Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
31. Pulang


__ADS_3

"Kita tidak jadi pulang" Papa datang menyampaikan pesan itu.


"Kenapa, pa?" Tanya mama


"Polisi masih membutuhkan kesaksian dari Gita." Tambah papa.


"Kondisi Gita tidak memungkinkan untuk menjadi saksi."


"Aku baik-baik saja,ma." Aku buka suara.


Mama masih ngotot membawaku pulang. Sampai papa kewalahan.


"Lia, kalau kamu mau pulang silahkan. Gita biar sama aku saja!" suara papa meninggi.


Mama yang tadinya ngotot, langsung terdiam saat papa memberikan ultimatumnya. Mama meletakkan kopernya. Aku tidak enak sudah buat kedua orang tuaku bertengkar.


Aku kembali duduk di kursi roda. Seperti yang kalian tahu mamaku orangnya gampang panik.


Aku duduk di balkon, di temani mama yang mungkin masih kesal dengan Papa. Mama menanyakan kenapa bisa terjadi lagi. Aku juga tidak bisa menjawab karena semua terjadi begitu cepat. Mama bilang kalo dia tidak pulang siapa yang mengurus Opa. Menurut mama dia nggak percaya ninggalin opa dengan bi Endah. Beberapa kali bi Endah sering lupa memberi obat pada Opa, lupa mengingatkan makan siang Opa.


"Kalo mama mau pulang, Gita nggak masalah kok."


"Siapa yang mengurus kamu disini? Papa? Mama nggak yakin! Daripada pikiran mama bercabang mending kamu ikut pulang ke Jakarta."


Aku mau saja pulang,ma. Tapi entah kenapa masih ada yang tertinggal disini. Sejak aku pulang ke Sarolangun belum ada kak Ronal menghubungiku atau sekedar menanyakan kabarku. Atau mungkin dia tahu aku sekarang cacat.


...--------...


Papa Dul berangkat ke Sukasari bersama beberapa polisi. Sampai disana Papa kaget rumah orangtuanya menjadi mushola. Beberapa warga yang mengenal Dul mengatakan kalau itu sebagai ganti rugi karena Putrinya mencoreng nama desa.


"Apa yang di coreng putriku? Kalian tahu itu kecelakaan tapi kenapa masih menyalahkan anakku?" Protes Papa Dul.


"Masa iya kabur sendiri tapi kepergok berdua dengan laki-laki yang bukan mahrom." Kata salah satu warga


Papa kenal desa ini, dia lahir dan besar disini, papa juga tahu kalo ada yang bermasalah di desa ini pasti di rundingkan terlebih dahulu. Bukan main usir tanpa mendengar keterangan dari pelaku. Papa menghela nafas.


"Ada apa di kampung ini?" Bisiknya dalam hati.


Papa melewati rumah Toni. Berharap bertemu sahabatnya, tapi yang membuka pintu malah Ronal. Papa kaget kenapa Ronal di rumah itu. Ronal menjelaskan kalau dia ponakan Paman Toni.

__ADS_1


"Jadi kamu anak Nilah? Bukan keponakan istri Spencer?" Tanya Papa Dul.


"Om, istri tuan Spencer adalah Marnilah. Yang om sebut Nilah tadi."


Papa lemas, dunia ini sempit. Pria di depannya adalah anak dari cinta pertamanya. Sekarang sedang dekat dengan putrinya. Ronal mempersilahkan papa Dul untuk masuk ke rumah. Mereka duduk di ruang depan.


Bibi baru pulang dari mencari sayur di kebun belakang melihat sebuah mobil parkir di rumahnya.


Ronal mengenalkan Papa Dul sebagai ayah Gita. Bibi menyambut Papa Dul dengan ramah. Papa Dul cerita tidak menyangka kalo Ronal adalah ponakan Toni. Papa menanyakan keberadaan Toni, bibi menjelaskan kalo Toni sudah meninggal. Ronal menawarkan Papa Dul untuk mengantarkan ke makam paman Toni. Papa Dul berterimakasih tapi dia mau mengurus kasus Gita dulu.


"Om, dimana Gita?" Tanya Ronal


"Gita baik-baik saja. Dia sedang pemulihan." Jawab papa Dul.


"Ronal! Om berterimakasih kamu masih perhatian pada Gita." Jawab Papa Dul.


"Semoga kamu tidak kecewa melihat keadaan Gita sekarang." Bisiknya dalam hati


Papa pamit. Saat papa di depan rumah paman Toni, dia berpapasan dengan Irwan yang memang tujuannya menemui Ronal ( Alam ). Irwan menawarkan Dul ngobrol di rumahnya.


