
Karena Gita sedang di pingit, mau tidak mau Alam sendiri yang mengurus segala keperluan untuk pernikahan mereka. Sesuai permintaan Gita, yang ingin langsung memakai bridal dress. Alam sesekali menelpon Gita supaya istrinya bisa memilih baju sesuai keinginannya.
Papa Bobby melihat anaknya kerepotan mengurus pernikahannya, berinisiatif mencarikan sekretaris untuk Alam. Sejak Alam kembali, papa Bobby mempercayakan perusahaan pada anak tirinya itu, karena Roki mengelola perusahaan cabang.
Papa Bobby senang Alam dan Roki tidak berebut perusahaan. Tidak seperti yang sering dia dengar dari cerita para koleganya tentang anak-anak mereka.
"Nggak sia-sia aku mendidik anak itu, Alhamdulillah sejak di pegang Ronal perusahaan menjadi maju. Anak itu juga tidak sombong dan mau belajar dari bawah."
Beberapa kandidat masuk daftar untuk menjadi sekretaris Ronal, termasuk Zahra. Saat membaca seleksi sekretaris, mama Marni pun ternyata juga menyukai Zahra dan meminta Papa Bobby untuk merekrutnya.
"Biar alam yang menentukan? Nanti kita yang cocok, tapi dianya nggak cocok, kamu ingatkan saat Beta jadi asisten Ronal. Dia tidak cocok dengan Beta yang masih merasa bagian keluarga saat di kantor." jelas Papa Bobby.
"Tapi dia lebih berkelas kayaknya, beda dengan istrinya sekarang."
"Kita cari sekretaris! Bukan cari istri buat Ronal. Dia sudah punya istri, untuk apa dia cari lagi. Jangan tanamkan sifatmu pada wanita lain Marni!" ucap papa Bobby meninggi.
klik
Sementara itu, Alam mulai jenuh dengan rutinitas kantor. Dia rindu pada istrinya, tapi kalau dia kesana nanti dilarang sama mama Yulia. Beberapa kali Alam menelpon Gita tapi tidak diangkat. Dia jadi kesal sendiri.
Tumben nggak diangkat, apa terjadi sesuatu sama Gita. Apa dia drop lagi? kenapa tidak ada yang ngabari? Haduh, kan aku jadi gelisah gini.
Alam sedari tadi uring-uringan karena Gita tidak mengangkat teleponnya. Papa Bobby datang dan menemui Alam di ruangan kantornya.
"Aku mau Sekretaris laki-laki, pa" usul Alam
Karena kalau perempuan dia pasti jadi sasaran empuk istrinya. Bakal ada drama Omelan Gita, curiga sana sini. Pusing dia mikirnya, dia ingin rumah tangganya adem ayem aja.
Zreeeeet zreeeeet zreeeeet
Alam melirik hp nya, ternyata dari mama mertuanya.
"Alaaaaam!" suara mama Yulia sampai 8 oktaf berdenging di telinganya.
"Iiiiya, ma." Alam menjawab dengan takut-takut.
"Kamu apain anak Mama!" omelnya
__ADS_1
"Nggak ngapa ngapain ma, aku belum ketemu sama dia. nggak ada berantem sama dia."
"Bukan itu! Mama pusing liat Gita hobi makan mangga muda, sama asinan."
"lah, emang kenapa, ma? Bukannya Gita emang suka makan."
Terdengar mama menghela nafas "Itu tandanya Gita sedang ngidam, alaaam!" Suara mama seperti masih marah padanya.
Kemarin siapa yang sering bilang minta cucu dari kami. Nah, sekarang di kasih benaran malah pusing. Eh, apa iya Gita ngidam? Berarti aku tokcer dong. Ah, aku telepon Gita dulu!
