
Alam membawa Gita ke rumah sakit Kuala lumpur. Tadinya dia berniat membawa Gita kembali ke Malaka. Tapi karena suhu badan Gita yang tidak memungkinkan untuk pulang ke sana. Alam mengabari mama Yulia untuk menyusul ke rumah sakit Kuala lumpur. Pak sopir di perintahkan untuk menjemput mama Yulia.
Alam bolak balik di depan ruang ICU. Satu jam lebih dokter belum juga keluar. Pikirannya kacau. Bahkan telepon Mama Marni diabaikannya. Baginya yang terpenting adalah Gita. Apapun akan dia lakukan demi Gita. Lampu ruangan pun di matikan tanda pemeriksaan sudah selesai.
"Keluarga Mrs. Gita." Suara petugas rumah sakit.
Alam yang mendengar nama Gita di panggil langsung berdiri.
"Saya pak. Saya suaminya!" Alam mengaku suami agar dokter lebih mudah menjelaskan padanya tentang kondisi Gita.
"Bisa bicara sebentar." Dokter mengajak Alam berbicara di salah satu sudut ruangan rumah sakit.
"Apa yang terjadi pada istri saya, dok?"
"Nyonya Gita, apakah dia ada penyakit serius di tubuhnya." tanya dokter.
"Dokter tolong jelaskan yang sebenarnya. apapun pengobatannya akan saya tempuh dok." mohon Alam.
"Hmmm... Nyonya Gita mengalami pergeseran pada kornea matanya. Sel kanker dari matanya sekarang merambat ke otak. Kalau bisa jangan buat dia banyak pikiran. Karena kalau dia stress akan berpengaruh ke otaknya dan merasa kesakitan. Satu lagi istri anda akan mengalami kebutaan."
Deg! kenapa rasanya sakit mendengarnya. Kenapa yang seperti ini malah menimpa Gita. Kenapa bukan aku saja yang menggantikannya.
zreeeeet zreeeeet zreeeeet
Mama Marni kembali menelpon Alam. Dia minta putranya untuk pulang karena papa Bobby kritis.
"Bu, Gita juga lagi di rawat. Aku belum bisa pulang."
"Lam, kenapa kamu yang urus Gita. Dia punya keluarga kan. Disini cuma menunggu kedatanganmu! Ada yang ingin bertemu denganmu! Jangan durhaka hanya karena seorang wanita, lam! Ibu nggak mau tahu pokok nya kamu pulang!"
"Iiya, Bu. Saya menunggu kedatangan mama Yulia." jawab Alam gugup.
Alam merasa dilema karena tak ingin meninggalkan Gita dalam keadaan seperti ini. Dia ingin menebus perasaan bersalahnya dulu, saat Gita sakit dia tak ada disamping gadis itu. Tapi dia tidak ingin di cap tak tahu berterima kasih karena jasa keluarga Spencer.
"Dok, apa saya sudah bisa melihat istri saya."
"Sebentar lagi istri ada akan dipindahkan ke ruangan VIP"
"Terimakasih, Dok."
Tak lama Gita keluar dari ruang ICU, lalu di bawa ke ruangan VIP. Alam menelpon pak sopir menanyakan sudah sampai dimana. Kata pak sopir dia sudah di Malaka. Mungkin akan lama sampainya karena jarak Kuala lumpur ke Malaka memakan waktu sekitar 2 jam. Alam tertidur di samping Gita. Tangan Gita bergerak. Matanya mulai terbuka, Gelap!
Gita tetap diam. Dia tahu ini pasti akan terjadi pada dirinya. Tangannya meraba, sosok disampingnya. Sepertinya dia mengenalnya.
__ADS_1
"Aaalam." bisiknya lirih
Tapi sepertinya yang di panggil tak menyahut. Gita berpikir alam masih tidur. Memejamkan mata pun percuma, dunia penglihatannya sudah gelap.
"Gita!" Suara mamanya yang datang memeluknya.
Alam terbangun mendengar suara mama Yulia. Dia menyalami calon mertuanya. Kemudian melirik kearah Gita yang sudah bangun.
"Kamu sudah bangun sayang." alam mengecup kening Gita.
"Seperti yang kamu lihat." Gita mencoba tersenyum.
Tangan Gita meraba sesuatu seperti ada yang mau dicarinya. Alam terhenyak, apakah gadisnya benar-benar tidak bisa melihat.
"Tante, aku mau ngomong sebentar." Alam mengajak Mama Yulia keluar dari kamar inap Gita.
"Ada apa?" Mama Yulia yakin ada hal serius yang ingin di bahas. Dia melihat raut wajah Alam seperti mengkerut.
