
Rere bersiap-siap mengantar jenny ke sekolah paudnya. Sejak Roki masuk penjara, Rere harus membiasakan diri mengerjakan semuanya sendiri. Sudah resiko dirinya harus berpisah dari suaminya. Karena suaminya harus mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Gita dan Alam.
Sesekali menghela nafas, memikirkan nasib kedua anaknya. Air matanya menetes, seakan ada rindu di hatinya "Mas, aku kangen. Biasanya kamu yang bantu aku ngurusin jenny. Biasanya pagi ini aku menyiapkan dirimu untuk ke kantor. Kenapa mas, kenapa kamu melakukan semua ini? Apa kamu tidak memikirkan dampaknya ke jenny?"
Roki di hukum penjara selama 5 tahun atas kasus Penyekapan, percobaan penculikan dan korupsi perusahaan. Sebenarnya dakwaan Roki adalah 10 tahun, tapi keluarga mengajukan banding. Sehingga masa tahanan menjadi lima tahun.
Saat itu Alam yang paling keberatan tentang masa hukuman Roki. Pasalnya, hukuman Roki tidak setimpal dengan yang dialami Gita.
Flashback on
"Aku tidak setuju! 10 tahun itu sudah pantas dia dapatkan setelah yang dia lakukan pada aku dan Gita. Kalian bisa bilang begitu, karena kalian tidak mengalami! Aku dan Gita harus terpisah karena ulah Roki! Rumah tangga kami hampir hancur gara-gara ulah Roki! Sekarang kalian minta aku bantu meringankan hukuman Roki! Maaf aku keberatan dengan usulan ini! Kalian memakai alasan untuk perasaan Rere. Tapi selama ini, kalian pernah mikirin perasaan Gita. Enggak, kan!"
Alam meninggalkan ruangan keluarga. Perasaannya kesal dengan permintaan mereka yang ingin membantu Roki. Alam mendudukkan tubuhnya di atas ranjang. Memandang istrinya yang masih terlelap. Netranya memancarkan kesedihan, tapi tak ingin Gita tahu permasalahannya. Gita sedikit terbangun saat suaminya mengecup keningnya.
"Yang, kamu kenapa?" tanya Gita menatap suaminya yang murung.
"Nggak papa kok sayang. Di kantor banyak kerjaan, agak pusing saja dengan masalah di kantor." elaknya.
"Sini aku pijitin, biar relaks." Gita bangkit hendak memijit bahu suaminya.
"Eh..nggak usah sayang. Aku nggak papa, paling dibawa istirahat aja."
"Benar nih nggak Papa?"
"Iya sayang, aku nggak papa. Paling meluk kamu udah bikin aku relaks."
Gita tersenyum mendekati suaminya "Ya, udah sini. Peluk aku."
Alam memeluk Gita dengan erat. Rasa sayangnya semakin bertambah setiap waktu. Netranya saling bertatapan, ditambah dengan nikmatnya bibir keduanya, membuat malam itu semakin hangat.
" i love you, my wife." Alam sambil mengecup kening Gita.
"Love you to, forever." Senyum Gita mengembang menatap suaminya.
Gita teringat dengan pembahasan mama Marni yang memintanya untuk meringankan hukuman Roki beberapa hari yang lalu. Tapi Gita ragu menceritakan kepada Alam. Takut suaminya keberatan, bahkan sampai sekarang Alam belum mau menengok Roki. Walaupun Gita sudah membujuknya, tetap saja suaminya masih kecewa pada Roki.
"Yang, aku mau ngomong soal..." Gita masih ragu melanjutkan pembicaraan.
"Apa sayang?"
"Soal Roki..."
__ADS_1
"Jangan bilang kamu mau minta Roki dibebaskan. Nggak! Aku nggak setuju! Biar dia merasakan apa yang sudah dia perbuat!"
"Tapi... kan aku yang jadi korban disini, jadi keputusan jatuhnya ke aku dong. aku nggak minta Roki di bebaskan, tapi meringankan hukumannya."
"Tapi, Gita sayang...Aku kan suamimu aku nggak mau Roki akan mengulanginya lagi."
"Roki itu bukan kamu ... aku kenal Roki sejak kecil. Dia bukan tipe tidak belajar dari pengalaman. Nggak kayak kamu yang mengulangi kesalahan yang sama."