Mantan dua rival akhirnya reuni di rumah Irwan. Irwan juga menawarkan menginap di rumahnya. Tapi di tolak Papa Dul, alasannya anak istrinya menunggu di Sarolangun.


"Aku mau mengusut kasus penganiyaan putriku." jawab Papa Dul saat mencicipi kopi buatan Dinda.


"Ini putrimu, cantik sekali." puji Papa Dul saat Dinda meletakkan cemilan untuk Papa Dul.


"Bidadariku ada dua, Dul. Yang satu lagi sedang pergi mengajar." Pamer Irwan pada Papa Dul.


Tak lama Sita pulang dari mengajar. Sita mengenali Papa Dul sebagai ayah Gita. Sita ingat dulu beberapa kali diajak Siti main ke Sarolangun setiap Gita cuti kuliah. Seperti yang diketahui Gita kuliah di Jambi. Irwan pura-pura kaget kalo Dul adalah ayahnya Gita.


Papa Dul mengatakan kalo dia sudah meminta polisi menyelidiki kasus anaknya.


Setelah obrolan panjang, papa Dul pamit dari rumah Irwan.


"Dul?" Panggil Irwan.


"iya." Papa Dul menoleh.


"Kamu harus hati-hati dengan pria yang bernama Ronal."

__ADS_1


"Ronal?" Papa kaget.


"Ada apa dengan Ronal?" Tanya Papa Dul.


"Sekarang dia lagi dekat dengan putrimu, kan?" tanya Irwan.


"Iya, kok tahu?" Papa masih heran.


"Ya, tahu lah. Kemana-mana mereka berdua terus. Sudah jadi omongan warga." ucap Irwan sambil sedikit tertawa.


Papa terdiam, dia tidak yakin putrinya seperti itu. Selama kenal dengan Ronal di Jakarta, dia tahu laki-laki itu selalu ada waktu untuk keluarga Papa Dul. Tapi dia tidak percaya hubungan putrinya sampai se intim itu.


"Ronal yang membuat putriku meninggalkan tunangannya, lalu setelah mereka putus, dia mendekati putrimu. Apakah itu wajar?" Jelas Irwan.


Papa Dul pamit, dia bilang akan sering kesini sampai kasus putrinya tuntas.


"Dul! Wajar warga marah melihat mereka berdua terus. Tidak sesuai dengan adat daerah kita. Pikirkan lagi soal ini!" teriak Irwan.


"Tapi kenapa cuma putriku yang mereka adili. kenapa laki-laki itu tidak." Balas Papa Dul mulai emosi.


Papa Dul pergi dari desa Sukasari. Dengan perasaan marah dia melajukan mobilnya dengan cepat. Dalam pikirannya dia kecewa pada Ronal yang telah membuat putrinya di hajar warga.


Papa berhenti di depan rumah Ronal. Lalu mengancam Ronal untuk tidak menemui Gita lagi. Papa menyalahkan Ronal atas yang terjadi pada Gita. Bibi yang mendengar juga menyalahkan Gita atas yang terjadi pada suaminya gara-gara Gita.


"Baiklah, Om. Izinkan aku menemui Gita untuk yang terakhir kalinya." Pinta Ronal.


"Tidak! aku tidak akan mengizinkan Putriku bertemu denganmu lagi." Gertak Papa Dul.


"Om!" Ronal mengejar Papa Dul.


"Alam! hentikan! Jangan kau turunkan harga dirimu cuma demi seorang wanita!" teriak bibi


"Alam?Jadi kau yang bernama Alam? Jadi kau laki-laki pengecut yang menghilang dari masalah, lalu membiarkan putriku menanggungnya sendirian. Kenapa kau bisa kembali tapi tidak di usir! Sedangkan Gita baru beberapa hari di sini, sudah mendapat perlakuan tidak manusiawi disini. Jawab! Kenapa cuma Gita yang menanggung semua ini!" Teriak papa Dul. Papa Dul merasa sesak nafas, Ronal membopongnya tapi di tepis.


"Apa Gita tahu siapa kamu?" Tanya Papa Dul.


Alam menggeleng. Dia menjelaskan kalau Gita belum tahu kalau dirinya adalah Alam. Alam minta maaf pada Papa Dul. Papa bilang jangan minta maaf padanya tapi pada Gita. Alam bersikeras kalau dia tidak bersalah, dan memang Gita memulai masalah ini.


"Anda tentu tidak lupa kalo satu kampung di buat heboh oleh putri anda." Kata Alam mulai meninggi.

__ADS_1


Alam mengatakan akan tetap menemui Gita. Mengatakan yang sebenarnya, tapi setelah masalah itu selesai dia tidak akan menemui Gita lagi.


__ADS_2