Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
96. S2: Menjelang resepsi


__ADS_3

"Kamu tahu kenapa saya memanggilmu." Suara mama Marni begitu berat terdengar.


"Tidak, ma." Ku tetap mencoba menunduk. Ada rasa takut menatap matanya seolah aku menantangnya.


"Kamu pernah tidak berkaca diri? apa kamu pantas bersanding dengan anakku? Setelah kamu memporak-porandakan keluarga kami. Kamu tahu kenapa dia dulu gencar mendekati kamu. Kamu ..ahhh ..."


"Memporak-porandakan bagaimana, ma?"


"Lupa kamu! Saat kamu mengalami kecelakaan bersama Alam, seketika semuanya jadi hancur. Itu gara-gara siapa! Sekarang kamu muncul lagi di kehidupan alam, mau kamu apa, Gita!"


"Cukup, Bu. Jangan bicara seperti itu pada Gita. Bukan salah Gita, itu semua kecelakaan, Bu. Sudah takdir! Jangan ibu Racuni pikiran ibu yang seperti itu!" Aku terkejut saat alam memasuki ruangan. Bukannya dia sudah berangkat ke kantor.


Alam menarik tanganku untuk mengajak keluar. Sesaat dia berbalik dan berkata


"Kalau ibu belum mau menerima Gita, biar aku yang keluar dari rumah ini!"


Aku bukan takjub dengan jawaban, tapi merasa kalau Alam menjadi pembangkang hanya karena membelaku. Apakah ini yang dimaksud mama Marni kalau aku sudah memporak-porandakan keluarganya?


"Kamu jangan begitu sama Mama." Aku mencoba menenangkan suamiku yang masih emosi.


"Tapi kamu lihat sendiri kan, dia ngomong apa sama kamu?"


"Faktanya memang begitu. Kalau saja kamu tidak menyelamatkan aku, mungkin akan beda ceritanya. Mungkin paman Toni masih hidup sampai sekarang. Mungkin kak Dinda tidak akan mengalami trauma yang panjang karena kehilanganmu. Mungkin kamu tidak akan koma berbulan-bulan dan harus mengganti identitas. Itu semua karena keegoisan aku. Mungkin ..."


Kurasakan dekapan hangat "Sudah jangan di bahas lagi, kalau tidak ada kejadian itu, kita tidak akan bertemu .. Kita tatap masa depan bukan masa lalu."


"Maaf." cuma itu yang bisa ku ucapkan.


Aku mencoba menahan air mata. Tapi ternyata keluar juga. Ada Rere yang ikut memenangkanku. Rere mengajakku bermain dengan jenny untuk melupakan kesedihanku. Melihat tingkah jenny yang lucu, kegundahanku menjadi hilang.


"Ayo, Gita programkan." goda Rere


"Ah, sabar, re. Nanti habis resepsi insyaallah kami program." jawabku sambil menggendong Jenny.


"Lucunya anak papa." tiba-tiba kak Roki memegang jenny dariku dan menggendongnya.


Roki berdiri didekatku Sambil menganyunkan putri semata wayangnya. Kulihat tatapan Rere seperti cemburu.


"Kalian seperti keluarga bahagia." ucap Rere lirih.


"Re, kamu salah paham." aku menyusul Rere yang keluar kamar.


"Maaf, re. Kamu salah paham." aku menjelaskan pada Rere tidak ada maksud membuatnya berpikir seperti.


"Aku tahu, Gita. Dulu aku yang merebut Roki dari kamu." Rere masih menunduk sedih.


"Tidak ada yang merebut dan di rebut, re. Ya, aku dan kak Roki emang nggak jodoh. Dia lebih sayang sama kamu, re." aku menenangkan Rere.


"Udah, ya. Jangan ungkit yang sudah lewat." Aku memeluk Rere Mengusap punggung belakangnya.


"Kamu emang berhati mulia, Gita. Pantas saja kak Alam tergila gila sama kamu."


"Enak aja aku dibilang gila. Aku masih waras tahu!" suara Alam mengagetkan aku dan Rere.

__ADS_1


"Nimbrung aja nih bapak! antarin aku pulang, ya. ntar mama tambah uringan kalau anak gadisnya belum pulang."


"Oke nyonya Ronal. Re, aku antar Gita pulang dulu, ya." pamitnya.


"Hati-hati... jangan ngebut. Ada calon bayi disana." goda Rere.


"Apaan sih, re? Belum kali." jawabku mendengar ucapan Rere.


"La terus siapa yang mual-mual di kamar mandi tadi malam." Rere masih menimpali.


Deg! Rere mendengarnya. Kupikir walaupun bersebelahan tidak akan ada yang mendengarnya. Ah, aku kan tadi malam mual karena efek kejadian di pantai semalam. Bukan seperti yang dibilang Rere.


"Apa kita ke dokter dulu, sayang?"


"Nggak usah, aku mau pulang saja. Re, aku pulang, ya." pamit ku.


