Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
RhnS 17


__ADS_3

Kai dan Sehun duduk di tepian taman dekat air mancur yang indah, mereka menatap langit mentari pagi yang indah bersama.


“Udah lama gak sih?” tanya Kai pada Sehun, Sehun pun menoleh pada Kai, dia memberika isyarat kesetujuannya, kemudian kembali menatap langit.


“Nee, lama banget.”


“Oh iya, gimana kabar abs lu?” tanya Kai asal dan berhasil membuat Sehun terdiam tidak habis pikir karena sebal.


“Ada topik lain gak?”


“Gak.” balas Kai dengan tersenyum, Sehun pun mencibir. “Aku cuma mau tau aja gimana kabar perut lu? Kan di Indonesia banyak makanan mengandung karbohidrat tinggi.”


Sehun tersenyum. “Perutku untuk istriku.” jelas Sehun.


“Masyaallah Sehunie udah tobat.” kejut Kai, Sehun pun menatap Kai sinis.


“Eh, tolong dilarat! Aku ini buka-bukaan kalau disuruh ya!? Kalau nggak juga gak mau.” balas Sehun ngegas.


“Wah, ngegas-ngegas.”


“Berisik!!” keluh Sehun sebal. “Mendingan nikah aja sana! Biar diem.”


“Dengerin ya! Aku mau setia sama kamu, kamu belum nikah aku juga gak akan nikah.”


“Dasar membual!! Bilang aja gak punya pasangan! Gak usah sok setia segala.” nyinyir Sehun, Kai pun tersenyum.


“Tapi aku laku ya. Belum ada aja yang aku nyamanin gitu.” jelas Kai.


“Emang menurutmu aku apa? Gak laku? Gak ada yang minat?” tanya Sehun sebal.


“Uwaa!! Jodoh kamu pasti suka ngegas juga kaya kamu nih.”


“Gwenchana, kayanya bakal asik deh.”


“Kamu doang yang seneng dapet pasangan yang kaya gitu juga kayanya.” cibir Kai tidak habis pikir, Sehun pun menanggapinya dengan tersenyum.


****


Sehun berdiri di depan sebuah pintu rumah seorang diri, dia pun menekan bel dengan gugup. Tidak lama setelahnya, seorang pria yang lebih tua dari Sehun membukakan pintu tersebut, pria itu sangat terkejut saat melihat kehadiran Sehun.

__ADS_1


“Anyeong.” sapa Sehun dengan tersenyum.


Pria itu pun tiba-tiba menyetuh kedua rahang Sehun, dia ingin memastika apa yang dia lihat tidak salah. Akhirnya pria itu menyadari hal itu benar, matanya pun mulai berkaca-kaca.


“Appa, Eomma, Honey!!” teriak pria itu dengan terburu-buru, semua orang pun langsung keluar, mereka dapat melihat sosok Sehun.


“Sss-Sehun ah!?” kejut Ibu Sehun yang tidak percaya.


“Eomma ya.” ucap Sehun lembut menahan rindunya.


Ibu Sehun pun langsung memeluk Sehun sangat erat, begitu erat, begitu pun juga Sehun. Air mata mereka sama-sama terjatuh, namun hal itu terhenti saat Sehun melihat Ayahnya didorong menggunakan kursi roda oleh kakak iparnya.


“Appa.” latah Sehun perihatin, Ibu Sehun pun melepaskan pelukannya.


Sehun mendekati sang Ayah, mata Ayahnya terlihat berkaca-kaca, air matanya pun terjatuh, air mata Sehun juga kembali jatuh saat melihat keadaan Ayahnya.


“Begitulah keadaan Appamu, setelah mendengar kecelakaan pesawat yang menimpamu itu. Awalnya dia kena serangan jantung dan menyebabkannya seperti ini. Dia...” jelas Ibu Sehun tersedu-sedu hingga tidak dapat melanjutkan kata-katanya, Sehun pun tambah menangis, dia memeluk Ayahnya yang sudah tidak bisa bicara.


“Dokter bilang Appa bisa kembali normal, jika dia ingin berusaha untuk sembuh, namun karena insiden itu Appa tidak ingin. Appa selalu menyalahkan dirinya atas kecelakaan yang kamu alami.” jelas Kakak Sehun.


Mendengar itu, Sehun berhenti memeluk Ayahnya, dia menatap Ayahnya penuh pengharapan mendalam. “Appa ya, kaja berlatih! Aku sudah di sini kan?” ucap Sehun penuh semangat, karena hal itu, akhirnya Ayah Sehun dapat menggerakan kepalanya.


“Syukurlah, puji tuhan.” Ucap Ibu, Kakak dan Kakak ipar Sehun, yang melihat ada sedikit perubahan dari Ayah Sehun.


****


Beberapa hari kemudian....


