Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
30. Duka untuk Gita


__ADS_3

Sudahlah, Gita. Putuskan saja pria seperti itu. Nggak punya tanggung jawab." Omel kak Imel saat mengantarkan teh hangat untukku.


Omelan kak Imel membuatku pusing. Padahal aku cuma cerita kalo aku tidak pulang karena tempat aku menginap sedang di renovasi. Ya, kali aku ikut menginap di rumah Ronal. Sempat sih kepikiran mau nginap sama mereka, tapi yang ada malah ngerepotin. Sudah cukup aku merepotkan keluarga Siti.


"Orang tua mu tahu?" Tanya kak Imel.


"Soal?" Tanyaku balik


"Soal kejadian ini." Ucap kak Imel.


"Belum. Jangan sampai mereka tahu. Kasihan mama ngurusin Opa yang stroke. Kasihan papa yang ngurusin perusahaan opa yang sedang bermasalah. Kalau aku cerita tambah banyak beban pikiran mereka." Aku menjelaskan pada kak Imel.


"Dan kakak jangan ember." Ancamku.


"Emang masalahnya apa sih?" Kak Imel sepertinya mulai kepo.


"Ya, soal yang dulu. Aku pikir mereka dah lupa, jadi aku di usir lagi." Jelasku.


"Sampai kamu babak belur begini! Ckckck. Nggak manusiawi." Ujar kak Imel sambil geleng geleng kepala.


"Aku yakin pasti ada yang nggak suka kalau kamu pulang." Tambahnya lagi.


Aku nggak paham juga. Yang pasti aku kecewa pada kak Ronal, nggak ada menjenguk sekalipun, nanyain kabar saja nggak. Katanya nggak bisa hidup tanpa aku. Dasar laki laki!


Yang perhatian sama aku cuma bang Ed doang. Siti? Aku juga belum bertemu dia sejak masuk inap di puskesmas. Apa aku pulang ke Sukasari aja,ya.


Jujur aku rindu padamu kak Ronal. Senyumanmu, kekonyolanmu, ya Allah aku pengen pulang ke Sukasari. Tapi aku takut. Ya ampun kenapa bucin ku kumat.


Baru saja kubuka hp ada pesan dari bang Ed.


"Kamu dimana, Gita.?" Isi pesan dari bang Ed.


"Di rumah saudara." Balasku


"Kenapa nggak pamit sama ibu?" Tanyanya.


"Selama aku di RS juga nggak ketemu kalian. Apa kalian marah sama aku?"


Tak ada jawaban dari bang Ed. Fix mereka marah karena aku yang membuat rumah mereka rusak. Aku akan mencoba ganti dengan uangku sendiri.


"Halo!" Sapa ku pada bang Ed.


Kulihat nomor teleponnya masih aktif. Tapi tidak ada suara disana.


"Ya, udah kalo nggak mau ngomong aku matiin telponnya." Ancamku.


"Eeeeee, aku cuma mau ngomong. Ronal sakit." Cerita bang Ed.


Sakit. Masa sih? Dikira aku gampang di tipu, ya. Ikuti aja ah, prank mereka.


"Sakit apa?" Tanyaku

__ADS_1


"Sakit malarindu tropikangen" Kata bang Ed.


Aku tertawa. Ada ada saja, tingkah kalian.


"Bilangin sama dia, semoga cepat sembuh." Jawabku santai.


"Dia pengen ketemu kamu, Git."


"Gimana mau ketemu, bang? Bangun aja nggak bisa!" Keluhku.


"Sini kirim alamatmu!"


"Dikira Sukasari sama Sarolangun dekat kali,ya."


"Kalau cinta, Jakarta pun serasa dekat."


"Iya...iya ... Nanti aku kirim Alamatnya." Aku nyerah deh. Daripada mereka nekat.


Mataku melirik sosok pria yang berdiri di depan rumah. OMG! Jadi dia menelpon tadi sudah tahu alamatku. Dasar!


Aku mencoba cuek. Tapi tak bisa, mataku masih terfokus pada sosok itu, ya kak Ronal. Seakan melihatku, dia memberikan senyuman terbaiknya. apakah benar itu dia? Apa cuma halusinasiku saja? Ayolah Gita, kamu itu cuma mimpi. Kamu merindukannya, Git makanya penglihatanmu jadi halu begitu. Kembali ku lirik jalanan, tapi ternyata sudah tidak kelihatan lagi. Ah, memang cuma halu ku saja.


Rumah eyang Amay letaknya di tengah pasar. Dulu di bawah ada toko kelontong milik eyang. Tapi semenjak eyang meninggal, tidak ada yang meneruskan usahanya. Sempat di pakai mama untuk buka warung makan seperti lontong, nasi uduk dan gado-gado. Lumayan rame, dari hasil jualan itulah bisa membiayai kuliah. Walaupun sebenarnya mama bisa minta dana ke Opa, tapi mama bukan orang yang suka minta pada orangtuanya.


