Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
27.Dimana Paman Toni?


__ADS_3

Senja mulai turun ketika Gita puas bermain di kolam milik Edwar. Bagi Gita ada saat-saat yang tidak bisa di lakukan, paling tidak daripada suntuk di rumah Siti. Toh, dia kembali ke Sukasari untuk menghindari resepsi pernikahan Rere dan Roki. Walaupun pada akhirnya Gita mendapatkan cinta dari Ronal.


"Aduh, Gita. licin, nak, nanti terpeleset." tegur ibu


"Hati-hati di belakang ada orang. ntar ada yang ketindih lagi." Goda Siti.


Gita kesal Siti mengungkit soal itu. Apakah tidak ada hal indah yang harus diingat? Apalagi kalo terkait Alam.


Gita membalas Siti dengan menyiram Siti dari atas. Gita kehilangan kendali, lalu hampir terpeleset. Untung ada Edwar yang sigap menopang tubuh Gita.


"Baru dibilangin." ucap Siti sambil tertawa.


"Kalian serasi. Mau aku potoin lagi" sambung Siti sambil jongkok di pinggir kolam.


"Hey! jangan sembarang potoin orang. Ntar kamu sebarin lagi." Omel Gita.


"Aku nggak pernah nyebarin. Tuh, yang nyebarin photo kamu." kata Siti menunjuk Edwar.


Gita bahagia. Seumur hidupnya dia belum pernah bermain seperti ini. Dari kecil Gita sudah bergaul dengan anak-anak dari keluarga kaya. Seperti Beta yang anak raja minyak, seperti Ine yang anak punya hotel, seperti Rere yang orangtuanya punya perusahaan persis tuan Spencer.


"Sudah dapat belum ikannya." tanya ibu.


"Belum Bu, daripada ngubek doang. ikannya nggak ada yang mabuk." jawab Gita.


"Sudah, kita pulang, yuk. mendung ini ntar kamu sakit. War, tolong bantu Gita naik ke atas." perintah ibu.


"Baik, Bu." jawab Edwar.


Edwar lebih dulu naik ke atas. Tak lama Edwar menjulurkan tangannya, Gita yang kedinginan susah bergerak dengan sigap Edwar kembali masuk kolam. Akhirnya Edwar menggendong Gita.


Saat naik ke atas, Ronal datang dan melihat Gita di bopong Edwar. Ronal menepis tangan Edwar, lalu bergantian menggendong Gita. Edwar menatap punggung Ronal dengan perasaan kesal.


...----------------...


"Gitaaaaa! kapan pulang." telpon dari Ine


"Mau nya kapan?" ucap Gita


"Pulang dong! kangen!" rengek Ine


"Sama. Kamu nyusul kesini,gih." tawar Gita


"Kemana? ke kampung kakekmu itu?"


"Ya, kan aku emang sedang disini."


"Liburan harusnya kemana kek. Ke Bali kek! Yogya kek!" Omel Ine.


Gita tertawa lihat Omelan Ine. Sahabat Gita yang satu ini memang rada anti sama yang namanya kampung.


"Btw, dah ada kabar belum dari kak Ronal." Tanya Ine kepo


Gita langsung menyodorkan telponnya ke yang di maksud.


"Kenapa? Kangen, ya sama aku." sahut Ronal.


"Ih, kalian curang!" suara Ine seperti ngambek


Gita dan Ronal tertawa mendengar ambekan Ine.


"Makanya cari pasangan." ledek Ronal.


"Eh, emang kalian sudah jadian, ya." tanya Ine.


"be ... " suara Gita terpotong

__ADS_1


"Sudah aku lamar malah." timpal Ronal


Gita melotot melihat omongan Ronal pada Ine. Bukan apa-apa, Gita tau banget kalo Ine rada rumpi.


Gita mengkode Ronal agar tidak banyak cerita. Lagian, mama papanya saja belum dia kabari, masa iya Ine tahu duluan.


"Please,kak." mohon Gita.


"Apa?" tanya Ronal sambil tersenyum.


"Jangan cerita apa-apa dulu sama orang lain." pinta Gita.


Ronal langsung pamit pada keluarga Siti. sebelumnya Ronal mengantar Gita ke kamar karena kaki Gita masih kram.


Sayup sayup Gita mendengar ibu menegur Ronal.


"Nak, Ronal. maaf ibu mau bicara?" Sapa ibu saat Ronal hendak pulang.


"Iya, bukdang."


"ibu minta kamu mengurangi pertemuan kamu sama Gita."


"Kenapa, bukdang? Apa ibu tidak menyukai saya."


"Bukan begitu, nak. Ibu lihat kamu anak yang baik. Ibu cuma takut pandangan orang-orang tentang kalian. Apalagi status kalian adalah tamu." ucap ibu.


Ronal membenarkan kata ibu.


"Jangan sampai kejadian dulu, menimpa Gita lagi. Kalo Alam masih hidup mungkin mereka akan dinikahkan secara adat, untuk pembersihan kampung." jelas ibu.


"Nikah?" Ronal kaget.


"Sudah. kamu pulang dulu, nak." ibu tidak bisa melanjutkan ceritanya.


Ronal (Alam) berpikir sepanjang perjalanan. Itukah yang buat Gita sangat mengutuk dirinya. Tapi seharusnya Gita Bersyukur kalo dia dinyatakan meninggal, Gita tidak akan menikah adat.