Sementara Gita mendengar mamanya menelpon uring-uringan, Gita penasaran dengan siapa Mamanya menelpon. Sembari membuka kulkas melihat ada durian yang wangi nya bikin dia lapar. Dia merasa akhir-akhir ini bawaannya pengen makan terus.
Dengan menenteng durian yang dia cicipin, Gita memanggil mamanya.
"Maaaaa, aku minta duriannya ya, enak nih kayaknya." panggil Gita dari dalam.
Mama yang mendengar panggilan Gita dan Alam yang mendengar suara Gita dari teleponnya, kaget. Serentak mereka berseru "Jangaaaaaan!"
"Apanya yang jangan sih, ma. cuma makan doang?" Gita mulai melahap sedikit demi sedikit durian manisnya.
"Bilang saja mama pengen juga, nggak usah nyamber punyaku juga. Itu di kulkas masih banyak, ma." omel Gita pada mamanya.
"huuuuuh! Selamat!" bisik mama dalam hati.
Gita kembali ke kamar, lalu membuka hp nya sudah penuh panggilan dari Alam. Di letakkan kembali hp nya ke meja, dia lagi tidak mood meladeni suaminya itu. Tak lama sebuah chat masuk.
"Gita, boleh aku main ke rumahmu?" pesan dari Zahra teman yang baru dia kenal.
"Boleh kak Zahra." balas Gita
"Terimakasih, aku lagi di jalan nih bentar lagi sampai." balasnya.
Sudah beberapa hari ini Gita mulai dekat dengan Zahra. menurutnya, Zahra itu orangnya baik, berasa punya kakak perempuan. Mungkin efek Gita hidup sebagai anak tunggal.
...----------------...
Di desa Sukasari
__ADS_1
Siti akhirnya bernafas lega, pernikahannya dengan Rudi batal. Hutang keluarga Siti pada pak lurah pun sudah di lunaskan Jonathan. Ibu sangat berterima kasih kepada Jonathan yang membantu melunasi hutang mereka.
"Terimakasih nak Jo. ibu belum bisa membalas kebaikanmu."
"Nggak papa, Bu saya ikhlas. Asal ibu restui kami itu sudah cukup." ucap Jo melirik kearah Siti.
"Apa lirik lirik? Emang saya mau sama kamu, bujang lapuk!" Jawab Siti ketus.
"Bu, lusa kita berangkat ke Jakarta, ya. Kan kita mau nengok nikahan Gita."
"Kita nginap dimana, ti." tanya ibu. Sudah pasti tidak bisa kembali ke kost Siti.
"Di rumah saya, Bu." jawab Jonathan.
"Apa tidak merepotkan kamu nak?" jawab ibu
"Dan yang paling malas aku harus bertemu Raisa. Perempuan yang sudah menghancurkan sahabatku." jawab Siti.
Jo tersenyum "Maafkan adikku ya."
"Kita ajak bibi, ya." usul Siti. Dia masih belum tega meninggalkan bibi sendirian.
Ibu setuju dengan usul Siti. Ini akan jadi surprise buat Gita.
Siti datang ke rumah bibi, untuk mengajak ke Jakarta untuk pernikahan Gita dan Alam.
Tapi bibi keberatan, baginya Gita lah yang menyebabkan Alam meninggal kecelakaan.
"Aku tidak akan datang ke pernikahan perempuan itu, gara-gara dia Alamku meninggal." ucap bibi emosi
"Bi, itu bukan salah Gita. Itu kecelakaan." Siti membela Gita.
"Tetap saja, dari dulu aku sudah tidak sreg dengan perempuan itu. Bibi maunya kamu sama Alam, Siti."
"Nggak mungkin, Bi. Kak Alam nggak pernah punya perasaan sama aku, bi. dihatinya cuma ada Gita."
Bibi, andai kamu tahu kalau yang akan menikah adalah anakmu, yaitu kak Alam. Pasti bibi akan senang mendengarnya, apa aku cerita aja kalau kak Alam masih hidup.
__ADS_1