
Ilham datang menemui Gita. Ilham tahu rasa berduka yang di rasakan kekasihnya. Tapi sayangnya, Gita enggan di temui Ilham. Rasa sakitnya atas perlakuan Ilham di pantai belum kering. Gita minta mamanya menemaninya pulang.
Tubuh Gita merasakan sakit yang luar biasa. Bahagia yang dirasakan bersama ilham hancur seketika. Gita merasa ada sisi buruk ilham yang membuatnya takut.
"Tidak ada yang bisa memilikimu selain aku!" kata kata itu selalu terngiang di pikirannya.
Seandainya mama tahu seperti apa Ilham sebenarnya, apa mama masih bisa menerimanya.
Sampai di rumah, Gita merasa sepi. Gita menanyakan keberadaan Siti pada bi Endah. Bi Endah cerita kalau Siti sudah pergi dari rumah setelah di marahi mama Yulia. Gita menanyakan masalahnya, tapi Bi Endah bungkam.
Gita mencoba menghubungi Siti, dia butuh seseorang yang menenangkan hatinya. Tapi di urungkan, dia berpikir mungkin Siti butuh waktu untuk menenangkan diri.
"Ma, apa yang sebenarnya terjadi pada Ine? kenapa bayinya bisa meninggal?" tanya Gita pada mamanya setelah acara pemakaman Ine.
"Mama tidak tahu. Yang mama tahu, Ine masuk rumah sakit itu saja." jelas Mama.
"Gita, kata dokter kamu..."
"Tidak hamil kan, ma?"
Mama mengangguk. "Sudah kuduga. Tapi mama tidak cerita ke orang orang kan."
"Cerita apa?" tanya mama.
"Mama nggak rumpi kan sama teman-teman mama soal kondisi Gita?"
Mama menggeleng. Buat apa juga dia rumpi ke teman-temannya tentang aib anaknya. Sama aja dia bunuh diri.
Gita duduk dikamar Ine. Banyak kenangan yang tersimpan di kamar itu. Ine walaupun dia agak rumpi, tapi Ine lah yang selalu ada saat drop. Terakhir Gita bersama Ine saat Gita nginap di hotel Ine malam itu.
"Mbak Gita, ini ada surat untuk mbak dari non Ine." Kata bi Juwi yang sudah mengabdi di keluarga Ine sejak mereka masih SMP.
"Surat?" Gita mengambil dari tangan Bi Juwi.
"Iya, dia bilang mau ngasih ini sama mbak tadi belum sempat."
"Makasih bi." ucap Gita
"Itu untuk siapa?" Gita melihat satu surat yang masih di pegang bi Juwi.
"Buat ... mas Ronal." jawab bi Juwi.
"Ronal?" Gita kaget.
"Sebenarnya ada apa Ine menulis surat untuk Ronal. Apakah Ine pernah ada rasa dengan Ronal. Pantas saja selama ini Ine kepo banget soal Ronal." batinnya.
__ADS_1
Gita menyimpan surat di dalam tas. Lalu kembali memanggil bi Juwi.
"Surat yang tadi biar aku aja yang kasih ke orangnya." kata Gita.
bi Juwi menyerah surat terakhir dari Ine untuk Ronal. Gita kepo dengan isinya, tapi di urungkan karena merasa bukan urusan dirinya.
Gita melihat Ilham datang melayat, dia memilih menghindar dari Ilham. Gita kembali bersembunyi di kamar Ine. Beta datang menemuinya, dan menyampaikan kehadiran Ilham.
"Biarkan saja." jawab Gita datar
"Kalian berantem lagi?" tanya Beta.
Gita tidak bisa menjawab. Dia bingung menceritakan seperti apa Ilham sekarang pada Beta. Perasaan kalut karena sikap Ilham semalam membuatnya ingin mengakhiri hubungannya dengan Ilham. Tapi Gita menyadari akan banyak yang kecewa dengan keputusannya.
"Git, dalam hubungan percintaan biasa kok ada cekcok. Nggak gampang menyatukan isi yang sama, kakak adik aja berbeda, Apalagi lawan jenis." nasihat Beta.
"Bukankah kalian akan menikah? ini ujian buat kalian." tambah Beta.
"Ntahlah, ta. Aku tidak tahu mengapa perasaanku jadi begini?" Gita berlindung di balik pundak Beta.
"Gita, kamu nangis?" Beta merasa pundaknya berasa ada yang basah.
"Apa Ilham ada menyakiti perasaanmu?" tanya Beta melihat rona wajah Gita sendu. Gita masih menggeleng.
