Aku Kamu Dan Dia

Aku Kamu Dan Dia
36. Pengakuan Alam


__ADS_3

Siang ini kediaman Irwan di datangi polisi. Berdasarkan keterangan saksi kalau dalang dari kasus Gita adalah Irwan. Dinda dan Sita kaget bukan kepalang, mereka yakin ayahnya tidak seperti itu.


Dinda menangis melihat ayahnya di giring polisi. Dia duduk bersandar di pundak Alam. Sebagai calon suami Alam cuma bisa menenangkan.


"Kamu yang sabar, nak." bibi memenangkan Dinda.


"Aku tidak percaya kalau ayah seperti itu." Isak Dinda.


"Polisi tidak mungkin main tangkap saja kalau tidak ada yang melaporkan." Tambah bibi.


"Gita, dia tidak ada pun masih menghancurkan hidup orang lain." ucap Dinda penuh amarah.


"Kenapa menyalahkan orang lain, Din?" Tanya Alam.


"Kau masih membelanya. Padahal kau sudah dimaki-maki oleh keluarganya." ucap Dinda masih kesal.


"Tapi Dinda..." Alam tidak menyelesaikan ucapannya. Baginya percuma bicara pada orang yang sedang emosi.


Alam pamit pulang pada Dinda dan Sita. Ada rasa tidak enak meninggalkan Dinda yang sedang kalut. Tapi mungkin Dinda juga butuh waktu untuk sendiri dulu.


Seperti biasa, Alam bertandang ke rumah Edwar. Dia menanyai apa masakan di rumah hari ini. Edwar yang masih kesal pada Alam meledek Alam Pacet, datang untuk nanyain dapur doang.


"Ah, kamunya garing. diajak becanda malah dianggap serius." jawab Alam.


Edwar meninggalkan Alam yang masih memeriksa dapur. Ibu yang baru pulang kaget ngeliat ada orang yang mengotak-atik dapurnya.


"Emang bibimu nggak masak?" tanya ibu yang geleng-geleng kepala melihat tingkah Alam.


"Enggak bukdang. Dia masih sibuk bantu di rumah Dinda."


"Kenapa nggak makan disana saja?"


"Nggak ah, Bun. terlalu banyak orang. Sanak famili Dinda kumpul disana."


"Ya, wajar semua keluarganya turun. kan kalian mau menikah bulan depan."


Alam terdiam. Tidak dia sangka kalau bakal menikah dengan Dinda.


"Harusnya bukan dengan Dinda ..." suara Alam lirih.Matanya menatap cincin yang masih dia pakai.

__ADS_1


"Sudahlah, nak. Tidak ada yang perlu di sesali. Bukankah ini keputusan kamu menerima lamaran dari Pak Irwan." ibu mengelus pundak Alam.


"Maafkan Alam, bukdang. Gara-gara aku rumah kalian di serang warga. Gara-gara aku Gita sampai lumpuh dan koma."


Bukdang cuma bisa menyabarkan Alam. Dia tahu kalo laki-laki yang sudah dianggap seperti anak sendiri sangat mencintai Gita.


Sementara itu dikediaman Dinda, sanak saudara dari jauh berkumpul di sana. Mereka juga tidak menyangka menjelang pernikahan Dinda, Irwan malah bermasalah. Sebagian dari mereka menganggap kejadian ini menandakan kalo calon Dinda membawa aura yang negatif.


"Ah, etek masih percaya yang seperti itu." timpal Sita yang mendengar ghibahan mereka.


"Haruslah, Sita." jawab etek ila, adik mendiang ibunya.


" Buat kebaikan keluarga dan Dinda juga." tambah etek ila.


Sita tidak mau banyak berkomentar. Toh, ini juga salah ayahnya, Sita ingat betul bagaimana ayahnya mau menyingkirkan Alam. Tapi apapun yang terjadi mereka bertemu lagi, bukankah itu jodoh namanya.


"Ya, walaupun ada yang harus di korbankan." jawab Sita pelan.


"Siapa yang di korbankan?" Suara Dinda mengagetkan Sita. Sita bingung apa yang harus dia jelaskan pada Dinda.


"Jawab! Kamu tahu sesuatu, kan." gertak Dinda.


"Oh, aku kira ada hubungannya dengan yang dialami Gita." jawab Dinda sambil membersihkan tempat beras.


"Sore ini kita jenguk ayah, ya kak." Ajak Sita. Dinda mengiyakan ajakan Sita. Dinda juga ingin dengar penjelasan dari ayahnya, terkait pengeroyokan Gita.


Sementara itu, Alam menemui perangkat desa untuk membuat pengakuan kalau dirinya adalah Alam bukan Ronal. Sebelum dia menyerahkan diri, Alam mengkonsultasikan keinginannya dengan bibi, bukdang dan Edwar. Awalnya bibi menolak, dia takut Alam akan bernasib seperti Gita. Tapi alam meyakinkan bibinya tidak akan terjadi apa-apa. Sama seperti bibi, Edwar juga sempat melarang. Karena bagi Edwar selama orang masih percaya sama Irwan , Alam akan tetap dianggap jelek.


