
Mbak Ela mengabari kondisi Gita pada orangtua Gita. Papa yang mendengar hal itu semakin mantap meminta Mama membawa Gita pulang ke Jakarta. Mama merasa bersalah karena sudah meninggalkan Gita hanya dengan asisten.
"Mama lihat sekarang. Kalau saja mama nggak ninggalin Gita, mungkin kejadiannya tidak akan begini. Malam ini kita berangkat ke Malaysia, kita jemput Gita. Biar dia di rawat di rumah sakit di Jakarta saja." ucap papa mulai emosi.
Mama cuma bisa menunduk. Terdengar sesenggukan dari hidung mama Yulia. Papa merasa tidak enak, tapi papa masih kesal dengan keegoisan mama.
"Maafin papa, ma. bukan maksud Papa untuk bikin Mama menangis. Tapi saat ini Gita lah yang menjadi prioritas utama kita. kita semua ingin yang terbaik untuk Gita. Papa juga ingin selalu memantau perkembangan kondisi Gita. Tapi papa bisa apa? papa cuma bisa mendoakan dari jauh. Jalan terbaik, Gita kita bawa pulang saja. Papa akan banting tulang untuk pengobatan Gita. Kita tidak bisa mengandalkan keluarga Spencer lagi, karena Ronal sudah tiada."
"Pa, jasad Alam saja sampai sekarang belum di temukan. Kenapa sudah memvonis kalau dia sudah meninggal?"
"Mama lihat kan kalau mobilnya habis terbakar tidak bersisa. Itu tandanya, jasadnya sudah jadi debu." jelas Papa.
"Kasihan anak kita, pa. Dia gagal lagi menikah. Kenapa nasib Gita seperti ini ya, pa." Mama Yulia mulai menangis kencang.
"Mama yang sabar. Gita itu masih muda, perjalanannya panjang. Jangan di patahkan semangatnya. Dia mau berjuang untuk sembuh saja sudah bagus." Papa memeluk Mama Yulia dan membawanya ke kamar.
"Besok kita berangkat ke Malaysia. Sekarang kita beres-beres dulu." papa mengajak mama kembali ke kamar.
"Loh, katanya malam ini?" Mama bingung papa berubah pikiran lagi.
"Percuma kalau malam ini,ma. kita aja belum siap."
Mama beristirahat, tapi entah kenapa matanya tidak bisa terpejam. Dia teringat putrinya yang berjuang melawan penyakit hanya di temani suster. Ada rasa bersalah yang terus menyelimuti pikirannya. Mama bangun untuk sholat malam, dan berdoa semoga putrinya di beri keselamatan.
"Mbak jenazahnya sudah sampai! besok pemakamannya" chat dari Mama Marni
Mama Yulia semakin yakin kalau alam benar-benar sudah tiada. Ia tidak menyangka kalau akhir hidup Alam menjadi tragis. Mama takut kalau Gita bangun nanyain Alam, sama saat Gita koma dulu.
"Pa." Mama duduk karena tidak bisa tidur. Matanya melirik suaminya yang juga tidak bisa tidur.
"Iya, ma." Papa ikut duduk untuk mendengarkan apa yang akan di ceritakan istrinya.
"Barusan, jeng Marni SMS mengabari kalau jenazah Ronal sudah sampai di rumah sakit Jakarta. Mama takut Gita drop lagi seperti dulu. Mama takut ..."
Papa menutup bibir Mama dengan jari telunjuknya.
"Makanya suruh orang-orang di sana tutup mulut. Kita harus sebisa mungkin menutup rapat rahasia ini."
"Ini salahku, pa? kalau dulu Mama tidak memisahkan mereka mungkin mereka sudah memberi mama cucu."
"Ini bukan salah Mama. Pada kenyataannya memang Ronal sudah menyakiti perasaan Gita. Kita sebagai orang tua kan memang harus melindungi anaknya. Tapi kalau papa lihat Ronal anaknya pantang menyerah. Toh, buktinya Gita luluh juga kan. Sudah kita istirahat. Besok sehabis melayat kita langsung berangkat."
Paginya, mama Yulia dan Papa Dul berangkat ke kediaman Spencer untuk menengok jenazah Ronal. Entah kenapa feeling papa Dul mengatakan kalau itu bukan Ronal. Hanya saja, papa memilih diam. Takut pemikirannya nanti membuat orang-orang disana tambah kalut.
__ADS_1
"Ma, kok kalau papa lihat mayatnya kayak bukan Ronal ya. Ronal kan tinggi sedangkan sedangkan mayatnya agak pendek."
"Kok papa bilang begitu. Kan namanya udah terbakar mana bisa kita menilai dari fisik awalnya." sahut Mama.
Zreeeeet zreeeeet zreeeeet
Mama mengangkat telepon dari mbak Ela mengabarkan kalau Gita sudah sadar. Mama senang bukan main. "Pa, Gita sudah sadar."
"Alhamdulillah, terimakasih ya Allah." papa menadahkan tangan untuk mengucapkan rasa syukur.
Papa menelpon seseorang " Halo, dok. jadi bisa kan anak saya di tangani dokter. Oke terimakasih, dok."
"Papa menelpon siapa?"
"Dokter Sasono, ma. Dia kan dulu awalnya menangani Gita."
"Papa ini gimana sih? Gita pasti nanti ketemu Ilham lagi. Nggak mama nggak setuju!"