" Gita, bentar lagi kita ke dokter, ya." sahut kak Sarah kakaknya kak Imel.


Kak Sarah adalah salah satu yang menempati rumah ini. Kak Sarah bekerja di kantor Pemda, statusnya single parent. Aku ingat dulu kak Sarah jutek sekali sama mama. Kak Sarah sering bilang ke mama, percuma anak orang kaya tapi tidak memanfaatkan uangnya. Walaupun begitu, kak Sarah sebenarnya orang baik kok. Buktinya dia sering kasih aku jajan kalo aku sesekali pulang ke Sarolangun.


Ku buka hp ada chat misterius.


"Kamu mau tahu siapa sebenarnya Alam." isi pesan si pengirim.


Sekarang aku malas membahas laki-laki itu. Yang tidak pernah menunjukkan batang hidungnya. Kuabaikan pesan itu, tapi SMS itu kembali masuk.


"Kenapa? kamu takut?"


Duh, ini siapa sih. Ganggu aja. kusimpan hp ku di meja pinggir kasur. Kak Sarah datang mengambilkan kursi roda untukku. Sumpah! aku tidak bisa menggerakkan kakiku.


Selama perjalanan kak Sarah mengomeliku.


"Kamu itu ya? sudah tahu orang disana ngusir kamu. Masih saja datang ke sana." Omelnya.


"Maaf, kak. Aku juga nggak nyangka bakal kejadian kayak gini lagi."


"Tante Lia tahu nggak." cercanya masih pasang muka jutek.


Aku menggeleng. Mana mungkin aku kasih tahu Mama, bisa ngamuk dia nanti.


"Harus tahu! Jangan kebiasaan mendam masalah sendiri. Kalo ada apa-apa sama kamu gimana."


Kulihat kak Sarah membuka HP. Oh tidak! Jangan sampai deh, dia ngadu ke Mama dan Papa.

__ADS_1


"Halo, kang! Hari ini aku libur,ya. ngantar adekku ke dokter." Telpon kak Sarah.


Syukurlah, dia bukan menelpon Mama dan Papa.


Sampai di klinik dokter penyakit dalam. Aku di periksa, aku melihat guratan kerut dari dokter. Kerutan seolah ada masalah dengan tulang kakiku.


"Sepertinya kamu akan lama di kursi ini. Tulang kaki anda mengalami pergeseran. Maaf kalau boleh tahu kenapa bisa seperti ini?"


"Saya kecelakaan motor, dok." elakku


"Masa? Tapi saya lihat kaki anda ini seperti korban penyiksaan."


"Ah, dokter kebanyakan nonton film. Ya, nggaklah dok. Saya cuma kecelakaan motor." Aku masih mengelak.


"Ya, sudah kalo begitu. Ini resep untuk penghilang nyeri kaki. Tapi saya sarankan kamu periksa di rumah sakit besar untuk pengobatan lebih lanjut. Cepat sembuh, ya dik."


Apa! aku akan lama di kursi ini! Artinya aku akan cacat. Ya, tuhan masalah apalagi ini! Aku tidak mau cacat!


Sepulang dari dokter aku kembali mendapatkan ceramah dari kak Sarah.


"Sudahlah, Gita. Ini tidak bisa dibiarkan. Sudah termasuk tindak pidana." Omelnya.


Pikiranku sudah jauh. Jika aku cacat apakah Ronal masih mau padaku.


...-----------...


Mataku terbuka melihat sosok yang menangis mendekap ku. Mama! Kenapa dia ada disini? bukankah dia sedang menjaga Opa? Apa aku sedang bermimpi?


"Gita, kenapa kamu seperti ini,nak?" Isak Mama saat melihatku bangun.


"Mama? Kapan mama sampai?" kagetku melihat mama sudah di rumah eyang Amay.


"Tadi malam. Mama kesini bareng Papa."


Pasti kak Sarah yang ngabari mereka. Duh, kak Sarah nggak bisa diajak kompromi nih.


"Sore ini kita pulang ke Jakarta ya,nak." ajak Mama.


"Ta ... tapi, ma?"


"Sudah kamu jangan membantah! kamu juga jangan pulang kesana lagi! biar Papa yang mengusut kasus kamu! ini kriminal, nak."


"Papa mana, ma?" Tanyaku


"Ada di bawah. Siang ini dia mau ke kantor polisi."


"Loh, bukannya kita mau pulang?"


"Mama dan kamu yang pulang.Papa disini menyelesaikan kasus kamu."


"Aku tidak mau pulang, ma. Aku juga ingin lihat perkembangan kasusnya. Barang-barangku masih di rumah Siti."

__ADS_1


Mama tetap tidak bergeming. Dia tetap ngotot membawaku pulang ke Jakarta.


__ADS_2