Mama Marni sedang duduk ruang tamu. Ku sempatkan untuk pamit sama mama Marni. Ku cium tangannya walaupun tanpa sambutan "Ma, Gita pulang dulu, ya."


"Hmmm..." Jawabnya masih dingin.


Sampai di dalam mobil. Alam melajukan mobilnya. Kami masih terdiam seribu bahasa.


"Sayang, omongan ibu jangan di masukin ke dalam hati ya. Sebenarnya dia baik kok. cuma gengsinya masih gede."


"Kamu juga dong, jangan bentak-bentak mama. Walau bagaimanapun dia orangtuamu Lo." bela ku.


"Jadi benar kamu tadi malam mual-mual sampai tertidur di WC." tiba-tiba dia menanyakan itu.


"Ya, iyalah. Boro-boro mikirin makan, lihat berkas itu sudah bikin aku pusing. Di tambah ada yang salah paham kemarin. Mana aku belum sempat makan" jelasku


"Iya, maaf. Tapi kamu berterimakasih sama Ilham. Kalau nggak ada dia aku mungkin tinggal nama." ucapku sambil memegang tangan Alam.


"Kamu nggak mau ganti panggilan nih."


"Maksudnya gimana?" aku masih belum paham.


"Ya, sejak menikah kamu masih panggil aku nama aja. Nggak ada niat cari panggilan baru seperti ..."


"Abang..." sahutku.


"Kok Abang?"


"Kita kan orang Sumatra. Bukannya orang Sumatra memanggil suaminya Abang, ya. Kalo mas bukannya itu panggilan orang Jawa,ya."


"Ganti! kurang seru! Ayah aja gimana?" usulnya


Hah! kok ayah sih. Punya anak aja belum. Huh! aneh-aneh saja nih orang.


"Yeobo!" sahutku.


"Apaan tuh!" aku tertawa mendengar dia seperti asing dengan panggilanku.


"Yeobo itu artinya sayang." aku menjelaskan arti kata yeobo.

__ADS_1


"bahasa apaan tuh." kulihat dia masih bingung.


"Katanya lulusan Korea. Tapi yeobo aja nggak tahu."


"Saranghaeyo. Mau makan apa?" ucapnya sembari mengecup bibirku.


"Ubi Cilembu." jawabku singkat.


"Hah! dimana nyarinya." aku tertawa mendengar keterkejutan permintaanku. Rasain, emang enak di kerjain.


"Cari dong. Katanya sayang sama aku. Harus ada usaha, dong."


Hahahaha .... ini baru tes doang. Gimana kalau nanti aku ngidam beneran.


"Besok kita ke WO ya. Kamu mau acara seperti apa? outdoor, indoor atau ..." tanyanya.


"Aku mau resepsi di pantai atau di Lembang. Aku nggak mau pake kebaya, udah biasa kayaknya. Aku mau pake bridal dress. Boleh!"


"Terserah kamu aja, deh! Aku ikut aja." Kulihat wajahnya mendadak serius. Apa dia keberatan sama permintaanku.


"Mukanya jangan di tekuk gitu, dong. Ntar ilang gantengnya." godaku.


"Emang aku ganteng?"


"Kamu kan idolanya murid-murid SMA Sukasari. Sampe mereka rela bikin klub segala. Lucu juga ya, kalau ingat zaman SMA dulu. Gara-gara photo itu aku sampai di hadang sama fans kamu." kenangku.


Sampai di rumah, aku sudah di tunggu sama Mama. Muka mama kayak mau nerkam saking juteknya.


"Gita masuk! Mulai besok kamu jangan sering Keluyuran lagi." omel Mama.


"Tapi, ma besok kami mau fitting sama ke WO." sahut Alam.


"Mama mau ngomong sama kamu, lam. dan kamu Gita masuk ke dalam sekarang!"


Kuintip dari luar, mereka bicara agak menjauh.


Apa ya yang mereka bahas sampai wajah Alam mengkerut begitu!


klik


Malam ini Gita menemani Mama pergi ke pusat perbelanjaan. Seperti biasanya Gita juga memilih barang kebutuhannya. Dengan troly Gita sedang melihat-lihat area untuk memilih nugget dan kentang goreng.


Bruuuukkk!!!


Seorang perempuan menabrak troly Gita. Sesaat Gita menoleh lalu meminta maaf pada wanita itu. Wanita itu tersenyum, lalu mengambil barang yang sebagian sudah jatuh.


"Hai namaku Zahra. Kamu siapa namanya?" tanyanya.


Gita merasa aneh ketika perempuan itu mengenalkan diri. Dia pikir wanita itu akan marah padanya.


"Gita, kak." jawab Gita sambil membantu Zahra memasukan barangnya.


Gita melihat troly Zahra sudah kepenuhan barang. Mereka mulai mengobrol sambil berkeliling. Zahra mengaku asli Malaysia tapi sudah fasih bahasa Indonesia.

__ADS_1


Dan akhirnya mereka tukaran nomor handphone.


Dari jauh Zahra menatap Gita. Entah apa yang dipikirkan wanita itu.


__ADS_2