Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
103. S2: Setelah resepsi


__ADS_3

"Sayang, anak kita laki-laki siapa namanya?" tanya Gita saat sedang berdua di kamar rumah Gita.


"Aldebaran Rowas Spencer. keren nggak?" usul Alam.


"Enggak! kelihatan kayak korban sinetron." protes Gita.


"Terus kamu maunya apa?"


"Chicco Jericho, gimana?"


"Itu mah dasar kamunya yang ngefans. Gini aja gimana kalau Chicco Rowas Spencer."


"Bentar? ngapain pake nama Spencer segala? terus Rowas itu apa artinya?" protes Gita


"Rowas kan namaku singkatan, sayang."


"Astaga! Dasar ya! ogah ah, jelek artinya, ntar anaknya kayak kamu!"


"Lah kan, aku bapaknya. terus kalau anak kita perempuan."


"Anastasia putri." Jawab Gita.


"Hmmm ... ini sering nonton Barbie nih. Pake Rowas dong."


"nggak!Jelek"


"Pake nggak!" Alam mulai ngotot. Tangan mau menggelitik tubuh Gita.


"nggak!" Gita kabur keluar kamar.


Mereka kejar-kejar di dekat teras kamar. Mama yang melihat anak dan menantunya seperti sedang berebut mainan, cuma bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Eh, kalian ini. Nanti Gita jatuh Lo?" omel Mama


Gita melihat mamanya langsung bersembunyi di belakang Mama Yulia. "Marahin, ma. Alam bandel, ma." Adu Gita.


Mama Yulia menggeleng kepala "Kalian ini kenapa? kayak anak kecil aja."


"Itu ma, dia nggak mau dengan nama pemberian aku, katanya jelek."


"Emang jelek weeeek" Gita menjulurkan lidahnya.


"Sini ma, aku kasih hukuman buat istri yang ngelawan suami." Alam menarik Gita kembali ke kamar.


"Anak mama mau diapain, lam?" Mama Yulia panik saat alam menarik paksa Gita.


"Di suruh sit up." jawab Alam asal.


Iya sit up sama aku. batin Alam.


Zreeeeet zreeeeet zreeeeet


Alam membuka ponselnya, ada kemal teman boy yang dia kenal di Malaysia.


📞 Boy apa kabar?


Terdengar suara lantang kemal dari jauh.

__ADS_1


📞 Baik, mal. Kamu apa kabar?


📞 Alhamdulillah baik, boy. Aku mau mengabari ada yang membuka kasusmu dulu.


📞 Maksudnya?


Alam tidak paham maksud kemal.


📞 Kau lupa kasus perkosaan bergilir pada zafira.


Alam kaget. Sekriminal itu kah si boy ini. Sumpah kalau dia tahu boy berkasus, mungkin dia akan kembali dengan wajahnya yang lama.


📞 Sekarang bagaimana perkembangan kasusnya.


📞 Polisi sudah melacakmu ke Indonesia.


Deg! Jika polisi mengira dirinya adalah boy. Bagaimana nasib Gita dan bayinya.


Alam bingung harus melakukan apa. Dia berharap apa yang dia takutkan tidak terjadi.


"Ibu! Aku rasa ibu tahu semua ini. Mungkin ibu bisa membantu!" Alam akan menghubungi ibunya. Tapi di urungkannya, dia berpikir mungkin nanti dia akan menemui ibu saat genting.


📞 halo boy! kamu masih disana!


Suara kemal masih terdengar. Alam minta kemal menemui ibunya boy agar menceritakan sebenarnya.


📞 Lah, kenapa tidak kau hubungi sendiri.


📞 Sebenarnya aku bukan boy, mal. Kami tertukar saat kecelakaan. Namaku Alam.


📞 Hahahaha .. boy ... boy ... ceritamu basi! saat genting begini kau baru buat pengakuan setelah kejahatanmu.


Dadanya terasa sesak. Tapi di tahannya demi menjaga kondisi Gita. Dia takut kalau Gita tahu penyakitnya. Dengan gesit dia mengambil kunci mobil menuju ke rumah sakit, untuk mengecek kesehatannya dengan dokter Juna.


"Sayang makan siang dulu." panggil Gita


Tapi yang di panggil sudah tidak ada di tempat. Gita bingung kemana suaminya pergi.


Entah kenapa dia kepikiran perkataan Zahra, kalau kesempatan selingkuh pasti ada dalam diri Alam.


"Ma, Gita keluar sebentar." pamit Gita.


"Kemana, nak? Kamu jangan pergi sendirian, ingat kamu lagi hamil."


"Bentar, ma. Aku ada urusan penting." Gita tetap pergi Walaupun sudah di cegah.