"Kok jadi aku yang dibawa bawa. Sudahlah, pokoknya, aku tidak mau Roki itu di potong masa tahanan."
Alam memilih menarik selimutnya, daripada terus berdebat dengan istrinya. Alam dan Gita saling membelakangi. Entah apa yang mereka pikirkan. Yang pasti Gita merasa sudah memaafkan Roki. Berbeda dengan Alam yang masih marah pada Roki.
Kamu tahu, saat aku mengetahui Roki dalang dari semua ini. Rasanya ditusuk berkali-kali. Orang yang selama ini aku anggap adikku sendiri. Orang yang paling aku percaya, orang yang selalu mendengarkan keluh kesahku, ternyata menusukku dari belakang. Kalau sejak awal dia bilang, dia Ingin jabatan yang diberikan papa Bobby. Aku akan berikan karena itu memang haknya sebagai anak kandung Papa Bobby. batin Alam.
Flashback Off
Alam masih duduk di ruang tunggu depan UGD.
Menanti kabar keadaan istrinya. Sudah 10 jam belum ada kepastian bagaimana keadaan Gita.
Mama Marni menemani putranya, mencoba menenangkan Alam. Walaupun waktunya harus terbagi-bagi dengan mengurusi suaminya yang stroke.
"Kamu yang kuat ya, nak. Karena kalau kamu sedih, Gita pasti ikut sedih. kita semua sayang sama kalian. Kamu jangan tinggalkan sholat, bawalah Gita dalam setiap doamu."
Hari-hari Alam tak pernah beranjak dari rumah sakit. Tak sedikitpun meninggalkan istrinya, alam rela mandi di rumah sakit yang airnya kadang tidak hidup.
Alam menahan rasa sakit di dadanya. Dia terus mencoba kuat, karena istrinya membutuhkan dirinya. Tapi dia juga manusia biasa, yang tidak bisa menahan rasa sakit di dadanya.
Alam mencoba berjalan ke toilet. Kepalanya terasa sakit, tangannya mencengkram rasa sakit di dadanya.
Aku harus kuat!
aku harus kuat!
Demi Gita!
Demi anakku!
Demi mereka semua!
Aku harus sembuh!
__ADS_1
Alam terus berjalan, pandangan mulai kabur. Tapi tetap memaksa diri. Suara-suara memanggil semakin jauh. Tubuhnya tak kuat lagi.
Gita aku harus sembuh demi kamu. Agar kita bisa berkumpul.
Gita Jika aku yang mendahuluimu
aku ikhlas asalkan kamu selamat.
Bruuuukkk!!!
Tubuh Alam ambruk seketika. Sayup dia mendengar suara wanita meminta tolong. Samar dia melihat wanita itu seperti Gita.
Gita! Apakah kamu sudah bangun? ucapnya dalam hati.
Seorang wanita membantu tubuh alam yang
ditemukannya pingsan di lorong rumah sakit. setelah pihak perawat membawa alam. Wanita itu pergi menemui dokter Mona yang menangani masalah jantung.
"Mbak Ina kemana saja? Dokter Mona nyariin." sahut seorang wanita paruh baya yang memakai baju seragam.
"Maaf mbak tadi saya menolong orang pingsan. Apakah kak Mona sudah sampai?" tanya wanita itu.
"sudah mbak. Daritadi dia nungguin mbak?" Ina pun berjalan mengikuti perawat tersebut.
Sudah lama dia menderita jantung dan barusan mendapat kabar kalau ada yang mendonorkan Jantung untuknya.
Klik
Ilham terduduk teringat pesan Gita sebelum wanita itu koma.
"Ham, jika aku tak bisa di selamatkan. Tolong selamatkan anakku. Tolong donorkan jantungku, mataku, ginjalku dan paru-paruku bagi yang membutuhkan. Aku ingin menjadi yang berguna untuk mereka yang masih hidup.
Aku mohon, ham. Ini pesan terakhirku. Aku merasa waktuku sudah dekat.
Aku titip Siti ya, ham. Jaga dia, perjuangkan dia kembali sebelum dia menikah dengan kak Jo."
Ilham terdiam saat mendengar pesan terakhir Gita. Saat Ilham tadi mendapat kabar kalau Gita sudah mendaftarkan diri untuk pendonor suaminya, cukup kaget. Barusan dia mendapat kabar kalau Gita sudah mendaftarkan jantungnya.
######
__ADS_1
bersambung