"Kamu sudah ingat semuanya?" Gita mengangguk.
"Keluargamu, Ilham apa sudah tahu?" Gita menggeleng.
"Ah, kamu Gita. Tiap ditanya angguk geleng terus." Beta kesal Gita tidak menjawab semua pertanyaannya.
Gita minta menginap di kamar Ine, Beta juga ikut menginap. Ilham menemui Gita di kamar Ine. Tapi Gita tetap menolak bertemu Ilham.
"Sayang, aku minta maaf soal semalam. Please, jangan kayak gini." suara Ilham memanggil dari luar pintu.
"Udah temui dulu, selesaikan masalah kalian." bujuk Beta.
Gita keluar dari kamar Ine. Ilham langsung memeluk Gita. Gita membiarkan Ilham meluapkan isi hatinya.
"Aku mau kita putus!" suara Gita terasa berat.
"Putus!" Ilham kaget mendengar permintaan Gita.
"Apa salahku?"
"Aku capek dengan kecemburuan kamu yang tidak masuk diakal. Aku capek dengan sikap kamu yang seakan ngekang aku. Aku .." Ilham memeluk Gita seakan tidak ingin Gita melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Maafkan aku! Aku terlalu sayang sama kamu. Aku takut kamu kembali sama dia." mohon ilham.
"Dia? Siapa? Ronal? kalau sikap kamu seperti ini, itu sama saja kamu tidak percaya padaku." ujar Gita.
"Kalau kamu seperti ini terus, kita tidak akan menemukan titik terang hubungan kita. Tolong biarkan aku sendiri!" tambah Gita.
Ronal datang melayat ke rumah Ine, melihat pertengkaran antara Ilham dan Gita. Gita melihat Ronal memberikan surat dari Ine.
"Surat? Untukku?" tanya Ronal heran.
"Iya." jawab Gita singkat.
"ini .." belum selesai ngomong, Gita sudah keburu masuk ke kamar Ine.
Ilham datang menghampiri Ronal dan mengajaknya bicara empat mata. Ilham meminta Ronal agar tidak dekat dengan Gita.
"Tolong jauhi Gita! apa pun yang berhubungan dengan Gita jangan dekati lagi!" ancam Ilham.
"Kalau aku tidak mau?" balas Ronal.
"Kamu berhadapan denganku." balas Ilham.
"Aku yang lebih dulu mencintai Gita. Kamu itu memanfaatkan dia yang sedang amnesia. Kalau ingatan Gita sudah kembali, kita lihat siapa yang di cari Gita." Ronal berlalu dari hadapan Ilham.
"Apa kamu tidak tahu kalau ingatan Gita sudah kembali? Lihat sekarang siapa yang di carinya? Aku! Sedangkan kamu, laki-laki yang sudah mencampakkan dia." ucap Ilham sambil menertawakan Ronal.
"Awas kalo aku kamu dekat dekat dengan Gita!" Ilham berlalu dari hadapan Ronal.
"Kalian berisik! Nggak tahu apa ini lagi suasana berduka! omel Gita yang kesal mendengar adu mulut mereka.
Gita masuk ke kamar Ine, dia menangis dalam rebahan di pangkuan Beta. Beta menyabarkan Gita supaya berpikir lebih jernih. Jangan mengandalkan emosi semata.
Gita akhirnya menceritakan pada Beta bagaimana kasarnya Ilham saat di pantai semalam.
"Wajar dia marah, kamu mengungkit soal kenangan kamu dulu!"
"Itu reflek, ta. Saat kami jatuh terpeleset ombak, saat itu kejadian dulu berputar lagi. Tapi nggak harus kan dia mendorong tubuhku sampai terjungkal."
"Intinya Ilham cemburu. Karena kamu masih membawa kenangan kamu dan Ronal dalam hubungan kalian. Kamu ingat saat mereka berkelahi di acara ulangtahunmu, itu karena Ilham melihat kamu ketakutan saat Ronal tiba-tiba datang melamarmu." jelas Beta.
"Jadi please, jangan gunakan emosi saat menyelesaikan masalah." tambah Beta.
Gita terdiam. Mungkin dia membenarkan apa yang di bilang Beta. Gita sadar kalau dia belum bisa lepas dari kenangannya bersama Ronal.
Ilham pulang ke rumah. Sampai di rumah ada keluarga Raisa yang ingin tahu jawaban Ilham untuk anak mereka. Ilham menghela nafas dan menerima Raisa sebagai calon istrinya.
__ADS_1