Tiba tiba suara pengeras dari mushola di kejutkan sebuah suara.


"Assalamualaikum perkenalkan nama saya wassalam, atau yang biasa kalian panggil Alam. Saya disini mau mengumumkan kalau saya tidak pernah berbuat senonoh dengan saudari Gita. Seperti yang kalian tuduhkan pada kami 8 tahun yang lalu.


Kronologinya, Saat seorang teman meminta saya ikut membantu mencari Gita yang kabur dari rumah, saya ikuti demi kemanusiaan. Saya menemukan Gita menangis ketakutan di perbatasan hutan. Saya tidak tahu kenapa Gita sampai di hutan. Yang pasti saat kami mau keluar dari hutan, kami tak sengaja menginjak lobang untuk jebakan hewan. Setelah itu kami tidak tahu lagi apa yang terjadi. Saat saya sadar, saya sudah di Jakarta di bawa ibu saya. Jadi saya mohon jangan adili kami dengan sesuatu yang tidak kami lakukan."


Setelah mengatakan itu, Alam mematikan mikrofon. Dia kaget warga sudah berbondong-bondong di depan Mushola. Alam pasrah jika warga akan memukulnya sama seperti yang dialami Gita.


Salah seorang warga berdiri dihadapan Alam. Tak lama para muda mudi merangkul Alam. Satu persatu warga memeluk Alam. Alam terharu ternyata sambutan mereka sangat baik. bibi menangis melihat sambutan warga yang di luar dugaan.


"Coba dulu kakak bilang begitu. pasti Gita masih disini." Ucap Siti

__ADS_1


"Yang membuang Gita di tengah hutan adalah ayah kami." Suara Sita datang di tengah kerumunan warga.


"Kenapa dia melakukan itu?" Tanya salah seorang warga.


"Karena dia melihat kecemburuan kak Dinda pada Gita." Jawab Sita.


"Ayo kita serang rumah pak Irwan. Selama ini kita percaya dengan semua cerita dia. Tapi ternyata dialah pelaku utamanya." teriak warga.


"Tunggu!" Cegat Alam.


"Saya minta kalian jangan main hakim sendiri. Pak Irwan sudah ditangani polisi. Sekarang yang kita lakukan adalah meminta maaf pada keluarga Gita." ucap Alam


Warga sudah terlanjur marah dan berbondong-bondong ke rumah Dinda. Alam mencegah warga dan meminta warga untuk bicara baik-baik. Sita bersujud minta maaf atas yang dilakukan ayahnya.


"Selamat datang kembali bang, di desa Sukasari." Yadi datang merangkul Alam.


Alam meminta warga memindahkan makam pamannya ke pemakaman warga. Sebagian warga berbondong-bondong pergi ke kebun untuk pembongkaran makam. Mereka kaget karena penguburannya tidak secara layak. Jenazah paman hanya di bungkus dengan kain terpal.


"Aku menguburkannya berdua dengan mendiang ayahnya Edwar." Ucap bibi dengan Isak tangis yang pecah.


"Kenapa bibi tidak mengabari ibu. Walau bagaimanapun ibu kan adik Paman." Kata Alam.


Saat itu bibi bingung untuk mengabari orang lain. Yang dia ingat bagaimana suaminya di kuburkan secara layak.


"Hai Gita dimanapun kamu berada. Keadilan sudah kembali kepadamu. Namamu sekarang sudah bersih. Bukan namamu saja, tapi nama kita. Aku rindu padamu, Git. Cepat sembuh."


...----------------...


Dinda menemui ayahnya di penjara. Dia mencoba meyakinkan diri kalau ayahnya tidak bersalah. Tapi kenyataannya berbeda, Irwan mengakui perbuatannya, Sita juga mengakui kalau dia sudah tahu soal ini. Dinda syok. gadis itu tak menyangka kalau ayahnya sampai segitunya ingin menyingkirkan Alam.


"Apa salah Gita, yah?" Isak Dinda saat mendengar pengakuan dari Irwan.


"Salahnya dia menjadi penghalang antara kamu dan Alam." jawab Irwan


"Tapi kenapa ayah juga mengambil kesempatan untuk menyingkirkan Alam."


"Maafkan ayah, nak. maafkan ayah." Irwan menunduk malu


"Dinda malu dengan keluarga Alam, yah. Dan kamu Sita, kakak kecewa sama kamu!"

__ADS_1


Dinda pergi meninggalkan ruang penjara ayahnya. Hatinya perih, Dinda memilih duduk di dekat posko polisi. Dia meluapkan semua perasaan yang dia pendam.


__ADS_2