"Gita... Gita buta .. Tante." jawabnya
"Maksudnya?" Mama Yulia bingung.
"Tadi dokter menjelaskan ada pergeseran Kornea mata Gita dan dokter mengatakan jika Gita sadar dia akan buta."
"Ini semua gara-gara kamu! Kalau saja kalian tidak aneh-aneh di sana warga tidak mengamuk dan menyerang Gita. Kalau saja Gita tidak datang ke Sukasari dia tidak akan lumpuh dan buta, dia tidak akan menjalani terapi dan dia tidak akan seperti ini sekarang."
Alam menunduk. "Iya ini salahku. Semua salahku Tante. Kalau dulu saja aku mendengar nasihat Siti dan Edwar mungkin kejadian tidak akan seperti ini. Ini salahku Tante!"
"Kamu tahu kenapa Gita bisa melupakan kamu! Karena mengingatmu adalah hal paling sakit buatnya, Dia tahu kamu mau menikah dengan mantan pacarmu, Tante berusaha menyembuhkan rasa sakitnya dengan terapi otak."
Mata Alam tak berhenti mengeluarkan air matanya.
Flashback
Sore itu Gita duduk sendirian di pinggir pantai. Dari jauh Alam memperhatikan Gita yang merenung. Alam membawa handuk karena pakaian Gita yang seksi serta udara pantai yang mulai dingin.
"Aku pengen ini yang terakhir kamu suka pakaian seperti ini. Aku nggak mau lihat tubuhmu di tatap banyak lelaki."
Huh! kenapa dia sekarang seperti Ilham sih! cerewet!
"Denger, nggak!" omelnya
__ADS_1
"Iya." jawab Gita malas
"Lam, kenapa kamu mau sama aku?"
"Kenapa pertanyaanmu seperti itu?"
"Aku sekarang kotor, kamu pantas mendapatkan gadis yang lebih baik dari.."
Alam menempel bibirnya ke bibir Gita. Tapi Gita hanya diam saja, tidak melepas tapi tidak juga membalas ciuman dari Alam.
"Aku tidak mau mendengar kamu bilang seperti itu lagi! Kamu sudah tahu jawabannya tapi masih bertanya!"
"Tapi...!"
"Sekali lagi kamu mengeluh bukan hanya bibirmu yang ku makan...!"
Gita terkikik mendengar ocehan Alam "Memangnya kamu berani?"
"Oh jadi meragukan saya, ya?" Gita langsung berlari ketika alam mau mengejarnya.
"Kejar aku...." Gita berlari mundur menghindari kejaran Alam.
Alam terus mengejar Gita hingga sampai di depan apartemen. Gita merasa lelah tapi saat menoleh Alam sudah dekat dengan tubuhnya. Mata mereka beradu hingga ke hidung, nafas mereka terburu, tapi Gita melihat ada Ilham di wajah Alam. Sontak, Gita mendorong tubuh Alam lalu berlari masuk ke kamar.
Flashback end
Alam mengusulkan agar Gita di rawat ke Indonesia saja. Mama Yulia menolak karena sudah banyak pengeluaran selama di Melaka. Dia tidak ingin pengobatan Gita setengah-setengah.
"Saya tidak tenang Tante. Saya ingin lebih sering mendampingi Gita."
"Kalau begitu secepatnya nikahi Gita. Tante tidak mau Gita di beri harapan palsu lagi."
"Iya Tante secepatnya aku akan menikahi Gita."
"Tante saya titip Gita, ya. Saya harus pulang sekarang, papa Bobby kritis."
"Kamu yang sabar ya Ronal. Titip salam sama keluarga disana."
"Iya makasih Tante. Saya pamit." alam menyalami tangan mama Yulia.
"Gita, aku pulang,ya. jaga diri kamu." Gita masih diam. Tak ada sahutan seperti biasanya.
Kamu pulanglah, lam. Tak usah datang lagi. Aku akan jadi beban buatmu. Tunda sajalah pernikahan kita, kalau perlu batal saja. Aku sudah tidak ada gunanya menjadi manusia. Aku sudah kotor, aku hancur gara-gara dokter brengsek itu, aku juga sudah tidak lama lagi akan pergi. Pergilah, carilah wanita yang lebih baik dariku. Batin Gita.
__ADS_1
jangan pesimis Gita. Aku yakin kamu mampu bertahan. Demi cinta kita, demi orang-orang yang sayang padamu, buktikan pada lelaki itu kalau kamu kuat. Aku akan selalu ada untukmu. Aku pamit, jaga dirimu. batin Alam.