"Sekarang bukan masalah Gita bakal ketemu siapa. Tapi sekarang cuma dokter Sasono yang bagus penanganannya. Udah mama jangan banyak protes!"
Satu Minggu kemudian.
Di rumah sakit yang sama
Seorang laki-laki duduk di kursi roda, dengan perban menutupi seluruh tubuhnya. Seorang suster menuntun pria itu berjalan-jalan di sekitar rumah sakit.
"Tuan boy ingin berjalan-jalan saja, makcik. mungkin dia bosan hanya di tempat tidur." Ucap suster.
Sudah kubilang aku bukan Boy! Kenapa wanita ini ngotot sekali menyebut aku boy! Apa yang terjadi! Kenapa wajahku seperti ini!
"Kapan perbannya di buka, sus?" Tanya wanita itu.
"Luka bakarnya belum kering. Apakah harus operasi plastik?" tanya suster
"Kalau itu lebih baik, tak masalah! Berapapun biayanya akan aku tanggung! Asal anakku sembuh sediakala!"
Wajahku akan di rubah! Oh, tidak! Aku harus menemuinya! Harus!
Laki-laki itu menatap kaca di kamar tempat dia di rawat. Ia memegang wajahnya yang masih di tutupi perban yang menyerupai mummy. Dia mencoba mengeluarkan suara tapi tidak bisa.
Saat Gita melintas di ruang inapnya, laki-laki itu mencoba bangkit dan mengejar gadis itu! Ya, Gita hari ini pamit pada dokter vino karena akan pulang ke Indonesia. Gita berjalan di tuntun Mbak Ela, sementara kedua orangtuanya sedang bersiap-siap untuk membereskan barang di apartemen.
Di luar rumah sakit, Gita sudah di tunggu oleh Jo. Sejak Gita sadar, mereka menjadi akrab. Jo sering menemani Gita di rumah sakit. Hanya saja Gita masih menganggapnya sebagai teman biasa.
__ADS_1
"Boy, kamu sedang apa di luar! Ayo masuk!" tuntun wanita itu membawa pria itu kembali ke kamar.
Tapi tetap saja Boy berlari mengejar Gita. Kakinya sebenarnya belum kuat untuk berdiri. Hingga tubuhnya menabrak tempat sampah. Lalu di papah sama wanita yang mengaku sebagai ibunya.Matanya boy menatap sendu dari jauh.
Siapa boy sebenarnya!
Kenapa dia begitu ingin menemui Gita!
Gita akhirnya pulang ke Indonesia. Bersama kedua orang tuanya dan mbak Ela, susternya. Di rumah Gita, sahabat-sahabatnya mengadakan penyambutan kepulangan Gita. Rere, Beta dan Siti sibuk menghiasi kamar Gita, tanpa mereka ketahui ilham datang ke acara tersebut ikut membantu.
"Sayang, banget kak Alam sudah tidak ada." ucap Siti duduk di kursi sofa kamar Gita.
Semua yang di kamar Gita ikut bersedih saat Siti mengingatkan tentang kepergian Ronal. Rere mengungkapkan kalau dia masih belum yakin kalau itu jenazah Ronal. Di lihat dari postur tubuhnya sudah jauh tidak mirip. Tapi keluarga yakin itu efek tubuh Ronal yang terbakar.
Yang di tunggu sampai. Mereka menyambut dengan suka cita kedatangan Gita. Para sahabat kaget melihat Gita tidak bisa melihat. Ada sosok baru yang membuat mereka fokus, yaitu sosok Jonathan yang ikut pulang bersama Gita.
Ilham yang melihat mantan kakak iparnya ikut mendampingi Gita memilih bersembunyi. Dia senang kalau Gita masih hidup. Air matanya ikut menetes, tapi dia tak berani menampakkan diri.
Siti melihat kehadiran Ilham di tengah para tamu mencoba menghampiri, tapi mama Yulia meminta Siti untuk membantu bi Endah.
"Gita, aku boleh minta sesuatu?" tanya Jo saat duduk di teras rumah.
"Apa itu, Om?"
"Jangan panggil aku om lagi dong. kamu mau kan ku ajak ketemu orang tuaku."
"Aku? Buat apa?" Gita heran tiba-tiba Jo mengajak ke rumahnya.
"Buat di kenalinlah!"
"Loh, kita kan cuma teman biasa. Kenapa om mau ngajak aku? Kenapa om nggak ngajak pacar om yang katanya imut itu?"
"Aku ngajak kamu sebagai temanku, bukan sebagai pacar, Ge-er!" seloroh Jo sambil tertawa.
"Maaf aku tidak bisa!" tolak Gita.
"Kenapa!"
"Pokoknya aku tidak bisa!" Jawab Gita berdiri masuk kedalam rumah.
Walaupun dia buta, dia masih hapal jumlah tangga teras rumahnya. Dia masih hapal dimana pintu rumahnya. Hanya saja kamar Gita pindah ke bawah. Kamar almarhum Opa di jadikan kamar Gita sekarang.
Oh, ya lupa kasih tahu kalau opa meninggal dunia sebelum Gita berangkat ke Malaysia.
__ADS_1
"Jangan bilang kamu masih menunggu tunangan kamu yang sudah tidak ada kabar." sahut Jonathan.
Gita terhenyak, dia baru menyadari kalau Alam sudah lama tak ada kabarnya. Tapi Gita tetap menepis, toh dia sendiri yang memutuskan melupakan Alam, melupakan rencana pernikahan mereka.