Gita mengikuti tujuan Alam melalui alat penyadap yang dia miliki. Sejak Zahra bilang kalau kesempatan yang dulu akan terulang lagi, Gita mulai memasang alat pengintai di hp Alam.


"Rumah sakit? mau apa dia kesana?" Gita penasaran kenapa suaminya mendatangi rumah sakit.


Tapi sampai di rumah sakit. Gita merasakan sakit luar biasa di perutnya, dia keluar dari mobil sambil memegang perutnya yang terasa sakit. Gita sampai merangkak keluar mobil.


Ilham melihat Gita yang kesakitan langsung menuju ke arah wanita itu. Dengan sigap Ilham menggendong Gita yang masih mengerang kesakitan.


"Ibu tidak papa kok, itu hanya kontraksi biasa." kata dokter yang mengecek kesehatan Gita.


"Alhamdulillah, dok." Gita bersyukur kalau janinnya tidak ada masalah.

__ADS_1


"Dok, saya kesini mau minta surat jalan untuk ibu hamil. Saya akan bepergian jauh melalui pesawat."


"Bisa, kok Bu."


"Kamu jangan berpergian jauh, Gita. Kamu itu lagi hamil. Emang mau kemana?"


"Ke Jambi. Kampung suamiku." jawab Gita.


"Loh, emang kamu nggak takut kesana lagi, setelah ... "


"Gita! ngapain kamu disini!" Sebuah suara mengangetkan mereka.


Astaga kenapa dia datang sih. Gagal deh pengintaianku. apes apes! batin Gita.


"Aku mau buat surat keterangan hamil untuk berangkat ke Sukasari. lah mas, ngapain kesini? Aku pikir mas ke kantor tadi."


"Pulang!" Alam menyeret Gita ikut dengannya.


"Tapi .." Gita tidak berani membantah.


"Soal berangkat ke Jambi kita tunda dulu. Aku ada urusan pekerjaan yang tidak bisa di tinggal." ucap Alam masih dengan wajah serius.


"Di kantor apa di luar kota?" selidik Gita.


"Nanti kita bicarakan di rumah. Sekarang kita pulang dulu."


Gita memperhatikan suaminya sedari tadi diam saja. Dia tidak berani bertanya, Gita berpikir mungkin memang ada masalah di kantor. Gita membuka gawai dan melihat lihat pakaian bayi. Pikirannya menerawang, seandainya dia umur panjang, dia pasti senang melihat anaknya tumbuh.


Semoga aku di beri kesempatan untuk bertemu denganmu,nak. batin Gita.


Gita menitikkan air matanya ketika melihat gambar koleksi bayi. Dia melirik ke arah suaminya yang masih fokus menyetir. Sedikitpun tak ada senyuman di wajah pria itu. Gita menghela nafas sambil menghapus matanya yang agak sembab.


Sebenarnya tanpa Gita sadari, Alam melihat kesedihan istrinya dari kaca mobil. Hanya saja dia masih kesal karena Gita masih cari kesempatan bertemu ilham.


"Mas!" Gita mencoba memulai pekerjaan.


"Tadi kenapa ke rumah sakit? Kamu sakit apa?" Gita memegang lengan suaminya.


"Cuma check up saja." jawabnya cuek.


"Mas .. soal tadi ..."


"Harusnya kalau mau kemana kamu kan bisa bilang ke aku ... jangan pergi sendiri ... Kalau ada apa-apa gimana? Apa karena ada Ilham kamu sengaja pergi sendiri?" suara Alam mendadak lantang.


"Kok bawa Ilham sih ... masih untung dia tadi nolong kalau tidak aku mungkin sudah keguguran." Jawab Gita kesal.


Mereka terdiam sambil mempertahankan ego masing-masing.


Kalian itu sama. Dulu waktu jadi pacar Ilham, dia posesif seperti ini, setiap segala sesuatu yang berhubungan dengan Ronal, pasti dia sewotnya minta ampun. Apalagi saat Ronal menjadi Boy kumat deh posesif nya. Dulu alam juga seperti ini, Setiap aku dekat sama bang Ed dia langsung panas. Ya Tuhan kenapa aku selalu di dekatkan dengan pria semacam ini. batin Gita.


Sampai di rumah mereka masih terdiam. Alam memilih tidur sementara Gita sibuk dengan gawainya. Perut Gita terasa mual, tapi yang bikin Gita kaget ada darah dalam muntahannya.


"Sayang, kamu nggak papa?" panggil Alam dari luar.


"Nggak papa, cuma mual biasa." elaknya.


Gita keluar wajahnya sudah pucat. Tak lama Gita ambruk. Alam panik melihat istrinya pingsan.

__ADS_1


Alam membawa istrinya ke tempat tidur. Entah kenapa dia masih gengsi menghubungi Ilham.


Mungkin sebentar lagi Gita akan sadar. batin Alam.


__ADS_2