banget." Alam heran Gita protes minta matikan lagu tersebut.


"Lagunya Jelek." jawab Gita ketus.


Alam semakin menyanyi lagu tersebut.


"ALAM AKU BILANG MATIKAN!" Teriak Gita.


Alam melihat mata Gita sudah sembab. Gita keluar dari mobil. Alam mengejar Gita, dia bingung kenapa Gita semarah itu.


"Aku mau pulang!"


"Gita!"


"Kalau aku bilang pulang ya pulang!" Gita semakin murka.


Acara dinner jadi gagal. Mau tidak mau alam harus mengalah.


Sampai dirumah Gita masuk ke kamar. Suara pintu terdengar keras, menandakan ada kemarahan dalam diri Gita. Mama yang mendengar suara pintu kamar Gita, bertanya pada Alam.


"Ada apa? Kalian tidak jadi dinner?"


"Nggak jadi Tante. Tiba-tiba Gita marah-marah saat mendengar lagu di radio tadi." ucap alam masih bingung dengan sikap Gita.


Mama menghela nafas. Dia ingat Gita dulu juga seperti ini saat masih sama Ilham. Mama yakin ada sesuatu yang buat Gita teringat akan Ilham. Mama yang melihatnya saja merasa capek karena Gita hidup berputar dengan kenangan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi ini pukul 08:00, Alam sudah bersiap-siap ke bandara Kuala lumpur, sebenarnya tiketnya malam, tapi karena jarak tempuh Kuala lumpur dan Melaka sangat jauh jadi harus lebih awal berangkatnya.


Gita keluar dari kamar dengan memakai kemeja polos dan celana jeans.


"Udah siap, sayang." tanya Alam


"Udah. Yuk! Itu sudah ada supir menunggu di bawah." Jawab Gita melengos tanpa menatap Alam.


Gita pamit sama mama Yulia untuk mengantar Alam ke bandara. Sepanjang perjalanan, mereka terdiam, terhanyut dengan pikiran masing-masing.


Alam mendekatkan diri ke samping Gita. Lalu menidurkan kepala Gita ke bahunya. Tangannya menggenggam erat seakan tidak mau lepas. Alam seperti menyadari Gita masih mendiamkannya.


"Sayang?" bisik alam ke telinga Gita.


"Hmmmm.." Gita asyik dengan gadgetnya.


"I love you." bisik Alam


"love you to." suara Gita ikut berbisik.


"Gitu dong. Capek tau di cuekin dari tadi. Masa aku mau berangkat malah diam diaman kayak gini." keluhnya melihat Gita masih cuek.


Gita menyungging senyum, lalu kembali sok cuek. Alam masih melihat Gita sok cuek. " Halo nyonya Ronal wassalam Spencer."


Gita menguap dan tertidur. Alam kembali menghela nafas, dia pikir ada adegan romantis, tapi nyatanya malah di cuekin.


"Eh, ini anak, Perjalanan kita masih jauh!" Omel Alam.


"Justru karena masih jauh aku mau tidur dulu. Kalo udah sampai bangunin ya sayang." Gita mengelus pipi Alam dan langsung tidur di pangkuan Alam.


Alam menatap lama wajah Gita yang sudah tertidur di pangkuannya. Sesekali mengusap rambut Gita yang sekarang lebih pendek sebahu. Bibir nya mendekati bibir Gita, tapi di urungkannya, Alam lebih memilih mengecup kening Gita daripada menciumnya.


"Jangan bikin saya tidak fokus menyetir, pak." celetuk pak sopir.


Alam nyengir mendengar celetukan dari pak sopir, lalu fokus menatap jalan, lalu berpindah tempat duduk ke samping sopir. Sesekali mengobrol dengan sopir yang ternyata orang Sumedang. Matanya melirik Gita yang masih tertidur.


"Bapak sayang banget ya sama mbak Gita." tanya pak sopir.


"Banget, pak. Tapi jangan panggil saya bapak. Saya belum bapak-bapak, panggil saja nama saya Alam."


"Iya, nak Alam. Saya lihat kalian ingat masa muda dulu."


Alam tersenyum mendengar cerita pak sopir. Tak lama Alam pun tertidur.

__ADS_1


__ADS_2