"Tapi, sejak kapan cuci kampung pakai dinikahkan?"


Ronal berpikir ada yang tidak beres dengan kejadian ini. Padahal mereka tidak melakukan hal yang dilarang.


Sementara ibu menyadari ada yang aneh pada Ronal.


"Kenapa dia memanggilku, bukdang?" pikir ibu heran.


Ibu teringat Alam yang suka memanggilnya bukdang.


"Jangan-jangan..!" Ibu sontak melihat keluar mencari sosok Ronal yang sudah tidak terlihat.


"Edwar! Siti!" ibu berlari masuk ke dalam.


"Ada apa, Bu?" tanya Siti melihat ibunya seperti panik.


"Dia masih hidup! Dia masih hidup!" ibu masih syok.


"Siapa?" Tanya Edwar.


"A...lam." jawab ibu terbata-bata.


"Jadi ibu sudah tahu sekarang." jawab Edwar santai.


"Kalian sudah tahu! Kenapa tidak kabari ibu?" pekik ibu


Edwar dan Siti menunduk. Mereka awalnya sengaja tidak memberitahu ibu karena dilarang oleh Alam. Tapi mereka minta ibu merahasiakan ini pada Gita.


"Kenapa? Bukankah bagus kalo Gita tahu soal "calon" suaminya."

__ADS_1


"Tidak sekarang, Bu." mohon Siti.


"Ya, sudahlah. Ibu pusing dengan masalah kalian. Padahal dulu, ibu berharap Alam jadi menantu ibu. Dan Dinda bisa sama Edwar." curhat ibu


"Gita, kan. Anak ibu juga." sambung Edwar.


Ibu masuk kamar. Meninggalkan kedua anaknya yang masih asyik di depan TV. Sebelum masuk kamar ibu mewanti-wanti kedua anaknya untuk Istirahat.


Siti masuk kamar mengecek Gita, ternyata Gita sudah tidur.


Siti melihat hp Gita yang isinya photo bersama Alam. Ada guratan beda di wajah Siti saat melihat photo itu.


...----------------...


Seorang wanita sekitar usianya 50-an berdiri di depan rumah Alam. Awalnya dia ingin mengetok pintu, tapi di urungkan. Perlahan-lahan dia berjalan menjauh dari rumah itu. Tangisnya pecah, tapi tidak sampai teriak. Alam terbangun mendengar suara wanita itu, ada guratan ketakutan yang dirasakannya. Alam bangkit mengecek keluar, tapi tidak ada siapa-siapa! Bulu kuduknya mulai merinding! Alam ingin membaca Alquran, tapi dia tak menemukannya. Pada akhirnya Alam cuma bisa berdoa.


Alam melihat sepucuk surat di bawah pintu.


Siapapun dirimu yang tinggal disana.


Tolong jaga rumah ini untuk anakku.


Alam keluar rumah mencari pemilik surat.


"Bibi ... bibi ...!" Teriaknya.


Alam terus berteriak memanggil bibinya. Dia yakin kalau itu surat dari bibinya. Paling tidak ada titik terang dimana keberadaan mereka.


Alam terus mencari bibinya hingga dia melihat seorang wanita mengintip dari balik pohon. Alam terus mengejar wanita itu. Pada akhirnya Alam menyerah, dia kembali ke rumah untuk beristirahat. Alam akan mencoba mencari Paman besok.


"Paman.... bibi.. Kalian dimana?"


Pukul 04:55 Alam terbangun. Segera mengambil wudhu untuk pergi ke Mushola. Rumahnya masih berantakan. Alam langsung bergegas ke Mushola ketika mendengar azan subuh berkumandang. Sampai di mushola dia mencari Gita. Tapi gadis itu tidak nampak.


"War, Gita mana?"Tanya Alam yang melihat Edwar sudah lebih dulu di mushola.


"Dirumahlah. Kakinya masih kram." jelas Edwar.


Alam menceritakan tentang bibinya. Dia cerita melihat bibinya, tapi kehilangan jejak. Edwar menceritakan kalo dulu ada yang melihat bibinya, tapi kehilangan jejak juga.


"Bisakah kamu antar aku ke orang itu?" pinta Alam.


"Bisa." jawab Edwar


" Sekarang" desak Alam.


"Ntar sore saja. Sekarang aku ada urusan."


Pukul 06:20 Alam kembali ke rumah. Rumahnya masih sama saat dia berangkat tadi, masih berantakan. Biasanya ada Dinda yang membereskan rumahnya. Alam baru sadar, kalau Dinda tidak akan datang lagi.


Alam mencoba membersihkan rumah sendiri.


"Sepertinya aku memang membutuhkan seorang istri." keluhnya


Setelah membereskan rumah. Alam di kejutkan dengan kedatangan Irwan. Sambil bersujud Irwan memohon pada.


"Siapapun kamu, tapi yang pasti putriku sangat mencintaimu. Aku mohon, nak. Tolong nikahi Dinda!"


Perasaan Alam berkecamuk. Antara tidak tega, memikirkan perasaan Gita.


"Maaf, pak. Aku sudah ada seseorang." Alam mengangkat tubuh Irwan yang masih bersujud.


"Lalu kenapa beri harapan pada putriku."


"Maaf,pak. Aku tidak pernah memberi harapan pada putri bapak."

__ADS_1


"Aku mohon, nak." Irwan kembali bersujud.


__ADS_2