Sehun membantu Ayahnya untuk berjalan berputar di sekitar ruangan dibantu juga oleh kakaknya. Beberapa langkah pun telah dilalui, Sehun mulai melepaskan pegangan terhadap Ayah itu, kakinya masih sangat lemah.


Bruk!!


“Ayah!!” kaget Sehun dan kakaknya saat melihat Ayahnya terjatuh dan saat mereka akan menolong...


“Jangan! Ayah bisa kok.” pinta Ayah mereka, mereka pun terdiam di tempat, membiarkan Ayah mereka berusaha sendiri, dan akhirnya Ayah Sehun lancar berjalan. “Kemarilah anak-anakku!” ajak peluk Ayah Sehun yang sudah dapat berjalan dengan benar.


Sehun dan kakaknya pun langsung berlari dan memeluk Ayahnya yang tercinta itu dengan senang.


“Alhamdulillah Ya Allah.” ucap Sehun dalam hati penuh rasa syukur.

__ADS_1


****


Hari Sehun dan Jihyo meminta pertemuan antara orang tua mereka berdua. Kedua keluarga pun terlihat saling menatap karena bingung dengan apa yang akn dibicarakan Sehun dan Jihyo. Suasana begitu hening.


“Appa, eomma, om dan tante, aku ingin menyampaikan kesepakatan yang telah kami buat.” ucap Sehun yang memulai pembicaraan.


“Kesepakatan apa yang kalian buat?” tanya tante.


Sehun menarik nafas panjang sebelum akhirnya berani berkata. “Kami berdua bersepakat untuk tidak menikah.”


“Apa!!” kejut om, tante pun berusaha menenangkan omo, situasi pun menjadi ricuh, Jihyo sendiri menjadi sangat cemas. “Ka-kalian ini gila atau apa?” tanyanya marah.


“Kalian tahu tidak, keputusan kalian berdua ini akan mencoreng nama baik kita di depan publik.” ucap eomma lembut, Sehun dan Jihyo pun mengangguk.


“Tapi tante, jika kita menikah dan kemudian memutuskan berpisah karena kita tidak bahagia, apakah itu akan lebih mencoreng nama keluarga kita?” tanya Jihyo lembut, situasi kembali hening, Sehun menatap Jihyo penuh keheranan.


“Jihyo ya tahu betul jika kita nikah, aku tidak akan mungkin membiarkan perpisahan itu terjadi, begitu pun dia. Lalu kenapa dia mengungkit hal itu?” tanya Sehun dalam hatinya.


“Jihyo ya.” Panggil Ayah Sehun, Jihyo pun menoleh. “Aku pernah sekali kehilangan anakku karena kekeras kepalaanku, kali ini aku tidak ingin mengulangi hal yang sama.” ucap Ayah Sehun lirih, dan itu membuat hati Sehun tersentuh bangga. “Kalian bertiga, setujuilah mereka berdua, anakku sangat nekad begitu juga Jihyo ya. Mereka selalu akan mencapai apa yang mereka anggap baik, tanpa memikirkan konsekuensinya akan baik atau buruk. Saat kalian merasakan apa yang keluarga kami rasakan saat kehilangan Sehun ah, kalian baru akan mengerti.” jelas Ayah Sehun membuat semua orang menjadi hening.


“Baiklah, kita akan memutuskan hubungan pertunangan ini.” ucap Ayah Jihyo walau pun agak terpaksa, Sehun dan Jihyo pun menjadi senang.


****


Sehun dan Jihyo menyanggakan tangan mereka pada pagar balkon Jihyo, mata mereka sama-sama tertuju pada langit malam bulan purnama.


“Sepertinya ini langit bulan purnama yang terakhir akan kita lihat berdua seperti ini kak.” ucap Jihyo lembut.


“Mungkin.” balas Sehun, Sehun pun menoleh pada Jihyo. “Yang kau katakan tadi, kenapa mengatakannya?” tanya Sehun.


“Jika aku tidak mengatakannya, apakah kita akan bebas?”


“Molla. Tapi sepertinya kamu sangat ingin bebas dariku.”


“Aku sebenarnya tidak masalah jika harus menikah dengan kakak, tapi kakak dan aku tahu jika kita memiliki orang yang kita cintai sendiri. Aku hanya tidak ingin ada orang ketiga dan keempat dalam hubungan pernikahan kita.”


“Aku kan bisa melupakannya.”


“Hm, kakak jangan membual!” keluh Jihyo. “Mengatakan itu mudah, tapi prakteknya susah.”

__ADS_1


“Sini! Gampang kok.” ucap Sehun asal, Jihyo pun langsung memukul Sehun. “Ya ampun kekerasan dalam rumah tangga.” canda Sehun. “Gak boleh pegang-pegang! Bukan mukhrim.” Lanjutnya membuat Jihyo tambah kesal.


“Berisik!!”


__ADS_2